
Maya menatap tak suka ke arah dua pria yang ada di hadapannya. Pria yang hampir setiap hari datang untuk mencari sang ayah, lebih tepatnya ayah tiri Maya.
Sejak umur Maya beranjak 16 tahun, bunda menikah lagi dengan pria yang baru di kenalnya di club malam tepat bunda bekerja. Eittsss jangan salah paham dulu. Bunda disana hanya sebatas kerja untuk menyambung hidup dirinya dan Maya. Nggak lebih.
Niat bunda menikah supaya ada yang menjaga mereka dan membantu bunda dalam mencari nafkah. Tapi naas nya pria yang dinikahi bunda sama persis seperti parasit. Numpang hidup. Malah semakin menambah beban bunda.
" Ayah nggak ada " Ketus Maya.
" Kami tau.... kali ini kami mencari kamu bukan ayah kamu " ucap salah satu pria yang mengenakan topi hitam yang menutupi kepalanya yang botak.
" Saya ?!!! "
" ya.... "
" Kenapa kalian cari saya... saya nggak pernah ada urusan dengan kalian " teriak Maya.
" Karena ayah kamu telah menjual kamu pada Tuan kami "
" Apa ??!!! Di jual ?!! " Maya membelalakkan matanya. Emangnya dirinya itu barang yang bisa di jual begitu aja.
Tunggu ?? Di Jual !!!! Apa maksud dari perkataan pria botak itu ?!!
" Iya... dan sekarang Tuan kami ingin kamu ke rumahnya dan menjadi budak "
" Nggak... saya nggak mau .... " teriak Maya histeris saat teman pria botak itu mendekatinya.
" Kalau kamu nggak mau ikut dengan kami. Kami pastikan ayah kamu nggak akan selamat"
" Persetan dengan ayah tiriku... dia yang punya masalah dengan kalian, bawa saja dia. "
" Tuan kami tidak membutuhkan ayah mu yang tua bangka itu, yang Tuan saya butuhkan adalah kamu "
" Nggak..... " Teriak Maya histeris.
" Hmmm kalau begitu biarkan ibu mu yang menanggung semua hutang-hutang ayah mu. Sepertinya organ tubuh ibu mu masih sangat bermanfaat kalau di jual " nyengir pria botak itu dengan senyuman sinisnya.
" Jaaaaa..... Jaaaaangannnn " ucap Maya terbata-bata. Tubuhnya bergetar hebat mendengar perkataan pria botak itu. Apa yang akan dilakukannya pada bunda ??!
" Kalau kamu nggak mau ibu kamu terjadi apa-apa, ikut kami sekarang " perintahnya.
Maya memejamkan matanya, menarik nafas panjang berusaha untuk berfikir sejenak. Jika ia tidak ikut, pasti bunda yang akan menjadi korban. Tapi jika dia ikut, apa yang akan terjadi pada dirinya ?!! Dasar ayah tiri sialan.
" Cepat... " bentak pria botak itu nggak sabaran.
" Baiklah... saya ikut kalian.. tapi apa tanggungannya kalau bunda akan baik-baik saja saat saya ikut dengan kalian "
" Tuan kami akan menjaga ibu kamu. Dan perlu kamu ingat, Tuan kami nggak akan pernah melanggar janji nya "
" Kalau sampai terjadi apa-apa dengan bunda, saya akan membunuh kalian " ancam Maya.
*****
Maya pov
Wahhhh rumahnya besar banget, interiornya juga tampak begitu mewah. Seperti istana saja. Hmmm kenapa aku kagum dengan rumah mewah ini yang nggak lama lagi bakal menjadi penjara buat ku. Lagian aku disini hanyalah seorang budak yang telah di beli dari seorang pria yang mengaku sebagai ayah ku lebih tepatnya ayah tiriku.
" Kenapa kamu diam aja disana, ayo ikut saya. Tuan sudah menunggu kamu " ucap pria botak itu kasar.
