Baby El

Baby El
Rumah sakit


__ADS_3

Tak lama Ani keluar dari kamar tempat Mardi dirawat bersama seorang dokter. Ayu dan Selma yang melihat Ibunya keluar langsung bangkit dan menghampiri sang ibu.


"Terima kasih Dokter, kamu akan memikirkannya lebih dulu," Ujar Ani yang langsung diangguki oleh pria paruh baya itu.


"Baik kalau begitu saya permisi. " Dokter itu mengangguk sopan, begitu pula tiga wanita yang berdiri di hadapannya.


"Bu bagaimana Bapak? Apa ada yang serius?" Tanya Selma penuh telisik.


Alih-alih menjawab pertanyaan Selma, Ani malah duduk dengan santai, tak terlihat rasa cemas di wajahnya. Selma dan Ayu saling berpandangan, Ayu mengkode sang Kakak kalau dia tidak berani.


"Bu," Panggil Selma lirih.


"Bapakmu besok mau CT-scan buat lihat luka dalam di otaknya. Sepertinya kepala Bapakmu kejedot lantai, kemungkinan ada pengumpulan di otak, tapi masih dugaan. Kalau benar ya harus operasi, " ucap Ani panjang lebar.


Selma langsung terkulai lemas mendengar penjelasan Ani. Begitu pula Ayu, gadis belia itu begitu menyayangi Mardi, air mata Ayu kembali luruh.


"Sudah jangan nangis trus, malu di lihat orang," ujar Ani, dia sendiri memijit keningnya.


Pusing memikirkan biaya yang pasti tidak sedikit, rumah sakit tempa Mardi dirawat adalah salah satu rumah sakit terbaik di kota itu, entah kenapa tetangganya malah membawa Mardi ke sini. Saat Ayu menemukan Mardi tergeletak di lantai, Ani memang belum pulang dari pasar. Ayu sendiri pulang lebih pagi karena sedang ujian.


"Kamu balik ke pabrik sana, bukannya hari ini kamu gajian buat bayar si Rosna?"


"Sudah nanggung Bu, aku juga sudah di mintakan izin ke mandor sama Fani," jawab Selma dengan hati yang masih cemas memikirkan sang Bapak yang masih terbaring lemas di ranjang.


"Kamu bisa ambil lembur. Sekarang Bapak kamu di rumah sakit, butuh banyak biaya, pake uang apa kita bayarnya nanti, belum kalau nanti benar-benar harus operasi. Bapakmu itu emang cuma bisa nyusahin, mau mati aja kok pake ribet segala. Bikin orang pusing aja," ucap Ani dengan ketusnya.


"Bu, Selma mohon jangan bicara seperti itu. Baru dua tahun ini bapak berhenti berkerja, dulu Bapak yang cari uang nafkahin kita. Apa salahnya sekarang gantian kita yang ngerawat Bapak!" Selma menaikan suaranya, Ani memang Ibunya. Namun, Selma tidak suka jika Ani bicara seolah Mardi adalah beban.


"Iya dua tahun dia nganggur, cuma makan tidur belum lagi biaya pengobatan dia yang nggak murah tiap minggu!"


"Selma yang akan menanggung pengobatan Bapak, BU. Ibu nggak usah khawatir, ndak usah ikutan mikir. Biar Selam yang cari uangnya!" tegas wanita berambut panjang itu.

__ADS_1


"Iyalah, itu memang kewajiban kamu. kamu yang ngabisin tabunganku. cepat beli makan sana, Ibu lapar!" ketus Ani mengakhiri perdebatan mereka, karena beberapa orang sudah melihat pada mereka.


Tanpa bicara Selma bangkit lalu berjalan gontai menjauh dari Ibu dan adiknya. Ayu hanya menatap nanar punggung kakak keduanya, dari tadi Ayu hanya bisa diam, dia tidak berani ikut campur saat Ani meninggikan suara seperti tadi. Meskipun Ayu juga merasakan hal yang sama dengan Selma.


Selma tersenyum getir, berjalan dengan langkah lemah menuju kantin rumah sakit. Ani bersikap seperti itu pada anak-anaknya, mengungkit apa yang sudah ia berikan dan habiskan untuk merawat mereka sampai saat ini.


