
"Itu sudah kotor, biarkan," ujar Tian, ya laki-laki berkemeja navy itu melihat semuanya, bagaimana kasarnya Marlina memperlakukan Selma.
"Tapi Tuan."
"Tidak ada tapi, ambillah yang baru. Kau bisa sakit kalau makan itu!" tegas Tian, jika Selma sakit dia sendiri yang akan kerepotan. Apalagi El hanya mau bersama Selma, bayi itu sangat menempel Selma seolah wanita itu adalah ibu kandungnya.
"Iya Tuan, tapi,-"
"Kamu ini tapi-tapi terus sih, ngeyel banget di kasih tahu. Aku juga bukan orang yang tidak mampu membeli makanan layak untuk karyawannya," sela Sebastian.
"Saya mengerti Tuan, tapi tolong lepaskan tangan saya," ujar Selma pada akhirnya.
"Oh .. Ehm maaf," sahut Tian canggung, ia segera melepaskan tangan dari pergelangan tangan Selma.
Mereka perlahan bangkit, menegakkan tubuh mereka. Sebastian melemparkan pandangan ke sembarang arah, sementara mata Selma menatap lantai dan ujung kakinya sendiri, rasa canggung meliputi kedua manusia beda jenis itu.
"Makan yang banyak, jangan dengarkan ucapan istriku tadi. Mungkin dia hanya sedang lelah makanya seperti itu, bisanya dia lembut dan baik. Merawat seorang bayi bukanlah hal yang mudah, aku sering lihat kau begadang," ucap Tian tanpa menatap Selma, dia masih merasa canggung.
Selma yang mendengar ucapan laki-laki itu sontak mengangkat kepalanya, bagaimana dia bisa tahu kalau Selma sering begadang? Padahal Selma tak sekalipun memberi tahu orang lain sekalipun itu Siti yang notabenya sesama pekerja di sana. Selma menikmati tiap detik wakti yang ia lewatkan bersama Baby El, dia sama sekali tak merasa keberatan jika harus begadang.
Yang tak Selma tahu, Sebastian pun kerap begadang untuk menyelesaikan pekerjaan yang ia bawa pulang. Sering ia melihat Selma di dapur membuat mengambil camilan atau sekedar minum air, sengaja Sebastian tidak menampakkan diri agar Selma tidak canggung.
"Saat El tidur kau juga harus istirahat. Terima kasih sudah merawat El dengan baik," ucap Tian , kali ini pria itu menatap Selma.
Selma terpaku, mata teduh Sebastian bak lautan yang mampu menenggelamkannya, tak ingi larut Selma langsung menggeleng cepat. Tidak boleh, Sebastian adalah seorang suami, Selma tidak boleh punya rasa seperti ini.
Tian melangkah meninggalkan Selma yang menatap nanar punggung laki-laki yang mulai mengisi relung hatinya, tanpa ia sadari. Pria itu berjalan menaiki tangga menuju ruang kerja mengambil dokumen yang tertinggal, tetapi sebelum itu dia ingin bertemu dengan Marlina. Sikap wanita itu mulai berubah, Sebastian juga tak tau kenapa, padahal selama ini Marlina adalah wanita yang baik hati dan lemah lembut, kenapa sekarang dia terlihat arogan, Sebastian harus menegurnya, sikapnya pada Selma sudah keterlaluan.
"Lina," panggil Sebastian setelah membuka pintu kamar.
Keningnya berkerut saat melihat sang istri sudah rapi dengan dress warna coklat yang membalut sempurna tubuh seksi Marlina, dress itu panjang sampai mata kaki tetapi belahannya juga tinggi sampai hampir mengekspos seluruh paha.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Tian dengan datar, sorot matanya tajam. Pria itu berjalan cepat mendekati Marlina yang tengah berdiri di depan cermin besar mematutkan dirinya.
"Lina aku bertanya padamu!" Sebastian menarik lengan Marlina, sedikit memutar dengan paksa hingga tubuh sang istri berputar menghadapnya.
"Aku mau pergi kerja, Sayang. Mau kemana lagi coba," jawab Marlina dengan santai dan tanpa rasa bersalah.
"Hentikan semua ini Lin, kau masih bisa membeli apapun yang kau mau tanpa harus berkerja keras, aku masih mampu untuk memenuhi semua kebutuhanmu!" tegas Sebastian, rahangnya mengeras.
Namun, Sebastian sebisa mungkin menekan suaranya agar tidak meninggi. Marlina menepis tangan Sebastian, ia menatap laki-laki yang selama lima tahun ini hidup bersamanya.
"Jangan egois Tian, kau sudah berjanji maka tepatilah. Aku hanya ingin kembali ke panggung dimana aku di kenal, Sayang. kau tahu inilah impianku sejak lama dan aku sempat berhenti karena kau menginginkan keturunan, dan aku sudah mengabulkannya. Sekarang giliranmu mengabulkan keinginanku," sahut Marlina dengan senyum penuh kemenangan.
Pria sipit itu hanya bisa diam, dia memang tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia memang sudah berjanji. Namun, ia tidak mengira jika Marlina akan secepat ini kembali ke dunia gemerlap yang dua tahun ia tinggalkan, Tian berpikir jika istrinya itu akan merawat bayi mereka sampai setidaknya umur dua atau tiga tahun. Tapi semua hanya ada dalam pikiran pria naif itu, nyatanya Marlina sudah tak bisa membendung hasrat untuk tampil di depan kamera.
