Baby untuk Mr. R

Baby untuk Mr. R
Part 20


__ADS_3

**hai.... selamat malam....


maaf ya, belakangan ini masih belum update karena beberapa waktu yang lalu lagi tidak ada sinyal.


selamat membaca ya**...


****


"Sayang.. dengar kan tadi papa kamu bilang apa.. hihihi papa bilang dia cemburu sama mama.. Mama tidak percaya kalau papa kamu bisa cemburu seperti itu.. uluh uluh lucunya.. liat !!! Wajah papa kamu menggemaskan sekali ketika sedang ngambek gitu. Pengen mama cubit-cubit. Mama harap kamu mewarisi wajah tampan papa kamu ya sayang" ucap Maya didalam hatinya sambil mengelus pelan perutnya dengan tersenyum tipis.


"Kamu cemburu !!! Sama siapa ??" Tanya Maya menahan senyumnya.


"Sama kakak kamu yang menyebalkan itu" ucapnya seperti anak. Uhhh begitu menggemaskan, ingin sekali Maya menciumnya habis habisan.


"Astaga... kak Bian itu kan kakak kandung aku, dia saudara kembar aku. Nggak pantas untuk dicemburuin sama kamu"


"Aku tau.. aku sudah susah payah menahan rasa cemburu ku karena aku tau dia kakak kandung kamu. Tapi, dia juga seorang laki-laki. Tidak boleh ada satupun pria yang dekat dengan kamu" ucapnya lantang.


Liat...


Possesivenya kambuh lagi. Aku memahami kalau itu orang lain. Tapi ini kak Bian, kakak aku sendiri sekaligus sahabat baiknya. Bagaimana bisa dia cemburu seperti itu.


"Aaaaahh" teriak Maya kaget saat tubuh lemahnya ditarik dengan paksa dan didudukkan tepat diatas pangkuan Rio. Pelukan Rio dari belakang membuat Maya terhentak. Apalagi sekarang Maya bisa merasakan deru nafas Rio di sekitar leher.


Apa yang akan dia lakukan ??


"Jangan tertawa seperti itu lagi didepan pria lain" ucapnya lemah sambil membenamkan wajahnya di cerut leher Maya.


"Walaupun itu Kak Bian ??"


"Walaupun si brengsek Bian" lirihnya.


Maya mengelus lembut tangan Rio yang berada di perutnya, memeluknya dengan hangat. Kemudian beralih mengeleus pucuk kepala Rio yang bersender di pundaknya.


Maya sengajak memalingkan wajahnya menghadap Rio dan mengecup wajah Rio, entah bagian mana yang sudah di kecup Maya, karena dia sulit melihat dengan jelas, yang pasti kecupan Maya membuat singa yang tertidur pulas, terbangun.


Rio membalikkan tubuh Maya yang semakin berisi kehadapannya. Dia tersenyum sumbringah sambil menatap Maya dengan tatapan penuh gairah.


"Oh tidak.... jangan sekarang " teriak Maya di dalam hatinya. Maya merasa canggung jika dia harus melakukan Itu  bersama Rio disini, di rumah sakit. Bagaimana kalau ada perawat atau dokter yang masuk, bisa gawat kan.


"Rio.. ja-jangan akhh" ucap Maya sedikit tertahan karena merasa geli akibat pergerakan tangan Rio yang sudah mulai nakal di daerah dadanya.


"Jangan apa sayang" bisik Rio.


"Jangan disini ??" Tolak Maya malu. Dia menunduk, tidak berani menatap wajah Rio karena Maya sadar kalau kali ini wajahnya pasti sudah memerah.


"Terus dimana ?? Di kamar mandi ??" Rio menarik dagu Maya dengan pelan, berusaha melihat wajah sang istri yang merona. Sungguh cantik. Membuat Rio semakin ingin segera memakan Maya saat ini juga.


"Dirumah saja"


"Permisi Tuan.. eh.. maaf Tuan" ucap perawat yang salah tingkah melihat suami istri itu sedang bermesraan.


Maya menyembunyikan wajahnya dibidang dada Rio. Malu hikksss.. benarkan, perawatnya datang.


"Ada apa ??" Tanya Rio dingin.


"Saya hanya ingin menyampaikan kalau Ibu Maya sudah bisa pulang" ucap perawat itu sedikit takut.


"Ok"

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan"


Maya mengintip perawat yang barusan keluar dari balik tubuh Rio, memastikan kalau perawat itu benar-benar sudah pergi. Sedetik kemudian, dia menatap mata Rio dengan tatapan garangnya. Bukannya Rio merasa takut atau terintimidasi dengan tatapan sang istri. Rio malah merasa apa yang dilakukan istrinya begitu lucu.


Tanpa aba-aba ataupun persetujuan dari Maya, Rio ******* habis bibir Maya yang sudah menjadi candunya itu. Begitu dalam dan sedikit liar, membuat Maya sedikit kewalahan mengimbangi ciuman dari suaminya itu.


"Hmmpp.. hmmmpp" Maya berusaha mengambil nafas dengan terengap-engap. Suaminya itu memang kelewatan, apa Rio ingin melihat Maya mati kehabisan nafas apa.


Belum sampai hitungan ke lima, Rio mendaratkan lagi ciumannya kebibir Maya tapi kali ini dia memberikan Maya sedikit peluang untuk mengimbangi ciumannya, membuat Maya dengan mudah bernafas di sela ciuman mereka.