Itu juga yang menjadi alasan kenapa kakak Selma menikah di usia muda, ia hanya ingin segera keluar dari rumah, lepas dari Ani dan segala tekanannya.


Brugh


Selma jatuh terduduk, karena tanpa sengaja menabrak seseorang.


"Maaf, maafkan saya," ujar Selma sambil berusaha bangkit dari duduknya.


"Selma?"


Mendengar suara yang familiar telinganya, Selma pun mendongakkan wajah. Bahagia sekaligus terkejut melihat seorang pria yang ada di depannya.


"Dian? kamu beneran Dian?"


"Astaga, sudah lama sekali kita nggak ketemu? Kamu apa khabar?" tanya Selma dengan antusias, sejenak ia lupa akan kesedihannya.


"Seperti yang kau lihat, aku baik. bagaimana denganmu? Kenapa kau ada di sini? Siapa yang sakit?" cerca Dian dengan wajah cemas.


Mendengar pertanyaan Dian wajah Selma kembali murung.


"Bapak," jawab Selma lirih.


"Astaga? Bapak kamu. Di bansal mana? nanti selsai kerja aku mau jenguk.'


"Kamu kerja di sini?" tanya Selma dengan alis yang bertaut. Ia melihat pakaian yang melekat di tubuh Dian dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Aku kerja di bagian administrasi," ucap Dian yang seolah mengerti isi kepala Selma. Gadis itu pun mengangguk paham.


Selma dan Dian tidak bisa bicara lebih lama, Dian harus segera kembali berkerja setelah menyelesaikan makan siangnya di kantin.


.


.


.


.


.


PT. Sunrice Realty.


Seorang pria bermata sipit dengan kemeja panjang berwarna navy yang lengannya digulung sampai lengan, menatap lurus dengan tatapan kosong jauh ke arah luar jendela. Sudah satu jam dia seperti itu.


Sebastian memejamkan mata, lalu meraup oksigen sebanyak yang ia bisa. Berharap bisa sedikit melegakan dadanya yang terasa sesak. Bukan karena masalah perkerjaan, melainkan masalah rumah tangga yang terasa sedikit hambar.


Sudah tida hari ini Sebastian hanya pulang untuk menganti baju dan tidur saja. Selebihnya Sebastian menghabiskan waktu di kantor. Kehidupan rumah tangganya dengan Marlina sungguh tidak baik sekarang.


Marlina seperti biasa, dia tidak akan mulai bicara. Wanita akan diam sampai Sebastian yang memulai dan meminta maaf padanya, selama ini Sebastian memang lebih mengalah. Namun, kali ini dia ingin Marlina merasa kalau dia benar-benar serius tentang keinginan memiliki buah hati.


Sudah saatnya, ya sudah saatnya Sebastian memikirkan untuk memiliki keturunan. Walaupun ia tahu tidak mungkin juga bibitnya akan tumbuh dalam waktu semalam di rahim Marlina. Semua tak lepas dari kehendak Tuhan, tetapi bukankah sebagai manusia kita wajib mencoba.


Selama ini Sebastian selalu mengunakan pengaman saat berhubungan dengan Marlina, bagaimana bibitnya akan tumbuh jika selalu tertahan dikantong. Kalian bisa menganggap dia bodoh, dia bisa saja memaksa Marlina melakukan hubungan tanpa pengaman. Tetapi Sebastian bukan tipe laki-laki pemaksa.


Dia menghargai perasaan istrinya. Maka dari itu dia juga tidak akan melakukan hal itu jika istrinya tidak mau. Karena landasan rumah tangga adalah kasih sayang, bukan pemaksaan. Itulah prinsip yang Sebastian pegang, dia ingin punya keluarga seperti Mama dan papanya yang selalu harmonis.


Pria itu menjambak rambutnya kasar, ia bingung harus bagaimana meyakinkan Marlina untuk hamil. Ia pun bangkit dari kursi kebesarannya. Sebastian memutuskan untuk menemui seorang teman lama, mungkin dia bisa memberi Sebastian sedikit pencerahan, walaupun Sebastian juga tidak yakin tentang hal itu. Mengingat temannya itu sedikit sengklek.

__ADS_1


Brugh.


"Maaf, maaf. Tuan maafkan saya, astaga sudah kedua kalinya aku menabrak orang," keluh seorang wanita berambut panjang pada dirinya sendiri.


__ADS_2