Baby El

Baby El
kejutan ulang tahun


__ADS_3

Halaman belakan rumah besar itu kini terlihat sangat indah, kelopak bunga mawar mengambang memenuhi kolam dengan beberapa lilin yang mengelilingi tepi kolam. Kelopak mawar membentuk bentuk hati di bagian tengah. Sebuah meja dengan hiasan lilin, sebotol sampanye dan sebuah kue dengan bentuk yang sangat indah tersaji di atas kain berwarna merah hati.


Selma tersenyum kecut melihat semua ini, sungguh wanita yang beruntung bisa menikah dengan Sebastian. Selain baik pria itu juga begitu romantis. Selma rasa hampir setiap wanita ayang melihatnya pasti akan jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Ayo masuk Sayang, sudah waktunya kamu tidur," ucap Selma pada EL yang kini sudah berusia empat bulan.


Bayi itu menggeliat, mengusap mata dan rambut secara berulang. Meski tidak menguap, Selma tahu jika Baby El sedang mengantuk. Ia pun cepat membawa baby Elke kamarnya.


Kamar yang sama yang ia tempati sejak beberapa hari yang lalu. Sebastian meminta Selma untuk tidur bersama El, tanpa Sebastian tahu sebenarnya Selma lebih sering tidur di kamar El daripada di kamarnya sendiri.


"Sayang kenapa cuma begini sih? aku kan pengen undang temen- temen aku," ujar Marlina dengan manja, pesta sederhana seperti ini sama sekali bukan stylenya.


"Kau bisa mengundang teman- temanmu di pesta yang lain sekarang aku ingin berdua saja denganmu," ucap Sebastian dengan senyum penuh arti, Marlina tersenyum bahagia, meski senyuman suaminya itu terlihat tak biasa tetapi Marlina tak terlalu ambil pusing.


Dengan mengapit lengan kekar Sebastian, Marlina berjalan menuju meja makan malam mereka. Sudah sangat tak sabar Marlina menerima hadiah yang Sebastian janjikan dua minggu yang lalu tepat sebelum ia melakukan pemotretan di luar kota.


Sebastian melepaskan tangan Marlina, dia menarik kursi dan mempersilahkan sang istri untuk duduk, setelah Marlina duduk Sebastian pun duduk di kursinya.


"Bagaimana kamu suka?" tanya Sebastian dengan serius, kedua tangannya bertaut menjadi tumpuan dagu yang mulus tanpa bulu itu.


"Suka sih, tapi aku lebih suka pesta yang kau tahu lah. Party," jawab Marlina sambil mengangkat bahunya.


Sebastian hanya tersenyum, senyum yang mampu membuat kaum hawa menjerit histeris, karena lesung yang menawan. Tak lama seorang pria dengan pakaian rapi membawa makan malam mereka, steik dengan daging sapi termahal menjadi santapan mereka malam ini. Hal itu tentu tak terlalu istimewa untuk Marlina, dia sudah terbiasa dengan makanan mewah seperti ini.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Sebastian tiba-tiba saat mereka tengah menikmati makan malam.


"Apa?"


Sebastian mengangkat bahunya. "Entahlah, aku hanya merasa kau ingin mengatakan sesuatu padaku. Sesuatu yang penting."


"Apa maksudmu? apa yang penting?" kini tangan Marlina berhenti, ia menatap wajah serius Sebastian dengan penuh tanya.


"Ah... Mana hadiahku? katau kau akan memberi ku kejutan yang tak akan pernah aku lupakan." Marlina meletakkan pisau dan garpu , tangannya menengadah pada Sebastian dengan senyum lebar penuh harap.

__ADS_1


"Kau yakin mau sekarang?"


"Tentu."


Sebastian pun tersenyum, ia mengangkat tangan memberikan kode pada seseorang. Tak lama seorang pria datang membawa sebuah dokumen dam memberikan itu pada Marlina. Dengan mata berbinar wanita itu menerimanya, dengan tidak sabar Marlina segera membuka dan membacanya.


"Sungguh ini untukku?" tanya Marlina dengan senyum bahagia.


"Tentu, itu milikmu. Baca dengan baik, aku tidak mau ada kesalahan," ucap Sebastian dengan dingin. Namun , Marlina tak memperhatikan ia kembali membaca sertifikat rumah yang ada di tangannya.


Sebuah kerutan di kening Marlina muncul saat ia membaca lembar demi lembar kertas yang ada di balik sertifikat rumah mewah atas namanya itu.


"Apa maksudnya ini!" Marlina sontak berdiri menatap nyalang pada Sebastian yang tampak tenang menikmati sampanye.


"Seperti yang sudah kau lihat, setelah ini kau bebas. Pergilah dari sini dengan damai."