Setelah mencium pipi sang suami Marlina melenggang pergi dengan senyum kemenangan, ia tahu Sebastian tak akan pernah bisa menolak keinginannya.
"Kemana lagi istrimu itu Tian?" tanya Sofia yang sudah duduk di ruang tamu.
"Ya begitulah, saking sibuknya kamu sampai tidak tahu kalau Mama udah di sini sejak tadi, bahkan kau tidak benar- benar tahu apa yang sudah terjadi dalam rumahmu sendiri."
Alis Sebastian hampir menyatu mendengar ucapan Mamanya yang seolah menyindir dirinya, tapi apa yang tidak ia tahu? Sebastian bahkan tahu apa yang akan Siti masak untuk menu makan malam, karena wanita itu kan menempelkan menu hari ini di pintu lemari pendingin agar tidak lupa.
"Mama ngomong apa sih? jumlah cicak di rumah ini ini aja aku tahu lho Ma," sahut Sebastian tak mau kalah.
"Jumlah cicak tahu, tapi pelihara ular jenis apa kamu nggak tahu," lagi-lagi perkataan Sofia bagai teka-teki d otak Sebastian, siapa yang ular dan siapa yang pelihara. Tidak mungkin Sebastian, karena dia sedari kecil paling geli dengan mahluk melata itu.
"Mama ini ngomong apa sih? kok jadi ngelantur bawa-bawa ular. Tian ke kantor dulu ya Ma," pamit Sebastian, Sofia mengangguk kecil mengiyakan.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Mingu bergulir berganti bulan, Marlina semakin jarang di rumah, dia sudah kembali di dunia impian. Dalam sekejap wajah Marlina terpampang di berbagai majalah sebagi model pakaian dewasa, beberapa lebel terkenal juga ikut memakai marlina sebagai model, semua bukan tanpa sebab. Meskipun Marlina memang model, tapi kesuksesan yang ia dapat tak lepas dari Sebastian.
Siapa yang tak kenal pria muda berbakat yang bisa menguasai pasar dalam beberapa tahun saja, tangan dingin Sebastian mampu mensejajarkan dirinya dengan perusaahan ayah kandungnya. Sungguh tak ada yang meragukan kemapuan Sebastian dalam berbisnis, tanpa Marlina tahu Sebastian banyak membantu dia untuk mendapatkan pekerjaan, semua itu bukanlah hal uang sulit untuk Sebastian.
Satu yang laki-laki itu inginkan, Marlina bisa meluangkan sedikit waktu untuk El puta mereka, Sebastian mengira jika karir Marlina sudah bersinar, wanita itu bisa bersantai dan kembali menjadi Marlina yang dulu. Tapi dugaan Sebastian salah, salah kaprah Marlina semakin menjadi, dia bahkan sering tidak pulang.
"Mau kemana lagi kamu? ini sudah malam Lin?" tanya Sebastian saat melihat sang istri mengemasi beberapa pakaian dalam koper kecil.
"Aku ada pekerjaan di luar kota, lusa baru pulang," jawabnya tanpa menoleh pada sang suami yang duduk di atas ranjang.
Sebastian menghela nafas panjang. " Apa kau nggak kasihan sama El, dia baru di imunisasi tadi pagi mungkin suhu tubuhnya naik sekarang," ucap Sebastian , ia masih berharap Marlina bisa tergerak hatinya untuk menemani El varo.
Tangan lentik Marlina dengan kuku-kuku yang sudah berhias indah dengan nail art menghentikan gerakan menutup resleting koper, ia bangkit dan menoleh pada Sebastian.
"Itu urusan pengasuhnya lah, buat apa kamu bayar dia mahal kalau dia tidak bisa menjaga El dengan baik. Ingat kau sendiri yang bilang kalau aku tidak usah repot mengurus bayi, ingat itu Tian!" ujarnya dengan nyalang, semua bujukan dan janji yang Sebastian berikan pada Marlina kini menjadi bumerang bagi Tian sendiri.
"Tapi dia anakmu, anak kita. Tidak seharusnya kau melemparkan semua tanggung jawab pada Selma!" Nada bicara Sebastian sedikit meninggi, tetapi ia masih berusaha untuk menahan emosinya.
Marlina tersenyum dia melangkah mendekati sang suami. Dengan manja dia melingkarkan tangan di leher sang suami.
"Sudah jangan marah terus, setelah ini aku akan ambil cuti dan merawat El seharian di rumah, menghabiskan waktu bersama mu dan akan kita, gimana?" Sebastian hanya diam, ini bukan pertama kalinya Marlina bicara seperti ini. Tetapi tak satupun yang ia tepati.
"Aku berangkat dulu ya Sayang, kasihan sopir udah nunggu dari tadi. " ucap Marlina kemudian mengecup manja pipi Sebastian.
"Aku menantikan kejutan ulah tahunku, Sayang!" pekik Marlina sebelum benar-benar meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
"Tentu aku sudah menyiapkan kejutan untukmu," ucap Sebastian dengan senyum penuh arti.