
Pagi itu adalah pagi pertama bagi Fatimah sarapan bersama dengan keluarganya yang baru.
Fatimah saat itu duduk di sebelah Ali. Sedangkan Prasetya duduk di meja kebesarannya. Dan Hanin duduk di tempatnya seperti biasa.
Meja makan pagi itu nampak semakin ramai. Karena ada seseorang yang baru yang masuk dalam keluarga Prasetya.
Prasetya dan Hanin menyambut hangat sang menantu. Karena Fatimah memang tipe seorang menantu idaman bagi orang tua Ali.
Ali sendiri kini wajahnya nampak begitu berbeda. Ada wajah ceria dan bahagia yang terukir di dalam wajah Ali.
Dan ia saat itu mengenakan kemeja yang sangat rapi dan juga dasi sebagai pelengkap penampilannya. Ali saat itu tengah bersiap untuk pergi ke kantor.
Ali meminjam sebuah ruangan kantor yang ada di gedung perkantoran milik sang ayah.
Karena keuangan saat ini belum mencukupi untuk memiliki kantor sendiri.
Tapi jika untuk perusahaan, Ali sudah berdiri dan mengembangkan perusahaannya sendiri
__ADS_1
Ali ingin membuktikan kepada sang mertua dan juga kepada sang istri Fatimah jika ia bisa untuk menjadi orang yang mandiri. Dan tidak tergantung kepada kedua orang tuanya. Meskipun saat itu orang tuanya mampu untuk memberikan mereka segalanya.
Bagi Ali sendiri, ia sudah berkomitmen dari awal untuk bisa dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Dan hal itu sangat diapresiasi oleh Prasetya dan juga Hanin.
Mereka dia tidak menyangka jika putranya bisa berubah seperti sekarang. Padahal Ali sempat dan hampir saja salah pergaulan kala itu.
"Fatimah, ternyata kamu pandai memasak juga ya." puji Prasetya, yang kala itu mencoba masakan yang dibuat oleh Fatimah. Sebuah tumis brokoli lengkap dengan udang segarnya.
Fatimah pun kemudian menundukkan wajahnya malu ketika ia dipuji oleh sang ayah mertua.
Ali yang saat itu duduk di samping Fatimah pun merasa sangat bangga karena sang istri dipuji oleh kedua orang tuanya.
"Alhamdulillah, Ali tidak salah pilih istri kan ayah, bunda. Fatimah itu sangat pintar. Selain dia cerdas tapi dia juga pintar masak."
"Sudah mas, jangan terus memuji ku. Aku juga masih belajar."
Setelah acara sarapan itu selesai. Mereka pun kemudian saling membubarkan diri.
__ADS_1
Prasetya pergi ke kantor dengan mengendarai mobil sedangkan Ali pergi ke kantornya tetap mengendarai sepeda motornya.
Padahal saat itu tujuan Ali dan Prasetya satu tujuan.
Tapi sudah menjadi kemauan Ali jika ia tidak ingin menumpang satu mobil dengan sang ayah.
Ali tetap pergi ke kantor dengan menggunakan motor yang ia punya.
Fatimah pun merasa bangga dengan suaminya tersebut. Karena Ali benar-benar menunjukkan menjadi seorang suami yang dewasa dan juga mandiri.
Setelah mengantarkan Ali berangkat ke kantor sampai ke teras rumah. Fatimah kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
Hanin yang paham mungkin saat ini Fatimah belum menyesuaikan diri berada di lingkungan barunya. Hanin memberikan keleluasaan kepada Fatimah untuk merasa nyaman dan betah berada di rumahnya. Tanpa harus ia merasakan canggung.
"Fatimah kalau kamu melakukan apapun, lakukan saja di rumah ini. Anggap saja ini rumahmu sendiri. Karena memang ini adalah rumahmu sekarang. Bunda ada urusan, jadi bunda sebentar lagi akan keluar rumah. Kalau kamu ada apa-apa, langsung tanyakan saja sama bibi ya." ucap Hanin berpesan kepada Fatimah.
"Iya Bunda, terima kasih." jawab Fatimah dengan begitu sopan.
__ADS_1