Baby El

Baby El
Operasi


__ADS_3

"Maaf, maaf. Tuan maafkan saya, astaga sudah kedua kalinya aku menabrak orang," keluh seorang wanita berambut panjang pada dirinya sendiri.


"Tidak apa-apa, saya juga sedang terburu-buru,"ujar laki-laki yang ditabrak Selma.


Hari ini Selma begtu ceroboh, padahal dia adalah seorang yang selalu berhati-hati. Mungkin karena terlalu banyak pikiran dan belum makan siang, membuat gadis itu sedikit oleng.


Selma baru saja kemabli dari ruangan dokter, hasil CT-scan menyatakannya jika Mardi harus dioperasi. Tentu saja hal itu menjadi benan tersendiri untuk Selma. Namu, saat ia bangkit dan tanpa sengaja bertatapan dengan pria yang baru saja ia tabrak, Selma merasa kasihan. Reflek ia mengambil permen coklat yang selalu ada di sakunya.


"Apa?" tanya pria itu heran, dan menatap Selma dengan Alis yang bertaut.


"Em.. sebagai permintaan maaf saya, juga untuk penyemangat Anda," jawan Selma asal, ia juga tidak yakin. Namun, ia melihat pria itu seperti sedang banyak pikiran, tidak jauh beda dengannya.


Pria itu tersenyum kecil, lalu mengambil permen coklat yang Selma berikan.


"Sekali lagi saya minta maaf," ujar Selma sambil membungkuk lalu pergi begitu saja sebelum pria itu menjawab.


Pria itu tersenyum lucu sambil memakan permen yang Selma berikan.


Selma berjalan gontai ke kamar rawat Bapaknya, malam ini Selam menginap sendiri. Ani pulang bersama Tyas, karena besok Tyas harus mengikuti ujian. Selma menatap lekat pada wajah laki-laki yang terkulai lemah di ranjang, sebenarnya mardi belum begitu tua, umurnya masih enam puluh lima tahun, tetapi kerasnya hidup dan penyakit yang menggerogoti tubuhnya membuat pria itu terlihat lebih tua. Perlahan Selam memejamkan mata, gadis itu sungguh kelelahan hari ini.


Waktu menunjukan pukul lima pagi saat Selma membuka mata, pagi terasa begitu cepat datang saat kita tidur dalam keadaaan lelah. Setelah membereskan diri di kamar mandi Selma memutuskan untuk menemui Dian, siap tahu temannya itu bisa membantunya.


"Gimana kamu bisa bantu nggak?" tanya Selama dengan penuh harap.


Pria berseragam merah itu mengigit rotinya lagi sambil menatap lurus ke depan. Keduanya duduk di bangku yang tak jauh dari kamar Mardi dirawat.


"Aku nggak punya tabungan sebanyak itu Sel, paling cuma lima juta. Kalau kamu mau sih, aku bisa bantu ngomong ke teman aku yang kerja di bank, tapi ya gitu pake jaminan gimana?" Dian menoleh, menatap Selma sambil terus mengunyah roti dengan selai nanas favoritnya.


Selma menggeleng bingung seraya menunduk. Jaminan, apa yang bisa ia jaminkan pada bank. Motor matic miliknya saja sudah mati pajak, tidak mungkin bisa untuk jaminan. Kalau sertifikasi rumah, Selma takut kalau Ibunya tidak akan mengizinkan.

__ADS_1


"Aku pikir dulu deh," jawab Selma bingung.


"Tapi jangan lama-lama, proses Bank juga butuh waktu. Sementara Bapakmu... Semoga Tuhan memberikan kekuatan untuk beliau."


"Amin, Terima kasih ya. Nanti sore aku hubungi lagi."


Dian mengangguk, ia pun pamit karena harus segera berkerja. Selma pun kembali ke kamar rawat Mardi, sambil membawa sepotong roti pemberian Dian. Gadis itu berpikir keras tentang tawaran Dian, tentu saja dia ingin tapi masalahnya apa yang akan ia gunakan sebagai jaminan.


Selma sengaja meminta cuti dari pabrik untuk tiga hari ke depan, untuk menemani Bapaknya di rumah sakit. Saking tenggelam dalam kalut otak yang berpikir dengan keras, hingga Selma tidak menyadari kedatangan Ani.


