Baby El

Baby El
Flashback


__ADS_3

Sebastian menutup pintu kamar dengan kasar, tau lebih teptnya membanting pintu itu. Laki-laki itu duduk di tepi ranjang, tepat di bagian tengah. Helaan nafas berat keluar dari kedua lubang hidungnya yang mancung, Sebastian bukannya tidak mendengar teriakan memilukan Marlina, bagaimana wanita itu di seret keluar dengan paksa oleh kedua penjaga.


Sakit, terlalu dalam luka yang di torehkan Marlina dihati Sebastian. Dia tak ingin lemah, maka dari irtu dia memilih menghindar dan masuk ke kamar. Bagaimana pun masih ada rasa iba pada wanita yang telah menemani hidupnya selama lima tahun, Sebastian bukan batu yang tak punta hati dan rasa kasihan.


Sebastian mengusap wajahnya ksar, sorot matanaya tajam penuh rasa benci, marah dan kecewa berkecamuk memenuhi tiap inchi rongga dadanya, sungguh hati Sebastian hancur setelah mengetahiu semua kebenaran.


Flashback on.


"Ini tehnya Nyonya." siti meletakan secangkir teh melati hangat dengan camilan di meja yang ada di samping Sofia.


"Hem, duduklah bersamaku. Sudah lama kita tidak bicara sebagai teman, Siti," ucap Sofia penuh arti, Siti bis merasakan ada sesuatu yang berbeda dari senyum majikannya itu.


Dulu mereka memang sering bercengkrama layaknya teman. Umur Sofia dan siti yang tak jauh berbeda membuat keduanya gampang akrab. Sebenarnya Siti adalah pembantu di rumah Bagaskara. Namun, saat sebastian menikah dan memutuskan untuk punya rumah sendiri, Sofia meminta siti untuk berkerja pada Sebastian.


"Ad-ada yang harus saya kerjakan di dapur Nyonya." Siti memeluk erat nampan bekas ia membawa teh, ia sengaja menunduk untuk menghindari tatapan Sofia yang mengintimidasi.


"Kita sudah lama saling kenal Siti, aku selalu menganggapmu sebagai saudaraku, kau tahu bagaimana tak enaknya jadi anak tunggal. dan aku harap sebagai saudara, kau tidak menyembunyikan apapun dariku tentang keluarga ini, " Ucap Sofia penuh penekanan.


"Ma-mana mungkin saya melakukan itu Nyonya, " Sahut situ dengan bibir yang gemeter, bulir keringat sebesar biji jagung membasahi keningnya.


"Baguslah, aku memintamu untuk menjaga Tian di sini, bukan untuk membantu orang asing. Aku benci untuk mengungkit ini, tapi aku harap kau tidak lupa bagaimana kau bisa hidup tenang sekarang. "


Bagai belati tajam yang langsung menusuk hatinya, ucapan Sofia sanggup membuat air mata Siti menetes. Kaki wanita paruh baya itu lemas tak bertulang, dia jatuh duduk bersimpuh dihadapan Sofia.


"Ma-mafkan saya Nyonya, seharusnya saya mengatakan ini sejak lama, sejak awal," ujarnya dengan air mata yang berurai.


Sofia masih terlihat tenang, meskipun dia sudah sangat tidak sabar mendengar pengakuan Siti tentang kecurigaannya. Rasanya ingin sekali jika dugaannya itu salah, dan berharap semua yang ada di jalaani Sebastian saat ini adalah kebenaran.


"Bangunlah, bicarakan semua baik baik."


Siti menggeleng cepat, dia merasa sangat berdosa telah menutupi kebenaran.


"Nyonya, sebenarnya tuan muda El bukanlah anak dari menantu Anda," ujar Siti dengan berurai air mata, Sofia memejamkan matanya.

__ADS_1


Sungguh apa yang di ucapkan Siti tidak mengejutkannya, dia sudah menduga itu saat melihat Selma menyusui cucunya tadi. Yang menjadi pertanyaannya adalah, siapa Selma? apa dia istri sebastian? Apa seperti dugaannya jika Selma adalah ibu kandung Elvaro.


"Lalu siapa ibu kandung El, apa kau tahu?"


Siti mengangguk masih dengan posisi yang sama. "Ibu kandungnya adalah wanita yang selama ini merawat Tuan muda, Nyonya. Dia adalah Selma."


Jelas sudah sekarang kenapa El hanya mau menempel dengan Selma. Sofia mengenggam tangan Siti, mengajaknya untuk duduk di bangku kosong yang ada disisinya. Meski awalnya menolak, tetapi karena paksaan Sofia akhirnya Siti menurut.


"Keterlaluan, kenapa Tian tidak jujur padaku, aku bahkan sudah menyuruh dia untuk menikah lagi, mana mungkin aku keberatan," ketus Sofia dengan wajah sebal, dia merasa Sebastian telah membohonginya dengan tidak memberitahu ibu kandung El padanya.


"Tuan Tian tidak tahu tentang ini Nyonya, dia juga sama seperti Nyonya. Menganggap El adalah anak kandung Nyonya Lina," sahut Siti yang masih menangis. Walaupun ia sudah berusaha untuk menyusutkan air mata. Namun, tetap saja bulir bening itu jatuh tanpa berhasil ia cegah.


"Apa maksudmu? apa El juga bukan anak dari Sebastian? bicara yang jelas Siti jangan berbelit-belit!" tegas Sofia yang muali kehilangan kesabarannya.


