
"Kamu itu seharusnya tahu diri Selma, kirim sebagian gaji kamu pulang. jangan membuat orang tua malu, sampai harus mengemis datang seperti ini! atau kamu sengaja nggak kirim uang biar ibu dateng minta-minta. dasar anak durhaka kamu!" teriak Ani tanpa satupun yang datang melerai dua wanita itu.
Baik satpam maupun pekerja lainnya hanya bisa dia melihat Selma dimaki oleh ibu kandungnya itu. Bukan tega tetapi mereka tidak ingin ikut campur urusan keluarga Selma. Saat ini Sebastian sedang berada di kantor, sedangkan Sofia pulang kerumahnya.
"Bu Selma belum gajian kalau Selma punya uang. Selma pasti kirim ke rumah," jawab Selma lirih, sebenarnya dia merasa malu membuat keributan di rumah besar ini.
"Halah alasan kamu, sudah sebulan kamu di sini. Mana mungkin belum gajian!" Bentak Ani semakin menjadi, wanita itu merasa kesal karena uangnya habis.
Sudah beberapa akhir ini dia tidak bisa menghubungi Marlina untuk meminta uang, padahal biasanya dia akan menelpon wanita itu untuk meminta sedikit upah atas kerja keras Selma melahirkan anak untuknya.
Dia tidak tahu jika Marlina dan Sebastian telah bercerai, tentu sumber uang Ani juga hilang. Apalagi Sebastian sudah tahu semua yang Marlina sembunyikan. Selama ini Ani menikmati hidup dengan uang dari Marlina, dengan mudah dia bisa meminta berapapun yang ia mau.
"Aku tidak bohong Bu, mungkin besok atau lusa baru gajian. Aku tidak berani bertanya pada Tuan, tapi aku janji akan memberikan sebagian gajiku pada Ibu nanti, " ucap Selma segera, dia berharap ibunya tidak akan marah lagi dan segera pulang.
Dia berharap Ibunya segera pulang, bukan dia ingin mengusir. Tetapi Selma tidak ingin membuat keributan di rumah Sebastian. Selma melirik ke arah jendela besar ruang tamu dimana Siti sedang memperhatikan dia dan ibunya dengan tatapan tidak bersahabat. Selma sunggu merasa malu dan tidak enak pada para perkerja di sana
Ani berdecak kesal, wanita dengan dandanan menor itu berkacak pinggang dengan mata melotot hampir tumpah. Dia harus membawa uang pulang nanti sore giliran dia menjadi tuan rumah arisan se-RT tidak mungkin dia menyuguhkan jajan pasar biasa pada tamunya. Mau di taruh dimana muka Ani, selma ini dia selalu pamer pada para tetangga.
"Apa kamu tidak punya simpanan sama sekali? ibu butuh uang sekarang Selma. Kamu tahukan adik kamu juga butuh biaya," ujar Ani dengan nada sedikit melunak.
Selma menatap sang ibu dengan tak percaya. Wanita itu menayakan simpanan? semua uang Selma selama ini dia yang pegang, uang dari Marlina juda dia yang pegang. bahkan malam dimana Selma di jemput utuk merawat El, dia juga pergi dengan tangan kosong. Simpanan mana lagi yang wanita itu tanyakan.
"Uang apa lagi Bu? Selma benar-benar tidak pegang uang sekarang. Semua Ibu yang pegang, sisa berobat bapak, uang pesangon Selma dari pabrik , semua ibu yang pegang kan Bu," ucap Selma dengan bibir yang bergetar.
"Heleh, uang segitu saja kau ungkit. Semua itu tidak lebih banyak dari biaya yang aku keluarkan untuk berobat kamu, kamu itu selalu penyakit dari kecil. Bikin susah, gaji bapakmu sampe habis buat berobat kamu. Kamu mestinya mikir, cari uang lebih banyak buat nyenengin ibu mu!" Sentak Ani tak mau kalah, seperti biasa. Wanita itu akan mengingatkan bagaimana pengorbanan yang ia lakukan untuk membesarkan Selma.
Serasa diremas-remas hati Selmamendengar ucapa sang Ibu, untuk kesekian kalinya wanita yang teah melahirkan dia dua puluh lima tahun yang lalu itu berkata seperti itu. Dia bahkan seringg bilang jika dia bisa maembangung rumah dua lantai jika seluruh uang yang ia gunakan untuk berobat Selma waktu kecil dikumpulkan.
__ADS_1
Sungguh Selma tak inginmenjadi beban orang tuanya, lebih baik Selma tidak di lahirkan jika memang kehadirang dia adalah beban.
"Kenapa dulu aku tidak ibu biarkan mati saja, dengan begit Ibu tidak harus kehilangan uang," ucap Selma gemetar menahan tangis. Sungguh hatinya terasa amat sakit. Ani memelotot tajam pada putrinya, dia terkejut dengan apa yang Selma katakan.