"Gimana Bapakmu?" Tanya Ani dengan ketus, yang baru sadar dari lamunan langsung meraih tangan wanita yang berdiri di depannya.


"Bapak harus operasi Bu," jawab Selma sendu.


Ani duduk sambil menyentak nafas kasar, uang apalagi yang harus ia pakai untuk operasi suaminya. Kemarin saja uang tabungan Ani berkurang untuk membayar ujian akhir Tyas. Melihat wajah Ani yang di tekuk masam membuat nyali Selma menciut, tetapi demi sang Bapak tercinta Selma berusaha mengumpulkan keberanian.


"Apa? Apa kamu gila Selma? Mau pinjam ke Bank, enak pinjamnya nanti mau bayar pake apa? Bagaimana kalau sampai rumah kita di sita? Kamu mau Bapak kamu selesai operasi, lalu kita sekeluarga tidur di jalan!" Bentak Ani, ia tidak saat keluarga pasien lain menatap kearah mereka.


"Selma yang akan bayar Bu, aku janji akan kerja lebih keras lagi," bujuk Selma dengan memohon, dia sudah merasa buntu. Dia sudah mencoba menghubungi beberapa teman dan saudara bahkan mengajukan pinjaman ke pabrik. Namun, tetap saja tidak mencukupi. Karena rata-rata temannya hanya bisa meminjamkan tak lebih dari tiga ratus ribu.


"Nggak enak aja, rumah itu susah payah di bangun. Sekarang mau main pake buat jaminan, aku tidak akan setuju! Cari jalan lain!"


"Selma bingung, Selma sudah coba cari pinjaman lain tapi tidak ada. Paman Supri juga tidak ada, tolong Bu. Selma Mohon, demi Bapak. Bapak juga yang dulu berkerja keras untuk membangun rumah kita," sahut Selma yang merasa geram dengan sikap sang Ibu.


"Pokoknya Ibu tetep tidak setuju!"


Selma meraih tangan wanita yang sudah melahirkan dia kedua, mengenggam tangan itu erat, dengan tatapan memohon Selma menatap lekat sang Ibu. Ani menghela nafas berat, dia bukan tidak ingin Mardi dioperasi dan bisa sembuh seperti sedia kala. Namun, untuk mengadaikan sertifikat rumahnya di merasa bimbang.


"Selma mohon Bu," Lirih gadis itu, dengan air mata yang sudah mengenang di mata.

__ADS_1


"Mana ponselmu?"


"Untuk apa Bu?" tanya Selma bingung, apa mungkin Ani mau menjual ponsel Selma. Tetapi hasilnya juga sangat jauh dari cukup untuk biaya operasi Mardi.


"Sudah jangan banyak tanya!"


Selma pun menurut dan mengeluarkan ponsel dari saku.


"Telepon Budhe mu sekarang!" Titah Ani.


Dengan ragu Selma menghubungi nomor Budhe atau kakak sepupu. Setelah menyambung dan diangkat, Selma memberikan ponsel pada Ani.


Ani menjauh dan terlihat bicara dengan serius. Tak lama kemudian wanita paru baya itu menutup telepon dan kembali.


"Ayo ikut Ibu."


"Kemana? "


"Tidak usah banyak tanya kalau kamu mau uang untuk operasi Bapak mu!" tegas Ani, Selma pun tak berani lagi bertanya.


Setelah bicara dengan suster untuk minta tolong menjaga Mardi, Ani dan Selma pergi dari rumah sakit itu mengunakan angkot. Sepanjang perjalanan kedua wanita itu hanya diam, Selma tak berani bicara banyak yang ada salam pikiran dia sekarang hanya kesehatan Bapaknya.


Semakin cepat dia mendapatkan uang, semakin cepat Mardi dioperasi. Selma mengerutkan keningnya saat mereka tiba di sebuah tempat.


Ingin bertanya tetapi Selma takut ibunya akan marah. Ia hanya menatap Ani dengan penuh tanya.


"Jangan bertanya, jangan membantah apapun. Lakukan saja semua yang mereka suruh, jika kau mau secepatnya dapat uang untuk operasi Bapak," ujar Ani tiba-tiba, seolah dia tahunan apa yang menjadi pernyataan dalam hati Selma.


Selma pun mengangguk dalam diam, dia pasrah. Yang terpenting Bapaknya bisa segera sembuh.

__ADS_1


__ADS_2