Baby El

Baby El
Masih Flashback


__ADS_3

Masih Flashback ya gaes....


Mobil hitam milik Sebastian berjalan dengan kecepatan sedang, membawa dia dan Sofia ke klinik tempat dia progam kehamilan Merlina, di klinik itu juga Mrarlina melahirkan.


"Kita sudah sampai Ma," ujar Sebastian sembari membelokkan mobilnya ke pelataran klinik.


Sofia menedarkan pandangannya ke sekitar bangunan bernuansa putih itu. Tidak terlalu mewah jika di lihat dari luar, bangunan berlantai dua itu terlihat biasa saja seperti klinik bersalin pada umunya. Sebastian mengajak mamanya untuk masuk menemui dokter Johan.


Setelah menayakan tentang pada resepsionistenyata mereka belum beruntung, dokter Johan sedang tidak betugas hari ini. Itu tidak masalah bagi Sofia yang penting dia sudah tahu tempat dan nama dokter yang menangani anak dan menantunya.


"Kamu merasa aneh nggak sama Selma?" tanya Sofia tiba-tiba.


"Aneh gimana Ma?dia normal kok?" Sebstian malah balik bertanya pada Sofia tanpa menoleh, dia masih fokus mentap kedepan karena sedang menyetir.


"Yang bilang dia nggak normal siapa, kamu ini. Selma itu lho kan orang asing, tapi kenapa dia bisa langsung deket sama El? dan kamu inget kan bagaimana EL saat pertama kali pulang, bagaimana cucu mama itu menagis. Tidak ada seorang pun yang bisa membuat dia diam, sedangkan Selma. Tanpa melakukan apapun El langsung nyaman dan diam dalam dekapannya, sepertinya mereka punya ikatan batin," ucap Sofia panjang lebar, dia berusaha memancing reaksi Sebastian.


Pria itu terdiam, ia membenarkan kata-kata mamanya, Selma memang seolah punya sihir yang bisa membuat El tenang. Sepanjang perjalanan pulang Sofia terus saja membicarakan tentang Selma, Sebastian pun menyahuti dengan senang hati. Entah bagaimana, tetapi Sebstian merasa senang saat membahas wanita itu.


"Apa maksud Mama mengatakan ini?" tanya Sebastian langsung, ia merasa mamanya itu sedang ingin memberitahu sesuatu.


Sofia tersenyum, ia melirik sekilas pada pria yang ia lahirkan tiga puluh tahun yang lalu itu.


"Kali ini Mama akan membantumu, tapi tidak lain kali."


"Maksud Mama?"


"Selidiki Klinik itu dan Dokter Johan, apa hubungan dokter itu dengan Marlina dan kenapa Malina lebih memilih untuk melahirkan di Klinik kecil daripada rumah sakit besar, apa kau tidak curiga dengan semua ini Tian. Dan kebiasaan istrimu saat hamil sangat aneh," ujar Sofia panjang lebar.


Sebastian semakin bingunn dengan apa yang Sofia katakan, saat kehamilan Marlina menginjak empat bulan dia memang mulai bersikap aneh. Namun, saat Sebastian mengatakan itu pada Sofia, wanita paruh baya itu menasehati Sebastian untuk memakluminya. Tiap wanita hamil punya masa ngidam dan sikap yang berbeda-beda, mungkin saja itu bawaan bayi, begitu ucap Sofia satat itu.


"Dokter Johan itu teman Marlina Ma, dia yang punya klinik itu," sahut Sebastian dengan terus fokus pada jalanan, gerimis kecil mulai jatuh. Sebastian mempercepat laju kendaraannya, takut jika hujan deras mereka malah terjebaak dijalan karena jarak tempuh masih cukup jauh.


"Kadang apa yang kita lihat tidak sesederhana itu Nak," tutur Sofia dengan sendu, ia merasa bersalah pada Sebastian.


Saking bahagia dia mendapatkan cucu dari Sebastian, Sofia tidak curiga sama sekali pada menantunya itu. Tetapi siapa juga yang menyangka jika wanita yang sudah menjadi menantu di keluarga Bagaskara itu tega melakukan ini.


"Coba untuk cari tahu Nak, Mama hanya bisa mengatakan ini saja. Mama ingin kamu bertindak sendiri."

__ADS_1


"Baiklah Ma, Besok Tian akan menyuruh beberapa orang untuk menyelidikinya," jawab Sebastian, meskipun gamang tetapi pria bermata sipit itu juga penasaran dengan pa yang Mamanya katakan.


Sepanjang perjalanan pulang hanya suara rintik hujan yang mengiringi. Kedua manusia beda usia itu larut dalam pikiran masing- masing.


Beberapa hari berlalu, seorang laki-laki memakai pakaina serba hitam bertubuh tegak masuk ke ruangan Sebastian.


"Ap kau menemukan sesuatu?" tanya Sebastian dengan hati yang berdebar.


Pria itu menyeringai, dia memberika flashdisk pada Sebastian. "Kami tidak akan pernah mengecewakan klien kami Tuan, Anda bisa melihat sendiri apa yang kami temukan di sana."


Sebastian segera memasang flashdisk itu ke laptopnya, matanya membeliak lebar sat melihat Selma ditidurkan di ranjang brankar dalam keadaan tidak sadarkan diri, dua orang perawat tampak berdiri di sisi Selma yang terbaring mendnegarkan instruksi dari seorang dokter yang tak lain adalah Johan.


