Baby untuk Mr. R

Baby untuk Mr. R
Part 17


__ADS_3

Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakukan dengan kecepatan mobil yang dia kendarai tapi karena dia sudah tidak tahan lagi untuk bertemu dengan Maya.


Bahkan Bian sudah membayangkan apa yang akan dia lakukan kalau dia bertemu dengan Maya, hingga tanpa sadar dia tersenyum sendiri dengan khayalannya.


Arya tersenyum bahagia melihat Boss nya kini bisa tersenyum kembali, setelah beberapa hari ini Bian selalu menampilkan wajah yang begitu menyeramkan. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa ketakutan.


"Arya.. cepat suruh yang lainnya urusin mereka" ucap Bian saat mereka tiba di Villa Rio, mereka dihadang oleh beberapa bodyguard yang disuruh Rio untuk menjaga Villa mereka.


"Baik Tuan" ucap Arya yang langsung mengarahkan beberapa temannya untuk memulai penyerangan dan menghalau mereka untuk mendekati Bian yang berusaha masuk ke Villa.


Perkelahian pun tak terelakkan dari kedua belah pihak. Bian yang tidak merasa takut, melangkahkan kakinya dengan pasti menuju keruangan dimana Maya berada.


Didalam otaknya hanya ada fikiran untuk membawa Maya keluar dari Villa, pergi sejauh mungkin dari bayang-bayang Rio.


"Maya" teriak Bian sambil berlari dari satu ruangan ke ruangan lainnya untuk mencari keberadaan Maya.


Bian bahkan tidak memperdulikan luka yang berada di kakinya akibat pukulan benda tumpul oleh orang-orang Rio yang berusaha mencegahnya masuk.


Rasa sakitnya seolah terhalang dengan keinginannya untuk segera bertemu dengan Maya.


"Pasti diruangan itu" ucap Bian pada dirinya sembari berlari pada ruangan yang paling ujung di di Villa ini.


Dengan sedikit paksaan akhirnya Bian bisa membuka pintu ruangan itu.


"Maya" Sentak Bian. Langkah kaki nya tercekat tak kala ia melihat Maya yang menggunakan dress berwarna putih lengkap dengan perhiasaan yang berkilau di tubuhnya.


Mata Bian tak henti menatap kagum ke arah Maya tanpa dia meghiraukan tatapan seorang pria yang begitu tajam yang berada disamping Maya dan memeluknya dengan sangat posessive.


"Bian" ucap Maya yang tidak mengeluarkan suara, Bian hanya membacanya dari gerak bibir Maya yang Merah.


Bian melangkahkan kakinya pelan, seolah terhipnotis dengan sosok wanita yang berada di depannya.


Wanita yang selama ini dia rindukan. Wanita yang selalu menghantui fikirannya. Wanita yang membuatnya terus merasa bersalah.


"Mau ngapain lo kesini ??" Halau Rio saat tangan Bian ingin menyentuh Maya.


Bian melirik tajam kearah Rio, menandakan dia tidak suka Rio menghalaunya.


"Ckkk.. lo pasti sudah tau apa maksud kedatangan gue kesini" ucap Bian datar dengan tatapan hangatnya yang kembali tertuju pada Maya.


Rio menarik tubuh Maya untuk berada di belakangnya. Rio tidak suka dengan tatapan yang diberikan sahabatnya.


Maya istrinya, dan Rio tidak ingin ada pria yang menatap istrinya dengan tatapan seperti itu. Dia akan menghabisi pria itu walaupun dia sahabat Rio sendiri.


"Gue tidak pernah menyangka. Seorang Rio, ingkar akan janjinya" sindir Bian.


"Gue nggak pernah ingkar dengan janji gue" Rio menggenggam erat tangan Maya berusaha menyakinkan Maya untuk tidak terpengaruh pada ucapan Bian, apapun itu. Rio berharap, saat ini Maya hanya percaya padanya.


"Dulu gue memang pernah mengiyakan saat lo bilang kalau gue sudah tidak butuh, maka gue akan memberikannya pada lo. Apa lo lupa dengan kata kuncinya. TIDAK BUTUH." Rio tersenyum getir.


"Dan yang perlu lo ketahui, seumur hidup gue, gue membutuhkan Maya untuk berada di samping gue"


Bian memyunggingkan senyuman mengejek ke arah Rio "Apa lo yakin dengan perkataannya Maya ??" Tanya Bian dengan penuh tekanan.

__ADS_1


"Lo lupa dengan apa yang sudah dia lakukan sama lo, dulu" Maya menatap Bian dari balik tubuh Rio. Dia tidak pernah lupa dengan apa yang Rio lakukan padanya dulu.


Tapi Rio yang sekarang adalah Rio yang berbeda, dia penuh kehangatan dan kasih sayang. Bahkan Rio yang dulu selalu berkata dingin kepada Maya, kini selalu mengatakan kata-kata gombalan yang membuat wajah Maya merona setiap kali mendengarnya.


Tidak ada lagi kekerasan dan cacian yang Maya dapatkan melainkan ungkapan kasih yang tulus yang Rio tunjukkan. Dan Maya yakin sekali kalau Rio sudah berubah.


"Dan apa yang dilakukan tunangannya terhadap lo dan baby R" lanjut Bian yang berusaha mencuci otak Maya lagi agar dia bisa membawa Maya pergi menjauh dari sini.


Tunangan..!!!


Ha.. Maya sempat lupa dengan wanita itu.


