
"Mau kau beri pada siapa?" tanya oonji dengan penuh selidik. Tentu dia tidak akan setuju kalau Monika memberika es krim itu untuk orang lain, tepatya laki-laki lain.
"Mereka, boleh?" Monika menunjuk lampu merh yang tak jauh dari mini market tempat mereka membeli es krim.
Yoonji melihat kemana jari telunjuk Monika mengarah, beberapa pengamen, manusia silver dan badut jalanan tampak duduk menunggu lampu hijau berganti merah. Panas terik membakar mereka, membuat kulit mereka taampak kemerahan terutama anak-anak.
"Terserah." Yoonji kembali melihat layar pipih yang ada di tangannya, Monika tersenyum.
Dia tahu Yoonji adalah orang yang baik dan punya sisi lembut , entah apa yang membuat Yoonji menutupi sifat hanagatnya itu dengan prilaku dingin dan ketus. Membuat semua orang ketakutan melihatnya.
"Ok, terima kasih suamiku," ucap Monika yang sukses membuat yoonji sport jantung, ponsel yang ia pegang hampir saja terjatuh saking kagetnya.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Yoonji ,mencekal tangan Monika yang hendak membuka pintu mobil.
"Terima kasih," ulang Monika.
__ADS_1
"Tidak sesudah itu, sesudah terima kasih."
"Tidal ada, aku hanya mengucapkan terima ksih saja. Apa kau mendengarku mengatakan yang lain Yoon?"tanya Monika dengan wajah polos, wanita itu berusaha untuk tidak tertawa.
Dia begitu sennag bisa mnggoda Yoonji seperti ini. Kapan lagi ya kan bisa godain kulkas lima pintu.Yoonji berdecak, ia melepaskan tangan Monika dengan wajah masam.
"Kau tetap di sini, bia Pak Bambang saja yang mengantarkan es krim untuk mereka."
"Tapi Yoon aku,-"
Monika menghentikan ucapannya setelah mendapat tatapan yang begitu tidak bersahabat dari sang suami. Dia pun pasrah saat pria paruh baya itu mengambil semua es krim, eh nggak ding. Yoonji menyuruh Bambang menyisakan satu es krim tiga rasa yang dikemas dalam box plastik berukuran besar. Jaga-jaga saja jika di tengah jalan nanti istri kecilnya ingin makan es krim lagi.
Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah, Monika terkejut kalau melihat mertuanya yang duduk di ruang tamu dengan penuh luka seperti preman yang baru digebuki warga.
"Pelan sedikit, ini sakit bodoh!" Bentak Joohyuk pada Stefanie yang sedang memberikan obat pada luka suaminya.
__ADS_1
"Ini juga sudah pelan, jangan manja seperti anak kecil," Sahut Stefanie ketus, keadaan wanita itu juga tak kalah memprihatinkan. Dress pendek yang ia pakai sobek pada bagian lengan, rambutnya juga terlihat seperti sarang burung yang kena angin kencang.
"Mama, Papa? Kalian kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini? " Tanya Monika sambil melangkah mendekati mereka, Yoonji hanya melihat dari kejauhan.
Stefanie hanya menoleh sekilas dengan lirikan malas pada Monika, berbeda dengan Joohyuk yang memaksakan diri diri untuk tersenyum, walau sudut bibirnya berdarah.
"Tidak apa-apa tadi hanya salah paham dengan teman papa," jwab pria paruh baya itu.
"Kalian dari mana?" tanya Joohyuk sambil bergantian melihat Monika dan Yoonji yang sibuk dengan ponsenya.
Pemuda itu masih berdiri ditepat yang sama. Monika menoleh melihat yoonji yang terlihat acuh. Gadis itu menghela nafas, ia tidak tahu apa membuat Yoonji bersikap seperti itu pada papanya sendiri.
"Kami dari rumah sakit, Pa, " Jawab Monika setelah kembali menoleh.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit? " Tanya Joohyuk penuh selidik, Monika dan Yoonji terlihat baik-baik saja. Jika tidak ada yang sakit, apa mungkin wanita ini hamil?
__ADS_1
"Apa Papa tidak tahu, Nenek dirawat di rumah sakit sekarang?" Monika memicingkan mata melihat betapa terkejutnya Joohyuk dan Stefanie mendengar hal itu.
Mereka menatap Monika dengan rahang yang hampir jatuh. Tapi Joohyuk segera sadar dan mengubah ekspresinya.