Baby El

Baby El
Inisiatif


__ADS_3

"Hajim .. Hajim...!" Selma mengusap ujung hidungnya yang memerah, menyusutkan hidung yang terasa sedikit mampet.


Tidur di lantai semalaman dengan AC yang menyala membuat Selma mengigil saat bangun, Sebastian tidak tahu itu. Selma bangun lebih dulu sebelum Sebastian bangun, sepertinya laki-laki itu benar-benar kelelahan.


"Kamu kenapa? Apa tidak enak badan?" Tanya Sofia, Monika yang sedang membuat teh hangat menoleh lalu terseyum manis pada wanita paruh baya yang sedang mengendong El.


"Tidk Nyonya, mungkin hanya karena dingin," kilah Selma. Pagi ini memang dingin, tapi itu hanya alsan Selma saja. Saat bangun tidur tadi dia memang sudah merasakan meriang.


"Kamu istirahat saja, biar siti yang memasak. Dan jangan panggil nyonya, Selma. Aku bisa marah kalau kau terus lupa seperti ini," ucap Sofia pura-pura marah.


"Maaf Nyo- Ma," Selma seera meralat ucapannya takut Sofia benar-benar marah.


"Kau harus terbiasa." Selma mengangguk pelan.


Selma kemudia mengambil El dari gendongan Sofia, tapi wanita itu mencegahnya. "Biar EL sama Mama dulu, Papanya Tian juga masih pengen main sama cucunya, mumpung masih di sini."


"Apa tidak merepotkan Mama?" tanya Selma sambil memaikan jemari El, bayi itu terenyum saat melihat Selma.


"Nggaklah, El sangat baik, tidur sama oma semalam juga tidak rewel."


"Iya kan El." Bayi itu tersenyum seolah mengiyakan apa yang Omanya katakan. Selma merasa lega, tadi malam dia sempat takut jika EL merepotkan mertuanya.


Meski Sofia adalah Nenek kandung El, tetap saja dia merasa tidak enak. Selama ini El hanya nyaman saat dengan dirinya saja.


"Kamu cepet sarapan, lalu pompa ASI lagi buat El. Kalau nggak enak badan istirahat saja, kau Nyonya di rumah ini sekarang, jangan sungkan untuk meminta orang di sini melakukan sesuatu untukmu, mengerti?" Selma mengangguk paham.


"Terima kasih Ma," ucap Selma dengan tulus.


"Sama-sama, ajak Tian untuk sarapan sama kamu. Aku dan Papa kamu sarapan di halaman bellakang sekalian mau main sama El."


"Baik Ma," sahut Selma meski dia ragu untuk melakukan hal itu.

__ADS_1


Tak lama seteah Sofia mengajak El ke taman belakang, siti datang ke dapur. Wanita paruh baya itu melihat Selma dengan tatapn yang suit diartikan. Selma yang sedang melamun tidak menyadari jika Siti berada di dapur bersamanya, wanita muda itu duduk dengan tatapan kosong sambil sesekali menyesap teh hangat yang ia buat tadi.


"Nyonya ingin makan apa untuk sarapan?" tanya Siti dengan datar, Selma terlonjak kaget.


Wanita muda itu langsung berdiri saat melihat Siti yang berdiri tak jauh darinya.


"Bu -Bu siti," sapa Selma dengan kaku, entah kenapa ia merasa sikap wanita paruh baya itu berubah.


Dulu siti begitu hangat dan perhatian, wanita itu selalu tersenyum hangat pada Selma. Terlebih saat Selma masih hamil, Sitilah yang mengurus semua keperluan Selma. Tapi sekarang Ia berubah.


"Nyonya ingin makan apa untuk sarapan?" ulang Siti, wanita itu menagambil sesuati dari lemari pendingin.


"Bu, bisa tolong jangan panggil saya Nyonya. Panggil saja Selma seperti biasanya," ucap Selma dengan sunggu-sungguh, dia merasa tidak nyaman saat Siti memanggilnya dengan sebutan Nyonya.


Siti menghentikan tanganya sejenak, ia mengambil beberapa bahan lalu meletakaknya di meja.


"Maaf tapi Anda adalah Nyonya di rumah ini," lagi-lagi ucapan Siti terdengar sangar formal dan dingin.


"Tolong Bu,-"


Siti dan Selma menoleh, mereka melhat pada wanita paruh baya yang datang dengan mendorong putri bungsunya di kursi roda.


