
Perang dingin terjadi di rumah besar itu, meskipun Sofia sudah pergi. Marlina masih marah dengan kejadian tempo hari.
"Sayang, sampai kapan kau kan terus seperti ini?" tanya Sebastian masih dengan halus, dia memang bukan tipe laki-laki yang gampang emosi.
Marlina masih diam, dia masih enggan bicara dengan Sebastian. Setelah menyelesaikan makan malam, wanita langsung ke kamar tanpa menunggu sang suami. Sebastian hanya bisa membiarkan istrinya itu melakukan apa yang dia mau.
Tak lama Sebastian menyusul langkah Marlina, sesampainya di kamar ia melihat sang istri yang sudah memakai piyama dan duduk di atas ranjang.
"Sayang, apa sebenarnya yang membuatmu ragu untuk hamil?"tanya Sebastian dengan lembut, ia duduk di tepi ranjang sambil menatap sang istri yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Kau tau jika ada tawa kecil di rumah ini, bukankan itu kana sangat menyenangkan. Aku akan membuat taman bermain di halaman samping, ayunan, seluncuran akan ku buat sebagus mungkin agar dia betah di rumah dan membawa teman-temannya. Dan kamar khusus untuk dia nanti, dia pasti akan sangat suka," Sebastian terus bicara tentang angan dia jika memiliki anak nanti.
Marlina yang kesal hanya mendengarkan sambil memutar matanya jengah.
"Saat kau hamil aku akan mengantarkan kau kemanapun kau mau, apapun yang kau inginkan aku akan menurutinya, aku janji akan menjadi suami yang paling siaga buat kamu," Sebastian berkata sambil menatap lekat wajah sang istri.
Marlina meletakkan ponselnya, dai menatap Sebastian dengan tidak suka.
"Sudah selesai halunya? siapa yang kau maksud dia? dan siapa juga yang mau hamil? hentikan omong kosong ini Tian, aku sudah malas mendengarnya," sahut Marlina lalu kemabli fokus memainkan ponselnya.
Sebastian menatap heran pada Marlina, wanita itu kini banyak berubah. Dulu Marlina tidak akan bicara seperti ini meskipun dia tidak suka, dia hanya akan tersenyum dan diam.
"Katakan apa yang membuatmu malas? bukankah yang aku katakan adalah impian semua orang yang berumah tangga?" nada bicara Sebastian sudah berbeda, tetapi Marlina masih acuh.
"Itu untuk mereka, bukan aku," jawab Marlina tanpa melepaskan pandanganya dari layar pipih.
"Tatap aku saat bicara Alin, aku ada di sini bukan di ponselmu!"
__ADS_1
"Apa sih!"
Marlina menatap nyalang pada Sebastian yang mengambil ponselnya begitu saja. Sebastian mematikan benda pipih milik istrinya lalu menaruhnya di meja agar Marlina fokus pada pembicaraan mereka.
"Kita harus bicara!" tegas Sebastian
"Bicara, bicara apa sih?!"
Marlina ingin beranjak dari ranjang, tetapi langsung di cegah oleh Sebastian. Tangan kekar itu menariknya hingga Marlina kembali terduduk di ranjang.
"Jangan terus menghindar Alin, kita bicarakan ini sekarang!"
"Bicara apa? Dari awal sudah aku bilang aku mau punya anak saat aku siap Tian, jangan memaksaku!" pekik Marlina tak mau kalah.
"Kapan kau siap? apa yang membuatmu ragu dan tidak siap? Kau bahkan tidak perna membicarakannya denganku, kau hanya bilang tidak siap!"
Marlina menarik nafasnya, sebelum mulai bicara. "Tian dengarkan aku, banyak orang di luar sana yang memilih untuk Child free dan mereka baik-baik saja, mereka bisa hidup tanpa anak. kalau kau memang sangat menginginkan anak, kau bisa mengasuh anak di panti asuhan sebanyak yang kau mau. Bukankah kita juga sudah menyantuni anak yatim tiap bulan, anggap saja mereka anak kita bereskan, kasihan mereka jika punya anak. Kau pasti akan lebih memperhatikan anak kita daripada mereka," jawab Marlina dengan entengnya.
