
"Katakan apa yang harus aku lakukan?" tanya Sebastian, laki-laki itu duduk dengan. kedua tangan mengepal untuk menopang dagunya.
"Ap- apa maksud Tuan?saya tidak mengerti, " sahut Selma, wanita yang sudah tak gadis itu memilih ujung baju yang ia pakai dengan gelisah.
Dia menunduk, merapatkan tubuh kecilnya di ujung sofa. Selma sungguh sangat gugup sekarang, sebelumnya dia tidak pernah masuk ke kamar Sebastian, apalagi sekarang cuma ada mereka berdua.
"Aku sudah tahu semua, semua yang kau dan mantan istriku sembunyikan."
Deg
Deg
Jantung Selma berdegup cepat, semakin cepat dan cepat, seola organ penting itu akan meledak. Selma semak menunduk tak berani menatap mata Sebastian yang sedang menatapnya lekat.
"Jangan diam Selma katakan berapa Karlina membayarmu untuk melahirkan El?"
Selma meremas ujung bajunya, apa yang harus ia katakan untuk menjawab Sebastian. Apa laki- laki itu akan percaya jika Selma mengatakan yang sebenarnya? Selma mengangkat wajahnya. Ia menoleh berusaha memberanikan diri untuk bicara.
"Apa Tuan akan percaya pada saya, jika saya mengatakan yang sebenarnya?" tanya Monika yang lansung membuat laki-laki itu terdiam.
Selma tersenyum kecut melihat reaksi Sebastian. Siapa yang akan percaya pada wanita yang sudah menyewakan rahimnya untuk uang.
"Jawab saja pertanyaanku!" Tegas Sebastian dengan sorot mata tajam menatap Selma.
"Saya tidak tahu berapa yang istri Anda berikan pada Ibu, saya hanya tau uang itu cukup untuk biaya rumah sakit Bapak. Semua langsung dibayar oleh Ibu, saya tidak tahu pasti nominalnya," Selma menjawab dengan tenang. Sebastian menetap lekat wajah yang sedang tersenyum padanya, mencoba untuk mencari celah kebohongan.
Namun, nihil. Mata bening itu terlihat teduh tetapi menyimpan banyak luka.
"Lalu bagaimana keadaan Bapakmu sekarang?" Tanya Sebastian tiba-tiba, dia seolah lupa rencana awal untuk menginterogasi Selma.
__ADS_1
Selma berpaling , matanya menatap jauh keluar jendela besar yang terbuka, membiarkan angin masuk, membelai rambut panjang yang ia ikat tinggi.
"Bapak sudah meninggal, kesehatan beliau semakin menurun saat masa pemilihan pasca operasi," jawab Selma tanpa melihat wajah Sebastian. Ia tak ingin laki-laki itu melihat air mata yang jatuh tanpa permisi.
Sebastian tahu Selma menangis dari punggungnya yang gemetar, tanpa di duga oleh Selma laki-laki tanpa itu meremas pundaknya lembut.
"Maaf, aku turut berduka atas meninggalnya beliau," ucap Sebastian tulus, dia tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang yang ia cintai.
Selma segera mengusap air mtanya, memasang wajah senyum untuk menyembunyikan duka dan penyesalan yang masih bergelayut di hati.
"Terima kasih, setidaknya Bapak sudah tidak sakit lagu sekarang," ucap Selma dengan senyum meski mata itu terlihat sendu.
"Maaf Tuan jika boleh saya tahu, sejak kapan Anda tahu tentang ini?" Selma berusaha memberanikan diri untuk bertanya.
"Sudah lama, lebih tepatnya sebulan sebelum aku menceraikan Marlina."
Selma terkejut mendengar jawaban majikannya itu. jika dia sudah lama tahu, kenapa diam? Apa dia tidak marah? kesal?
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kenapa aku tidak marah kenapa aku tidak mengusirmu? kenapa aku masih membiarkanmu berkerja di sini saat aku tahu kalau ka adalah Ibu kandung El. Iya kan?" Sebastian penuh arti melihat Selma yang terkejut.
"Tentu aku marah, aku sangat kesal saat aku tahu kaluu istri yang selama ini aku cintai ternyata sudah menipu dan berhianat. Padamu aku juga kecewa padamu Selma, kenapa kau bisa menyewakan rahimmu dengan begitu mudah. Tapi lepas dari itu semua kau adalah ibu dari El, dan anakku tidak bisa dengan orang lain selain dirimu."
Selma hanya bisa tersenyum pahit mendengar jawaban Sebastian, entah kenapa dia merasa kecewa dengan jawaban laki-laki bermata sipit itu.
"Maafkan saya Tuan, jika saya membuat Anda kecewa." Sebastian menggeleng, dia tahu Selma juga terpaksa melakukan itu.
Sebastian sudah meminta Haris untuk menyelidiki Selma, wanita manis itu hanya korban keegoisan ibunya. Meski awalnya Sebastian ragu, tetapi setelah melihat sendiri baagaimana sikap Ibu Selma pada putri sulungnya membuat dia yakin.
"Aku
__ADS_1
"Tuan."
"Selma."
Mereka saling bertatapan dengan menyebut satu sama lain.
"Tuan duluan," ujar Selma sopan.
"Tidak, kau dulu saja."
Tak ada yang mau memlukai, keduannya saling menatap dalam diam.
Sebastian tertegun
, matanya seolah terkunci oleh bening dan teduhnya tatapan Selma. Lebih dari sebukan mereka hidup bersama, baru kali ini ia melihat Selma dari jarak sedekat ini. Selma memalingkan wajahnya, dia merasa tidak nyaman karena Sebastian menatapnya dengan begitu lekat.
Ada gelayar aneh yang Selma rasakan saat Sebastian menatapnya, dia bukan tidak tahu perasaan apa itu. Selma hanya tidak ingin perasaan itu tumbuh. Selma sadar siapa dirinya.
"Apa aku membuatmu tidak nyaman?" tanya Sebastian dengan lembut, ada rasa kecewa yang terselip di sana.
"Maaf Tuan , sepertinya kita sudah terlalau lama di sini. Saya takut Tuan muda El bangun, dia akan menanngis kalau tidak melihat saya saat bangun."
"Tunggu!" Sebastian menatik pergelangan tangan Selma, mau tak mau anita itu berbalik karena Sebastian menariknya.
"A-Ada apa Tuan."
"Ayo kita menikah," ajak Sebastian dengan serius.
Bagai disambar petir, rasanya sungguh tak percaya dengan apa yang Selma dengar saat ini.
__ADS_1