
Wanita itu menangis sambil mendekap Elvaro, Bayi merah itu begitu tenang dalam pelukan wanita berambut panjang itu. Sementara di kamar lain Sebastian mendekap sang istri yang tengah merajuk, tetapi entah mengapa ia begitu penasaran dengan suster yang sekarang sedang bersama anaknya.
Dia tidak melihat suster itu saat di klinik. Ada rasa khawatir meninggalkan Baby El dengan orang asing yang belum pernah ia temui sebelumnya. Namun, melihat reaksi Elvaro yang tenang dan langsung berhenti menangis setelah suster itu datang membuat Sebastian mencoba untuk percaya wanita itu.
Sekarang dia harus memikirkan apa susu Baby El menolah susu formula, tadi dia minum ASI Devi, karena kebetulan kakaknya itu juga punya bayi berusia lima bulan. Bagaimana dengan besok, tidak mungkin dia meminta Devi untuk menjadi ibu susu El terus menerus, sementara ASI Marlina juga tidak keluar sama sekali.
Rasa lelah membuat Sebastian terpejam, dia akan memikirkan itu besok, pria bermata sipit itu butuh istirahat sekarang. Malam yang hening dengan rintik hujan yang mulai menyapa bumi membuat suasana semakin dingin.
Langit masih tampak muram karena mentari pagi ini tertutup awan. Angin pagi terasa dingin menusuk sampai ke tulang sumsum. Sofia bangun lebih awal dari yang lain, wanita paruh baya itu langsung melihat keadaan cucu pertama dari Sebastian.
Dengan hati-hati ia membuka pintu, takut jika Elvaro sedang tidur. Dan benar saja, pria kecil itu tengah terlelap dalam mimpi indah di ayunan kayu dengan di gerakan pelan oleh wanita yang datang tadi malam.
Mendengar langkah kaki mendekat, wanita itu menoleh dan menghentikan lagu yang ia gumamkan. Ia segera bangun dan menyapa Sofia sambil sedikit menunduk hormat.
"Duduk saja, aku hanya ingin melihat El," ucap Sofia lirih sambil melangkah mendekati ayunan, wanita itu pun mengangguk dan sedikit bergeser agar nenek muda itu bisa melihat baby El dengan jelas.
Senyum sofia mengembang melihat El yang begitu lelap, padangan Sofia beralih pada wajah ayu wanita yang bahkan ia belum tahu namanya.
"Apa kau sudah makan?"
Dengan tersenyum kaku wanita itu menggeleng pelan, jangankan untuk makan mandi pun ia tidak. Tempat asing seperti ini mana berani dia sembarangan, apalagi semua orang masih terlelap. Tak ada orang yang bisa ia mintai izin, dia hanya merawat El dalam kamar itu karena semua kebutuhan bayi itu ada lengkap di sana.
__ADS_1
Sofia menarik lembut tangan wanita itu, mengajaknya keluar dari kamar El. Wanita itu menurut saja kemana Nyonya besar itu membawanya.
"Duduklah," titah Sofia. Wanita itu hanya mengangguk lalu duduk di kursi yang Sofia maksudkan.
"Apa kau minum sesuatu yang khusus kalau pagi, susu atau jus buah?"
"Tidak Nyonya, sama minum apa saja yang ada. Saya bisa makan apapun," jawabnya polos, Sofia pun terkekeh mendengar jawaban wanita itu.
"Baiklah, kalau begitu silahkan menikmati. Tidak usah sungkan, lain kali kau bisa makan tanpa menunggu kami. Sepertinya yang lain juga akan bangun lebih siang, El benar-benar membuat kami kewalahan tadi malam, andai kau tidak datang, aku tidak tahu bagaimana nasib cucuku itu,' ucap Sofia panjang lebar, entah kenapa ia merasa lebih nyaman bicara dengan wanita itu dibanding dengan menantunya.
"El bayi yang berhati lembut Nyonya, dia bisa merasakan perasaan orang lain terhadap dia," sahut wanita itu dengan senyuman hangat.
"Kau seperti sangat mengenal El, maaf aku lupa bertanya siapa namamu?" Sofia menatap wanita itu dengan tatapan lembut.
"Baiklah Selma, apa kau bersedia berkerja di sini sebagai pengasuh El. Aku akan membayar mu du kali lipat dari gajimu di rumah sakit," ujar Sofia.
Selma berhenti mengunyah, ia menatap Sofia dengan alis yang berkerut. Rumah sakit? kapan dia berkerja di sana.m Melihat Selma yang diam, Sofia merasa kalau wanita itu masih bimbang untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai suster.
"Tiga kali lipat, bagaimana?" tawar Sofia meyakinkan, dia harus bisa membujuk Selma sampai wanita itu bersedia menjadi pengasuh Elvaro. Sofia yakin hanya Selam satu-satunya orang yang cocok untuk merawat Baby El.
Selma semakin gelagapan, tiga kali lipat itu berapa? dia bahkan tidak tahu gaji suster di rumah sakit itu berapa. Dan kenapa nyonya besar ini mengira dia seorang suster. Di tengah kebingungannya Selma tiba-tiba ingat dengan perkataan seorang laki-laki yang mengantarkan dia ke rumah besar ini.
__ADS_1
"Tidak Nyonya jangan sebesar itu, gaji saja saya seperti pengasuh pada umunya," jawab Selma yang baru sadar dengan identitasnya sekarang.
"Ah .. jadi kamu mau jadi pengasuh El?" tanya Sofia dengan wajah yang berbinar.
"Tentu saya bersedia nyonya, Elvaro bayi yang sangat manis dan tampan, saya sudah jatuh cinta sejak pertama kali melihat malaikat kecil itu,"tutur Selma sambil melihat jauh ke arah kamar dengan pintu berwarna biru.
Meskipun kamar itu tak bisa terlihat dari ruang makan. Sofia bisa melihat cinta dimata Selma saat wanita itu berbicara tentang Elvaro. Sofia semakin yakin untuk menjadikan Selma pengasuh cucunya, di akan memecat pengasuh yang Sebastian pekerjakan.
Seorang wanita yang masih memakai piyama tidurnya berjalan angkuh ke arah meja makan, matanya menatap tajam dan benci pada Selma. merasa ada yang memperhatikan Selma pun menoleh, matanya dan mata Marlina bersitatap, Selam bisa merasakan betapa tidak sukanya wanita itu pada Selma, cepat selma menunduk sambil kemabli menikmati roti yang tinggal separuh.
"Selama pagi Ma," ucap Marlina dengan senyum ramah dan manis.
"Pagi, baru bangun kamu? mana Tian, apa dia tidak ke kantor?" tanya Sofia dengan nada ketus dan tidak melihat Marlina yang menarik kursi dan duduk di samping kirinya.
"Tian sudah ke kantor, mungkin dia berangkat saat mama masih di kamar," jawabnya santai sambil mengoles selai kacang ke roti yang ada di tangannya.
Sofia tidak bertanya lagi, suasana di meja makan terasa aneh, sangat tidak nyaman. Selma pun dengan cepat menghabiskan sarapannya. Saat dia hendak bangkit sambil membawa piring kotor, Sofia mencegahnya.
"Taruh saja, biar siti yang membersihkan. Kamu ikut saya sebentar," ujar Sofia sedikit penuh penekanan, siapapun yang mendengar pasti tak bisa membantahnya.
"Baik Nyonya."
__ADS_1
Selma meletakkan kembali piringnya, ia kemudian mengikuti langkah Sofia sudah yang mendahului dia. Selma sempat menoleh ke belakang, dia bisa melihat Marlina menatapnya dengan penuh benci.