
Hari pertama Fatimah berada di rumah sang mertua. Membuat Fatimah sedikit canggung dan juga bingung. Karena baru kali pertama ini berada di lingkungan yang berbeda.
Biasanya di rumah, seusai sholat subuh. Fatimah selalu membantu bundanya Zaenab untuk masak.
Saat ia sudah selesai sholat subuh. Fatimah yang merasa bingung harus berbuat apa lantas bertanya pada Ali.
"Aku sebaiknya melakukan apa ya Mas? Aku bigung harus melakukan apa?" tanya Fatimah, yang bertanya pada Ali. Karena ia merasa tidak enak jika hanya berada di kamar saja.
"Semua tugas-tugas masak di rumah ini semua di lakukan art sayang. Jadi kamu tidak perlu ngapa-ngapain." jawab Ali, sembari membereskan sajadah yang barusan selesai ia gunakan.
"Tapi tetap saja, aku merasa tidak enak sama Bunda. Nanti aku di bilang masih enak enak kan tidur." sergah Fatimah.
Ali pun kemudian tersenyum melihat kegelisahan yang di alami sang istri.
"Ya sudah. Kalau begitu ayo temani aku turun ke dapur. Kamu bisa buatkan aku minuman hangat. Sebenarnya aku tidak bisa minum minuman hangat seperti kopi atau teh. Tapi untuk sekarang, mungkin aku akan biasakan diri untuk minum minuman hangat."
"Ya sudah, ayo kita turun kalau begitu mas." ajak Fatimah.
Sambil menggandeng tangan Fatimah, Ali kemudian mengajak sang istri untuk turun.
__ADS_1
Sampai di dapur mereka bertemu art, Bik Inah. Ali kemudian memperkenalkan Bik Inah pada Fatimah.
"Bik, ini Fatimah, istri Ali."
"Selamat datang non Fatimah. Masyaaallah, non cantik banget." puji Bik Inah pada Fatimah.
"Terimakasih Bik. Salam kenal."
"Den Ali dan non Fatimah ngapain sepagi ini ke dapur?" Bik Inah pun merasa heran.
"Fatimah mau buatan Ali minuman Bik." sahut Ali.
"Tidak ada Bik, saya sudah biasa bantu Bunda saya dirumah." ucap Fatimah Ia pun kemudian bertanya kepada Mbak Inah di mana tempat biasanya menaruh tempat pembuat minum seperti gula kopi dan teh.
Ali pun kemudian memberitahu Bu Ina untuk menjelaskan pada sang istri. Tentang seluk beluk bumbu-bumbu yang berada di dapur.
Bik Inah pun kemudian menjelaskannya kepada Fatimah.
"Kalau ada sesuatu yang non Fatimah tidak tahu tanyakan saja sama Bibik. Bibik di sini sudah sangat lama bekerja untuk keluarga den Ali. Jadi bibi sudah sangat paham dengan yang ada di rumah. Karena non Fatimah baru di sini, jadi wajar kan kalau non Fatimah terkadang bingung. Makanya tidak perlu takut untuk bertanya ya."
__ADS_1
"Wah ada apa ini, sudah riuh sekali pagi-pagi di dapur." ucap Hanin, yang pagi tu juga turun ke dapur. Dan ia melihat sang menantu sudah ada di sana.
Fatimah kemudian menganggukkan kepalanya memberikan hormat kepada Hanin.
"Pagi Bunda," sapa Fatimah ketika itu.
"Pagi juga Fatimah, Ali, kalian ngapain sepagi ini berada di dapur." tanya Hanin, yang merasa sangat heran karena putra dan juga menantunya sudah berada di dapur.
Ali pun kemudian memberikan penjelasan kepada sang Ibu Hanin tentang apa yang mereka lakukan pada saat itu.
Hanin menjadi sangat terkesan dengan apa yang dijelaskan oleh Ali.
Meskipun Fatimah masih sangat muda tetapi Fatimah menurut Hanin cukup dewasa. Dan hal itu sangat membuat ia terkagum.
Karena dulu ketika ia pertama kali menikah dengan Prasetya. Dirinya tidak sedewasa Fatimah. Bahkan saat itu dirinya malah terkesan manja kepada Prasetya. Dan Prasetya lah yang melakukan banyak hal untuknya.
Tetapi ternyata hal itu tidak dilakukan oleh Fatimah. Berada di rumah yang baru dan di lingkungan yang baru justru membuat Fatimah ingin menyesuaikan diri.
Mendengar penjelasan Ali jika Fatimah ingin memasak dan membuatkan sesuatu untuknya. Hal itu pun menjadi kesan tersendiri bagi Hanin terhadap penentunya tersebut.
__ADS_1