
"Kenapa kau membawa dia ke sini, Aku malas harus serumah dengan wanita dekil Jo!" pekik Marlina pelan . Namun, penuh penekanan.
"Kau sendiri yang memintaku untuk mengantarkan seseorang yang bisa membuat bayi itu tenangkan, siapa lagi kalau bukan dia," sahut pria berjas putih yang sedang duduk bersandar di klinik miliknya.
Marlina mendengus kesal, ia melirik sekilas ke arah pintu kamar, takut jika Sebastian pulang dan tiba-tiba masuk, mendengar pembicaraannya.
"Tapi bukan wanita itu, kau bisa mengirim salah satu suster mu dan suruh dia beri obat bius pada bayi cerewet itu!" Marlina memijit pelipisnya yang tiba- tiba pening.
Sudah tiga minggu Selma ada di rumah ini sebagai pengasuh El. Wanita itu sungguh menyita banyak perhatian semua orang termasuk Sebastian. Dan Marlina tentu sangat tidak suka itu, apa lagi ibu mertuanya semakin sering datang dan terlihat dekat dengan Selma.
"kau gila Lin, bayi itu anak kandung suamimu, sudahlah aku sudah membantumu sejauh ini. Biar saja wanita itu merawat bayi itu dengan baik, toh kau juga bisa lebih santai dan hemat, nggak perlu repot beli susu."
"Aku tidak suka dia di sini, Bagaimanapun aku harus memisahkan dia dari bayi itu, bagaimanapun jika yang lain curiga karena kedekatan mereka," keluh Marlina cemas sambil mengigit ujung kuku jempolnya.
"Kau jangan khawatir, selama kita diam, tidak ada yang akan curiga, tenanglah. Aku harus kembali berkerja, jangan terlambat malam ini," ujar Johan sebelum menutup telepon.
"Halo.. Johan.. Haloo. Sial!" umpat Marlina pada layar ponsel.
Sebastian berkerja dengan penuh semangat, hari - harinya semakin berwarna dengan hadirnya baby El. Rasanya dia mendapatkan energi tambahan tiap melihat wajah malaikat kecil itu.
"Ini terakhir kan? " Tanya Sebastian pada sekretarisnya
"Iya Tuan," Jawab Pria yang usainya lebih muda dari Sebastian.
Ia tersenyum senang melihat Tuannya itu sangat bersemangat. Aldi, pria itu sudah lama ikut Sebastian. Dia berkerja di perusahaan ini sejak pertama kali Sebastian mendirikannya. Sebastian selalu baik pada karyawan, Sebastian sosok seorang pemimpin yang mengayomi dan selalu berpikir positif, dia sangat pandai melihat peluang dan mengatur strategi. Sebastian sangat percaya diri dengan apa yang ia lakukan, hal itu yang membuat Aldi betah berkerja dengan Sebastian, tak heran jika perusahaan yang milik pria sipit itu berkembang dengan pesat.
"Ini, Terima kasih." Sebastian membereskan meja kerjanya, rasanya sungguh tidak sabar untuk segera pulang.
"Anda terlihat bersemangat akhir -akhir ini Tuan," ujar Aldi.
__ADS_1
"Ya begitulah, El memberi ku tambahan energi," ujarnya dengan senyuman yang membuat lekuk di pipi mulusnya terlihat jelas.
"Saya turut senang Tuan, maaf saya belum sempat melihat Tuan Muda," sahut Aldi dengan rasa menyesal.
Sebastian bangkit dari kursi kebesarannya, ia menepuk pelan bahu laki-laki muda itu.
"Maaf aku yang selalu merepotkan mu," ujarnya dengan sungguh-sungguh, beberapa hari ini Aldi berkerja lembur karena Sebastian pulang lebih awal.
"Hehehe.... Sudah tugas saya Tuan, Anda tidak perlu sungkan. Saya justru kasihan pada Anda yang harus puasa empat puluh hari, " sindir laki-laki dengan rambut model belah tengah itu.
Ya, dia sudah biasa bercanda dengan atasannya saat santai seperti ini. Sebastian justru terdiam mendengar candaan asistennya, bukan karena tersinggung. Namun, dia teringat pada Marlina, beberapa hari ini wanita itu bersikap aneh. Aneh untuk wanita yang baru melahirkan.