Hmmm Tuan... !!! Apa mau nya terhadap ku ?!! Kenapa dia ingin sekali menjadikan aku sebagai budaknya ?!! Apa dirumah sebesar ini masih kurang pelayannya hingga membawa aku kesini ?!! Atau jangan-jangan..... Akhhh nggak mungkin.
" Silahkan tunggu disini... Tuan akan segera datang " ucap pria botak itu saat aku dan dirinya berada di sebuah ruangan yang penuh dengan buku-buku, seperti sebuah perpusatakaan pribadi.
" Kamu putrinya Antoni ?!! " Tanya seseorang dengan suara baritonnya membuat aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya, karena terlalu fokus melihat beberapa buku yang terpajang di dinding.
Aku mengira yang menginginkan diriku menjadi budaknya adalah seorang tua bangka yang umurnya nggak jauh beda dengan ayah tiriku yang brengsek, ternyata aku salah. Dia kelihatan begitu muda, mungkin usianya nggak begitu beda dengan usia ku.
" Ya gue..... sekarang apa yang harus gue lakukan sebagai budak lo " ucap ku ketus dengan tatapan mengintimidasi dirinya yang menebarkan senyum tipis dibibirnya. Seakan-akan nggak terjadi sesuatu.
" Hahahhaaa.... tenang dulu... " ucapnya santai. Bagaimana bisa tenang kalau sekarang statusku adalah sebagai budak.
" Duduk dulu... santai aja... "
Bagaimana aku bisa santai. Kalau dilihat-lihat dari wajahnya, dia seperti pria mesum. Jangan-jangan aku akan dijadikan budak sex Akhhhh ya tuhan... bagaimana caranya aku lari dari sini ??!!! Ehhmmm tapi kalau aku lari bagaimana dengan bunda ?!!
__ADS_1
" Maaf Tuan.... ada telphone dari Tuan Albert di london " ucap seseorang yang datang dengan membawa telphone ditangannya.
" Ok... tunggu sebentar yach... gue terima telphone dulu " ucapnya ramah. " Kalau merasa bosan, lo bisa baca-baca buku yang ada disini "
Aku melihatnya dari balik kaca yang transparan. Pria itu tidak terlalu menakutkan untuk ditakuti pria yang menyeramkan yang membawaku tadi.
Kenapa pria seperti dia menginginkan aku ??!!
****
" Bosss..... ap yang harus kita lakukan terhadap wanita ini " Tanya salah satu anak buah Ronald.
" Bawa dia ke kamar tamu di dekat kamar ku " perintah Ronald yang langsung dikerjakan oleh anak buahnya.
" Kamu.... panggilkan dokter Ryan, suruh dia kesini dan memeriksa wanita ini "
Maya mengerjapkan matanya beberapa kali. Cahaya lampu diruangan membuat matanya sedikit sakit.
" Dimana ini ??!! " tanya nya dalam hati.
" Ehhhh.... mau apa kalian.... tolong.... tolong...." teriak Maya histeris melihat Beberapa orang yang mengelilinginya dengan pakaian serba putih dengan masker di wajahnya.
" Tenang nyonya.... kami para medis yang di tugaskan untuk memeriksa anda " ucap salah satu wanita yang berusaha memegang tangan Maya yang terus menerus beronta.
" Saya nggak sakit... untuk apa kalian periksa saya " bentak Maya.
" Tapi ini perintah Tuan, nyonya.... "
" Please..... jangan..... " isak Maya terdengar pilu.
Apa yang di inginkan dokter ini ??!! Untuk apa mereka memeriksa tubuhku.. Tuhan.... tolong aku...
Maia hanya bisa pasrah, dan berdoa
" Bagaimana dok ??!! " tanya pria yang sudah membeliku yang kini aku sebut dengan Tuan.
" Semuanya sehat Tuan... " kata salah satu dokter yang memeriksa Maya.
" Ok.... kapan bisa kita lakukan ??!! "
" lakukan ??!! Lakukan apa ?!! " bathin Maya. Apa yang diinginkan Tuan terhadap dirinya ??! Apa dia akan mengambil organ tubuh Maya ??!
