
"Pak di minum dulu obatnya," ucap Selma sambil memberikan tiga butir obat pada tangan renta yang sudah merawatnya selama bertahun-tahun.
Mardi mengangguk, pria yang menderita masalah paru-paru akut itu menelan obat yang putri sulungnya berikan, kemudian mendorongnya dengan segelas air hangat.
"Kamu cepat berangkat biar nggak telat kerjanya," ujar Mardi dengan nafas yang sedikit tersengal.
"Sebentar lagi Pak, Bapak nggak apa-apa sendirian di rumah?" tanya Selma sambil menatap sang Bapak yang kurus karena penyakit yang ia derita.
"Nggak apa-apa, wong biasanya juga sendiri Nduk," jawab Mardi sambil tersenyum tipis.
Mardi menatap lekat wajah cantik Selma, gadis kecilnya itu kini sudah berusia dua puluh lima tahun. Namun, Selama belum menikah, dia lebih memilih berkerja di sebuah pabrik masker yang di bangun di daerah mereka.
Bukan tanpa alasan Selma memilih berkerja, dia ingin merawat Mardi. Ia ingin bisa pria itu kembali sembuh walaupun tidak bisa seratus persen, setidaknya dia ingin Mardi bisa beraktivitas seperti orang pada umumnya.
Mardi dulu berkerja di parik kaca, cukup lama laki-laki itu berkerja di sana. Dia berhenti berkerja saat merasakan sakit di dada yang tak kunjung hilang, sebenarnya itu memang salah satu resiko berkerja di pabrik kaca, debu dari serpihan kaca yang terhirup masuk akan melukai paru-paru. Apalagi Mardi dulunya adalah perokok berat.
"Maafin Bapak ya Nduk, sekarang kamu yang harus berkerja gantiin bapak,"ujar laki-laki itu menatap sendu wajah ayu Selma.
"Ngomong apa sih Pak, Selma berangkat dulu ya Pak. " Selma meraih tangan yang kurus dan penuh keriput itu lalu menciumnya dengan takzim, bukan karena usia tangan Mardi seperti itu tetapi karena penyakit yang memang tak bisa sembuh semakin menggerogoti dirinya setip hari.
"Hati - hati."
"Iya Pak."
Pagi ini Selma sangat bersemangat karena kaan gajian, ia bisa melunasi hutang pada Rosna dan menebus obat untuk bapaknya. Meskipun tidak tega meninggalkan Mardi seorang diri di rumah, tetapi Selma tak punya pilihan lain.
Ani, ibunya itu berjualan di pasar. Selam punya seorang adik perempuan bernama Tyas yang masih sekolah kelas dua SMA. Dan kakak pertamanya Ayu semak kehidupan Ayu tak jauh berbeda. Kadang malah Ayu meminjam uang pada Selma.
Dengan sepeda motor matic milik bapaknya dulu, Selma melaju menerjang dinginnya pagi. Meski sudah hampir jam tujuh pagi. Namun, mendung pagi ini membuat angin terasa lebih dingin.
Selma merapatkan jaket berwarna pink yang ia pakai, gadis berusia 25 tahun itu mempercepat laju motor, takut telat sampai pabrik.
__ADS_1
Matahari sudah mencapai puncaknya, siang ini sungguh sangat panas. Lebih dari biasanya, meskipun sudah ada kipas besar. Namun tetap saja hanya udara panas yang dirasakan para karyawan bagian produksi.
Semua karyawan berhamburan keluar
saat jam makan siang, yak terkecuali Selma. wanita yang memakai kaos seragam pabrik itu membawa bekal dan menikmatinya di bawah bangku panjang yang ada di bawah pohon mangga, tempat teduh dima dia bisa sedikit bersantai.
"Bawa apa Sel?" tanya Fani, teman kerja Selma.
"Biasalah ikan terbang sama sayur asem," jawab Selma sambil memperlihatkan kotak bekal yang bawa.
"Widih mantep tuh sambelnya, bagi dikit napa." Fani menyodorkan kotak makan miliknya, agar Selma mudah menyendokan sambal tomat yang begitu menggiurkan.
Kedua wanita itu pun menikmati makan siang mereka, jauh dari para karyawan lain. Selma dan Fani berteman sejak sekolah dulu, kelurga mereka tidak jauh beda. Tetapi Fani sedikit lebih beruntung, Bapaknya masih sehat, berbeda dengan Mardi yang sudah sakit-sakitan.
