
Tubuh Selma gemetar, wanita itu meremas dada yang terasa sesak. Air mataya luruh begitu saja, hati wanita mana yang tidak sakit saat orang lain memandang rendah seperti itu, seolah dia adaah seorang pelacur yang menjual diri.
Wanita berambut panjang itu terisak dalam diam, nyeri masih ia rasakan di bahu yang di gigit Sebastian tapi rasa sakit itu tak seberapa di banding hati Selma. Entah kenapa laki-laki yang biasanya bersikap lembut itu bersikap kasar dan kuraang ajar. Sementara di kamar lain, sebastian menyesal sudah bersikap kasar pada Selma, apalagi dia mengatakan sesuatu yang pasti menyakiti hati Selma.
Sebastian mengusap wajahnya kasar, merasa bersalah telah menyakiti wanita lemah lembut itu. Dalam hati keil Sebastian dia membenarkan jika Selma adalah korban seperti dia, tapi dia juga tidak bisa menahan sisi yang lain, yang merasa Selma adalah penyebab hancurnya rumah tangga Sebastian.
Malam itu banyak hati yang terluka, banyk air mata yang luruh tanpa suara. Hening, seperti malam yang semakin mencapai puncaknya, Namun dalam keheningan itu tak satupun mata lelah yang mau terpejam. Meski lelah sudah dirasakan raga, kantuk seolah hanya kata tana makna. Rumah besar itu dengan beberapa penghuni yang masih terjaga karena hati yang resah.
Selma segera membersihkan diri, dia tak bisa absen dari perkerjaannya. Wanita itu mengoles sedikit balsem pada bekas gigi yang tercetak mengkar di bahu, berharap benda lengket yang ia uspkan bisa sedikit menghilangkan nyeri yang ia rasakan. Setelah selsai memkai seragam kerja, Selma pergi ke kamar Baby El.
"Selamat pagi Baby, Pangeran kecil sudah bangun rupanya," sapa Selma pada bayi yang baru saja membuka matanya, pria kecil itu tersenyum melihat sang ibu yang datang.
Tangan mungil Elvaro terulur minta di gendong, Selma mengankat tubuh keil itu dengan hati-hati. Dengan gemas ia menium pipi gembul El, membut bayi itu terkekeh senang.
"Hais ganteng banget sih kamu Nak, sekrang kita andi dulu ya biar El nggak bau acem," Selma menciumi perut El membuat bayi itu lagi-lagi terkekeh senang.
Selma pun ikut tertular wajah ceria Elvaro, luka di hatinya seolah menguap hilang begitu saja. Selma kembali meletakakan El di boxnya, ia kemudia ke kamar mandi yang ada di kamar bayi itu untuk menyiapakan air hangat.
__ADS_1
Dengan telaten Selma memandikan Elvaro, mulut Selma pun tak henti bicara, membuat El senang. Selma menikmatai tiap detik kebersamaannya dengan El, kadang terbersit dibenak Selma. Sampai kapa dia bisa bersama El, bagaimana jika Sebastian tahu kalau dia adalah ibu dari bayi tampan itu? Apa dia akan di usir? atau malah sebaliknya? dan bagaimana dengan Marlina? wanita itu pasri murka jika Sebastian tahu yang sebenarnya, pasangaan suami istri itu pasti akan ribut besar.
Selma bergdik ngerti, tak mampu rasanya dia membayangkan jika hal itu terjadi. Setelah el mandi dan minum susu, bayi itu kembali terlelap. Selma memanfatkan waktu yang ada untuk memerah ASI-nya. Dada Selma tersa nyeri karena sejak semalam ia lupa memompa ASI-nya.
Sebenarnya bisa saja Selma langsung menyusui El, tapi itu pasti sangat beresiko jika orang lain sampai melihatnya. Meskipun Selma pernah melakukan hal itu karena sangat terpaksa. Selma mengunci pintu kmar El, dan mulai memompa ASI, nyeri di buah dada selma perlahan berkurang seiring air susu yang keluar dari sana.