" Ok... persiapkan semuanya... saya tidak mau ada kesalahan " perintahnya dan kemudian pergi meninggalkan Maya dengan beberapa suster dan dokter
" Apa yang akan kalian lakukan " isak Maya pelan. Tubuhnya masih terasa lemas. Mungkin Maya diberikan obat hingga tubuhnya terasa lemas seperti ini.
" Maaf nyonya... saya tidak bisa memberitahu anda " ucap salah satu perawat yang berusaha melepaskan alat dari tubuh Maya. Entah alat apa yang dipasang mereka ditubuh Maya, Maya tidak paham dengan alat-alat medis. Dan itu banyak sekali.. hikksss
" Tapi.... kalian melakukannya terhadap saya... saya butuh penjelesannya "
" Anda bisa tanyakan sendiri kepada Tuan... "
Maya menatapnya kesal.. marah... marah banget..memang statusnya sekarang adalah seorang budak yang telah dijual oleh ayah tirinya. Tapi apakah dia tidak boleh tau, apa yang akan mereka lakukan terhadap dirinya.
Apakah seorang budak tidak punya hak untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada tubuhnya.
Maya ikhlas kalaupun salah satu organ tubuhnya di ambil. Dan dia lebih berharap kalau nyawanya diambil sekarang juga. Agar penderitaan yang dialaminya berhenti sampai disini.
" Kenapa menangis ?!! " tanya seorang pria yang berstelan jas putih lengkap dengan kaca matanya yang kelihatan mahal sekali.
Maya melirik kesal. Siapa lagi pria ini ??! Kalau dia datang hanya untuk menambah penderitaan bagi Maya lebih baik dari sekarang Maya bersikap acuh terhadapnya. Toh dia budak Tuan bukan budak pria ini.
" Heiiiii.... kalian apakan dia ??!! Rio mana ??!" Tanyanya dengan suara meninggi. Dan semua yang berada diruangan ini terdiam dan tertunduk takut. Tidak ada yang berani menatapnya apalagi menjawab pertanyaannya.
" Hmmmm.... " gerutunya kesal. " Jika kalian diam saja, saya pastikan tidak ada satupun dari kalian yang selamat keluar dari rumah ini. " ucapnya pelan tapi benar-benar penuh dengan ancaman.
" Tuuuu.... tuuuuu.... tuuuuan Rio pergi tuan..." ucap salah satu perawat. Terlihat jelas dari suaranya yang bergetar kalau pria itu ketakutan
" Kemana ?! "
" Saaaa....saya tidak tau tuan "
" Dan dia.... " pria itu menunjuk Maya yang tepat berada didepannya. " Siapa dia ??! "
__ADS_1
" Saya budak Tuan Rio " jawab Maya pelan tanpa menghiraukan siapa yang ditanya pria itu. Tampaknya pria itu sama berkuasanya dengan sang Tuan nya. Mungkin Maya bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya lewat pria ini.
" Budak... ?!! "
" Iya... saya dijual oleh ayah angkat saya dan Tuan yang sudah membeli saya "
" Astaga.....!!!! " pria itu menatap Maya dengan tatapan iba. Ternyata dia jauh lebih punya hati dibandingkan Tuan yang sudah membelinya.
" Dan untuk apa kamu disini ?!! " Maya menggeleng pelan. Dia benar-benar nggak tau kenapa dia bisa berada disini.
" Kalian.... kalian apakan dia ??! " Tanya pria itu dengan suara tinggi. Dan kembali suasana menjadi hening. Semuanya kembali membisu.
" Cepat bawa dia ke kamar... dan kamu... siapa nama kamu ?!! " Tanya pria itu lembut kepada Maya.
" Maya... nama saya Maya tuan ... "
" Ok Maya... saya akan bicara sama Rio, biar kamu di bebaskan. Nggak ada perbudakan di Zaman sekarang ini " ucapnya kesal.
" Terimakasih Tuan "
" Jangan panggil saya Tuan... panggil saya Bian... " senyum nya.
