Baby El

Baby El
Elvaro


__ADS_3

Sembilan bulan berlalu.


Sebastian pulang dengan tergesa-gesa saat mendengar kalau bayi yang ia tunggu-tunggu selama ini telah lahir. Ya, Marlina memutuskan untuk program hamil tentu saja Sebastian sangat senang dengan keputusan istrinya walaupun dia harus menuruti semua persyaratan dan keinginan yang Marlina mau.


Perjalanan Jogja- Surabaya cukup makan waktu, apalagi jalur darat seperti ini. Cuaca buruk tidak memungkinkan untuk Sebastian mengunakan jalur udara. Sepanjang perjalanan pulang Sebastian terus tersenyum tanpa henti, sambil menatap foto bayi yang masih merah dalam balutan kain warna biru.


Dalam hati tak henti-hentinya Sebastian bersyukur, tetapi ia juga merasa bersalah karena tidak menemani Marlina saat persalinan. Apalagi ini adalah kelahiran pertama anak mereka.


Setelah perjalanan yang lama dan melelahkan Sebastian sampai klinik tempat Marlina melahirkan. Dengan langkah lebar Sebastian melangkahkan kakinya.


"Alin!" Panggil Sebastian penuh semangat.


Marlina hanya tersenyum menyambut kedatangan sang suami, wanita itu masih terbaring lemah dengan wajah pucat. Sebastian mendekat, memeluk erat tubuh Marlina. Dengan penuh haru dia mencium kening sang istri lama.


"Dimana anak kita Sayang?"


"Masih sama Dokter, sebentar lagi juga dibawa kemari kok. Kamu punya oleh-oleh apa buat aku?" tanya Marlina dengan manja.


"Maaf tadi aku buru-buru pulang, kau tidak sempat membeli apapun."


Marlina melipat tangan dengan kesal. "Tuh kan belum apa-apa kamu udah lupa sama aku, padahal kamu janji. Kamu akan selalu memprioritaskan aku."


"Maaf aku benar- benar tidak sempat , kau mau apa, hem? aku akan membelikannya sekarang," ujar Sebastian sambil memeluk sang istri yang sedang merajuk.


Marlina menyeringai tipis."Apartemen."


Sebastian terdiam sejenak, merasa aneh dengan permintaan Marlina. Tetapi seperti biasa ia tidak ingin berprasangka buruk pada Marlina.


"Boleh, apapun untuk ibu dari anakku ini." sahut Sebastian sembari melerai pelukannya.


"Terima kasih, kamu memang suami yang baik."


"Permisi," ucap seorang suster yang masuk sambil mengendong bayi.


Sebastian langsung berjalan menghampiri suster itu, di ambilnya bayi dari gendongan si suster. Meskipun agak kaku.namun, Sebastian berusaha mengendong bayi yang belum berusia dua puluh empat jam itu. Rona bahagia jelas terlihat di wajah pria bermata sipit itu.

__ADS_1


"Aku belum memberi dia nama, aku menunggumu," ucap Marlina yang langsung membuat Sebastian menoleh dan tersenyum.


"Elvaro Bagaskara," ucap Sebastian sambil menatap lekat wajah mungil yang tengah terpejam itu.


Setelah dinyatakan sehat Marlina dan Baby El diperbolehkan untuk pulang, mereka disambut dengan begitu bahagia oleh keluarga besar Sebastian. Awalnya Sofia dan suaminya merasa kesal dan marah karena saat melahirkan Marlina tidak menghubungi mereka. Namun, Sofia tidak ingin memperpanjang masalah dan merusak hari bahagia ini, yang terpenting Baby El dalam keadaan sehat, itu sudah cukup.


Saat pesta penyambutan Baby El berlangsung dengan meriah, Baby El menangis kencang. bayi itu seolah sedang murka, tak satupun cara yang mempan untuk menenangkan tangisnya.


Marlina sampai dibuat kesal oleh tingkah anak itu, Sofia juga suda menggendong bayi merah itu memberi dia susu tetapi Baby El tetap saja menangis.


"Sayang, kenapa menangis terus? tenang ya tenang, Oma ada di sini." Sofia mengayunkan lembut tangannya yang tengah mendekap Baby El.


"Apa ASI kamu belum keluar? mungkin dia tidak mau susu formula," tanya Sofia pada menantunya yang tengah duduk disofa dengan nyaman.