Adik Selma mengalami kecelakaan, tak lama setelah bapak mereka meninggal. Kejadian naas itu membuat gadis belia itu harus duduk di kursi roda untuk sementara, kedua kainya lumpuh untuk sementara.


"Ibu jangan berkata seperti itu, semua yang berkerja di sini itu teman Selma Bu. Bu Siti juga, Selma sudah menganggap beliau sebagai penganti Ibu di sini," tegur Selma dengan lembut, dia tidak ingin membuat keributan di pagi hari,d meski dia sekarang memntu di sana tetap saja Selma merasa tidak enak pada Sofia.


"Lha kamu kok aneh, udah punya ibu kok malah anggap orang lain Ibu. Apa kamu doain Ibumu ini cepet mati, bisa-bisanya kamu gantiin Ibu sama pembantu macam dia," ketus Ani sambil melirik sekilas pada Siti dengan remeh, Siti pun menatap Ani dengan dingin.


"Nu, tolong cukup! Jangan bikin ribut ini masi pagi," mohon Selma dengan sangat.


"Kamu yang ribut, aku cuma mengatakan apa adanya," Sahut Ani tanpa rasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


"Sudahlah aku juga malas berdebat, buang waktu. Cepat buatkan aku nasi goreng yang enak, aku lapar. Jadi babu kok malas amat, jam segini belum ada sarapan, mau makan gaji buta kamu. Antar ke halaman belakang, akumau ngobrol sama besan di sana," imbuh Ani sebelum mendorong Ayu ke halaman belakang.


"Maafkan Ibu saya ya Bu siti," ucp Selma dengan sunggu-sungguh, dia merasa sangat tidak enak pada wanita paruh baya itu.


Siti hanya mengangguk dingin. Selma pun pergi meninggallkan dapur, setelah mengatakan kalau dia dan suaminya juga ingin nasi goreng untuk sarapan.


"Duh, gimana ngajanknya? Apa Tuan Tin sudah bangun?" gumam Selma di depan pintu kamar.


Wanita itu sungguh merasa gugup, ia menunduk sambil menautkan ujung jemarinya.


Selma mengangkat wajahnya saat genggaman tangan yang hendak mengetuk pintu mendarat di dada bidang Sebatian. Pantas saja rasanya berbeda, keras tapi tidak sekeras kayu.


"Kenapa kau mengetuk pintu kamarmu sendiri?" suaranya Sebstian berat dan dalam, seperti ini saja sudah bisa membuat Selma salah tingkah.


"Emh .. Saya belum terbiasa," jawab Selma sambil kembali menunduk, dia tidak kuat melihat mata Sebastian yangmenatapnya dengan intens.


Sebastian tersenyum, senyumnya kali ini sungguh berbeda. Ditariknya tangan Selma yang masih menempe di dadanya, Selma yang terkejut tak bisa menghindari gerakan suaminya. Sebastian menariknya masuk ke kamar.


"Apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Sebastian, suarnya terdenganr begitu merdu di telinga Selma.


Selma yang masih bingug dengan apa yang terjadi tak merespon pertanyaan Sebastian. Gadis itu masih terdiam membekudalam pelukkan sang suami.


Sebatian sedikit mengendorkan pelukannya, Selma yang sempat kecewa langsung terkesima saat laki-laki itu menarik dagunya ke atas hingga tatapan mereka kembali bertemu.


"Apa kau tidak nyaman denganku Selma? Apa kau tidak suka saat aku menyentuhmu seperti ini?" tanya Sebastian lagi.


Sebatian banyk berpikir pagi ini, apapun alasannya dia tidak ingin pernikahanya hancur untuk ke dua kali. Jika Sema belum nyaman dia akan membuat wanita itu nyaman, jika belum cinta dia akan membuat wanita itu jatuh cinta. Tapi diam dan saling menghindar seperti kemarin bukanlah solusi, Sebastian memutuskan untuk berinisiatif untuk mengawali semuanya.


"Selma kenapa diam?' Senastian tersenyum sangat manis, laki-laki itu menyingkirkan anak rambut di kening Selma.


Senayum di ajah tampan itu seketika memudar saat punggung tangannya menyentuk kening Selma.

__ADS_1


"Kau demam? keningmu panas!" ujar Sebastian panik.


"Ti-dak Tuan, saya baik-baik saja," ucap Selma pada punggung Sebastian yang menjauh dengan cepat, Selm menghela nafasnya yang memang terasa sdikit lebihangat dari normal.


__ADS_2