
Maya mengerjapkan matanya, sesekali menatap ke sekeliling ruangan dengan tatapan bingung. Ruangan ini bukan kamarnya... tapi kenapa bisa dia tertidur disini ??!! Ini kamar siapa ??!!
" Kamu sudah sadar ??!! " tanya seseorang dengan suara baritonya yang terdengar serak khas orang bangun tidur.
" Ssssiiiiiiaaaaappppaaaaaa.... kkkkkaaaaammmuu ??!! " Tanya Maya kaget bercampur takut. Wajah pria yang ada disampingnya tidak bisa ia lihat dengan jelas karena pria itu tidur tengkurap dengan wajah yang di palingkan ke arah lain.
" Jangan teriak, nanti King kaget "
" Tuan..... kenapa tuan bisa disini ??! "
" Ini kamar saya.... "
" Kamar Tuan ??!! "
Maya mengernyitkan dahinya, berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia bisa berada dikamar Tuan nya.
" Astagfirullah... apa yang Tuan lakukan ??!! " Tanya Maya dengan nada tinggi saat dia menyadari kalau sekarang Rio tidur tanpa mengenakan baju.
Dengan cepat Maya melihat tubuhnya sendiri yang dibaluti selimut. Mulutnya ternganga lebar, matanya terbelalak saat melihat pakaiannya sudah berganti dengan baju tidur drees pink yang sangat tipis.
Kenapa Maya bisa memakai pakaian seperti itu, bahkan untuk melihatnya saja Maya sudah merasa jijik apalagi untuk memakainya.
" Kamu nggak ingat dengan apa yang kamu lakukan tadi malam ??! " Tanya Rio yang kini memalingkan wajahnya ke arah Maya. Hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti saja.
Maya menggelengkan kepalanya cepat. Memang dirinya sama sekali nggak ada gambaran tentang kejadian tadi malam. Hingga dirinya bisa berada disatu tempat tidur dengan Rio dengan pakaian seperti ini.
Flash back on
" Mulai besok kamu akan pindah ke kamar disebelah kamar saya " ucap Rio pelan dengn tangannya yang masih setia mengelu-elus pelan perut Maya.
" Saya dikamar ini saja tuan "
" Maya.... saya sudah bilang jangan coba-coba kamu menjauhkan saya dengan King " ucap Rio tak suka. Beberapa kali Maya selalu membantah perkataannya. Kalau bukan karena Maya sedang hamil, mungkin saat ini sudah tamat riwayat Maya ditangan Rio.
" Tapi.... Tuuu...... uuuuueeeeekkkk "
" Astaga ..... " teriak salah satu pelayan wanita yang masuk ke kamar Maya dan mendapati punggung Tuan Rio sudah penuh dengan muntahan.
" Maaaffkannnn sayaaa Tuuu..... uuueeeekkk" untuk kedua kalinya Maya memuntahkan Tepat di tubuh Rio.
" Tuan... Tuan tidak apa-apa ??!! " Tanya pelayan itu berusaha membersihkan tubuh Rio yang penuh dengan muntahan Maya.
Rio menjeling tak suka ke arah pelayan yang sekarang sedang berusaha membuka bajunya.
" Maafkan saya Tuan... tapi jika tidak dibuka bajunya..... "
" Ueeekkkkk..... ueeeekkkkk.... " belum selesai pelayan itu berbicara Rio sudah berjalan menghampiri Maya yang berlari ke dalam toilet karena tak henti-hentinya muntah.
" Kamu.... cepat panggilkan dokter... dan siapkan saya pakaian untuk saya dan Maya. Dan jangan lupa siapkan perlengkapan mandi dengan beberapa aroma teraphi "
" Baik Tuan.... " dengan bergegas pelayan itu keluar dan melaksanakan perintah Rio.
" Kamu nggak apa-apa ??! "
" Perut saya.... uuuueeeeekkkk.... uuueeeeekk" Rio berusaha menepuk-nepuk pungguk Maya pelan, berusaha meredakan rasa mual yang dirasakan Maya.
" Tuan.... pakaian Tuan.... " lirih Maya takut melihat Rio yang penuh dengan muntahan dirinya.
" Jangan fikirkan saya... sekarang apa kamu sudah enakkan ??!!! " Maya mengangguk pelan. Saat tangan Rio menyentuh punggungnya, mendadak rasa mualnya seketika hilang.
Aneh bin ajaib.... tapi itu lah yang dia rasakan saat ini. Sentuhan tangan Rio memang mujarab untuk merdakan rasa mualnya.
" Tuan.... ini pakaian nyonya Maya... pakaian tuan sudah saya siapkan dikamar Tuan " ucap pelayan itu sambil memberikan sebuah baju kaos dan celana panjang.
" Apa-apaan ini !!! Kamu mau King kegencet didalam perut Maya ?!!!! "
" Ehhhh..... " pelayan itu menatap bingung kearah Rio. King ??!! Siapa King ??!! Kegencet... ?!!! Siapa yang mau menggencet perut nyonya Maya nya.... ?!!
" Cepat ambil gaun tidur untuk Maya "
" Tapi tuan... nyonya Maya tidak punya baju seperti itu "
Rio menarik nafasnya dalam membuat pelayan itu bergetar ketakutan.
