
"Maya mana ??!" tanya Rio pada beberapa pelayan yang ditugaskan untuk menjaga Maya.
Saat Rio pulang, dia tidak melihat Maya di kamar, ataupun ditaman tempat biasa Maya menghabiskan waktu senggangnya.
"Maaf kan kami Tuan, nyonya sedang beristirahat di kamar"
"Jangan bohong kamu, Maya tidak ada dikamar" bentak Rio marah. Dia sudah mengecek diseluruh kamar tapi tidak menemukan Maya disana.
"Saya tidak bohong Tuan, nyonya memang sedang beristirahat dikamar nya"
"Kamarnya ??"
"Iya Tuan.. Kamar yang dulu nyonya tempati sebelum tidur dikamar Tuan"
"Kenapa Maya tidur disana" lagi-lagi Rio menampakkan ketidaksukaannya.
"Kami tidak tau Tuan, nyonya bilang dia mau beristirahat disana"
Kenapa Maya tidur disana ??? Apa dia marah karena gue tinggalin.. Akhh untuk apa dia marah, bukannya dia kelihatan sangat lelah dan mengantuk.
Wajah Rio tiba-tiba bersemu mengingat malam yang hangat yang ia lalui bersama Maya tadi malam.
Pasti dia malu..
Rio berjalan ke kamar Maya dengan penuh semangat. Rio sudah menyiapkan beberapa hadiah yang indah untuk Maya dan juga R. Mereka pasti akan senang melihatnya.
"Apa Maya di dalam ??" Tanya Rio pada pelayan yang menjaga di depan kamar Maya.
"Nyonya lagi istirahat di dalam Tuan... Maafkan saya Tuan, tapi kata nyonya, dia tidak mau di ganggu" cegah pelayan itu membuat Rio menatapnya dengan sinis.
"Kamu tau saya siapa ??" pelayan itu mengangguk takut.
"Kamu.. Suruh kepala pelayan pecat dia sekarang juga" teriak Rio marah.
"Maafkan saya Tuan, tolong jangan pecat saya Tuan"
Cihhh... Mana ada suami yang mengganggu istirahat istrinya.
"Maya.. Akhh sepertinya dia sangat kelelahan" kecup Rio tepat di kepala Maya. Tangannya membelai lembut rambut Maya yang tergerai indah. Senyum nya tak pernah hilang dari wajahnya saat dia menatap tubuh Maya yang terbaring di tempat tidur.
"Indah" bathin Rio. Hasratnya kembali memuncak saat tangan Maya tiba-tiba menyentuh pahanya. Bahkan sekarang, Rio merasakan sesak dibalik celananya.
Astaga.. Sebegini hebatnya kah euforia yang dirasakan Rio setelah kejadian semalam. Jika Rio tau rasanya begitu nikmat, sudah sejak lama dia melakukannya.
"Jangan sekarang Rio, Maya lagi tidur.. Jangan bangunkan dia hanya karena lo pengen lagi. Kasian R, jika lo jenguk terus menerus.." Rapal Rio di dalam hatinya berusaha menenangkan hawa nafsunya yang sudah memuncak.
"Rio.." desah Maya didalam tidur.
Apa yang di mimpikan Maya, hingga dia mengeluarkan desahan yang begitu sensasional di telinga Rio. Apa Maya memimpikan kejadian semalam ??
Haruskah Rio membangunkan Maya dan mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan.
Akhh tidak.. Jangan...
"Akhhh Rio.." Rio mengepalkan tangannya dan menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Lagi-lagi Maya mengeluarkan desahan yang membuatnya semakin tak bisa menahan hawa nafsunya.
"Akhhh... Mendingan gue keluar sekarang" belum sempat Rio beranjak dari tempat tidur, tangan Maya sudah meraih tangan Rio tanpa Maya sadari, membuat Rio mengumpat dirinya sendiri didalam hatinya.
Fikirannya semakin melayang membayang tubuh Maya yang indah tanpa menggunakan sehelai benang.
"Tunggu apa lagi Rio, cepat lakukan.." bisik setan di telinga Rio.
