
"Darimana kamu?" tanya Sebastian pada wanita yang mengendap-endap masuk kamar.
"Emh dari kerja," jawab Marlina berusaha tenang, setelah menegakkan tubuhnya wanita itu berjalan mendekat kearah ranjang.
"Kerja?"
"Iya, kau kan sudah setuju kalau aku boleh melakukan apapun yang aku mau kalau aku setuju untuk hamil." Marlina duduk di tepi ranjang, melepaskan sepatu ber hak tinggi satu persatu.
Sebelumnya Marlina adalah seorang model, setelah menikah dengan Sebastian Marlina berhenti sebagai mobil atas permintaan sang suami.
"Ya aku memang berkata seperti itu, tapi setidaknya kau bisa pamit dulu, aku kebingungan mencari mu. Ponselmu juga mati, kenapa?" tanya Tian dengan sorot mata tajam.
"Bateraiku habis,.. aku lupa cash," kilah Marlina yang langsung melenggang ke kamar mandi.
Sebastian langsung mencekal tangan istrinya, Marlina pun menoleh dan menatap sang suami dengan tidak suka.
"Tatap mataku saat bicara Alin," ucapnya penuh penekanan, tangan besar itu juga semakin kuat melingkar di pergelangan tangan Marlina membuat si empunya meringis sakit.
"Aku tidak melarang mu untuk kembali bekerja. Tapi ingatlah kau seorang istri dan ibu, kau harus ingat batas mu!" tegas Tian dengan geram.
"Iya -iya, Tian kau menyakitiku," ucap Marlina dengan wajah kesakitan, Sebastian langsung melepaskan tangannya.
Marlina mengusap pergelangan tangannya yang memerah karena laki-laki itu, tanpa berkata apapun Marlina melanjutkan langkah ke kamar mandi. Sebastian mengusap wajahnya kasar, dia selalu berusaha menahan amarah, tetapi sikap Marlina yang semakin keterlaluan membuat laki-laki bermata sipit itu kadang tak bisa membendung rasa kesalnya.
Sesabar apapun Tian, dia juga hanya manusia biasa yang punya batas.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sofia melangkahkan kaki dengan bahagia, sudah cukup lama dia tidak menjenguk cucunya yang super ganteng itu. Dia baru saja kembali dari madura.
"Siti! teriak sofia memanggil asisten rumah tangga anaknya.
Wanita paruh baya yang memakai seragam asisten itu berlari tergopoh-gopoh menyambut nyonya besarnya. Dengan cekatan ia mengambil tas plastik yang Sofia bawa.
"Berikan itu pada istri Tian, aku membawanya langsung dari madura. Katakan untuk menghabiskannya segera, jamu ini bagus untuk wanita yang baru melahirkan seperti dia," ucap Sofia panjang lebar, meski dia belum menyukai Marlina. Namaun, dia juga sadar Tian sangat mencintai Istrinya itu, pelan-pelan ia akan berusaha menerima Marlina.
"Baik Nyonya," jawab siti dengan gamang, taut wajahnya menunjukan rasa ragu dan seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kamu kenapa Sit? kok mukanya gitu?" tanya Sofia yang merasa aneh, Sofia memang wanita yang cukup peka pada perubahan orang-orang di sekelilingnya, pengalaman mengajarkan segalanya pada Sofia.
"Ah .. tidak apa-apa Nyonya, mungkin saya hanya capek habis bersih-bersih gudang, saya ke dapur dulu mau simpan jamu ini, permisi," pamit Siti, dengan langkah panjang wanita itu meninggalkan Sofia. Sofia tersenyum, dia semakin yakin jika wanita iru sedang menyembunyikan sesuatu.
Tapi sudahlah, itu bisa ia pikirkan nanti, sekarang dia ingin bertemu dengan Elvaro. Pria kecil itu pasti sudah tumbuh besar sekarang. Dengan rindu yang membuncah ia melangkah kaki ke kamar cucu pertama dari Sebastian itu.
Kamar Elvaro sedikit terbuka, ia pun mendorong pintu itu perlahan agar tidak menimbulkan bunyi, ia takut menganggu Elvaro yang kemungkinan sedang tidur, bayi memang lebih sering tidur. Langkah kaki wanita paruh baya itu terhenti matanya membeliak lebar saay melihat Selma, sebenarnya tidak ada yang aneh pada wanita itu. Namun, apa yang sedang ia lakukan sungguh diluar dugaan Sofia.
Wanita itu pun tak jadi masuk, ia kembai menutup pintu seperti semula dengan lebih hati-hati, dia tidak ingin Selma tahu. Dengan berbagai pertanyaan dan dugaan yang berkecamuk di kepalanya, Sofia berjalan kearah dapur dia butuh segelas air dingin untuk mendinginkan kepala.
"Tapi Nyonya, sayang jika di buang Nyonya besar sudah membawa ini jauh-jauh dari madura," jawab Siti yang merasa tidak enak membuang jamu yang diamanahkan padanya."
