
Mata hari sudah tergelincir ke barat, semburat merah menghiasi langit. Selma membuka matanya perlahan, lelah masih ia rasakan setelan siang pertama penuh peluh yang ia habiskan bersama sang suami. Entah berapa kali Sebastian meminta lagi dan lagi, hingga Selma merasa tenaganya terkuras habis.
"Kau sudah bangun, Sayang?"
Suara bariton yang amat ia kenali membuat Selma sepenuhnya bangun. Mata lentiknya membeliak lebar, dengan cepat dia menarik selimut untuk menutupi kepala. Sebastian tertawa kecil melihat kelakuan sang istri.
Dengan menggeleng pelan, Sebastian berjalan mendekati ke arah ranjang di mana Selma bersembunyi di balik selimut tebal. Ranjang berdebat pelan, jantung Selma semakin berdetak tak karuan, jika bukan ciptaan Tuhan mungkin jantung itu sudah copot dari tadi.
Dengan air yang masih menetes dari ujung rambut, Sebastian mengungkung Selma yang masih bergulung di balik selimut.
"Kenapa sembunyi? Apa kau masih malu?" Tanya Sebastian dengan suara yang sangat manis dan lembut.
'Kenapa dia masih bertanya, tentu saja aku masih malu. Ini pertama kalinya untukku melakukan hal seperti ini. Cepat pergi aku sudah sangat engap dalam selimut ini,' Selma bermonolog dalam hatinya, dia tidak tahu jika suaminya itu hanya memakai handuk yang melilit di pinggir tanpa pengamanan di baliknya.
"Jangan diam saja, Sayang. Cepat keluar dari selimut ini, kau bisa pingsan jika terus begini." Sebastian berusaha menarik selimut Selma, namun wanita itu memegangi dengan begitu erat. Dia belum siap jika harus bertatap mata dengan pria tampan bermata teduh itu.
Sebastian yang tidak ingin istrinya mati lemas menarik dengan sekuat tenaga, sama halnya dengan Selma yang mempertahankan selimut dengan semua tenaga yang tersisa, tarik menarik tak dapat di elakkan. Sebastian melepaskan tangan, mendengus dingin pada gulungan selimut berisi istri tercintanya. Tapi bukan Sebastian namanya jika dia kehabisan akal.
"Baiklah, jika kau tidak ingin keluar dari dalam selimut, tidurlah lagi mungkin kau masih lelah, aku akan turun melihat El," ucap Sebastian terdengar pasrah, Selma akhirnya bernafas lega.
Perlahan Sebastian turun dari ranjang. Setelah Selma mendengar pintu yang di buka dan di tutup kembali dia baru berani menyembulkan kepalanya dari dalam selimut. Selma mengusap dada pelan, dengan tatapan lega pada pintu yang tertutup.
__ADS_1
"Akhirnya dia keluar juga, coba saja dia masih di sini pasti
"Pasti apa?"
Selma perlahan menoleh, dengan mata melotot dia menatap pria tampan yang tengah menatapnya dengan bersendekap.
"Aaaaaaa ....!" Jerit Selma seolah dia melihat hantu. Selma hendak bersembunyi, menarik selimutnya lagi. Namun, Sebastian bergerak cepat, dia menarik benda itu hingga terjatuh ke lantai.
Tubuh polos Selma terekspos, membuat Sebastian menelan ludah. Ada yang kembali tegak tapi bukan kebenaran Selama yang menyadari tatapan penuh hasrat sang suami pun segera menutup area inti yang terpampang nyata tanpa celah, wanita itu mengambil bantal untuk menutupi tubuh polosnya.
"Yah kenapa di tutup," rengek Sebastian seperti anak kecil yang melihat kartun di tivi lalu tiba-tiba dimatikan, raut wajah kecewa jelas terlihat diwajahnya yang tampan.