"Jangan Rio, kasihan istri kamu, dia kelihatan lelah"
"Akhhh Maafkan gue Maya" Rio mengecup kasar bibir merah Maya yang terlihat begitu sexy.
"Hmmmppp Tu hmmpp aaann" erang Maya tak jelas. Tangannya sontak mendorong tubuh Rio hingga Rio jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan.. " lirih Maya takut dengan matanya yang masih sangat mengantuk. Tubuhnya lemah, hingga dia masih tetap terbaring melihat Rio yang terperembab kelantai.
Oh tidak.. Tuan Rio pasti marah.
Rio mendengus kesal. Dia berdiri sambil melirik Maya. Rio ingin marah, tapi ini memang kesalahannya. Dia yang mencium Maya saat Maya tertidur lelap. Wajar saja Maya mendorongnya dengan kuat.
"Saya tidak bermaksud menolak Tuan, hanya saja" Maya berhenti bicara, tiba-tiba kejadian tadi malam teriang di kepalanya membuat wajahnya seketika memerah karena menahan malu.
"Kita tidak boleh melakukannya lagi" ucap Maya pelan sembari tertunduk malu.
"Maksud kamu ??"
"Maaf Tuan.. Tapi dokter bilang, kita tidak boleh melakukannya hingga R berumur 5 bulan"
"Dokter sialan" umpat Rio.
"Dokter nggak salah Tuan, tadi pagi saya merasa sedikit sakit di bagian perut."
"Sakit di perut.. R baik-baik aja kan ??"
"R baik-baik saja Tuan. cuma kata dokter karena kita terlalu bersemangat tadi malam, itu membuat kondisi R sedikit melemah. Makanya dokter sarankan agar kita jangan melakukannya lagi" Rio menatap perut Maya dengan wajah penuh sesal.
Kenapa dia sampai mencelakakan R, untung saja R tidak kenapa-kenapa.
"Ehhh Tuan mau apa ??" Tanya Maya panik saat Rio merebahkan tubuhnya tepat disamping Maya sambil mengelus perut Maya dengan lembut.
"Maafin papa yach.. Papa hampir mencelakai kamu"
****
"Rio.. Kenapa muka lo cemberut gitu ??? Ada masalah di perusahaan ??!" Tanya Ragil sahabat Rio.
Semenjak kejadian dimana Maya memberitahukan kalau dirinya tidak boleh melakukan hubungan badan sampai R memasuki usia 5 bulan. Rio begitu kelihatan sangat fruatasi.
Bagaimana tidak..
Salah Rio juga, kenapa dia harus kekeh untuk menyuruh Maya tidur dikamarnya. Sedangkan Maya sudah menolak habis-habisan.
Jadinya sekarang Rio harus mati-matian menahan diri untuk tidak menyerang Maya.
Coba dech bayangin, bagaimana tersiksanya Rio jika setiap hari dia disuguhkan dengan pemandangan indah lekuk tubuh Maya yang hanya menggunakan baju tidur tipis tanpa menggunakan pakaian dalam, dengan dalih Maya selalu merasa kepanasan jika malam hari tiba. Padahal, AC di kamar tidurnya sudah ditambah dua.
Bahkan Rio merasa sangat kedinginan jika Maya menghidupkan semua AC dengan suhu terendah.
Belum lagi kebiasaan baru Maya sebelum tidur yang suka mengelus lembut perut sixpack Rio selama 15 menit.
Oh Tuhan, itu membuat Rio selalu mandi air dingin ketika Maya terlelap tidur.
Dan hari ini, Maya malah bertingkah aneh di hadapannya. Maya terus menerus merengek meminta jatah kepada Rio. Padahal sebelumnya, Maya yang selalu mengingatkan Rio kalau Rio sedang ingin melakukannya.
"Rio" panggil Maya sambil menggerakkan jarinya perlahan di tubuh Rio dari leher hingga ke perut Rio.
"Hmmm" ucap Rio pelan.
"Mau.."
"Mau apa ??"
"Itu.."
"Apa.."
