Baby untuk Mr. R

Baby untuk Mr. R
Part 23


__ADS_3

Rio... apa yang kamu lakukan" bentak seorang wanita yang tiba-tiba saja masuk ke kamar Rio.


"Tante !! Ngapain disini ??" Kaget Rio berusaha menutupi Maya yang pakaiannya sudah acak-acakkan ulah dirinya sendiri.


"Kamu sendiri lagi ngapain ?"


"Kayak nggak tau aja.. yang biasa tante dan om lakukan lah"


"Dasar kamu !! Dokterkan bilang kalau kamu tidak boleh sering melakukannya. Kalau ada apa-apa dengan cucu tante, gimana ??" Omel tante sambil mendekati Rio dan menjewer telinganya.


Maya hanya menatap wanita barbar yang ada dihadapannya. Tante !! Apa dia tante nya Rio ? Tapi kenapa Rio tidak pernah cerita.


Ahhh.. Rio memang tidak pernah bercerita tentang keluarga.


"Ya ampun tante, mana mungkin Rio mencelakai anak Rio sendiri"


"Yakin kamu !!" Ucap tante yang mengintimidasi Rio lewat tatapan dan nada suaranya.


"Tante kesini sebenarnya mau ngapain sih" Kesal Rio


"Tante kesini mau melindungi menantu tante sekaligus cucu tante dari mesum suaminya.. Kenapa ??" Tante menatap Rio dengan tatapan menatang. "Sekaligus tante mau menggagal kan rencana kamu itu"


"Rencana !!" Maya menatap Rio. Apa yang sebenarnya di rencanakan Rio.


"Kita bicara diluar tante"


"Maya, cepat rapikan pakaian kamu. Kita akan dengarkan dalih dari suami kamu ini" perintah Tante yang kemudian keluar meninggalkan Maya yang menatap Rio dengan penuh tanya, sedangkan Rio hanya bisa menggaruk lehernya yang tidak terasa gatal.


"Rio"


"Kita bicara diluar" ucap Rio sambil merapikan pakaian Maya.


****


"Kamu dan Bian sudah gila yah !!" Bentak tante menatap marah kearah Rio saat mereka sedang duduk diruang keluarga. Bian yang baru hadir karena telphone dari Rio, hanya bisa menatap Maya dengan tatapan takut.


Rio tidak mengerti bagaimana tantenya itu mengetahui rencana yang telah dia dan Bian rancang, apa Bian sudah membocorkannya. Tapi tidak mungkin, ini kan rencana Bian mana mungkin dia yang membocorkannya, apalagi ini demi keselamatan mamanya dan Maya.


"Tante, kita tidak punya jalan lain selain melakukan itu" Kilah Bian.


"Apa kalian tidak memikirkan keselamatan Maya dan bayi didalam kandungannya. Kalau mereka kenapa-kenapa gimana ?"


"Rio nggak akan biarkan mereka kenapa-kenapa tante"


"Sebenarnya rencana apa yang kamu dan Bian rencanakan ?" Tanya Maya dengan suara bergetar. Cuma dia sendiri disini tidak tau apa-apa, tapi kenapa mereka terus menerus mengatakan keselematan dirinya. Maya juga ingin tau sebenarnya apa yang terjadi. Dia tidak mau mengambil resiko dengan kandungannya.


"Mama... mama berada ditangan wanita itu, Maya" Bian menatap Maya sendu. Sebenarnya Bian juga tidak ingin melibatkan Maya disini, tapi wanita itu menginginkan Maya untuk meninggalkan Rio.


"Dia bilang, kalau mama mau bebas, kamu dan Rio harus berpisah" lanjut Bian.


"Gue nggak akan pernah mau berpisah sama lo Maya, tenang aja.. gue akan selalu ada untuk lo"


"Apa yang kalian rencanakan"


"Rio akan mendekati wanita gila itu, gue akan membawa lo dan mama pergi"


"Setelah itu gue akan menyusul kalian" Sambung Rio.


Maya tertawa lirih mendengar rencana Bian dan Rio. Apa mereka tidak memikirkan perasaan Maya ?. Seandainya saja Maya tidak pernah tau rencana itu, mungkin dia akan selamanya membenci Rio karena telah berselingkuh darinya. Apa itu yang mereka inginkan.


"Gue nggak setuju"


"Tante juga nggak setuju"


"Tapi Maya, mama ada ditangan mereka"


"Apa kalian yakin wanita itu akan melepaskan mama ?"


"Bener kata Maya.. dia itu wanita ular berbisa, tidak akan mudah bagi kalian untuk memperdaya dia" ucap Tante kesal.

__ADS_1


"Terus kami harus bagaimana Tante, mama mertua aku ada ditangannya"


"Apa kamu lupa dengan status keluarga kita ?" Tante tersenyum licik.


Apa maksud tante dengan status keluarganya. Maksudnya kekuasaan ? Tapi ini tidak akan selesai hanya dengan mengandalkan kekuasaan semata, harus ada strategi yang tepat untuk menghancurkan wanita iblis itu untuk selama-lamanya.


"Makanya jangan sibuk dengan kerajaan bisnis kamu, sekali-kali kumpul bersama keluarga"


"Apa rencana Tante ?" Tanya Bian penuh harap.


"Tenang saja.. kalian cukup diam disini, biar tante yang akan membereskan mereka"


"Tapi mama"


"Besan Tante tidak akan terjadi apa-apa. Tenang saja, percaya sama tante"


***


"Sayang.." Rio memeluk tubuh Maya yang terbaring di sofa depan jendela kamarnya. Beberapa hari ini Maya lebih sering menghabiskan waktunya untuk duduk di sofa itu sambil menikmati pemandangan dari kamarnya.