Ya Tuhan... terimakasih engkau telah mengirimkan malaikat berwujud manusia seperti Bian.
Setidaknya dia bisa memberikan setitik cahaya di kegelapan yang dilalui Maya.
****
" Rio.... apa yang lo lakukan ??! " Tanya Bian kesal tanpa permisi dulu masuk keruang kerja Rio.
" Apaan sich lo... masuk udah teriak-teriak gitu" kesal Rio yang merasa terusik dengan kehadiran sahabatnya sekaligus mitra kerjanya.
" Apa yang akan lo lakukan sama Maya ??! " bentak Bian dengan sedikit menggebrak meja.
" Maya ??!! " Tanya Rio heran.
" Perempuan yang lo beli dari Ayah tirinya... "
" Ehhhh lo tau dari mana gue udah.... "
" Tadi gue keruang kesehatan, dan gue liat dia terbaring lemah dengan peralatan medis ditubuhnya. Apa yang sedang lo lakuin ??! " Tanya Bian sedikit marah.
Sahabatnya satu ini memang terkenal dengan kegilaannya. Tapi bukan seperti ini ??! Mereka tidak pernah menjadikan seorang perempuan sebagai sasaran mereka.
" Gue cuma ngecek kesehatannya "
" Untuk apa ??!! "
" Udah dech.. lo nggak usah tau untuk apa " ucap Rio acuh dan kembali fokus pada berkas-berkas yang ada di mejanya.
Saat ini Rio harus berusaha keras mempelajari bisnis barunya yang sama sekali tidak ia mengerti.
Rio memang suka mengambil resiko dengan menerima bisnis yang sama sekali tidak pernah digelutinya. Tapi semuanya tidak pernah mengalami kegagalan bahkan bisnis yang digelutinya maju pesat.
Rekan bisnisnya menyebut Rio sebagai ahli strategi. Dan semua orang berbondong-bondong ingin bekerjasama dengan dirinya.
" Lo boleh melakukan apapun asalkan jangan menyakiti perempuan apalagi itu Maya "
" Lo suka sama cewek itu ??! " Tanya Rio to the point.
Bian terdiam. Pertanyaan Rio membuatnya terdiam. Entah kenapa dia membela Maya, perempuan yang baru saja dikenalnya. Padahal tidak pernah sekalipun Bian ikut campur dalam kegilaan Rio.
Tapi melihat air mata Maya yang jatuh dipipinya dengan wajah pucatnya. Hati kecil Bian pun ikut bersedih. Dia ingin menghapus air mata itu dan menjadikannya sebuah senyuman. Karena senyuman yang ditorehkan Maya sungguh mempesona seperti saat dia tersenyum pada Bian ketika dia mengucapkan kata terimakasih.
" Sorry bro... lo nggak bisa miliki cewek itu karena gue lagi butuh dia... kalau gue sudah selesai... baru gue akan berikan pada lo... sabar yach bro... "
" Sialan lo ..... " satu pukulan tinju mendarat ke wajah Rio. " Dia bukan barang yang bisa lo berikan begitu aja " bentak Bian murka. Mukanya memerah.. tangannya kembali mengepal melihat Rio yang tersenyum tipis. Seolah-olah sedang mengejek dirinya.
" Tapi dia budak gue " ucap Theo sambil membersihkan darah yang ada disudut bibirnya yang terluka akibat pukulan Bian.
Bukannya Rio tidak bisa membalas perlakuan sahabatnya tapi bagi dirinya, persahabatan lebih penting dari perempuan itu.
" Dia itu.... "
__ADS_1
" Gue berhak seutuhnya terhadap dia.. apapun yang gue lakukan terhadapnya itu sah sah saja. Karena papanya telah menjual dirinya pada gue " Rio mendesah pelan karena terasa nyeri disudut pipinya.
" Lo memang pria brengsek Rio... pantas saja semuanya meninggalkan lo " bentak Bian dan memilih pergi meninggalkan sahabatnya yang keras kepala dan gila.