"R mau di jenguk papa nya"
"Maya.. Dokter bilang.. " Rio menghentikan perkataannya saat Maya bermanjaan di pangkuannya sambil menghirup aroma tubuh Rio yang sudah menjadi candu baginya.
"Maya hentikan.. " Bukannya berhenti, Maya malah melanjutkan aksinya yang membuat Rio tak bisa berkutik sedikit pun.
__ADS_1
Beberapa kali Rio menghentikan tangan Maya yang hendak mengusap bidang dada Rio dengan manja, namun Maya masih saja berusaha untuk menyentuhnya.
Rio mengepalkan tangannya, kesabarannya mulai kehabisan. Kalau seperti ini terus menurus, pertahanannya bisa runtuh. Rio tidak ingin menyakiti baby R hanya karena ingin menuruti keinginannya.
"Rio.. Ayo" bisik Maya dengan manja. Matanya menatap sendu membuat Rio semakin gelisah.
"Maya.." bentak Rio. "Apa kamu tidak memikirkan R"
"Tapi ini kemauan R"
Rio mengerang frustasi, dia juga menginginkannya. Tapi jika dia melakukannya, R yang akan jadi taruhannya.. Tidak..!! Itu tidak boleh terjadi.
Rio harus menahan diri, begitu juga Maya.
"Maya.. Hentikan.. Stopp.. " teriak Rio saat Maya meraba perut sixpack Rio.
" Jaga sikap kamu.. Jangan berprilaku seperti *******" Teriak Rio murka karena dia sudah tidak tahan dengan godaan yang Maya layangkan. Jika seperti ini terus menerus, pertahanan Rio pasti luntur.
"Pee.. *******.. " Maya terdiam. Dia menatap Rio lekat, tubuhnya bangkit dan duduk disamping Rio.
Rio mendengus sesal. Lagi-lagi mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak pantas ia ucapkan kepada Maya.
"Hehehee.. Maaf kan saya Tuan, saya lupa status saya di sini.." Tawa Maya lirih.
Rio melihat rasa sakit di mata Maya, membuatnya juga merasa sakit.
"Maaf.. Gue nggak.. "
" Jangan pernah minta maaf Tuan, ini kesalahan saya. Budak seperti saya memang tak pantas seperti ini.. Jika Tuan butuh saya untuk memuaskan hawa nafsu Tuan, silahkan panggil saya.. Untuk sekarang biarkan saya pergi dari sini Tuan.. " ucap Maya datar.
Tidak ada tangisan diwajahnya, itu membuat Rio semakin menyesal.
"Sepertinya gue harus minta maaf"
"Minta maaf ?!! Elo...!!! Seorang Rio mau minta maaf... Hahahaa" Tawa Ragil memecah.
Selama ini Rio tidak pernah merendahkan diri untuk meminta maaf kepada siapapun walaupun itu kesalahannya.
"Gue sering minta maaf" ucap Rio tak suka.
Yupp dia memang sudah beberapa kali mengucapkan kata maaf kepada Maya.
"Jangan bercanda lo.. Kata Maaf itu kata yang tak mungkin di ucapkan dari bibir seorang Rio"
"Tapi gue memang sering minta maaf ke dia"
"Siapa ??!!"
"Maya.. "
"Wahhh... Sepertinya perempuan yang lo beli itu sudah membuat lo berubah banyak"
Bughhh...
Satu pukulan mendarat secara tiba-tiba di wajah Ragil membuatnya terhunyung kebelakang.
"Apa-apaan lo?? " lirih Ragil sambil memegang pipinya yang terasa nyeri.
"Jangan pernah ngerendahin istri gue" Geram Rio. Hatinya sakit ketika ada orang yang mengatai Maya atau merendahkannya seperti tadi.
"Sadar Rio.. Dia itu wanita yang hanya lo beli untuk menampung anak lo.. Jangan sampai lo punya hati ke dia.. "
Bughh... Bughh...
Hantaman demi hantaman Rio layangkan ke wajah Ragil. Dirinya benar-benar tersulut emosi mendengar Ragil mengatakan kalau Maya hanya sekedar wadah untuk R.
Maya itu istrinya, ibu dari anak-anaknya..
__ADS_1