"Halah sudahlah." Marlina mengibaskan tangan malas di depan Siti.
"Ini bukan pertama kalinya kamu lakukan, jik mau minum saja atau berikan pada wanita itu, dia yang butuh minuman aneh ini bukan aku!" ketus Marlina, ia mengambil sekaleng minuman yang mengandung alkohol rendah.
siti hanya bisa mengusap dada, Marlina tidak pernah berubah. Sejak awal memang begitulah sikap wanita itu, dia hanya akan berkata manis saat bersama sang suami. Wajah Sofia menegang mendengar obrolan majikan dan ART-nya itu, ada yang tidak beres, dan Sofia harus tahu apa yang mereka sembunyikan.
Sofia keluar dari tempat ia sembunyi, ya wanita itu mamang sengaja menguping. Firasatnya mengatakan untuk mendengar tanpa menganggu.
"Kamu mau buang atau bagaimana Siti?" Tanya Sofia, wanita paruh baya itu terkejut hingga hampir menjatuhkan botol jamu yang ia pegang.
Siti memberingsut mundur mencoba menghindar,
"Nyo-Nyonya... " Siti terbata, bola mata wanita itu bergerak menghindari tatapan Sofia yang tajam.
__ADS_1
"Kenapa kamu terlihat gugup Siti? Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?" Cerca Sofia, ia menegang wanita itu. Sedikit menekankan, membuat Siti semakin gugup tak karuan. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi kening yang sudah mulai dihiasi kerutan. Ketakutan menyelimuti hati wanita itu, Sofia semakin yakin dengan dugaannya.
"Kau sudah lama ikut dengan kami,aku sangat percaya padamu Siti," Ucap Sofia lirih tetapi penuh dengan penekanan.
Sofia tersenyum penuh arti, tak ada raut wajah yang mengintimidasi. Namun, sorot matanya menatap dengan tajam meski senyum ramah tersungging di bibirnya.
"Buatkan aku teh, aku lelah ingin istirahat di belakang, " ujarnya sambil berlalu meninggalkan Siti yang sudah basah karena keringat dingin.
"Ba-baik Nyonya, segera saya antarkan," jawab Siti meskipun Sofia tak mendengar, karena wanita itu sudah menjauh.
Sedangkan dalam kamar Selma menidurkan baby El, bayi nan tampan itu terlelap dalam dekapannya dengan perut kenyang setelah meminum ASI. Lama Selma menatap wajah mungil El varo dengan tatapan sendu tetapi penuh cinta.
"Semoga kamu jadi anak yang soleh, Sayang," ucap Selma sambil mengusap lembut pipi El yang gembul.
Krruukk
Selma memegangi perutnya, cacing dalam lambung wanita bertubuh mungil itu meronta minta jatah.
"Aish ...baru juga jam segini udah lapar lagi," ujar Selma pada dirinya sendiri, jam di dinding baru menunjukan pukul sembilan pagi, tetapi perut Selma tidak bisa diajak kompromi. Dia pun memutuskan untuk ke dapur mencari sesuatu untuk di makan.
Sesampainya di dapur Selma langsung membuka lemari es mengambil sebuah apel untuk mengganjal perut.
"Enak banget ya, udah kayak Tuan rumah mau apa tinggal ambil!" bentak seorang wanita yang langsung membuat sela terjingkat kaget.
Wanita dengan seragam berwarna baby pink itu pun segera bangkit dari depan lemari es. Ia menunduk dengan menggenggam apel yang belum sempat ia makan.
"Maaf Nyonya, saya sangat lapar dan ini juga saya ambil dari lemari es pegawai," ujar Selma.
Di rumah besar ini segala sesuatu memang dipisah. Milik Karyawan dan Tuan rumah jelas di bedakan, begitu pul tempat makan. Hanya Selma yang di perbolehkan makan di meja besar itupun hanya saat Sebastian dan Sofia ada, jika tidak maka Marlina tidak mengijinkan seorang pegawai pun mengunakan meja makan itu.
"Berani kamu jawab saya,
ingat kamu hanya pengasuh anak itu , tidak lebih! dan ingat jangan sekali pun kamu buka mulut, tau adik kamu akan tahu akibatnya!"
Selma menunduk sambil meremas ujung baju dengan satu tangan, dengan kasar Marlina merebut apel yang Selma pegang kemudian melemparnya ke tempat sampah. Selma hanya bisa mengusap dada sambil menarik nafas dalam, dia sudah biasa dengan ancaman wanita itu. Toh memang benar apa yang Marlina ucapkan, dia hanya pengasuh bayi.
__ADS_1
Setelah majikannya itu benar- benar berlalu, selma berniat mengambil kemabli apel yang dibuang Marlina ke tempat sampah. Sayang, apel itu masih utuh. Dia berjongkok hendak memasukan tangan ke tong sampah yang tak bertutup. Namun, terhenti karena sebuah tangan mencegahnya. Selma menoleh, matanya membeliak lebar melihat siapa yang mencegahnya.