
"Maya.. air nya sudah siap" teriak Rio dari dalam kamar mandi.
Maya tertawa kecil mendengar Rio yang sedari tadi berdendang kecil sambil menyiapkan air untuk mereka mandi.
Yup, mereka akan mandi bersama sesuai dengan janji Maya beberapa waktu yang lalu.
Seperti hal nya Rio yang tampak bahagia, Maya juga merasakan kebahagian yang sama. Bahkan dia sudah lupa dengan kepedihan yang dia rasakan beberapa hari yang lalu.
Mungkin memang benar kalau mood ibu hamil itu sangatlah labil, sedikit saja kesalahan yang di buat suaminya maka mereka akan marah atau sedih sejadi-jadinya. Tapi kali ini, perlakuan Rio yang sangat manis dan romantis membuat Maya bahagia.
Ingin sekali Maya menghentikan waktu saat ini, biar dia dan Rio selalu merasakan kebahagiaan dan kehangatan seperti ini, bak sebuah keluarga sesungguhnya. Tidak ada budak dan Tuannya melainkan hanya ada seorang suami yang amat mencintai istrinya.
Ya... hari ini Maya merasakan cinta yang di berikan Rio padanya.
"Maya" teriak Rio lagi tapi kali ini dia sambil mengintip Maya dari balik kamar mandi.
"Cepatan sini, nanti air nya dingin" ajaknya kesal melihat Maya yang masih saja berdiri di dekat kamar mandi.
Maya berjalan dengan pelan dan sangat berhati-hati, perutnya masih terasa nyeri walaupun tidak sesakit kemaren. Apalagi bobot tubuhnya yang bertambah naik beberapa hari ini, membuatnya semakin kewalahan untuk berjalan.
Maya menatap takjub dan kagum melihat kamar mandi yang sudah di sulap Rio menjadi kamar mandi yang penuh dengan bunga yang di petik sendiri oleh Rio dari taman.
Dilantai kamar mandi sudah ditaburi bunga mawar putih dan kuning yang berbentuk love dan dikelilingi dengan lilin aroma terapi yang sangat harum.
Maya melihat sepasang kimono yang tergantung tak jauh dari Rio berdiri yang bertuliskan inisial M dan R. Entah sejak kapan Rio mempersiapkan ini semua, padahal dia baru berada disini.
Maya tersenyum bahagia, saking bahagianya dia bahkan ingin menangis dan memeluk erat tubuh Rio saat ini juga.
Rio mengulurkan tangannya untuk Maya gapai, dan membawanya perlahan menju ke bathtub yang sudah dipenuhi dengan mawar merah.
"Rio, ini" Maya menatap Rio bahagia.
"Kamu suka??" Maya mengangguk antusias.
Suka.. dia sangat suka dengan kejutan yang Rio berikan kali ini.
Rio membuka handuk yang dia kenakan dan masuk ke bathtub kemudian menuntun Maya juga ikut masuk ke dalam.
Maya melirik malu ke arah Rio. Ini memang bukan pertama kalinya Maya melihat Rio tanpa memakai busana. Tapi entah kenapa, kali ini dia merasa sangat malu melihat tubuh polos Rio. Bahkan sekarang Maya merasakan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Rio menarik lembut tubuh Maya untuk mendekat kearahnya. Tangannya mulai membuka handuk yang dikenakan Maya dengan pelan, seketika memperlihatkan tubuh Maya. Rio melihat kearah perut Maya yang sudah kelihatan membesar dengan tersenyum lebar.
Dia meletakkan tangannya tepat di atas perut Maya dan mengusapkan dengan lembut seraya berkata papa sama mama mau mandi dulu yah, nanti kalau baby R sudah lahir, kita akan mandi bersama. Bertiga.
Kalimat yang dilontarkan Rio membuat Maya tersenyum, lagi-lagi Rio membuatnya bahagia.
"Haa... baby R bergerak" ucap Rio kaget namun kelihatan jelas kalau dia sangat bahagia. Ini pertama kali nya Rio merasakan pergerakan baby R didalam perut Maya. Rio menatap Maya dengan mata yang berbinar.
"Dia bergerak" ucapnya lagi.
Maya mengangguk, ikut merasakan kebahagian yang Rio rasakan.
__ADS_1
"Baby R bahagia karena mau di ajak mandi sama papa nya" bisik Maya pelan yang kemudian mendaratkan kecupan di bibir Rio.
"Kalau begitu setiap hari kita akan mandi bersama" ucap Rio lagi yang langsung memeluk Maya.
"Maya" panggil Rio pelan.
"Iya"
"Hmmm.." Rio menatap Maya gelisah. Beberapa kali dia memainkan air sambil memalingkan wajahnya dari Maya. Mulutnya komat kamit namun tidak terdengar suara sedikitpun yang keluar dari mulutnya.
Maya menatap Rio dengan tatapan tak mengerti.
Bohong...sebenarnya Maya sangat mengerti apa yang di inginkan Rio saat ini. Sudah terlihat sangat jelas di raut wajah Rio kalau saat ini dia sedang menahan dirinya, tapi Maya pura-pura tidak merasakannya.
"Aannuu.." ucap Rio terbata-bata.
"Ada apa sih ??" Ujar Maya dengan tampang polosnya.
"Baby R"
"Kenapa dengan Baby R ??"