"Jangan bercanda Tian, ini tidak lucu. Kau hanya ingin membuat lelucon kan, pasti teman-temanku bersembunyi di sekitar sini." Marlina menoleh ke kanan- kiri, mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Wanita itu mematung, jantungnya berdetak cepat. Apa maksud Sebastian, apa laki-laki itu tahu apa yang sudah ia lakukan? tidak mungkin, selama ini dia menyembunyikan semua dengan rapi. Marlina menggeleng cepat, tangan lentiknya meremas dokumen yang ada di tangannya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan mau bercerai denganmu! Tidak akan! Apa salahku, kenapa kau seperti ini Sayang? kita bisa bicarakan semua baik-baik," ucap Marlina dengan nada melemah di ujung kalimatnya.


Sebenarnya Sebastian sudah sangat muak melihat drama wanita ini, sudah cukup selama ini Marlina menipunya.


"Pergilah, mau tidak mau kau sudah aku ceraikan," ucap Sebastian dingin.


"Aku Tidak mau!" Marlina merobek dokumen yang ada di tangannya dengan murka hingga menjadi beberapa bagian dan menghamburkannya ke udara.


"Tian, kenapa wanita ini masih ada di sini!" teriak seorang wanita yang tak ain adalah Sofia.


"Mama," gumam Sebastian lirih.


Marlina menoleh, menatap marah pada wanita paruh baya yang terlalu banyak ikut campur urusan rumah tangganya.

__ADS_1


"Ini pasti gara- gara Mama kan!? Mama yang mempengaruhi Tian untuk pisa sama aku!" teriak Marlina dengan nyalang sambil menunjuk Sofia yang berjalan mendekat ke arah mereka.


Sofia tersenyum miring, mantan menantunya itu ternyata belum sadar kesalahan yang ia perbuat.


"Mengaca Lah! sudah terlalu kesalahan yang kau perbuat Marlina!" tegas Sofia sambil melipat kedua tangan di dada.


"Kesalahan? Kesalahan apa? Mama memang selalu mencari kesalahanku, padahal aku sudah memberi yang terbaik untuk Tian, untuk Mama. Aku bahkan memberikan seorang cucu untuk Mama!" ujar Marlina dengan suara yang meninggi, ia tidak terima terus dipojokkan.


"Cucu? El maksudmu? Apa cucuku itu benar-benar tumbuh di rahimmu?"


Deg


Marlina terdiam, wanita itu tampak kesusahan menelan salivanya sendiri. Ia menoleh, melihat Sebastian yang menatapnya dengan tajam. Apa ini? kenapa kedua orang ini menatap dia seperti ini? Apa mereka tahu?


"Kenapa diam? Ayo jawab. Apa keturunan bagaskara itu benar tumbuh dan keluar dari rahimmu?!"


"Te-Tentu saja Ma, kenapa Mama bertanya begitu. El anakku, dia darah daging Tian," jawab Marlina dengan berusaha menutupi kegugupannya.


"Jangan teruskan kebohonganmu Lin, itu membuatku semakin muak." Sebastian bangkit dan hendak melangkah pergi. Namun, Marlina meraih tangan pria itu.


"Tian aku mohon aku bisa menjelaskannya, ini- ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan, El anakku, anak kita," kali ini Marlina berkata dengan air mata yang sudah membasahi pipi.


Sebastian mengambil nafas dalam, ia menepis kasar tangan Marlina. Wanita itu terkejut, baru kali ini Sebastian kasar padanya. Ia terpaku melihat pria itu berjalan menjauh.


"Jangan buang waktumu, pergilah sebelum aku berubah pikiran dan menyeret mu keluar tanpa sepeserpun uang!" ujar Sofia tepat di wajah Marlina


"Tidak Ma, aku tidak mau bercerai dengan Tian!" teriak Marlina histeris.


Sofia tersenyum sinis, dua orang laki-laki yang sedari tadi bersiap berjalan mendekat. Mereka menyeret paksa Marlina keluar dari rumah itu, tak perduli dengan teriakan dan ocehan Marlina. Dua orang itu melepaskan Marlina dengan kasar ke luar pagar bersama barang-barang yang sudah di kemas dalam koper.


"Aku masih nyonya di rumah ini! kurang ajar kalian!" teriak Marlina saat dua orang pria itu menutup gerbang.


Hai selamat malam πŸ’™πŸ’œ tolong komen nya gaes mak biar nggak merasakan sepi. Aih.... 。ο½₯:*:ο½₯(βœΏβ—•3β—•)❀,β˜…βŒ’γƒ½(●^`^●)Kiss!

__ADS_1


__ADS_2