Baby El

Baby El
Masuk


__ADS_3

Tok


Tok


Suara ketukan pintu membuat Selma segera menarik tangan yang digenggam Sebastian, seorang wanita paruh baya berdiri diambang pintu kamar Sebastian yang tidak tertutup rapat.


"Masuk saja Bi," ujar Sebastian sambil tersenyum ramah pada wanita yang sudah lama berkerja dirumahnya itu.


Siti membalas senyuman Sebastian, sungguh sangat berbeda dengan saat ia bersama Selma. Waanita itu membawa nampan dengan semangkuk bubur yang masih mengepul asap tipis dan segelas teh hangat.


"Terima kasih Bi," ujar Sebastian sambil menerima nampan dari Siti.


"Sama-sama Tuan, apa Tuan dan Nyonya butuh yang lain?" tanya Siti dengan ramah.


'Sikap Bu Siti beda sekali, kenapa dia dingin padau tapi tidak pada Tuan Tian? apa dia marah padaku? Apa aku berbuat salah pada Bu Siti?' gumam Selma sambil menatap lekat wanita paruh baya itu.


Siti bukan tidak tahu jika Selma memperhatikan dia. Namun, Siti memilih acuh dan fokus pada Sebastian saja.

__ADS_1


"Tidak terima kasih."


"Kalau begitu saya permisi dulu." Sebastian mengangguk, Siti pun melangkah pergi setelah melirik tajam pada wanita yang terbaring di ranjang. Selma terkejut dengan apa yang Siti lakukak, Sebatian tidak sadar akan halitu. Laki-laki itu sibuk menggaduk bubur agar tidak begitu panas.


"Kau bisa duduk Sayang?" tanya Sebastian, pria itu meletakakn bubur di nakas yang ada disamping ranjang.


Selma mengigit bibir bawahnya, wajahnya terasa hangat dan semakin bersemu merah. Dia segera menarik selimut untuk menutupi wajahnya, kata sayang yang Sebastian ucapkan untuknya sungguh diluar ekspektasi.


Sebastian tersenyum, dia menarik selimut yang dipegang erat oleh Selma.


"Kau mau keluar sendir atau aku yang masuk kesana," ancam sebastian yang lansung di respon cepat oleh Selma, wanita itu menurunkan selimut tebal yang menutupi wajahnya.


"Kenapa istriku tidak mau melihat wajahku, apa kau begitu tidak suka padaku?' tanya Sebastian dengan wjah yang dibuat memelas.


Selma seketika menoleh, ia tidak bermaksud seperti itu. Dia terlalu malu untuk beradu mata dengan suaminya, jantungna saja masih belum kembali berdetak normal sampai saat ini.


"Bu-buka seperti itu Tuan, s-"

__ADS_1


Cup


Tubuh Selma menegang, matanya membeliak lebar saat bibir mereka bersentuhan untuk sesaat. Sebastian tersenyum sambil mengacak gemas rambut Selma, dia suka sekali melihat ekspresi wajah Selma yang terkejut seperti ini.


"Aku akan menciummu setiap kali kau memanggil aku Tuan, paham!" tegas Sebastian, Selma pun mengangguk sambil menundukkan wajahnya. Ingin rasanya Selma mengubur diri seperti burung unta sekarang.


"Makanlah, aku akan menyuapimu."


"Saya bisa sendiri."


"Ssst, mau aku cium lagi?" Selma lekas menggeleng cepat.


"Bagus."


Sebastian membantu Selma untuk duduk, padahal gadis itu masih bisa melakukan semuanya sendiri. Dia hanya sedikit pusing, bukan lumpuh. Tapi Selma tak bisa menolak apapun yang Sebastian lakukan, dia belum siap dengan kecupan mau sang suami.


Dengan telaten Sebastiaan menyuapi sang istri, Selma pun menurut saja walau mau-malu Sesekali tangan Sebastian merapihkan rambut Selma yang terurai, menyelipkan ke belakang telinga agar tidak menganggu wanita itu makan.

__ADS_1


"Tidurlah, aku akan menjaga EL hari ini, kau tidak perlu melakukan apapun!" perintah sebastian yang tak terbantah, Selma selesai makan dan minum obat.


Sebastian ingin istri barunya itu bisa cepat sembuh. Seorang wanita mengepalkan tangannya penuh dendam. Dia melangkah menjauh setelah selesai menguping.


__ADS_2