"Kok tiduran disini ?? Anginnya lagi kencang, nanti bisa masuk angin" Rio menghela nafasnya gusar. Sejak kejadian kemarin, Maya tidak mau bicara dengannya.


"Ayo pindah, nanti kamu dan baby R bisa sakit" pujuk Rio pelan. Maya tetap tak bergeming, matanya menatap nanar kearah luar jendela. Entah apa yang dilihat Maya, tapi wajahnya yang datar membuat Rio khawatir.


"Maafkan gue"


Akhhh....


Ringis Maya sambil memegangi perutnya. Keringat dingin menjalar keseluruh tubuhnya. Badan Maya juga terasa dingin.


"Kenapa.. apa yang sakit ?" Panik Rio.


"Kalian, cepat panggilkan dokter" Teriak Rio semakin panik melihat Maya semakin merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Tuan..."


"Tuan, kita harus melakukan operasi sekarang"


"O-operasi !!" Takut Rio.


"Tidak ada waktu lagi Tuan"


"Kalau begitu cepat siapkan semua keperluan untuk operasi"


Hampir 1 jam Rio modar mandir didepan ruangan operasi di klinik pribadinya yang dia buat dirumahnya. Wajahnya terlihat pucat. Ini pertama kalinya Rio merasakan takut yang teramat dalam.


Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Maya dan bayinya ?


Akhhhh kalau sampai terjadi sesuatu dengan Maya dan bayinya, Rio pasti akan menghukum dirinya sendiri karena telah membuat Maya sedih.


"Rio.. Maya gimana ?" Tanya Bian dengan wajah cemasnya. Setelah mendapat telphone dari Rio, Bian bergegas kerumah Rio. Bahkan dia sudah tidak memperdulikan pemampilannya yang acak-acakkan. Dia bahkan salah mengancingkan bajunya sendiri.


"Maya masih didalam" ucap Rio dengan suara bergetar.


"Kenapa Maya harus segera di operasi ?"


"Maya mengeluhkan sakit diperutnya" Rio tertunduk, raut wajahnya yang pucat, penuh kecemasan kini berubah menjadi penuh penyesalan. Semua salahnya. Dokter sudah mengatakan kalau kandungan Maya memang sangat rentan, tapi Rio masih saja belum bisa menjaga Maya dengan baik.


"Tenang... Maya itu wanita yang kuat, dia dan baby R pasti bisa menjalaninya dengan baik"


"Rio.." teriak Tante yang datang langsung menautkan tangannya dikerah baju Rio dengan penuh amarah.


"Sudah tante bilang kan, jangan mencelakai Maya dan bayinya"


"Maafin Rio tante"


"Makanya kalau punya Itu dijaga" teriak tante sambil melihat kearah celana Rio. "Jangan mentingkan nafsu kamu saja"


"Tante" panggil Bian berusaha menenangkan tante Rio. "Tenang"

__ADS_1


"Hmmmhuuuuu" tante berusaha mengatur nafasnya agar dia tidak emosi lagi.


"Aku tidak tau lagi, kenapa aku punya ponakan yang tidak bisa menahan nafsunya. Sudah tau kandungan istrinya itu bermasalah, masih saja dipaksakannya"


"Harap maklum tante, selama ini kan adeknya Rio tertidur lelap. Setelah dia bangun dan baru tau rasa nikmatnya makanya dia pengen terus" ledek Bian.


"Kan masih banyak cara untuk memuaskan diri lo sendiri. Pake sabun kek.. nanti tante beliin kamu sabun segudang, biar puas kamu mainnya"


"Tante" kesal Rio.


"Kamu juga Bian, jangan cengir aja. Bantuin adek kamu dari si buas ini, jangan mau di makan terus sama dia"


"Baik tante"


"Kalau Maya keluar, tante akan bawa Maya kerumah tante"


"Jangan tante"


"Jangan apanya, biarin... supaya kamu tidak menyakiti Maya lagi"


"Nggak sakit kok tante.. Maya juga suka.. beneran.. kalau tante nggak percaya tanya aja Maya"


Plukkk...


Satu jitakan mendarat keras di kepala Rio.


"Ehhh dokter keadaan adik saya bagaimana ?" Tanya Bian cepat saat melihat dokter keluar dari ruang operasi.


"Keadaan Maya bagaimana ?"


"Menantu dan cucu saya gimana dok?"


"Tenang.. kondisi ibu Maya baik-baik saja, tapi..."


"Tapi apa dok ?" Ucap tante, Rio dan Bian serentak.


"Kondisi bayinya sedikit memburuk, kita harus melakukan penangan yang lebih karena bayinya terlahir prematur"


"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dok"


"Apa saya boleh melihat menantu saya dok"


"Untuk saat ini bu Maya sedang tidur, kalau sudah bangun sudah bisa di jenguk"


"Anak saya dimana ?"


"Anak Tuan ada diruangan disamping ruangan bu Maya. Maaf Tuan, ada beberapa alat dan obat yang harus segera di beli"


"Beli saja, berapapun harganya jangan khawatir saya akan membayarnya asal itu yang terbaik untuk baby R dan Maya"


Rio, tante dan juga Bian bergegas menuju ruangan tempat baby R dirawat.


"Ahhh lucunya cucu tante"


"Gantengnya anak papa"


"Ponakkan Om.. eh kok mirip Om Bian yah mukanya hehehe" Girang Bian.


"Siapa bilang mirip lo, anak gue ya mirip gue lah"


"Gue pamannya, yah pasti mirip gue lah"


"Gue papa nya"


"Husst jangan ribut kalian, baby R mau istirahat.. mendingan kaliar keluar sekarang"


"Tapi Rio masih pengen liat anak Rio tante"


"Keluar.. atau tante akan bawa lari Maya dan baby R sekarang juga"

__ADS_1


__ADS_2