"Selma hanya menyewakan rahimnya Nyonya, wanita malang itu awalnya bahkan tidak tahu juga akan mengandung seorang bayi. Ibunya yang memaksa Selma menyewakan rahim untuk Nyonya Lina. Malam itu istri tetangga saya menghubungi saya untuk meminta tolong, suaminya harus segera di operasi dan butuh biaya yang cukup banyak, uang simpanan saya tidak cukup jadi saya memberi tahu dia untuk datang kemari dan bicara dengan Tuan, saya yakin Tuan akan dengan senang hati membantu. Karena Tuan belum pulang Nyonya Lina yang menemui Ani, tetangga saya itu."


Siti mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan ceritanya, berharap bisa sedikit meringankan beban yang menghimpit dadanya. Sofia hanya diam, dia masih menanti seluruh cerita dari Siti, meski belum sepenuhnya percaya dengan wanita itu, dia harus menyelidiki dan mencari bukti- bukti yang akurat tentang masalah ini.


"Dia hanya menyewakan rahimnya kan? berarti hanya tempatnya saja atau..." Sofia mengantungkan ucapannya saat melihat Siti mengeleng.


"Saya kurang paham kenapa, tapi yang jelas menurut dokter Nyonya Lina tidak bisa," ungkap Siti.


"Baiklah, saya menghargai kejujuranmu, tetaplajh diam seperti bisa. Jangan sampai Marlina tau kalau kau sudah mencertakan ini padaku!" tegas Sofia.


"Baik Nyonya, apa nyonya tidak marah dengan saya?" tanya Siti dengan menunduk dalam, rasanya tak sanggup untuk melhat Sofia.


Sofia menhentakakan nafasnya kasar, marah tentu saja. Tetapi Sofia tahu siti tidak akan melakukan ini semua tanpa alasan yang kuat, dan wanita itu tidak mungkin menceritakan apa yang mendasari dia melakukan ini.


"Aku ini manusia biasa, aku sangat marah padamu. Jika aku menuruti amarahku, sudah aku tampar dan ku usir kamudari rumah ini, tapi aku masih waras Sit. Semua orang bisa membuat kesalahan, termasuk kamu. Aku hanya berharap tidak ada lagi yang kamu sembunyikan dariku, pergilah !"


Siti hanya menunduk, air mata yag tadi mengering kini kembali melelh. Sungguh Sofia adalah wanita yang paling murah hati yang pernah ia temui.


"Saya permisi, Maafkan saya Nyonya." Siti bangkit dari tempat ia duduk, wanita itu menunduk hormat sebelum ia berjalan menjauh.

__ADS_1


Siti berjalan cepat menuju kamarnya. Setelah menutup pintu, wanita paruh baya itu terisak penuh penyesalan. Ada sesuatu yang masih belum bisa ia ungkapkan, dia terlanjur janji pada seseorang.


"Maafkan saya Nyonya Sofia. Maafkan saya," gumamnya dengan bersandar pada dinding yang dingin.


Setelah mendengarkan cerita dari Siti, Sofia segera bergerak. Dia harus memastikan semuanya, wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu beranjak dari tempat ia duduk hendak menemui Sebastian, dia masih belum percaya jika Sebastian tidak tahu tentang ini. Marlina baru saja turun dti tangga dengan pakaian seksi, tak lama Sebastian juga menyusul dengan raut wajah masam. Pria itu duduk sofa santai, melemparkan map yang ia pega begitu saja ke meja.


"Kemana lagi istrimu itu Tian?" tanya Sofia yang sudah duduk di ruang tamu.


Suara Sofia mengagetkan Tian, pria bermata sipit itu membenarkan posisi duduknya.


"Mama kapan datang? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Sebastian balik, ia meraih tangan Sofia dan mencium punggung tangan wanita itu dengan takzim.


"Ya begitulah, saking sibuknya kamu sampai tidak tahu kalau Mama udah di sini sejak tadi, bahkan kau tidak benar- benar tahu apa yang sudah terjadi dalam rumahmu sendiri."


Alis Sebastian hampir menyatu mendengar ucapan Mamanya yang seolah menyindir dirinya, tapi apa yang tidak ia tahu? Sebastian bahkan tahu apa yang akan Siti masak untuk menu makan malam, karena wanita itu kan menempelkan menu hari ini di pintu lemari pendingin agar tidak lupa.


"Mama ngomong apa sih? jumlah cicak di rumah ini ini aja aku tahu lho Ma," sahut Sebastian tak mau kalah.


"Jumlah cicak tahu, tapi pelihara ular jenis apa kamu nggak tahu," lagi-lagi perkataan Sofia bagai teka-teki d otak Sebastian, siapa yang ular dan siapa yang pelihara. Tidak mungkin Sebastian, karena dia sedari kecil paling geli dengan mahluk melata itu.


"Mama ini ngomong apa sih? kok jadi ngelantur bawa-bawa ular. Tian ke kantor dulu ya Ma," pamit Sebastian, Sofia mengangguk kecil mengiyakan.


"Eh tunggu kamu bisa anterin Mama sebentar nggak?" sebuah renncana tiba- tiba tersusun dalam benak wanita itu.


"Kemana Ma?" tanya Sebastian heran, jarang sekali mamanya itu meminta diantar kemana-mana. Sofia adalah tipe wanita mandiri yang tidak ingin merpotkan orang lain.


"Ke rumah sakit tempat kamu sama Marlina promil, teman mama anaknya udah hampir sepuluh tahun nggak hamil siapa tahu aja di tempat kamu itu cocok," kilah Sofia, dia tidak ingin Sebastian curiga.


"Pasti rumah sakit besar ya kan, rumah sakit mana? apa di luar kota?" cerca Sofia, wanita itu kini sudah berjalan di samping Sebastian menuju mobil anaknya.


"Nggak kok Ma, aku sama Lina menjalani progam hamil di klinik tempat teman Lina," jawab Sebastian.


"Antar Mama ya," ucap Sofia, Sebastian mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2