
Maya menatap lurus kearah taman bunga dibalik jendela kamarnya. Hatinya masih sangat terasa sakit.
Pelacur..!!
Dirinya disini memang seorang budak yang di beli oleh Rio dengan tujuan apa, Maya juga tidak tau. Tapi dirinya tak sehina itu. Dia hanya melakukannya dengan Rio. Bukan dengan sembarangan orang, toh Rio juga suami sah nya. Bukan keinginannya untuk bertingkah menjijikkan seperti kemaren.
Entah kenapa, saat Rio mendekatinya ada hasrat yang tak bisa ia utarakan yang mendorongnya untuk melakukannya.
Tapi bukan kah itu wajar. Seorang istri yang meminta hak nya kepada suaminya sendiri bukan lah dosa.
"Nyonya.. Tuan sudah kembali" lapor salah satu pelayan yang memang Maya beri pesan untuk memberitahunya kalau Rio sudah kembali dari kantor.
"Tolong siapkan teh buat Tuan dan juga kue yang saya masak tadi"
"Baik nyonya.." ucapnya lalu pergi.
Maya kembali menatap datar ke arah taman, tapi entah kenapa Maya seperti ada orang yang melihatnya dari kejauhan.
"Kamu lagi apa ??" Tanya Rio canggung.
Maya berbalik dan menatap Rio yang berjalan menuju kearahnya. Sebisa mungkin dia menahan rasa sakit di dadanya, Maya tidak ingin memperlihatkan betapa perihnya luka yang sudah Rio goreskan melalui kata-katanya.
Dia akan menjadi seperti yang akan di katan oleh Rio. Menjadi pelacur yang di panggil dikala sang pembeli membutuhkan jasanya.
Haahahaaa.. Tapi seperti nya sang pelacur pun lebih beruntung dibandingkan dirinya. Mereka menerima bayaran setiap kali mereka melayani para hidung belang. Sedangkan Maya, hahahaaa dia hanya mendapatkan rasa sedih dan makian.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan" Maya berdiri menatap Rio dengan tatapan yang sulit di artikan Rio.
"Bagaimana keadaan R ??"
"Tenang saja Tuan, Saya akan menjaga R melebihi nyawa saya sendiri"
Rio terdiam, dia bingung harus mengatakan apa lagi supaya suasana menjadi ramai.
"Apa kamu.."
"Maaf Tuan, saya permisi dulu.. Ini waktunya saya melakukan senam ibu hamil" ucap Maya yang langsung melangkahkan kakinya pergi tanpa persetujuan Rio.
Rio tak mungkin marah dengan kelakuan Maya yang seenaknya seperti tadi, jika itu masih bersangkutan dengan R.
Rio memegangi dadanya yang terasa sakit. Sikap dingin Maya hari ini membuat hatinya merasa sakit. Beberapa hari ini hubungannya dengan Maya sangatlah baik. Tapi hanya karena satu kata yang tak pantas ia ucapkan, dia meruntuhkan itu semua.
Entah kenapa sekarang dia merasakan ada sesuatu yang hilang, hanya kekosongan yang ia rasakan saat ia melihat punggung Maya pergi meninggalkannya.
"Kamu..." Panggil Rio pada seorang pelayang yang ada di dekatnya.
"Buatkan gue sup kesukaan Maya" ucapnya pelan.
"Baik Tuan.. nanti akan saya berikan kepada nyonya"
"Saya yang akan kepada Maya" ucao Rio pelan.
****
"Hai.."
Maya menatap datar sosok yang menyapanya saat dia keluar dari ruang olah raga. Tak ada lagi senyuman yang selalu menghiasi wajah Maya, dia enggan menampilkannya. Toh senyuman itu tak membuat lukanya sembuh.
__ADS_1
"Gimana keadaan lo dan R" tanyanya pelan sambil menatap perut Maya yang sudah mulai membesar.
"Semuanya baik-baik saja" ucap Maya pelan.
Bohong... yach, Maya sedikit berbohong tentang keadaanya. Percuma saja kalau dia bilang kalau dirinya sangat tidak baik, apa pria yang ada di hadapannya ini akan menolongnya.
Hmmm... tidak..
Tidak ada seorangpun yang dapat menolongnya.
"Baguslah" ucapnya dengan senyuman tulus.
"Maaf Tuan, saya permisi dulu" pamit Maya dengan sopan tapi langkahnya terhenti saat tangannya dicekal.
"Maya.." panggilnya lirih. "Bisa kita bicara sebentar ??"
"Apa yang Tuan ingin bicarakan dengan saya ??"
"Bian.. panggil saya Bian"
"Maaf Tuan, saya tidak bisa lancang memanggil teman Tuan Rio dengan sebutan nama."
"Maya..." lirih Bian saat Maya berlalu pergi.
Plak...
Satu tamparan keras mendarat di wajah Maya hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah yang segar.
"Dasar pelacur..." maki nya membuat Maya tersenyum lirih.
"Auww.." ringis Maya saat rambutnya dijambak dengan keras. "Mati saja lo" Umpatnya keras.
Kalau saja Maya boleh memilih untuk mati, dengan senang hati Maya melakukannya dari dulu. Tapi setiap kali Maya ingin mengakhiri hidupnya, Tuhan seperti masih ingin bermain dengannya dengan memberikannya waktu untuk terus hidup.