"Rio.. jangan disini" tahan Maya saat ciuman Rio hendak berpindah ke bagian yang paling di sukai Rio, yaitu di bagian dada Maya yang kini semakin membuat Rio ketagihan.


"Sekali saja.. selanjutnya akan kita lanjutkan dirumah" ucapnya sambil mengecup dalam bagian terfavoritenya mmebuat Maya mendesah tertahan. Bahkan Maya menggigit bibirnya sendiri agar suaranya tidak keluar.


Maya menggeram, ini sungguh menyakitkan. Apalagi saat tangan nakal Rio juga bermain di pangkal pahanya. Ini tidak bisa di biarkan, bisa-bisa mereka melakukannya disini.


"Rio.. ayo kita lakukan dirumah" ajak Maya.


Rio tersenyum bahagia "Ayo" ucapnya semangat.


****


"Rio.... dimana lo" teriak Bian kesal smabil menyusuri rumah Rio. Kali ini tidak ada pengawal yang menghalang Bian lagi untuk masuk ke rumah Rio, karena permintaan Maya.


Sejujurnya Rio masih tidak mau mengizinkan Bian kerumahnya apalagi untuk bertemu istrinya. Tapi, Maya bersikeras untuk tidak melarang Bian datang kerumah mereka.


"Ngapain lo teriak-teriak di rumah gue" ketus Rio saat dia menghampiri Bian yang sedang menuju ke kamarnya.


"Maya mana ??"


"Tidur dikamar"


"Kenapa lo bawa pulang ??" Protes Bian.


"Hallo sayang"


"Kamu !!! Ngapain kamu kesini" ucap Rio dan Bian kompak saat seorang wanita hadir di antara mereka.


"Ya ampun.. kompak banget sih kalian hihihi" tawanya membuat Rio dan Bian menampilkan ekspresi muak melihat wajahnya yang sengaja di buat cantik padahal tidak sama sekali.


"Bian.. ayo"


"Eehhh mau kemana sayang, kok gue di tinggalin"


"Mending lo pergi aja dari sini" usir Bian jengah.


"Idih.. siapa lo berani ngusir gue"


"Gue.." Rio menyentuh pundak Bian sambil menggelengkan kepalanya, menyuruh Bian untuk tidak memperdulikan wanita yang ada dihadapan mereka.


"Ayo.." ajak Rio sambil melangkahkan kakinya ke ruang kerja dan di ikuti Bian.


Baru Alisya ingin melangkahkan kakinya mengikuti Bian dan Rio, kakinya tertahan karena dua pria yang bertubuh kekar menghadangnya.


"Minggir"


"Maaf.. tapi tuan Rio tidak ingin diganggu sama anda"


"Kamu tau kan siapa saya ??" Tanya Alisya dengan suara lantangnya namun kedua pria yang menghadangnya hanya menatapnya tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Sial..." murka Alisya.


Rio lagi-lagi tidak menghiraukannya bahkan tidak menganggapnya sebagai tunangannya.


Ini tidak boleh di biarkan lagi. Mau tidak mau Rio harus bersama. Dengan cara apapun juga, Rio harus menjadi miliknya. Hanya miliknya.


"Hallo..." ucap Maya saat dia menelphone seseorang.


"Kirimkan foto nya sekarang juga ke nomor Bian, buat Bian memihak kita" perintahnya.


****


"Ada apa ??" Tanya Rio penasaran saat dia melihat wajah Bian yang seketika berubah menjadi pucat pasi saat melihat pesan yang masuk di ponselnya.


"Bian.." panggil Rio lagi saat tubuh Bian tiba-tiba terhuyung, terduduk dilantai begitu saja. Tangannya mengepal hebat, namun raut wajahnya seperti orang yang sedang ketakukan.


Rio berusaha mengintip isi pesan yang ada di ponsel bian.


"Kalau lo mau wanita tua ini  selamat, ikuti permainan gue"


Hanya kalimat itu yang bisa Rio baca. Tapi permainan apa yang sedang dibicarakan oleh si pengirim pesan, dan siapa wanita tua yang dia maksud. Apa jangan-jangan... ahhh..


"Bian... apa mama"


Bian menoleh ke arah Rio. Ini semua salah Rio. Semuanya gara-gara Rio. Kalau saja dia tidak... akkhhh.... Mama..


"Kenapa dengan mama ??"


"Mama ??"


"Iya.. mama.. mama mertua gue" ketus Rio. Kenapa disaat seperti ini Bian berubah menjadi **** seperti ini.


"Ada apa dengan mama ??" Tanya Rio sedikit panik.


"Benar juga.. sekarang mama kan mama mertua Rio.. bagaimana kalau gue minta bantuan Rio. Jika kita bersatu mereka pasti akan merasa takut."


"Bian" bentak Rio.


"Mama diculik"


"Apa !!!" Rio mengambil nafas panjang.


"Lo tau siapa yang menculik mama ??"


"Ya.."


"Siapa ??"


"Tunangan lo"


"Alisya ??"


"Ckk ternyata lo masih menganggap perempuan itu sebagai tunangan lo." Bian menatap Rio marah. Kalau Rio masih menganggap Alisya sebagai tunangannya, terus bagaimana dengan Maya ??


"Gue nggak pernah menganggap dia sebagai tunangan gue"


"Tadi.."


"Hmmmm apa kita harus membahas itu sekarang" Rio menghela nafas kesal.

__ADS_1


"Harus... Maya itu adik gue, menyakitinya sama dengan menyakiti gue"


"Hikkkssss Rio"


__ADS_2