Baby El

Baby El
Sayang


__ADS_3

Demam Selma sudah turun, wanita itu pun beraktivitas seperti biasa. walaupun Sebastian terus menyuruhnya untuk istirahat. Tapi Selma bukanlah tipe wanita manja yang bisa rebahan seharian di kamar jika dia merasa sehat.


"Sayang kembalilah ke kamar, kau belum sehat. Kenapa kau kemari? kau bisa menyuruh. Bu siti atau pekerja lain untuk melakukan ini," ujar Sebagian yang mendapati Selma memasak di dapur.


Selma tidak menoleh dia masih malu bertatapan dengan suaminya setelah cinta yang dinyatakan oleh pria itu.


"Tidak apa-apa, aku hanya membuat bubur untuk El," sahut Selma tanpa menoleh.


Sebastian tersenyum, dia tahu Selma sedang malu dia bisa melihat telinga istrinya itu memerah. Selma semakin menunduk, berusaha fokus pada panci kecil yang berisi bubur untuk putranya.


"Tapi aku ingin kau istirahat, Sayang. Jadilah istri yang patuh, dengarkan ucapan suamimu ini." Tubuh Selma menegang, mendengar bisikan Sebastian yang begitu dekat. Perasaan yang baru pertama kali Selma rasakan.


Wanita itu hanya mengangguk tanpa berani bersuara. Sebastian terkekeh, gemas sekali melihat wajah Selma yang begitu gugup.

__ADS_1


"Boleh aku menciummu, Sayang?" tanya Sebastian, dia memilih meminta izin agar Selma merasa nyaman.


Selma bingung, untuk apa Sebastian meminta izin bukankan Selma miliknya sekarang. Sebastian tidak harus meminta izin untuk hal-hal seperti ini, Sebastian semakin gemas melihat raut wajah Selma yang bingung.


"Diam mu aku anggap iya."


Cup


Sebuah kecupan dalam mendarat di pipi Selma, rasanya seperti terbakar. Wajah Selma terasa panas, sampai memerah seperti tomat. Tangan Sebastian terulur mematikan kompor, ia menarik lembut tangan Selma yang masih mematung karena terkejut.


"Baik Tuan," sahut wanita paruh baya itu, Sebastian mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya.


Selma hanya hanya bisa menurut saat tangan besar Sebastian menariknya. Nyawa gadis itu masih terbang entah kemana, setelah kecupan maut pertama di pipinya.

__ADS_1


Sebastian mengunci pintu kamar, lalu memeluk tubuh sang istri dari belakang. Seperti ada aliran listrik saat bibir Sebastian mulai mengecup punggung leher Selma, Sebastian tak bisa menahan diri. Sebagai laki-laki normal dia butuh istrinya saat ini, si otong sudah sesak dan tegak menjulang tinggi dibalik celana.


"Apa boleh?" suara Sebastian terdengar serak dan berat, seolah menahan sesuatu yang amat berat.


Gugup menyerap, ini kali pertama Selma melakukan hal seperti ini. Jangankan berpelukan, gandeng tangan saja dia merasa malu. Meski takut Selma mengangguk, dia tidak ingin berdosa karena menolak ajakan suaminya.


Sebastian tersenyum, ia membalikkan tubuh Selma. Di tatapnya lekat wajah Selma yang malu-malu takut, dengan telunjuk Sebastian mengangkat dagu Selma agar istrinya tidak terus menunduk. Selma menelan salivanya saat mata mereka beradu, dengan lembut Sebastian menyatukan bibir mereka.


Pelan tapi pasti, Selma mulai kehilangan benang yang melekat di tubuhnya. Sebastian memperlakukan dia dengan lembut hingga membuat Selma melayang. Kini keduanya sama polos, Sebastian menetap tubuh Selma yang polos tanpa berkedip.


"Selma yang malu memalingkan wajahnya."


Sebastian tersenyum, ia mengecup kening Selma. Wanita itu memejamkan mata, ciuman Sebastian turun ke hidung, leher, dada, parit dan mengecup cukup lama pada bekas operasi caesar. Selma yang terkejut melihat Sebastian dengan tatapan sayu.

__ADS_1


"Maaf, Sayang," kata itu terucap begitu saja dari Sebastian, Selma menggeleng ia tersenyum hangat pada suaminya.


Kamar itu menjadi saksi baga kedua manusi beda gender itu bergulat di tengah hari. Peluh dan suara mereka melebur jadi satu, meraih nikmat dunia.


__ADS_2