"Apa-apaan lo, lepaskan dia" bentak Bian yang langsung menangkup tubuh Maya yang terkulai lemah.
"Wahhh... dasar pelacur murahan lo, setelah lo merebut calon tunangan gue, sekarang lo beraninya mendekati sahabatnya." Tukasnya.
"Maaf nyonya, saya tidak pernah merebut siapapun disini dan mendekati pria manapun disini. Jika nyonya merasa calon tunangan nyonya saya rebut, silahkan ambil lagi. Dengan senang hati saya menyerahkannya" ucap Maya sedikit merendahkan wanita yang tak di kenalnya yang tiba-tiba saja menapar dan menjambaknya.
"Ayo Maya, kita pergi.. jangan pernah meladeni wanita gila seperti dia" Ajak Bian sambil memapah tubuh Maya.
"Elo yang gila" teriak wanita itu sambil mendorong tubuh Maya dengan kuat hingga dia tersungkur kelantai.
"Auwww.." rintih Maya kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Apa yang lo lakukan ??" Bentak Bian pada wanita gila yang tersenyum lebar melihat Maya merintih kesakitan.
"Biar mampus lo"
"Darah.. Maya lo berdarah" panik Bian melihat darah keras yang mengucur di kakinya. "Kalian.. cepat panggilkan dokter"
Dengan sedikit tertatih Bian menggendong Maya yang masih merintih kesakitan didalam pelukannya.
"Kalau terjadi apa-apa dengan Maya dan anaknya, gue pastiin lo akan mati" ancam Bian kemudian pergi membawa Maya ke kamarnya.
Entah kenapa saat pertama kali Bian bertemu dengan Maya, ada perasaan berbeda di hatinya. Setiap kali dia melihat Maya bersedih, hatinya juga ikut bersedih. Melihat Maya sakit, dirinya juga seolah merasakan sakit.
__ADS_1
Seandainya saja Bian bisa membawa Maya pergi dari sini, akan dia bawa Maya ketempat yang jauh yang tak bisa di jangkau oleh Rio. Dan dia akan memberikan seluruh dunia yang dia punya untuk membahagiakan Maya.
"Dokter cepat periksa dia" bentak Bian.
Dengan begitu cermat dokter memeriksa Maya.
"Nyonya mengalami pendarahan hebat, dan harus dibawa kerumah sakit"
"Rumah sakit ??"
"Tidak ada waktu lagi Tuan, kalau tidak janin yang ada dirahim Nyonya bisa bahaya"
"Bukannya di rumah ini ada peralatan medis yang cukup canggih.. lakukan disana saja" dokter itu terdiam. Memang benar rumah ini memiliki fasilitas medis yang sangat lengkap dan canggih, tapi dia tidak punya wewenang dan hak untuk menggunakannya tanpa seizin Rio.
"Kenapa diam saja.. cepat bawa dia"
"Tapi.."
"Cepat... kalau terjadi sesuatu sama bayinya, gue pastiin lo dan keluarga lo bakal mati" ancam Bian.
Tubuh sang dokter bergetar hebat, apa yang harus dia lakukan sekarang..??
"Dokter, sebaiknya kita cepat membawa nyonya kalau bayinya kenapa-kenapa Tuan Rio pasti akan membunuh kita" bisik suster yang menolong dokter memeriksa Maya.
"Cepat bawa nyonya, kita akan melakukan operasi secepatnya. Tuan, tolong panggilkan Tuan Rio untuk menandatangani beberapa berkas prosedur operasi.."
"Biar gue tanda tangan."
Bergegas dokter, suster dan beberapa pelayan membawa Maya keruang kesehatan yang ada di rumah Rio. Semuanya tampak panik melihat darah yang terus mengucur di kaki Maya, apalagi sekarang Maya sudah tak sadarkan diri karena pendarahan hebat.
Bian menatap tubuh Maya yang terbaring lemah tak sadarkan diri dengan wajah yang sangat pucat.
"Lo harus kuat Maya" gumam Bian didalam hatinya. "Kita akan pergi dari rumah ini"
Bian sudah membulatkan hatinya untuk membawa Maya pergi dari rumah ini, walaupun dia harus melawan Rio. Bian akan tetap membawa Maya bersamanya, membuatnya bahagia.
"Maya.." ucap Rio pelan sambil membawa sebuah mangkok sup yang ada di tangannya.
"Elo... !! Kenapa lo ada di kamar Maya" bentak Rio tak suka melihat Bian yang berdiri sambil menatapnya tak suka.
"Maya.. Maya..." teriak Rio dengan sangat marah. "Dimana Maya ??" Tanya Rio geram.
Rio menelisik seluruh kamar milik Maya namun tidak ada pergerakan sedikitpun dari Maya.
"Darah..." ucap Rio heran saat melihat darah yang banyak di tempat tidur.
"Apa yang terjadi ?? Dimana Maya ???" Tanya Rio lagi tapi kali ini suaranya terdengat begitu takut. Dimana Maya nya, kenapa begitu banyak darah yang berserakan di tempat tidur.
Bughh...
Satu hentaman keras mendarat di wajah Bian. Kebungkaman Bian membuat Rio sangat marah sekaligus takut. Ini pertama kalinya Rio merasakan sangat takut akan kehilangan seseorang.
"Dimana Maya ??" Ucap nya lirih.
"Ck... kenapa tidak lo tanyakan pada calon tunangan lo.. ??"
"Alisya.."
__ADS_1