"Saya minta maaf jika menyinggung Anda," ralat Aldi cepat, tidak biasanya si bos tampan itu diam.
"Eh, Kenapa minta maaf?" ucapan aldi membuyarkan lamunan Sebastian.
Waktu menunjukan pukul tujuh malam saat Sebastian sampai di rumah. Setelah memarkirkan mobil pria itu segera turun dan berjalan cepat masuk. Langkah kaki pria berkulit putih itu terhenti kala melihat Selma yang berjalan kearah dapur. Sebastian yang tadinya ingin ke kamar pun mengikuti Selma.
"Astaga perut ku lapar sekali, " gumam Selama yang masih terdengar jelas di telinga Sebastian.
'Lapar? apa dia tidak ikut makan malam?'
Wanita itu terlihat sibuk mencari sesuatu untuk di makan sampai tidak menyadari langkah Sebastian yang semakin mendekat. Biasanya makan malam akan disajikan jam enam sore, Sebastian jarang makan di rumah kecuali saat libur kerja. Selma mengambil sebuah apel dari lemari pendinginan dan langsung menggigitnya seraya mengambil panci kecil untuk menjerang air.
"Hey jangan langsung dimakan, itu kotor." Sebastian mengambil paksa dari mulut Selma.
Selma yang terkejut hanya bisa melongo, raut wajahnya bahkan cenderung takut seperti maling yang kepergok. Sebastian memberikan apel yang telah ia cuci pada Selma.
"Ini,"Sebastian menyodorkan buah berdaging keras itu pada wanita yang masih melongo karena terkejut.
__ADS_1
"Airnya suda mau mendidih, kau mau masak apa? mie instan?"
"Eh, emh ... Iya Tuan. Apa Tuan mau?"
Sebastian tersenyum manis, dia meletakkan apel yang masih basah di tangan Selma. "Boleh, buatkan aku satu."
"Ba-baik," jawab Selma tergagap, baru pertama kali ini dia sedekat ini dengan majikannya. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
Jantung Selma berdetak kencang, seolah ingin keluar dari tempatnya. Sebastian merasa gemas melihat wajah Selma yang tertunduk dengan semburat merah di pipinya yang chubby. Gemas, ah tidak, tidak, tidak dia tidak boleh punya pikiran seperti itu pada Selma.
Sebastian menggeleng cepat untuk mengeluarkan bayangan mengemaskan Selma, sambil melonggarkan dasi yang melingkar di kerah kemeja biru yang ia pakai. Selma menatap bingung punggung sebastian yang bertingkah aneh.
Pria berambut hitam itu mengerutkan kening saat masuk ke kamar, kosong. Kemana istrinya itu pergi malam - malam begini? Masih belum selesai masa nifas Marlina. Dia bahkan memberi tahu kalau dia akan keluar rumah.
Dengan gusar Sebastian merogoh ponsel dari saku celana, sambungan telepon langsung di jawab operator yang menandakan ponsel sang istri dalam keadaan tidak aktif.
"Kemana kau pergi, Alin?!" Khawatir dan marah, Sebastian membuang ponselnya di ranjang kemudian menyungar rambut kebelakang dengan kasar.
Sebastian menghela nafas panjang, marah pun percuma, lebih baik dia mandi, daki dan peluh yabg menempel di kulit putihnya sudah menuntut minta dibersihkan.
Selesai membersihkan diri, Sebastian bergegas turun ke dapur. Dia berencana untuk menginterogasi Selma, siapa tahu wanita itu tahu kemana Marlina pergi, atau jangan-jangan ini juga bukan kali pertama Marlina pergi tanpa sepengetahuan dia.
Aroma gurih dan segar yang khas menusuk Indra penciuman Sebastian, membuat lambung pria itu tergelitik minta diisi.
"Tuan, emh silahkan duduk. " Selma yang tadinya duduk menikmati mie kuah miliknya kaget dengan kedatangan Sebastian. Dia langsung berdiri saat pria itu datang.
"Tidak usah sungkan, duduklah. Lanjutkan makan mu," ujar Sebastian sambil menarik kursi yang ada di hadapan Selma.
Wanita itu hanya mengangguk dan kembali duduk, ia pun melanjutkan makan setelah melihat sang majikan mulai memakan mie miliknya. Suasana sedikit tegang untuk Selma, dia benar-benar tidak biasa berduaan seperti ini dengan Sebastian.
__ADS_1