
"Makanlah, Bukankah kau kelaparan," Sebastian bicara dengan nada dingin, karena masih kesal dengan Marlina yang pergi tanpa izin.
Selma tak menjawab, wanita itu makan dengan cepat. Dia hanya mengunyah beberapa kali sebelum menelan, ais semoga lambung Selma memaafkan dia. Pasalnya makanan yang belum terkunyah dengan baik membuat lambung harus berkerja ekstra untuk mencerna.
"Apa kau tahu kemana Istriku pergi?" Tanya Sebastian tanpa melihat Selma.
"Uhuk!" Selma terkejut sampai tersedak, kuah mie instan terasa panas di tenggorokannya. Ia pun segera meraih air dan segera menenggak habis.
"Kenapa kau terkejut seperti itu? Apa kau tahu sesuatu?"
"Tidak Tuan, saya tidak tahu. Seharian tadi saya di kamar Tuan muda El," jawab Selma dengan mata yang bergerak ke samping, seolah menghindari tatapan Sebastian.
Pria itupun tak bertanya lagi, dia tidak ingin pengasuh anaknya itu ketakutan. entah kenapa Selma selalu terlihat menghindar saat Tian menyapa atau mengajaknya bicara, padahal Tian hanya ingin Selma tidak canggung di rumah itu.
Hening, hanya dentingan sendok yang beradu dengan mangkok kaca yang terdengar di dapur. Marlina belum menampakkan batang hidungnya, asisten rumah tangga yang lain juga sudah beristirahat. Sebastian memang tidak memperbolehkan para pekerja di rumah itu berkerja sampai larut. Saat makan malam sudah selesai dan dapur kembali bersih, mereka diperbolehkan beristirahat.
Selma terlihat gelisah, ia pun semakin mempercepat makannya, hingga semangkuk mie kuah rasa soto itu habis hanya dalam beberapa sendok saja. Padahal ia memasak dua bungkus untuk dia sendiri, kegelisahan Selma tak luput dari perhatian Sebastian walaupun pria itu masih memikirkan keberadaan Marlina.
'Apa dia takut padaku?' tanya Tian dalam hati, ekor matanya bergerak mengikuti Selma yang bangkit dan membawa mangkok kotor ke wastafel.
"Mau kemana kamu? apa kamu takut dengan saya?" tanya Sebastian yang langsung membuat langkah kaki Selma terhenti, wanita itu seolah lupa kalau Tian duduk bersamanya.
"Anu, Tuan emh ... saya takut Tuan muda menangis," jawab Selma sambil meremas ujung kemeja warna pink muda yang ia kenakan.
"Menangis?" ulang Tian, Selma mengangguk cepat. Mata lentik itu melihat ke arah kamar El yang tak terlihat, terlihat ia sangat tidak sabar untuk ke sana.
"Maaf Tuan, saya harus melihat Tuan muda. nanti saya kan kemabli untuk mencuci mangkok yang kotor."
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Tian, wanita itu berjalan cepat , melesat ke arah kamar Baby El. Tian yang penasaran pun segera menyusul langkah Selma. Dari mana wanita itu tahu Elvaro menangis, sedangkan Marlina yang notabenya adalah ibu kandung Elvaro tidak pernah terlihat gelisah seperti Selma. Bahkan malam-malam Marlina pun berlalu dengan damai, meski dia tidak sekamar dengan bayinya.
Langkah Tian yang lebar berhasil menyusul Selma tepat waktu. Pria bermata sipit itu berdiri diambang pintu yang baru dibuka oleh Selma, firasat pengasuh itu benar, meskipun belum menangis kencang Baby El tampak menggeliat dengan rengekan kecil yang keluar dari bibirnya yang mungil.
"Uh .... Sayang, bangun ya. Maaf ya tadi di tinggal makan sebentar," Selma bicara dengan lembut pada bayi yang usianya belum genap satu bulan itu.
Didekapnya baby El dengan sayang, tubuh Selma bergerak mengayun lembut baby El. Bayi yang mengenakan piyama tidur bermotif mobil itu tampak nyaman dalam gendongan Selma, dengan mata yang masih terpejam mulut kecil baby El bergerak, berdecak-decak seolah mencari sesuatu.
Selma seolah mengerti pa yang bayi itu inginkan. Dengan satu tangan yang mengendong El, Selma berjalan ke arah meja tempat Asi yang sudah ada dalam botol di hangatkan. Baby El menolak susu formula, jadi Sebastian mencari donor ASI beberapa rumah sakit.