"Mau jenguk" ucap Rio malu. Wajahnya bersemu merah. Kelihatan lucu banget. Seperti anak kecil yang malu untuk meminta sesuatu.
Sweetnya..
"Ckkk tumben pake bilang dulu, biasanya langsung aja" ledek Maya.
Maya tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Rio hingga hidung mereka yang mancung menyentuh satu sama lainnya. Bahkan sekarang Maya bisa mendengar dan merasakan nafas Rio yang sudah tersengal.
Rio membalas senyuman Maya dan langsung mengecup bibir ranum Maya dengan pelan kemudian perlahan berubah dengan intens.
Tangan kanan Rio menahan leher Maya dan tangan kirinya menarik pinggang Maya untuk semakin mendekat kearahnya agar dia bisa lebih leluasa bergerak, dan juga menahan tubuh Maya.
Hanya dalam 1 menit kini tubuh mereka sudah menyatu satu sama lainnya didalam gubangan air di dalam bathtub. Suara gemercik air seakan-akan menjadi alunan musik yang mengiring mereka.
"I love you" ucap Rio di sela pergulatan mereka.
***
"Daddy.." panggil Alisya seraya menyentuh bulu-bulu halus yang tumbuh di dada seorang pria yang terbaring di sampingnya sambil memeluknya dengan erat.
"Apa sayang" ucapnya sambil melemparkan sebuah kecupan dipucuk kepala Alisya dengan lembutnya.
"Kapan kita akan melaksanakan rencanya ??"
"Rencana apa ??"
"Menghancurkan pelakor itu" pria itu menatap Alisya tak suka.
"Kamu masih menginginkan Rio" ucapnya marah.
__ADS_1
"Bukan daddy, Alisya hanya ingin membuat Rio menderita" sangkal Alisya.
Alisya menoleh kearah wajah sang pria, menatapnya dengan lurus sembari memberikan senyuman menggodanya. Ia juga mengelus pipi pria itu dengan sangat lembut dan menggigit dagu nya, membuat pria itu mengerang.
"Nakal kamu.." pria itu mencubit gemas pipi Alisya.
Alisya tertawa penuh kemenangan. Sekali lagi dia menggoda pria itu dengan mengibaskan rambutnya yang tergerai panjang tepat diwajah sang pria dengan pelan.
Kembali pria itu meringis.. tangannya menangkup kedua pipi Alisya sambil tertawa kecil dan diikuti tawa nakal Alisya.
"Berani kamu yah" ucap pria itu sedikit bernada tinggi. Bukan bermaksud menakuti tapi hanya memberi pernyataan atas apa yang dilakukan Alisya.
Alisya tertawa lepas saat pria itu mengukung tubuh Alisya tepat di bawahnya.
"Daddy..." ucap Alisya yang berusaha protes, dia sudah tidak ingin bermain lagi.
"Kali ini kamu akan mendapat hukuman yang berat, karena sudah menggoda Daddy" ucapnya penuh dengan senyuman sumringah.
"Hukum aja" Tantang Alisya yang langsung mendapatkan serangan mendadak tanpa aba-aba dari sang Daddy.
"Auuww.. pelan-pelan daddy.. sakit" ringis Alisya.
Bukannya berhenti, sang Daddy malah bersemangat lagi. Bahkan sesekali tubuh Alisya dihempas dengan kasar di atas ranjang.
Semakin Alisya meringis kesakitan, sang Daddy semakin puas dan Dia akan semakin menjadi-jadi.
Lihatlah, kali ini tangan Alisya sudah di ikat di kedua sisi ranjang dengan menggunakan bajunya.
"Apa yang akan daddy lakukan" tanya Alisya takut saat sang Daddy membawa sebuah lilin besar dan sebuah ikat pinggang.
"Tenang saja sayang, ini tidak akan sakit" ucapnya kemudian meneteskan lilin cair ketubuh Alisya.
"Auww saa-kkit" ringis Alisya merasakan rasa panasnya lilin yang jatuh di atas kulitnya.
"Berteriaklah sayang.. berteriaklah.. semakin kamu berteriak, daddy akan semakin bahagia.. hahahahaa" tawanya.
"Saaa--kiit" rintih Alisya, tapi kali ini karena cambukan yang diberikan sang daddy menggunakan ikat pinggang yang dibawanya tadi.
"Tenang sayang, kamu pasti akan menikmatinya" bisiknya.
Alisya tersenyum getir. Kali ini dia harus menahan rasa sakit ini. Harus..
Come'n Alisya, lo bisa... lo pasti bisa.
Beberapa kali Alisya melafalkan kalimat itu didalam hatinya, berusaha menyemangati dirinya sendiri. Berusaha menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Berusaha untuk tetap tersenyum mengikuti semua permainan yang dilakukan sang daddy.
"Good girl, honey" bisiknya. Tubuhnya jatuh terkulai lemas di samping tubuh Alysa yang penuh dengan luka akibat cambukkan dan tetesan lelehan lilin yang dia berikan.
Alisya merintih pelan, ingin sekali tangannya melempar jauh tubuh yang sekarang berada diatasnya. Namun tangannya yang terikat membuatnya semakin tak berdaya.
__ADS_1
Rio.... lo akan segera menjadi milik gue.. tidak akan ada lagi orang yang bisa merebut lo dari gue.