Baby El

Baby El
Bab 25


__ADS_3

Selma meremas tangannya gugup, Sofia mengusap punggung wanita yang akan menjadi menatunya itu. Sikap Sofia yang hangat dan penyayang membuat Selma merasa terharu, wanita yang memakai kebaya putih itu menoleh menatap Sofia dengan haru.


Selma tersenyum getir saat melihat Ibu kandungnya yang malah sibuk berselfie dengan semua perhiasan yang baru ia beli beberapa hari yang lalu.


"Semuanya sudah siap, mari pengantin sudah tunggu." Seorang wanita yang merupakan staff EO menjemput Selma di kamarnya.


"Iya-iya kita segera kesana. Ayo Sel, calon memantu jangan membuat calon menatu Ibu menunggu terlalu lama," ucap wanita itu, dia berjalan terlebih dulu meninggalkan kamar Selma.


Sofia hanya bisa menggelengkan kepala melihat besannya yang lebih antusias daripada pengantinnya sendiri.


"Maaafkan Ibu saya, Nyonya," lirih Selma, ia merasa tidak enak pada Sofia. Wanita paruh baya yang memakai kebaya berwarna coklat itu tersenyum sambil menggeleng pelan, seolah mengatakan dia tidak apa-apa dengan sikap besannya.


"Ayo mama bantu, jangan panggil nyonya lagi. Kamu harus mulai terbiasa memanggil ku mama Selma." Tangan Sofia terulur dan di sambut dengan baik oleh selma.


Perempuan itu tersenyum sembari mengangguk kecil, dia sangat bersyukur mempunyai mertua seperti Sofia meski pernikahannya dengan Sebastian hanya berdasarkan rasa sayang pada El varo.


Mekeka berdua berjalan beriringan, Sofia bisa melihat betapa gugupnya Selma. Sebatian pun tak kalah gugup, berkali-kali mengusap tangannya yang basah karena keringat dingin yang tak berhenti mengalir dari pori-pori telapak tanganya. Entah kenapa dia bisa segugup ini, ini bukan kali pertama dia menikah. Saat menikah dengan Marlina dia juga tidak segugup ini.


Tubuh Sebastian menegang saat Selma sudah berdiri di sampingnya. Wanita itu perlahan duduk di kursi yang ada di sebelah Sebastian, pria memakia beskap arna putih itu menelan ludah getir. Jantung pria bermata sipit itu berdetak kencang, seolah ingin keluar dari tempatnya.


"Sudah bisa di mulai?" tanya penghulu pada Seastian yang sedang gugup luar biasa.

__ADS_1


"I-Iya pak bisa," jawab Sebastian, meski mencoba menutupi rasa gugu[nya tetap saja dia terbata saat bicara.


"Baik, kalau begitu."


Penghulu menjabat tangan Sebastian, akad terucap dalam satu tarikan nafas. Doa menggema dengan indah setelah saksi bersaksi akad yang Sebastian ucapakan sah adanya. Air mata Selma menetes tak tertahan, Selma menikah dengan wali hakim. Bapak Selma adalah anak tunggal, ibunya pun tidak brusaha memberi tahu paman atau saudara laain dari bapak Selma. Hubungan keluarga Selma dengan kelurga bapaknya bisa di bilang tidak begitu baik.


Selma juga tidak begitu tahu penyebabnya. Sebastian melirik sekilas wanita yang baru sah menjadi istrinya itu, dia terlihat begitu ayu dan anggun. Sayang, wacah cantik itu terlihat sendu.


'Apa kau menyesal menikah denganku? Apa kau begitu tidak menginginkan pernikahan ini, Selma?' batin Sebastian bertanya-tanya.


Selma mengabaikan Sebastian yang mengulurkn tangan untuk di cium Selma, wanita itu terlalu larut dalam kenangan bersama sang bapak. Sampai akhirnya dia tersadar saat Sofia maju, dan berbisik pelan pada menantunya itu." Selma, cepat salami tangan suamimu."


Setelah semua tamu pulang Selma dan Sebastian ke kamar, menikamati malam pertama mereka yang begitu canggung. Acara pernikahan mereka memang sengaja dilakukan sore hari, agar beberapa kerabt Sebastian bisa hadir.