"Apa yang kau bicarakan Alin? tentu saja perhatian ku pada mereka tidak akan berubah, aku kan tetap mengunjungi mereka setiap bulan dengan anak kita. Apa kau tidak ingin menimang nak kita sendiri, darah daging kita?" tanya Sebastian penuh telisik, dia tidak pernah mengira jika akan mendapatkan jawaban seperti ini dari sang istri.
'Jangan bercanda, apa kau mau aku mengurusi popok dan muntahan bayi setiap hari,' gumam Marlina dalan hati.
"Aku sudah bilang, aku belum siap Tian. Jangan terus memaksaku!" jawab Marlina dengan nada tinggi.
"Katakan apa yang membuatmu tidak siap? aku sudah berulang kali menanyakan ini padamu, katakan apa yang bisa membuatmu siap menjadi seorang Ibu Marlina?!"
Mendengar nama disebut penuh oleh sang suami membuat Marlin kesal, matanya menajam menatap Sebastian yang juga mulai terbawa emosi.
__ADS_1
"Tidak ada alasan Sebastian, aku hanya belum siap! jangan terus memaksaku!" teriak Marlina, kini ia bangkit dan berdiri.
Sebastian pun berdiri mengikuti Marlina, kini keduanya saling berhadapan dengan saling menatap tajam dan mempertahankan argumen mereka masing-masing.
"Aku tidak mengerti apa yang ada di pikiranmu, kau seorang istri, kita berdua sehat secara jasmani dan rohani. Kau juga sudah lepas dari candumu pada alkohol. Apa lagi yang membuatmu tidak siap?" tanya Sebastian dengan amarah yang masih berusaha ia tahan.
Marlina memalingkan wajah acuh, sebenarnya ia sudah sangat malas membicarakan persoalan yang sama terus menerus. Sudah hampir seminggu Sebastian selalu membahas masalah anak padanya.
"Jika kau tidak ingin repot mengasuh aku kan menyewa pengasuh bayi, kau tidak perlu melakukan apapun Sayang, kau cukup beristirahat dengan baik. Saat hamil juga aku akan membuatmu senyaman mungkin," Bujuk Sebastian, dia meraih tangan sang istri. Berharap wanita itu bisa luluh setelah usahanya beberapa hari ini untuk membujuknya,
Marlina melepaskan genggaman tangan Sebastian. "Apa kau tidak lelah membahas ini terus denganku? sudahlah,selama ini kita baik-baik saja kan? Nikmati saja seperti biasanya, ok."
Marlina melingkarkan tangan di leher Sebastian, mendekatkan bibir mereka. Setiap laki-laki pasti akan luluh dan lupa dengan masalah mereka saat sudah berhadapan dengan urusan ranjang.
Tak berbeda dengan Sebastian. Namun, kali ini pria itu benar-benar sedang tidak ingin melakukan hal itu. Dia mendorong pelan tubuh Marlina yang sudah menempel.
"Aku ada pekerjaan sebentar," ucapnya datar.
"Malam-malam begini?" tanya MArlina tidak percaya. Sebastian hanya mengangguk.
"Aku membawa pulang perkerjaanku."
Setelah melepaskan Marlina, ia melangkah menjauh. Dengan terpaksa ia membiarkan Sebastian, walaupun ia sekarang sangat ingin melakukan itu. Marlina memang termasuk wanita yang berhasrat tinggi, dia bisa melakukan hubungan lebih dari sekali dalam sehari, sayangnya kesibukan Sebastian membuat pria itu tak bisa di sentuh sebanyak yang ia inginkan.
"Jangan salahkan aku jika aku menuruti saran Mama," ucap Sebastian sebelum menutup pintu kamar.
Dahi Marlina mengernyit mendengar ucapan sang suami.
__ADS_1
"Sial! Mertua sialan!"
Marlina memekik kesal. Tetapi dia masih yakin jika Sebastian akan setia padanya, tidak semudah itu cinta Sebastian bisa berpaling.