
"Kenapa masih berdiri di sana?" tanya Sebastian yang baru masuk ke kama, entah kemana laki-laki itu pergi tadi.
Selma yang masih diam membuat Sebastian tidak sabar, laki-laki itu menarik lembut tangan sang istri. bagai kerbau yang di cucuk hidungnya, Selma menurut saja saat Sebastian mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
"Berbaringlah," ucap Sebastian dngan lembut.
Wajag Selma memerah, haruskah ia memberikan hak Sebastian? apa harus sekarang? tentu jika pria tampan itu meminta, Selma tidak bisa menolak karena itu memang sudah menjadi kewajibannya.
Sebastian mengarahkan tangannya ke kening Selma untuk memeriksa suhu tubuh wanita itu, wajah Selma yang memerah membuat Sebastian merasa khawatir.
"Kita ke rumah sakit ya? demammu semakin tinggi, lihat saja wajahmu sampai merah begini," ucap Sebastian dengan raut wajah cemas.
"Ti-Tidak Tuan, saya baik-baik saja. Ini hanya demam biasa, hanya flu biasa," jawab Selma dengan tergagap, malu rasanya jika Sebastian tahu kalau dia sedang memikirkan sesuatu yang lain.
__ADS_1
Pria tampan dengan lesung pipit itu mengerutkan keningnya, saat mendengar Selma memanggil di dengan sebutan Tuan.
"Dengar Selma, aku suamimu kau tidak seharusny memanggilku Tuan, kau bisa memanggil nama ku atau yang lainya," ucap Sebastian sambil menarik selimut sampai sebatas dada Selma.
"Tapi saya sudah terbiasa dengan itu, hubungan Anda dan saya sebelumnya memang seperti itu Tuan, jujur saya masih sangat canggung dengan semua ini. Saya yang tiba-tiba jadi memantu jadi pasangan Anda, semua ini sungguh tiba-tiba. Saya perlu waktu untuk neradaptasi, jujur saya juga meras tidak enak dengan pekerja lain yang ada di sini," Selma bicara panjang lebar pada sang suami, mengutarakan apa yang menjadi beban pikirnya selama beberapa hari ini.
Perubahan sikap Siti yang berubah dingin dan formal, beberapa orang yang dulu dekat dengannya seperti teman kini juga ikut-ikutan menjaga jarak. tentu saja itu membuat Selma sedih. Dia bukalah tipe orang yang mudah dekat dengan orang lain, dan sekarang pekerja yang dekat denganya mulai menjauh.
Sebastian tersenyum, ia mengusap lembut pucuk rambut Selma membuat jantung gadis itu berpacu lebih cepat, apalagi senum manis Sebastiann yang membuat wanita di luar sana menjerit tentu Selma juga termasuk.
Pria itu menunggu reaksi Selma setelah mendengar apa yang ia katakan. tapi Selma, gadis itu memilih diam mendengarkan Sebastian melanjutkan apa yang ingin ia ungkapkan.
"Ada rasa nyaman saat aku melihatmu, kedekatanmu dengan El, caramu merawat dia, senyummu yang hangat tutur bicaramu yang lembut aku menyukai itu semua. Kamu wanita yang hangat dan lembut Selma, aku jatuh hati padamu tanpa aku sadari."
__ADS_1
Deg
Deg
'Apa ini? apa aku bermimpi? Tuan tian suka padaku?dia pasti bohong kan, mana pantas orang sepertiku ...'
Bulir bening mengenang di sudut mata Selma, haru menyeruk mendesak bulir bening itu jatuh tanpa kata.
"Kenapa? maaf aku sudah lancang menyukaimu, bahkan saat aku masih seseorang di sampingku. Maafkan aku." Sebastian mengusap cairang bening dari sudut mata Selma.
Selma menggeleng pelan Sebastian tidak salah. Dia juga merasakan hal yang sama, tapi Selma memilih mengubur rasa itu . Karena dia tak ingin merusak rumah tangga orang lain.
"Sekarang kita sudah menjadi suami istri,aku ingin menjadi suami yag baik untukmu. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan rasa cintaku padamu, aku tak ingin lagi gagal menjadi seorang suami, bisakah kau memberiku kesempatan?"
__ADS_1
"Aku tidak memaksanmu untuk memblas ras cinta ini, aku hanya ingin kau nyaman berada disampingku. Ambil waktu sebanyak kau mau, aku akan selalu menunggumu, sampai rasa itu hadir." Sebastian mengecup punggung tangan Selma yang hangat.