"Huft... Seperti cukup," ucap Selma lega, ia tersenyum melihat dua botol susu yang sudah terisi penuh, dia akan memompa asinya lagi setelah sarapan nanti.
Selma pun keluar dari kamar El setelah menyimpan ASI dan memastikan bayi tampan itu tidur dengan baik. meski enggan Selma tidak bisa menahan rasa lapar yang sudah sangat menyiksa perutnya.
"Selma kemarilah Nak, kami sudah menunggumu." Selma yang tadinya berjalan dengan kepala menunduk langsung mengangkat kepalanya setelah mendengar suara yang tak asing memanggil.
Namun, dia bisa merasakan perubahan sikap Sebastian yang sangat drastis. Pria itu mengunyah sarapan paginya, ia bahkan acuh pada Selma yang sudah berdiri di sampingnya.
"Nyonya saya duduk di sana saja," tolak Selma saat Sofia menarik tangannya untuk duduk di kursi yang ada di damping Sebastian.
"Sudah kamu nurut aja, duduk di sana dan di sini sama saja." Selma pun hanya bisa pasrah saat wanita paruh baya itu menekan bahu Selma. Memaksanya untuk duduk.
__ADS_1
Selma pun hanya bisa pasrah, duduk canggung di sebelah Sebastian yang masih dingin dan acuh. laki-laki itu bahkan tak melirik Selma sama sekali, mungkin dia marah karena semalam Selma menamparnya dengan keras sebelum berlari ke kamar. Biarlah, bukankan seharusnya Selma yang marah, Karena dia sudah bersikap tidak sopan.
Selma melirik sekilas pada Sebastian yang masih acuh, seolah tak perduli jika selma duduk di kursi yang biasa Marlina tempati. Ngomong-ngomong tentang Marlina, dimana majikannya itu? Selma tidak melihat dia sama sekali. bahkan suaranya yang biasa melengking berteriak memarahi pekerja di rumah itu karena hal sepela pun tak terdengar.
"makanlah, kau mau apa? apa perlu Aku ambilkan?" tawar Sofia tulus. Monika pun terhenyak dengan ucapan Sofia, sungguh tidak pantas pengasuh bayi seperti dia di layani oleh majikan.
"Ti-tidak Nyonya. Saya akan mengambilnya sediri, " ucap Selma terbata, tapi terlambat wanita paruh baya iyu sudah mengambilkan nasi dan lauk untuk Selma. Membuat wanita berambut panjang itu semakin merasa tidak enak.
"Jangan sungkan, aku senang melakukan ini. Aku sudah menganggapmu seperti putriku Selma,' ucap Sofia dengan sungguh-sungguh, hal itu membuat selma bingung.
Yang pantas mendapatkan perhatian seperti ini tentu saja Maelina, sang menantu. Tapi dimana waniata itu? ingin rasanya Selma bertanya, tapi ia wurungkan niat itu. Dia takut di kira kepo, suka ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Walaupn kenyataannya dia yang di paksa untuk ada di antara mereka.
"Kenapa Selma?apa masakan Siti tdak cocok dengan seleramu?" tanya Sofia dengan cemas, sampai membuat Selma heran.
"Tidak Nyonya, saya sangat suka," jawab Monika cepat.
"Lalu kenapa kau naya mengaduk-aduk nasi mu? kau harus makan yang banyak. Seorang wanita yang sedang menyusui butuh asupan gisi lebih, untuk dia dan bayinya."
__ADS_1
Seketika tangan Selma yang hendak menyuapkan nasi terhenti di udara. Menyusui? bayi? apakan majikannya itu tahu yang sebenarnya? Selma menoleh menatap Sofia dengan takut. Tetapi wanita itu malah tersenyum hangat pada Selma.