"Kenapa Ibu diam? kenapa dulu aku tidak ibu biarkan mati saja, itu lebih bik daripada hidup dan menjadi beban ibu sama bapak, Selma capek Bu capek. Selama ini Selma sudah berusaha menjadi anak yang baik buat ibu, cari uang banting tulang di pabrik sampai sewain rahim, semua ini buat siapa Bu? apa ini belum cukup?" luruh sudah air mata Selma.
Selama ini dia sudah cukup diam, menelan semua tekanan yang sang ibu berikan. Sebaik apapun Selma berusaha, selalu kurang dan salah di mata Ani. Perna h Selma ingin menjadi TKW tapi ia wurungkan karena kondisi kesehatan Bapaknya yang semakin memburuk.
"Jangan kurang ajar kamu! sudah sewajibnya anak membalas budi pada orang tua. salmapi kamu mati kamu masih wajib bals budi sama ibu. Apa kamu tahu, ibu hampir mati saat melahirkan kamu!" ketus Ani dengan berkacak pinggang.
"Dan aku juga nggak minta di lahirin!"
"Selma!"
Plak
"Tu-Tuan."
Selma terkejut meliha Sebastian yang berdiri tepat di depannya. Wajah pria itu memerah dengan srot mata tajam menatap Ani. Wanita paruh baya itu hanya bisa menelan cairan pahit melihat kemarahan yang begitu besar di mata Sebastian.
Ani segera menarik tangannya yang mengantung di udara, tapi terlamabat karena Sebastian sudah memegangi pergelangan tangan Ani.
"Saya peringatkan, jangan pernah Anda menyentuh Selma," ucap Sebastian dengan penuh penekanan. Selma terkejut mendengar.
"Jangan ikut campur! Dia anakku, aku yang melahirkan dia dengan taruhan nyawa!" sahut Ani, dia belum tahu siapa pria yang berdiri di depannya.
"Ini rumah saya, dan wanita ini bekerja untuk saya. Selama Selma ada di sini, dia adalah tanggung jawab saya!" tegas Sebastian.
__ADS_1
Sebastian sengaja pulang setelah mendapatkan laporan dari satpam jika Ibu Selma datang berkunjung, tetapi wanita itu membuat kkeributan di rumahnya. Awalnya Sebastian mengira hanya ada ketegangan kecil antara ibu dan anak itu, dia tidak menyangka jika Ibu Selma sampai main tangan.
Ani tertegun sejenak mendengar ucapan Sebastian. Jika laki-laki itu adalah majikan Selma, berarti dia adalah suami Marlina. Orang yang menyewa rahim anaknya, baguslah dia bisa meminta uang dari pria kaya ini.
"Oh jadi kau suami dari Nyonya Marlina?dimana Nyonya Marlina sekarang? aku ingin bertemu dengannya," ucap Ani tanp basa-basi, awalnya dia ingin minta uang dari Sebastian , tapi dia igin bicara pada Marlin terlebih dahulu.
"Dia sudah tidak ada di sini, kami sudah bercerai. Cari saja dia di tempat lain!"
Deg
Cerai? Selma tercenung terkejut, menatap punngung pria itu dengan sorot mata yang tak bisa diartikan. sunggy ia tidak tahu jika Marlina dan Sebastian telah bercerai. Dia berpikir jika majikan wanitanya itu sedang ada kerjaan di luar kota. Semua orang di rumah ini juga tak ada yang membicarakan masalah itu.
"Ce-cerai?" tanya Ani tergagap, dia juga tak kalah terkejutnya dengan Selma. Jika Marina bercerai dengan Sebastian, bagaimana dia bisa mendapatkan uang.
"Silahkan Anda pulang, sebelum saya panggil polisi, karena Anda sudah menganggu ketenangan di rumah saya" tegas Sebastian.
Mendengar kata polisi membuat nyali Ani menciut, tentu dia tidak ingin berurusat dengan orang-orang berseragam itu. Sebastian melangkahkan kakinya lebar, dia menarik tangan Selma untuk mengikutinya.
"Belum juga dapat uang, malah di usir. Dasar oorang sombong," gerutu Ani, wanita itu terpaksa pulang dan akan menjual sebagian perhiasan untuk acara arisan. Tapi dia tidak menyerah, lain kali dia akna kemabli untuk mendapatkan uang Selma.
Selma meringis kesakitan karena Sebstian mengenggam pergelangan tabfabya dengan kuat. Pria itu kesal melihat Selma yang tidak melawan saat Ani aan menamparnya.
"Duduk!" titah Sebastian, dia menghempaskan tubuh mungil Selma di sudut Sofa.
Setelah itu sebastian pun duduk di sofa yang sama. Mereka berdua duduk dengan hening, Sebstian memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pening.
"A_apa Tuan sakit?" tanya Selma takut-takut, dia khawatir meihat Sebastian yang diam sambit terus memijit kening. Sebastian menggeleng, pria iu sedang mencoba menetralkan amarah yang bergemuruh didadanya.
__ADS_1
Selma meliat sekeliling, wanita itu menyusutkan diri di sudut sofa. Sungguh sangat cangung berada di tempat ini.