Setelah membersihkan diri Selma duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya yang basah, sedang Sebastian masih mandi. Wanita yang mengenakan piyama tidur berarna maroon itu berusaha untuk tidak gugup, meski tubuhnya tidak bisa berbohong. Tangan Selma gemetar menyisir rambutnya yang panjang.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Selm semakin panas dingin. Bagaimana dia harus melayani suamiya itu, apa dia harus menawarkan diri? Bagaimana caranya? Dia bahkan belum pernah dekat dengan laki-laki sebelumnya. Selma meremas sisir dengan kuat saat mendengar langkah kaki mendekat.


Aroma sampo segar semakin kuat saat Sebastian melangkah ke arahnya. Sebatian sempat tertegun saat melihat pantulan wajah Selma di cermin. Begitu cantik meski tanpa make up, bibir mungilnya yang berwarna pink pucat wajah yang segar dengan rambyt basah terurai sungguh membuat sisi laki-laki sebastian meronta. Tapi Sebastian tak ingin menyentuh Selma jika wanita itu belum nyaman dengannya.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mengunakan pengering rambut? Kalu bisa sakit kalau tidur dengan rambut basah." Sebastian menarik laci paling bawah meja rias untuk mengambil mesin pengering rambut dan menyrahkannya pada Selma.


Hati Selma menghangat, dia tak menyangka jika akan mendapakan perhatian smanis ini dari Sebastian.


"Terima kasih," ucap Selma dengan senyum tipis, rasa guggupnya sedikit berkurang.


"hem, jika kau sakt bisa repot nanti. Siapa yang akan merawat El," celetuk Pria yang sedang mengusap ambut pendeknya dengan handuk.


Senyum Selma memudar, ah dia terlalu berharap. Selma da di sini karena baby El, Selma jadi nyonya rumah ini untuk El. Dia hanya pengasuh yang telah beri lebel ibu. Selma belum tahu jika El adalah anak kandungnya, Marlina sellu menekannkan jika El adaah anaknya. Selma tak lebih darikantong berjalan yang membawa penyatuan benih.


"Matikan lampunya, aku ingin istirahat." ucap Sebastian membuyarkan lamunan Selma.


Pria itu membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di sana, dengan posisi memunggungi Selma. Ingin rasanya Selma mengajak Sebastian tidur di atas ranjangn dengannya. Namun, wanita itu tidak puna cukup keberanian untuk melakukan hal itu, Selma hanya menatap punggung berbalut kaos putih itu dengan nanar.


"Bagaimana saya bisa tidur dngaan nyaman sementara Anda tidur meringkuk seperti itu Tuan,"gumam Selma tak terdengar oleh sebastian.


Laki-laki itu berbohong, dia bahkan belum merasakan kantuk sama sekali. Dia hanya ingin menghindari Selma, Sebastian takut tidak bisa mengendalikan diri. Selma terlihat begitu menggoda dengan gaun satin yang membalut tubuh mungilnya, dangat tidak mungkin bagi Sebastian jika tidak tergoda. Dia sudah bisa merasakan jika junior mengeliat menuntut untuk pelepasan. Sebastian memejamkan mata, melawan rasa lapar yang mulai bangun.


Dengan perasaan kecewa Selma mematikan lampu seteah seesai mengeringkan rambut, dia mengambil bantal dan membaringkan tubuh di lantai yang ada di ataa ranjang dan jendela. Pikiranna berkecamuk, ada rasa sakit yang mulai mengerogoti hati wanita itu.


Siapa yang tidak sakit dan kecewa, saat malam pertama adalah saat yang paling di tunggu tiap pengantin. Namun, sayang malam pertama Selma terasa sangat dingin, sedingin lantai tepat ia berbaring. Yang Selma tidak tahu, suaminya itu mati-matian menahan die agar tidak menyentuhnya. Sebastian takut Selma belum bisa menrima dia menjadi suami, dia tidak ingin memkasa wanita itu berhubungan jika memang belum siap.

__ADS_1


__ADS_2