Baby El

Baby El
Berapa harga mu?


__ADS_3

Malam itu hujan turun dengan derasnya. Seolah ikut berduka dengan hancurnya hati seorang suami, pintu kamar Sebastian perlahan terbuka. Sofia berjalan mendekati putranya yang sedang patah hati, pria bermata sipit itu duduk termenung dengan mata kosong menatap keluar jendela. Menikmati petir yang sedang saling bersahutan dengan hembusan angin kencang.


"Tian," panggil Sofia dengan menyentuh bahu Tian.


Sebastian hanya diam, laki-laki itu seolah tak perduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Sofia menghela nafas berat kemudian duduk di samping Tian.


"Kau harus kuat Tian, demi El, " ucap Sofia dengan sentuhan lembut di bahu putranya.


Tak ada jawaban dari Sebastian, bahkan untuk sekedar mengangguk saja dia tidak mau. Lelah, pria itu merasa lelah dengan kenyataan yang ia hadapi sekarang. Selama ini dia sudah berusaha memenuhi semua keinginan Marlina, menjadikan wanita itu ratu dalam kehidupannya. Meskipun orang tua Sebastian, menentang hubungan mereka.


Setelah semua itu, apa yang Sebastian dapatkan. Sebuah penipuan besar, penghianatan yang sungguh mematahkan hatinya. Sofia hanya bisa menghela nafas melihat Sebastian yang murung, diam dengan mata yang sembab. Sebagai seorang ibu tentu dia tidak ngin melihat rumah tangga anaknya seperti ini. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan Marlina terus membohongi Sebastian.


Sebenarnya selama ini Sofia sudah mengetahui kalau mentan menantunya itu kemabli ke hobby buruknya. Tetapi dia diam, selama Marlina tidak menghianati cinta Sebastian, Sofia akan diam. Namun, kali ini dia sudah tidak bisa diam lagi, wanita itu sudah benar-benar menipu keluarga besar Bagaskara.


"Mama tahu ini sulit, tapi mama yakin kamu bisa melalui ini Nak."


"Ma,aku ingin sendiri, maaf," ucap Sebastian lirih.


Sofia menepuk pelan bahu putranya, ia mengangguk lalu melangkah pergi menjauh. Sofia melihat sejenak Sebastian sebelum menutup pintu kamar itu.


"Haaaa,sial! kenapa kau melakukan ini Lin, kenapa!" Sebastian berteriak, meluapkan rasa sesak yang bergemuruh dalam dada.


Sakit, rasa itu msih mengigit begitu kuat. Meninggalkan rongga lebar berdalah dalam hatinya, cintanya terkoyak, jiwa lelaki itu patah. bagaimana tidak, cinta yang begitu ia agungkan kini ternoda oleh penghianatan dan kebohongan.


mata bening bernaik hitam itu kini basah, berlinang air mata. Sebastian bangkit, berjalan cepat mengantampan kepalan tangan ke tembok yangada di hadapannya.


Selma yang mendengar kegaduhan dari kamar majikannya tidak berani mendekat. Wanita itu baru saja terbangn dari tidurnya, Selma tidak sengaja tertidur saat menidurkan baby El. Selma hanya berdiri mematung di lantai bawah, menatap pintu kamar Sebastian yang ada di lantai dua.


"Kamu lihat apa?" tanya seorang wanita yang selam tahu pasti siapa, Selma menoleh ia tersemyum canggung pada Sofia.

__ADS_1


"Ti-tidak ada Nyonya, saya hanya mendengar sesuatu dari kamar Tuan. Seperti benda jatuh," jawab Selma gugup, ia takut Sofia berpikir dia tidak sopan karena melihat kamar Tuannya.


Sofia tersenyum kecut, ia juga melihat pintu kamar Sebastian yang tertutup rapat. Dia tahu putranya itu sedang melampiaskan rasa kecewa dan marahnya. Sofia yakin anak bungsunya itu tidak akan melakukakn hal bodoh, dia hanya butuh waktu untuk sendiri.


"Biarkan saja, apa kau buruh sesuatu?" tanya Sofia mengalihkan perhatian mereka. Selma menggelang pelan.


"Saya hanya haus," kilah Selma, padahal eselain haus dia juga sangat lapar. Selma tidak sempat makan malam, sedang El menghisap habis ASI-nya tentu itu membuat selama kelaparan.


"Hem, setelah itu cepatlah istirahat. Kau pasti lelah, aku juga akan kembali ke kamar." Sofia meneruskan langkah ke kamarnya.