"Jangan takut" bisik Rio. Maya berusaha mengontrol rasa takutnya, tetapi tangannya tetap saja bergetat saat Bian mengingatkan kejadian itu.


"Gue nggak ada hubungannya sama Alisya"


"Tapi Alisya tidak menganggapnya seperti itu. Lo pasti sudah tau betul karakter tunangan lo itu kan ??" Bian tersenyum lagi tapi kali ini senyumannya menyiratkan lain yang tidak bisa di pahami Rio.


"Dia akan menghancurkan batu yang menghalangi jalannya, walaupun batu itu sebesar gunung. Dia pasti akan menghacurkannya."


"Gue akan menjaga Maya dengan nyawa gue sendiri"


Haahhahhaaaa..


"Dasar gila" gumam Rio yang kaget mendengar tawa Bian yang mengguruh satu ruangan.


*****


"Alisya sayang, baby nya daddy. Dimana kamu??" Cari sang daddy di seluruh isi kamar Alisya namun dia tidak menemukan Alisya disana.


"Nona bilang kalau dia..."


"Daddy.." teriak Alisya setengah berlari menghampiri sang daddy dikamarnya.


Pelayan itu menghela nafas lega, untuk saja Nona Alisya datang tepat waktunya.


"Dari mana kamu ??" Tanya sang daddy dengan wajah marahnya.


"Tadi Alisya keluar sebentar menemui teman lama Alisya Dad" ucap Alisya manja.


"Cepat persiapkan diri kamu, teman-teman daddy sudah menunggu kamu" ucap daddy dingin.


Alisya berdecak kesal. Kenapa harus dirinya yang harus melayani para tua bangka itu.


Kenapa sang daddy tidak mencari wanita penghibur untuk mereka. Apa dady tidak merasa risih jika miliknya di pergunakan juga oleh pria lain tepat dihadapannya.


Akhhh Alisya lupa, kalau disini dia hanyalah sebuah boneka untuk pemuas hawa nafsu mereka.


Sabar Alisya, lo pasti bisa menjalani ini semua. Setelah lo dapat apa yang lo inginkan, mereka sudah tidak ada artinya lagi.


*****


Beberapa bunyi tembakan di luar membuat Maya merasa takut. Kenapa sampai seperti ini. Dua pria yang dihadapannya ini, bukannya mereka sahabatan ?? Kenapa sekarang mereka saling menyakiti ??

__ADS_1


Apa ini karena dirinya ??


Akhh iti tidak mungkin. Bagaimana dirinya menjadi penyebab pertengkaran mereka. Dia bukan lah siapa-siapa. Lagi pula Maya dan Bian tidak ada hubungan apa-apa.


"Maya ayo kita pergi" ajak Bian sambil mengulurkan tangannya berharap Maya mau menggapainya dan pergi bersamanya.


"Jangan pernah berharap lo" Tukas Rio.


"Maya, ayo" ucap Bian lagi dan kali ini tatapan Bian penuh dengan pengharapan.


"Bian.. maaf, tapi gue tidak bisa pergi sama lo" lirih Maya pelan.


Bukannya Maya menolak untuk pergi bersama Bian, tapi dia benar-benar masih ingin bersama Rio. Kalau saja yang di maksud Bian itu Pergi hanya untuk keluar jalan-jalan pasti Maya mengiyakan ajakan Bian. Tapi ini beda lagi, dan Maya tau betul maksud dari kata Pergi yang di ucapkan Bian.


"Lo sudah dengarkan ??" Rio tersenyum puas. "Mendingan sekarang lo pergi dari hidup gue dan Maya"


"Pergi...!!! Nggak akan pernah" sorotan mata yang tajam membuat Maya tersentak melihatnya. Maya tidak pernah melihat Bian semarah ini.


Auwwww...


Ringis Maya saat tangannya tiba-tiba saja ditarik paksa oleh Bian. Entah sejak kapan dia merenggut tangan Maya, gerakannya begitu cepat. Bahkan Rio pun tak menyadari pergerakannya.


"Lo harus pergi bersama gue" perintahnya kasar.


"Lepasin gue Bian" ronta Maya.


Bughh..


Satu hantaman keras mendarat di wajah Bian membuat dia tersungkur. Bian memegangi sudut bibirnya yang terasa perih.


Untung saja tidak robek. Ternyata Rio masih punya belas kasihan terhadap sahabatnya. Dia tidak menggunakan semua tenaganya untuk memukul Bian.


"Rio jangan" lerai Maya.


Maya tidak ingin kedua sahabat ini saling baku hantam seperti ini.


"Gue peringatin sama lo. Maya itu istri gue, dia milik gue dan gue nggak akan siapapun mengambilnya dari gue"


Hehehee..


Rio menatap geram pada Bian. Dia tertunduk sambil tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang ditertawakannya. Padahal tidak ada yang lucu disini.


"Ternyata seorang Rio bisa jatuh juga ke pelukan seorang wanita. Bukannya lo bilang, kalau lo tidak akan pernah jatuh cinta"


Maya mendekati Rio. Berusaha meminta penjelasan dari Rio atas ucapan Bian lewat tatapan matanya.


"Setiap orang bisa berubah" ucap Rio pelan.


"Berubah ?? Secepat itu kah ??"


Maya menatap tak mengerti dengan arah pembicaraan Rio dan Bian. Kenapa Bian begitu sangsi terhadap cinta yang Rio berikan padanya.


Ahhhh...

__ADS_1


Rintih Maya pelan. Kenapa kepala nya terasa berputar-putar seperti ini ?


"Rioooo"


__ADS_2