Hanya ada gambat tanpa suara, setelah selesai menerima arahan dari Johan dua perawat itu mendorong ranjang Selma masuk ke sebuah ruangan. Tak lama seorang wanita yang sangata Sebstian kenal berjalan mendekati Johan, di bergelayut manja di lengan pria berjas putih itu.


Mata Sebastian memerah, rahangnya mengeras melihat itu. Pria yang berdiri di depan Sebastian tersenyum miring, siapa yang tidak marah jika melihat wanita yang kita cintai melakukan hal seperti itu, jika dia ada di posisi Sebastian kepala dokter itu sudah pasti berpisah dari tubuhnya.


"Tenanglah Tuan, ini masih pembukaan," ujar Pria itu dengan datar.


Sebastian mendengud kesal, tanganya mengepal kuat berusaha untuk menahan gemuruh di dadanya.


Perut Selma terlihat membesar, mungkin usia kandungannya delapan atau sembilan bulan. Selma diseret paksa oleh dua orang pria memakai pakaian perawat.


"Itu adalah malam dimana wanita hamil itu di paksa melahirkan, walaupun usia kandungannya belum cukup," ucapan pria berwajah dingin itu membuat Sebastian menatapnya penuh tanya.


Pria itu menarik kursi yangada di hadapannya, kemudian duduk dengan tenang smbil menyalakan cerutu malah yang ia bawa sendiri. Pria itu mengarahkan Sebastian untuk melihat lagi ke layar laptopnya.


Di sana Sebastian melihat Selma menangis, dengan perutnya yang sudah besar wanita itu bersujud di kaki, Marlina?ya Marlina, wanita itu menarik rambut Selma dan menampar wanita hamil itu dengan keras. Sebastian melotot melihat adegan itu, dan di sana Marlina terlihat belum mengandung.


"Lihar tanggal di rekaman itu Tuan," titah laki-laki itu.


"Dua puluh enam Mei," gumam Sebastian.


"Dua puluh enam Mei, apa ini sebenarnya. Kau yakin ini di ambil tahun ini?" Pri itu mengangguk pasti.


"Tolong Jelaskan apa ini? otakku benar-benar kacau sekarang!" bentak Sebastian frustasi.


"Sejak awal istri Anda tidak pernah hamil, semua hanya rekayasa dokter johan dan istri Anda.Wanita yang bernama Selma itulah yang mengandung anak Anda dari benih yang Anda donorkan," ujar laki-laki itu menjelaskan.

__ADS_1


"Aku tidak pernah mendonorkan apapun Haris!" teriak Sebastian emosi.


Dia masih belum bisa menerima kenyataan ini, dan Selma? Kenapa wanita itu bisa mengandung anaknya. Mereka bahwa bertemu saat dia datang ke rumah untuk menjaga El.


"Anda yakin? coba anda ingat lagi. Karena seseorang yang menjadi sumber saya tidak mungkin berbohong," sahut pria benama Haristanto itu dengan tenang.


"Aku yakin, aku tidak pernah melakukan hal itu!"


"Tapi Anda pernah menyimpan pernah melakukan hal itu Tuan, tanpa Anda sadari. Anda melakukan tes kesuburan di klinik itu bukan, Anda menyetorkan benih yang diberikan pada Selma."


Sebastian mengusap wajahnya kasar, ya dia memang melakukan hal itu atas permintaan Marlina. Mereka melakukan tes kesuburan sebelum program hamil, tetapi dia sama sekali tidak menduga wanita yang teramat ia cintai bisa menipunya seperti ini.


"Dari mana kau dapat infomasi ini?"


"Anda tidak perlu tahu darimana dan bagaimana saya mendapatkan informasi ini Tuan, saya punya cara sendiri. Saya bisa menjamin semua yang saya katakan adalah kebenaran!" tegas Haris dengan sorot mata tajam.


Haris dan timnya bukan detektif orang sembarangan. Mereka mampu melakukan apapun untuk mengorek informasi dengan cara apapun, dia selalu memastikan jika informasi yang dia dapat seratus persen benar dengan cara yang tentu hanya dia dan tim-nya yang tahu.


"Maaf, aku hanya .. hah aku sangat bingung dengan semua ini." Sebastian menaarik rambutnya frustasi.


"Tidak apa Tuan, saya paham."


Haris mengeluarkan berkas dari tas hitam yang ia bawa. Meletakkannya di atas meja dan mendorong berkas berwarna biru itu mendekat pada Sebastian.


"Semua ada di sini Tuan. Semua data yang menyangkut Adnda dan istri Anda di klini itu, bukti Selma yang melakukan inseminasi di klinik itu atas perintah istri Anda, dan bukti perselingkuhan istri Anda dengan Dokter Johan."


Kepala Sebastian berdenyut sakit, hati pria itu hancur bagai kaca yang di jatuhkan dari ketinggian. tangannya bergetar saat membuka lembar demi lembar berkas yang Haris berikan. Rasanya masih belum percaya dengan apa yang terjadi, baru kemarin dia sangat bahagia dengan hadirnya buah hati yang lama ia nantikan. Tapi dalam sekejap semua berubah.


"Tugas saya sudah selesai, Apa ada hal lain yang Anda inginkan Tuan Sebastian Bagaskara," ujar Haris sambil melirik jam tanganya.


Sebastian menggeleng, dia masih sangat kacau sekarang. Haris tersenyum, dia bangkit merapuhkan jas hitam yang ia pakai.


"Saya beri Anda sedikit bonus." Haris mendekat dan membisikkan sesuatu pada Sebastian.


"Permisi." Laki-laki itu melangkah pergi meninggalkan Sebastian yang terpaku.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2