"Baik Nyonya, selamat istrirahat,'ucap Selma sambil menunduk hormat, ia menunggu sampai Sofia berjalan agak menjauh baru Selma melangkah ke dapur.


Wanita berambut panjang itu segera membuka lemari pendingin. Ia tersentum meihat lauk dan sayur yang masih di sisakan untuknya. Dengan cekatan Selma membawa semua itu ke meja, dan mengambil nasi hangat yang masih tersisa banyak di penghangat nasi.


Cacing yangsudah berdemo membuat Selma langsung menyantap lauk dan sayur yang masih dingin uty. Untung nasinya hangat jadi masih seimbang, Selma terkekeh sendiri dengan tingkahnya. Dia seperti orangyang dua hari tidak makan, apalah dayanya. Baby El hanya bergantung pada dirinya, dia makan juga untuk bayi tampan itu.


Saking khusuknya makan, Selma tidak sadar jika Sebastian sudah berdiri di sampingnya.


"Astaga Tuan," ujar Selma sambil mengusap dadanya, jantung Selma seperti mau copot saking terkejutnya.


Entah kapan laki-laki itu datang dan berdiri di sana. Tak seperti biasa, Sebastian telihat dingin dengan raut wakah datar.


"Baik Tuan, mau kopi hitam atau kopi susu? " tanya Selma sambil merapihkan meja tempat ia makan.


"Kopi hitam saja" jawab Sebastian, mata sipit laki-laki itu melirik gerakan Selma yang buru-buru merapihan bekas makannya di meja.


"Biarkan semua itu, cepat buatkan kopiku."


Nada bicara Sebastian yang terdengar tegas membuat Selma takut. Ini prtama kalinya Selma melihat sebastian seperti ini. Laki-laki yang biasanya ramah itu kini terlihat datar dan dingin, Selma yang takut langsung meletakkan kembali piring yang baru ia angkat,

__ADS_1


Segera Selma menjeran air untuk membuat kopi. Tak butuh waktu lama, secangkir kopi panas dengan asap yang masih mengepul tipis Selma letakkan di depan Sebastian.


"Ini Tuan, Silahkan."


Sebastian tak menjawab, pria itu malah menatap Selma dengan tatapan aneh, Selma mulai risih dengan tatapan mata Sebastian yang sungguh tidak biasa. Membuat Selma merasa tidak nyaman.


Selma gegas merapihkan meja, menyimpan kembali lauk dan sayur yang belum sempat ia habiskan, bahkan nasi yang ia ambil masih ada separuh. Meski masih lapar. Namun, Selma tak ingin berlama-lama bersama majikkannya di dapur.


Sebastian trus memperhatikan Selma dengan tatapan anehnya, membuat wanita itu semakin tidak nyaman. Selma semakin mempercepat gerakkannya.


"Ma-maf Tuan saya permisi dulu," pamit Selma dengan gugup.


Sebastian hanya diam. namun, sorot matanya tajam melihat Selma, baru saja langkah Selma melewati Sebastian langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar memegang pergelangan tangan Selma.


Tubuh Selma ditarik dan di dorong ke salah satu sisi dinding dapur. Sebastian, berdiri di depan Selma. Satu tangan Sebastian mengunci pergerakan gadis itu.


"Tu-Tuan apa yang Anda lakukan?" tanya Selma panik. dia beusaha meonta tetapi tentu saja, tubuh mungil selma tak sepadan dengan Sebatian.


Jantung Selma bedetak kencang, keringat dingin sudah membasahi kening dan lehernya. Selma sangat takut dengan Sebstian yang sedang menatapnya dingin saat ini.


Sebastian memegang kedua tangan Selma, mengarahkannya keatas, menuat selma tak berkutik. Sorot mata pria itu berubah tajam, Seolah hendak menelan Selma.


"Tu-Tuan ini tidak benar, tolong lepaskan saya." Selma berusaha memberontak tapi tetap percuma, Sebastian makah semakin mengemggam erat tangan gadis itu.


"Tuan- Tuan to-tolong le- lepaskan saya!" pekik selma ketakutan, saat laki-laki itu dengan buas menc***mi leher Selma, jijik, takut.


"Jangan!"


"Tolong lepaskan saya Tuan!"

__ADS_1


Seolah tuli, bukannya melepas Sebastian malah mengigit bahu Selma membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Jangan Munafik, Berapa hargamu semalam?!" tanya Sebastian dingin, mata selma langsung membeiak lebar.


__ADS_2