"Sayang, kenapa kau selalu menunduk seperti ini. Apa kau malu? Atau kau tidak mau melihat wajahku? Ah.... Kau pasti merasa menyesal setelah menikah denganku bukan, makanya kau menghindar dariku," Sebastian berucap dengan tatapan kosong menatap jendela kaca besar yang ada di kamar itu, kening Selma mengerut mendengar perkataan Sebastian yang tiba-tiba melow.
"Bu-bukan seperti itu," Selma menjawab dengan terbata, dia berusaha memberanikan diri untuk bicara dan menetap rasa malu. Demi apapun Selma bahagia bisa menikah dengan Sebastian, tapi ini terlalu cepat. Selma belum begitu siap dengan kehidupan setelah pernikahan, apalagi dia belum pernah dekat dengan laki-laki meski sudah cukup matang.
"Lalu?" Kini wajah Sebastian mendongak, sepasang mata itu bertemu. Sebastian menatap Selma dengan mata satu yang dibuat sedih, mana tega Selma melihat suaminya seperti ini.
"A-aku malu. Aku belum pernah dekat dengan laki-laki sebelumnya, a-aku tidak tahu harus bagaimana?" Lirih Selma, Sebastian tersenyum mendengar jawaban Selma. Sementara wanita itu, ingin rasanya dia menenggelamkan diri dalam bantal kapuk yang ia peluk.
Sebenarnya Selma juga merasa takut jika Sebastian kecewa pada dia yang sudah tidak perawan, ke perawan Selma telah di ambil oleh alat saat memasukan benih Sebastian dalam rahimnya.
__ADS_1
Sebastian bangkit, dia memeluk tubuh polos sang istri dari belakang, menaruh dagunya diatas bahu Selma. Selma terkejut, tubuhnya menegang sesaat, dia berpikir apa Sebastian akan meminta jatah lagi? Sementara anunya masih terasa nyeri, apalagi kecup lembut pria itu sudah mendarat di pipinya.
"Terima kasih sudah menjadikan aku yang pertama, aku berjanji akan menjaga dan membahagiakanmu semampu yang aku bisa." Mendengar ucapan Sebastian, hati Selma berbunga-bunga. Dia jatuh cinta pada laki-laki yang salah, semoga.
Selma hanya mengangguk, ia bingung harus berkata apa. Dia terlalu bahagia sampai kehabisan kata-kata. Ada kelegaan yang luar biasa saat Sebatian mengatakan itu.
"Jangan pernah memendam apapun sendirian, ceritakan semuanya padaku, bertanyalah saat kau merasa ada yang harus ditanyakan, tegur aku jika memang kau merasa aku melakukan hal yang salah. Aku pun akan melakukan hal sama padamu, kita akan berbagi suka dan duka kita, tawa dan tangis kita, aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, apa kau bersedia?"
Pelukan Sebastian semakin erat, lagi- lagi Selma hanya mengangguk tanpa suara. Sebastian yang gemas mencubit pipi Selma pelan.
"Ah.... Sakit," rengek Selma sambil mengusap bekas cubitan sang suami.
"Kalau nggak gini kamu nggak ada suaranya, ah nggak juga tadi siang suara kamu lebih merdu, saat kau menyebut namaku diantara desahanmu," Bisik Sebastian setelah itu meniup pelan telinga Selma.
"Tu-tuan tolong... Jangan seperti ini." Selma menutup telinga dengan tangan, wajahnya semakin memerah karena mengingat petempur peluh yang begitu mengesankan.
Sebastian tergelak, sekarang pria itu punya hobi baru, menggoda istrinya. "Cepat mandi, El pasti sudah kangen sama Mamanya."
Sebastian melepaskan pelukannya, tanpa aba-aba dia mengangkat tubuh Selma. Wanita itu memekik kecil saat merasakan tubuhnya terangkat. Sebuah kecupan besar mendarat di bibir Selma membuat wanita itu terkejut.
"Hukuman masih berlaku, Sayang, _ ujar Sebastian sambil terkekeh melihat wajah sang istri yang melongo.
__ADS_1