Baby El

Baby El
Bab 21


__ADS_3

"Sial semuanya sialan!! kenapa Tian bisa tahu kalau bayi itu bukan anakku!" murka Marlina, wanita itu masih belum terima Sebastian menceraikan dia begitu saja.


Apa selama lima tahun ini pernikahan mereka sala sekali tidak berarti untuk Sebastian. Marlina bahkan bersedia cuti dari perkerjaannya sbagai model, tapi sekarang Sebastian malah menceraikan dia, membuangnya seperti sampah.


Wanita cantik itu masih belum menyadari kesalahannya. Dia hanya melihat semua yang terjadi dari sudut pandang yang ia inginkan. Menurut Marlina dialah yang paling banyak berkorban di pernikahannya dengan Sebastian. Perkerjaan yang sudah menjadi mimpi Marlin sejak kecil harus ia tinggalkan untuk Sebastian, ia bahkan rela membayar seorag wanita untuk melahirkan seorang cucu keluarga Bagaskara.


Bukankan itu perngorbanan yang angat besar, butuh kelapangan hati untk seorang wanita merelakan wanita lain mengandung benih dari suaminya. Kenapa Sebastiann tidak bisa melihat pengorbanan Marlina dan justru menyalahkan dia.


"Semua ini pasti karena wanita tua itu! semua ini gara-gara dia, awas saja aku pasti akan membuat dia nenyesal!" pekik Marlina dengan sorot mata tajam melihaat foto pernihakan dengan Sebastian dan keduaa oraang tuanya.


Andai saja mertua marlina tidak terus mendesak agar mereka cepat punya anak, mungkin Marlina masih menjad istri sebastian. Andai kala itu Sofia tidak mengancam aka menikahkan mantan suaminya dengan wanita lain, andai, semua itu hanya andai.


Bukan tanpa sebab Marlina mengunakan sel telur Selma, bukan sel telur miliknya. Alkohol dan obat-obatan terlarang itu mempegaruhi sel telur miliknya, tingkat keberhasilan hanya dua puluh persen jika mengunakan miliknya. Keadaan Marlina bisa kembali normal jika dia berhenti mengkonsumsi alkohol dan hidup sehat dalam kurun waktu enam bulan, tentu saja itu telalu lama. Sementara mertuanya terus mendesak Marlina untuk punya anak.


"Hei... hei Sayang, apa yang kau lakukan?" Tanya seorang pria yang baru masuk ke rumah Marlina tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Marlina menoleh, mendelik tjam pada laki-laki yang baru saja datang. Joha


an berjalan santai berjalan mendekat, ia meletakkan makan siang yang baru ia beli. Pria tampan berwajah oriental itu duduk di samping Marlina, meksi tatapan wanita itu begitu dingin padanya.


"Jangan terus menatapku seperti itu, Sayang. Makanlah, aku tidak mau sampai wanita cantikku ini jatuh sakit," ucap Johan sambil tersenyum hangat pada Marlina.

__ADS_1


Marlina menepis kasar tangan Johan yang hendak membelai rambutnya. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum , dia sudah terbiasa dengan sikap kasar Marlina.


"Ini semua gara-gara kamu Johan, gara-gara karyawan kamu semuanya hancur!" marah Marlina dengan wajah yag memerah. Tak ada lagi ir mata kesedihan yang tumpah, hanya ada benci dan amarah di raut wajah wanita cantik itu.


Johan hanya diam sembari mengulum senyum, bisa dibilang dia bahagia dengan hancurnya rumah tangga Marlina. Sudah lama Johan menaruh hati pada anita itu, bahkan jauh sebelum hadirnya Sebastian di kehidupan Marlina.


Namun sayang, dia hanya seorang laki-laki biasa dengan impian yang besar, sedangkan Sebastian seorang putra konglomerat yang ternama. Tetapi berkat usaha keras yang selamaini ia lakukak, Johan berhasil menjadi seorang dokter. Meski ia masih kalah jika dibandingkan dengan Sebastian.


"Sudahlah Lin, lupakan masa lalumu. Hiduplah bersamaku, aku bisa mencukupi semua kebutuhanmu juga memberimu kepuasan," bisik Johan dengan suara berat.


Marlina memejamkan matanya, tidak ia pungkiri Johan selalu bisa memberikan apa yang selama ini tidak diberikan Sebastian. Sebuah kepuasan batin, kadang mantan suaminya itu terlalu sibuk dengan perkerjaan. Awal pernikahan mereka sangatlah hambar.


Sebastian sibuk mengembangkan perusahaan yang baru ia bangun, sampai lupa jika ada nafkah lain yang harus diberikan selain harta. Baru- baru ini saja Sebastian ada waktu untuk Marlina, itupun dia harus pasang badan terlebih dahulu.


"Tidak sekarang Jo, aku masih ingin mmembuat mereka merasakan sakit yang mereka berikan padaku," ucap Marlina dengan mata berkilat penuh amarah, bayangan di mana dirinya di seret keluar dari rumah bear itu masih sangat jelas di otaknya meski sudah hampir sebulan dia meninggalkan rumah itu.


"Apa rencanamu, Sayang? aku kan selalu mendukungmu. jangan khawatir," tanya Johan dengan mengendus liar leher jenjang Marlina yang terbuka.


Berdekatan dengan Marlina seperti ini selalu membuatnya ingin memakan wanita itu. Seperti mimpi yang menjadi nyata untuk Johan, dia tak mau melewatkan kebersamaan mereka untuk menyatu.


"Akan aku beri tahu nanti, sepertinya ada yang lapar," goda Marlina sambil menggerlingkan matanya nakal, tentu ia tahu apa yang Johan inginkan.

__ADS_1


Johan tersenyum, tanpa basa-basi ia langsung mel***at kasar bibir Marlina yang seksi. Marlina pun tak mau kalah, ia membalas setip ciuman dan jamahan tangan Johan dengan penuh hasrat. Keduanya pun menyatu, berbagi peluh di sofa rung tamu untuk ke sekian kalinya.


Di apartemn itu hany ada mereka berdua, tak perlu khawatir jika orang lain kan mendengan lantunan suara maja yang mereka buat.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sementara dirumah besar bagaskara, suasana sedang tegang. Selma duduk dengan wajah menunduk malu karena kedatangan Ani. Ibunya datang untuk meminta uang pada Selma.

__ADS_1


"Kamu itu seharusnya tahu diri Selma, kirim sebagian gaji kamu pulang. jangan membuat orang tua malu, sampai harus mengemis datanf seperti ini! atau kamu sengaja nggak kirim uang biar ibu dateng minta-minta. dasar anak durhaka kamu!" teriak Ani tanpa satupun yang datang melerai dua wanita itu.


__ADS_2