"Gimana bapak kamu Sel? udah baikan?' tanya Fani setelah menyelesaikan makan siangnya.
"Ya gitulah Fan, kau tahukan penyakit Bapak itu tidak bisa sembuh, hanya bisa membaik saja. Bapak bisa nafas dengan baik saja sudah sangat baik," jawab Selam sambil menatap jauh pada kerumunan para karyawan lain yang sedang bersenda gurau, mungkin hidup mereka lebih bahagia dari Selma.
Padahal Sejak sekolah Selma sudah membantu ekonomi kelurga sebisa dia, saat SD Selama membantu Ibunya berjualan di pasar tiap hari minggu. Saat SMP dia bahkan membawa dagangan jajan jajan kecil untuk di jual pada teman sekelasnya. Selma tidak melanjutkan sekolah dia langsung berkerja di sebuah toko barang pecah belah. Saat sudah punya cukup uang dia mengikuti kejar paket C.
"Ngomong apa sih Fan? kamu tuh udah bantu aku banyak, aku yang minta maaf selama ini ngerepotin kamu. Udah ah, melonya bentar lagi masuk," ujar Selma sambil melihat jam tangan seharga sepuluh ribu yang ia beli dari aplikasi online.
"Hayuk, semangat cari cuan biar cepet kayak!" ujar Fani setengah berteriak, menyemangati dirinya sendiri. Selma hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
Baru saja Selma dan Fani bangkit dari kursi setelah membereskan sisa makan siang mereka, ponsel Selma berdering keras. Tidak biasanya Ponsel Selma berdering, karena memang tidak banyak kontak yang tersimpan di sana.
"Tyas?" gumam Selma membaca nama yang tertera di layar ponsel yang sudah retak.
"Halo ada apa Dek?" tanya selma setelah menggeser logo hijau di layar.
"Mbak Bapak jatuh, sekarang ada di rumah sakit."
__ADS_1
Bagai di sambar petir, tubuh selma lemas mendengar apa yang baru saja di katakan sang adik.
"Kamu kenapa Sel? siapa yang nelpon?" cerca Fani yang cemas melihat wajah Selma yang pucat.
Selma tidak menjawab, dia berusaha menguatkan dirinya. Kembali berdiri tegak.
"Kenapa Bapak bisa jatuh Dek? bagaimana keadaanya? apa parah?" cerca Selma dengan panik.
"Aku nggak tahu Mbak, pulang sekolah tadi aku lihat Bapak udah ada di lantai," jawab Ayu dari seberang telepon.
"Mbak Selma cepat kemari ya Mbak," Pinta Ayu.
"Iya Mbak akan ke sana. " Selma pun memutuskan sambungan teleponnya.
Fani tak tega melihat wajah sahabatnya yang begitu cemas dan ketakutan.
"Fan, gimana ini Bapak, -"
"Kamu ke rumah sakit sekarang, aku akan bicara pada mandor nanti, " Fani memotong ucapan Selma cepat.
"Makasih ya Fan, makasih. "
"Hati-hati Sel, jangan ngebut!" teriak Fani pada sang sahabat yang sedang berlari kearah parkiran motor.
Selma melajukan motornya dengan cepat, air mata yang mulai mengenang di mata lentik wanita itu membuatnya tida begitu jelas melihat jalan. Selma sungguh khawatir dengan keadaan Mardi, setelah lima belas menit perjalanan Selma sampai di rumah sakit tempa Bapaknya dirawat.
Gadis yang masih memakai seragam pabrik itu berlari menyusuri lorong rumah sakit. Seorang gadis yang memakai seragam putih abu-abu melambaikan tangan pada Selma, agar sang kakak berjalan kearahnya.
"Gimana keadaan Bapak, Dek?" tanya Selma yang sudah bersimbah air mata.
"Ibu lagi bicara sama dokter di dalam Mbak, daro tadi Bapak belum sadar," jawab Ayu dengan suara yang serak karena terlalu banyak menangis, matanya juga terlihat merah dan sembab.
__ADS_1
Selma terduduk lemas di samping Ayu, yang bisa kedua gadis itu lakukan sekarang hanya berdoa untuk kesembuhan Mardi.