"Belum Ma, aku juga tidak tahu kenapa ASI ku tidak keluar sama sekali, dia mau kok susu formula. Waktu di klinik juga di kasih itu," sahut Marlina setengah acuh, dia sudah sangat jengah mendengar tangisan Elvaro.


Pengasuh yang bekerja untuk merawat Elvaro pun merasa kewalahan. Bayi itu tak bisa tenang, walau sudah bebagai cara ia lakukan.


Pesta penyambut Elvaro pun sengaja diselesaikan lebih awal. Elvaro akhirnya bisa tidur karena kelelahan menangis, tetapi hanya beberapa menit, sebelum ia kembali menangis karena haus. Seluruh keluarga dibuat kerepotan.


Sebastian menggeleng, waktu di Klinik tempat Marlina melahirkan Elvaro sangat tenang. Dia mulai gelisah saat mereka pulang, dan semakin menjadi saat sampai di rumah.


"Bagaimana kalau kau menelfon Dokter yang menangani Alin, suruh perawat yang menjaga El kemari untuk bertemu El. Seorang bayi hanya akan tenang saat bersama orang yang membuatnya nyaman," ucap Devi sambil melirik


tajam pada Marlina.


Sebastian pun mengangguk dan mengambil ponsel, untuk menghubungi klinik tempat Marlina melahirkan.


"Biar aku saja," cegah Marlina sambil merebut ponsel sang suami. Meski merasa aneh, Sebastian hanya diam, dan membiarkannya. Berbeda dengan Sofia yang menatap tidak suka pada menantunya itu.


Marlina bangkit, i agak menjauh dari keluarga suaminya saat bicara dengan Dokter.


"Bagaimana?" tanya Sebastian saat Marlina selesai menelfon.


"Mereka akan menyuruh suster itu kemari," jawabnya dengan ketus.

__ADS_1


"Syukurlah." Sebastian merasa lega mendengar jawaban Marlina, ia tidak tega melihat El yang terus menangis sampai wajahnya memerah.


Untungnya sekarang El tertidur dalam gendongan Devi, mungkin dia merasakan kasih sayang seorang ibu dari Devi.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya suster yang menjaga Elvaro di klinik datang. Mendengar laporan dari satpam yang berjaga di gerbang, Sebastian langsung menyambut si suster itu.


"Selamat malam, maaf saya merepotkan Anda untuk datang malam-malam begini," sambut Sebastian saat membuka pintu.


Wanita dengan wajah pucat dan rambut yang ia ikat kebelakang itu hanya tersenyum tipis. Seorang laki-laki yang mengantarkannya pamit untuk pulang.


"Apa dia masih menangis?" tanya Suster itu sembari berjalan mengekor di belakang Sebastian.


"Dia? Elvaro maksud Anda?"


"Jadi namanya Elvaro, nama yang bagus," gumam wanita itu.


"Dia tidur dengan gelisah, sesekali dia bangun dan menangis. Saat sampai di rumah tadi dia menangis sampai seluruh wajahnya memerah," ujar Sebastian mejelaskan.


Wanita itu pun diam, ada rasa ngilu yang ia rasakan dihatinya mendengar Elvaro menangis sampai seperti itu.


"Ini kamarnya," ucap Sebastian sambil membuka pintu berwarna biru langit.


Tangis Elvaro menggema saat pintu itu terbuka, suster itu langsung masuk bahkan ia melewati Sebastian begitu saja dan meminta Elvaro dari dekapan Devi.


Ajaib, seketika Baby El berhenti menangis, padahal suster itu baru saja menggendongnya. Sebastian dan Devi dibuat kagum oleh suster itu. Malam itu sangat suster pun diminta untuk menginap di sana.


"Suster itu sangat hebat, El tak menangis lagi saat disentuhnya, " Sebastian memuji suster yang ia bahkan lupa untuk menanyakan namanya.


"Baguslah, aku bisa beristirahat dengan tenang kalau begitu, " sahut Marlina sambil memainkan ponsel.


"Apa kau tidak ingin mengucapkan selamat malam untuk putra kita?" Tanya Sebastian pada Marlina yang masih asik dengan benda pipih ditangannya.


"Aku capek Tian, kau tidak tahu betapa menderitanya aku saat melahirkan. Aku kesakitan, sendirian. Apa aku tidak boleh istirahat, " Keluh Marlina dengan wajah hampir menangis.


"Maaf, Sayang. Maafkan aku, seharusnya kau tidak pergi meninggalkan mu sendirian. " Sebastian memeluk Marlina dengan merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2