Assalamualaikum Ya Fatimah

Assalamualaikum Ya Fatimah
Kelakuan Ali


__ADS_3

"Kemarin Ali minta uang lebih sama mas. Dan mas juga tidak tahu uangnya itu digunakan untuk apa. Katanya sih ada beberapa kerusakan di motornya. Makanya mas kasih saja uangnya." ceria Prasetya pada Hanin kala itu.


"Kok mas baru cerita sama Hanin. Ali juga pernah minta uang sama Hanin. Katanya juga untuk bawa motornya ke bengkel. Anak kita sepertinya sudah mulai berbohong mas. Sepertinya kita harus lebih memperhatikan Ali." ujar Hanin, yang takut jika anaknya itu terbawa arus pergaulan yang tidak baik.


Di sebuah diskotik yang cukup terkenal di tengah-tengah ibukota.


Ali dan beberapa kawan-kawan geng motornya tengah asyik mengerakan tubuh mereka di bawah sinaran lampu diskotik pada malam itu.


Di luar sana, ternyata Ali memiliki kehidupan yang sangat liar. Padahal di rumah. Ali terlihat seperti anak yang penurut kepada orang tua dan baik sikapnya.


Tapi ternyata, di luar rumah. Ali mempunyai pergaulan yang begitu bebas dengan teman-temannya.


Awal-awalnya Ali memang seperti orang yang baik. Tapi pergaulan telah mengubah dirinya.


Bersama dengan beberapa temannya. Ali tidak hanya menari nari di lantai diskotik yang memperdengarkan lagu lagu Beat.


Tapi mereka juga ditemani beberapa wanita penghibur yang ada di diskotik tersebut.


Selain berjoget-joget di bawah sinaran lampu. Ali juga meminum minuman keras. Entah bagaimana ceritanya Ali bisa se liar seperti saat ini.


Dan tiga jam setelahnya. Ali beserta beberapa temannya yang lain menyewa sebuah kamar hotel yang ada di diskotik tersebut sebagai tempat mereka untuk berkumpul.

__ADS_1


Sambil berdiri sempoyongan dengan membawa botol minuman. Ali yang masih merangkul salah seorang perempuan yang sepertinya perempuan itu adalah perempuan penghibur di diskotik itu nampak kehilangan kesadaran karena mabok.


Setelah mereka puas berjoget-joget. Ali dan juga teman-temannya yang lain berpesta minuman keras di hotel tempat mereka saat itu bersenang-senang.


"Aku tidak pernah mengira kalau lu bisa seperti ini Al." ucap Aldi, berbicara kepada Ali yang kala itu tengah menekuk langsung minuman keras dari botol.


"Memangnya kenapa? Memang aku nggak butuh hiburan seperti ini. Kita hanya minum, yang penting kita tidak berbuat kejahatan kan. Apalagi yang bisa kita lakukan. Nikmati masa muda kita. Hal-hal seperti ini hanya bisa kita lakukan di saat kita masih muda." ucap Ali mulai linglung.


"Kalau di saat kita sudah tua seperti ayahku. Pasti kita akan dimarahi oleh istri-istri. Itu juga kalau kita sudah nikah." ujar Ali sambil tertawa.


"Maka hal semacam ini tidak akan diperbolehkan oleh mereka. Bahkan mungkin wanita wanita bawel itu akan memaksa kita tidur di luar." ujar Ali lagi sambil tertawa terbahak-bahak lagi.


Ali membayangkan jika dirinya sudah dewasa seperti ayahnya Prasetya. Dan dia mabuk. Pasti dia akan diusir oleh mamanya. Dan tidak diizinkan masuk ke dalam rumah.


"Kamu bener Al. Kapan lagi kita bisa menjadi brengsek seperti ini jika kita tidak puas-puasin sekarang." Sahut Gara, teman Ali yang lainnya.


Dan malam itu, Ali dan beberapa teman-temannya benar-benar berpesta miras di sebuah hotel yang mereka pesan sampai mereka mabuk dan sampai mereka tidak sadarkan diri.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dengan duduk di atas hamparan sajadah sambil memposisikan dirinya untuk duduk dengan sangat sopan. Fatimah memegang sebuah kitab suci Alquran dan membaca beberapa ayat yang ada di dalamnya.

__ADS_1


Seperti biasa saat Fatimah selesai shalat isya. Fatimah selalu membaca beberapa lembar ayat-ayat suci Alquran.


Karena hal itu adalah suatu hal yang Fatimah lakukan sebagai rutinitasnya jelang tidur.


Fatimah merasa tidak lengkap melalui malam-malamnya jika ia tidak membaca beberapa lembar ayat-ayat suci Alquran.


Setelah membaca, biasanya Fatimah akan tenang dan barulah ia akan mengistirahatkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Setelah selesai membaca. Fatimah kemudian meletakkan Alquran tersebut di sebuah sebuah meja yang ada di sisi tempat tidur.


Sambil melepaskan mukena dan melipatnya dengan rapi. Fatimah kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Fatimah nampak terdiam sebentar sambil menatap langit langit kamarnya. Pikirannya nampak sedikit menerawang dan ia nampak memikirkan sesuatu.


Terima kasih ya Allah untuk hidup yang engkau anugrahkan kepada diriku.


Terima kasih untuk kedua orang tua yang begitu sayang dan hebat yang telah membimbingku sehingga aku menjadi seperti ini.


Terima kasih untuk perasaan nyaman yang selama ini engkau berikan kepadaku ya Allah.


Kadang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri di luaran sana banyak remaja-remaja yang melampaui batasannya. Dan semoga mereka yang melampaui batasannya, engkau sadarkan ya Allah. Dan engkau tunjukkan jalan kebenaran untuk kembali di jalanMu.

__ADS_1


Dan jadikanlah aku seorang muslim yang baik ya Allah.


Seorang remaja yang bisa menjaga kehormatannya. Dan juga martabatnya dengan baik. Sampai pada suatu saat nanti seseorang menerimaku dan aku kemudian menjadi tanggung jawabnya.


__ADS_2