Selma duduk di sofa, setelah mengecek suhu susu, Selma memberikannya pada Baby El. Semua itu tak lepas dari Mata Sebastian, seharusnya istrinya yang seperti itu. Walaupun mereka mengunakan jasa suster untuk merawat Baby El, tetapi kasih sayang Marlina tidak mungkin bisa suster itu berikan.
"Boleh aku yang memberi El susu?"
Sema terjingkat kaget, hampir saja botol Asi yang ia pegang terlepas.
"Astaga Tuan bisakah Anda tidak mengangetkan saya?"
"Dari mana kau tau El bangun? Apa kau melihat CCTV?" tanya Tian penuh selidik.
"Apa Tuan memasang CCTV di sini?" Selma balik bertanya sembari mengedarkan pandangannya ke langit-langit kamar.
"Tidak," jawab pria itu.
Selma bernafas lega, karena jika benar Sebastian memasang CCTV di sana, tentu Selma merasa malu. Dia sempat menganti pakaian di sana saat terdesak.
"Aku tidak memasang CCTv, lalu dari mana kau tau El bangun?" tanya Tian lagi, Selma tersenyum.
__ADS_1
Wanita berambut panjang itu bangkit, dengan langkah yang sedikit diayun ia mendekati Sebastian
"Apa Tuan mau menggendongnya?"
Sebastian merasa heran dengan Selma, bukannya menjawab. wanita itu malah menyuruh dia mengendong bayi yang terlelap setelah menghabiskan sebotol ASI.
Selma semakin mendekatkan baby El, Tian tampak gugup. Dengan ragu dan tangan yang gemetar pria dengan tinggi 185 cm itu menerima tubuh mungil yang berbalut baju berwarna biru cerah itu. Tangan besar Tian gemetar, ini kali pertama ia menggendong Elvaro, bukan karena tidak sayang. Tapi Tian sangat takut menyakiti bayi yang tak berdaya itu.
Senyum Sebastian mengembang lebar, ia menatap baby El bergantian dengan Selma yang juga tersenyum padanya. Ada gelayar hangat yang menjalar dari tangannya, rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa, rasa cinta dan syukur bergemuruh di dadanya mendorong cairan bening keluar dari sudut mata sipit Sebastian.
"Sejak pertama kali saya melihat Tuan muda, saya sudah jatuh cinta padanya. Mungkin karena saya mencintainya, jadi saya bisa merasakan apa yang Tuan muda rasakan," ujar Selma sambil menatap lekat wajah mungil yang tampan seperti ayahnya.
Buru-buru sebastian mengusap sudut mata agar air matanya tak meleleh. Malu jika sampai Selma melihat dia menangis, walaupun sebenarnya Selma sudah melihat itu.
"Jika Anda lebih sering bersama Tuan Muda mungkin Anda bisa lebih peka daripada saya Tuan, karena darah kalian sama," imbuh Selma lagi.
"Ya kau benar, selama ini aku memang tidak bisa menghabiskan waktu bersamanya. Aku terlalu sibuk," sahut Sebastian dengan penuh penyesalan.
Selma hanya tersenyum, dia mengerti keadaan majikannya itu. Pulan setelah jam makan malam saja itu sudah termasuk sore, pernah laki--laki itu mengejutkan Selma karena pulang hampir tengah malam. Pria itu berkerja dengan sangat keras, kadang Selma takut jika Sebastian jatuh sakit, walaupun bukan ranahnya untuk mengkhawatirkan Sebastian.
"Terima kasih kau sudah merawat El dengan baik, dan kau juga sangat menyayangi dia," ucap Sebastian dengan tulus.
"Sudah menjadi kewajiban saya untuk merawatnya," ucap Selma dengan nada bergetar seperti menahan tangis.
Sebastian kembali ke kamarnya, membiarkan Selma untuk beristirahat, Tian mungkin tidak bisa merawat bayi, tetapi ia yakin itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Jarum jam berputar dan menunjuk waktu hampir tengah malam.
Mata sipit pria itu sama sekali belum bisa terpejam, ia masih memikirkan keberadaan Marlina. Sebastian sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari keberadaan Marlina.
__ADS_1
Tepat saat kantuk mulai menyerang , derit suara kamar membuat Sebastian kembali terjaga.
"Darimana kamu?" tanya Sebastian pada wanita yang mengendap-endap masuk kamar.