" Kamu suruh beberapa orang pergi ke disigner ternama yang menjual gaun tidur, dan beberapa orang yang membantu Maya disini. Saya mau membersihkan tubuh saya dulu " ucap Rio pelan dan berusaha membawa Maya ke tempat tidur untuk rebahan sejenak. Membuat pelayan itu terpukau sejenak dan kemudian pergi melaksanakan perintah Rio.
" Sungguh.. si cabang bayi itu membawa berkah dirumah ini " ucap pelayan itu bahagia.
*****
Hampir 30 menit Rio berendam untuk menghilangkan bau di tubuhnya. Dan kini dia sudah berjalan menuju ke kamar Maya untuk melihat kondisi Maya saat ini. Apa Maya masih muntah-muntah seperti tadi ?!!
" Ada apa ini ???! " tanya Rio dengan suara tinggi yang melihat beberapa pelayan yang berdiri mengerumuni tempat tidur Maya.
" Maaf Tuan... dari tadi Nyonya Maya tidak berhenti menangis Tuan... saat kami tanya, nyonya tidak mengatakan apapun " jawab salah satu pelayan dengan nada takut.
Dengan pelan Maya membuang bantal yang menutupi mukanya. Matanya yang sembab menatap sendu kearah Rio. Sesekali Maya menyeka air matanya yang masih saja mengalir di pipinya sambil terdengan segukan tangis dibibir mungil Maya.
" Rioooo.... " panggil Maya dengan suara yang lirih. Dengan cepat Maya bangkit dari tempat tidur dan berlari kecil memeluk tubuh Rio dengan eratnya. Semua pelayan disana menatap dengan mata terbelalak tak percaya ke arah Maya.
Tapi tak sedikitpun Maya memperdulikan tatapan mereka. Aroma tubuh Rio membuatnya merasa tenang dan damai. Maya mengambil tangan Rio dan menempatkannya tepat diperutnya. Berharap Rio akan mengelus-elus perutnya.
Entahlah kenapa Maya melakukan itu. Maya juga heran kenapa dirinya seperti wanita jalang yang haus akan sentuhan seorang pria seperti ini. Tapi biarlah, yang terpenting dia merasa nyaman dalam posisi seperti ini.
" Maya... kamu kenapa ??!! " Tanya Rio heran yang mendadak mendapat pelukan dari Maya.
__ADS_1
" Maya.... Maya.... " beberapa kali Rio memanggil Maya, tapi tak ada respon. " Akhh ternyata kamu sudah tidur " dengan cepat Rio menggendong Maya dengan gaya bridal style. Dan membawanya ke ranjang. Tapi bukan ranjang yang ada di kamar Maya, melainkan ranjang yang ada dikamar Rio.
Dengan pelan ia membaringkan tubuh Maya di atas ranjang, tapi saat dia ingin melepaskan tangan Maya. Tangannya semakin di genggam erat oleh Maya.
Flash back off
" Mulai sekarang kamu akan tidur disini "
" Disini ??!!! "
" Iya... disini "
" Kalau saya tidur disini, tuan akan tidur dimana ??!! Bukannya ini kamar tuan ??!!"
" Saya akan tidur disini juga bersama kamu "
" Apa ??!!! " teriakkan Maya membuat Rio mendelik tak suka kearahnya. " Maafkan saya tuan... tapi kita tidak bisa tidur bersama seperti ini " ucap Maya takut.
Maya memang seorang budak dirumah ini. Tapi bukan seorang budak pemuas hawa nafsu.
" Kalau kamu tidak tidur disini, nanti kamu... "
" Ueeeekk.... Ueeekkk " belum sempat Rio menyelesaikan perkataannya, Maya sudah merasa mual lagi.
Sejak tadi malam, Rio sudah menyadari kalau King yang ada ditubuh Maya selalu ingin berdekatan dengannya dan selalu ingin disentuh oleh Rio. Makanya Rio memutuskan agar Maya tidur bersama dirinya, biar Rio bisa mengelus-elus perut Maya setiap saat.
" Sini.... " Tarik Rio yang kemudian menempatkan tangannya diperut Maya dan itu membuat Maya merasa nyaman.
" Mulai saat ini, kemanapun saya pergi kamu akan selalu bersama saya "
" Tapi Tuan.... "
" Jangan banyak membantah... ikuti saja perintah saya kalau kamu tidak ingin merasakan mual lagi " Maya mengangguk nggak pasti. Tapi memang berada didekat Rio membuat dirinya merasa nyaman.. sangat nyaman.
" Sebaiknya sekarang kamu mandi, habis itu sarapan.... "
" Tuan.... "
" Ada apa lagi ??! "
" Se... sebaiknya, saya tidur di sofa aja Tuan " Rio menatap Maya dengan tajam. " Maaf tuan.. tapi saya tidak bisa tidur bersama pria seperti ini. Walaupun saya yakin tuan tidak akan pernah melakukan hal yang tidak-tidak terhadap saya "
" kenapa tidak bisa ?!! " tanya Rio yang langsung bangkit dari tidurnya membuat Maya sedikit gelagapan karena takut Rio akan marah.
" Karena kita belom menikah " ucap Maya pelan sambil menutup matanya. Maya tak sanggup lagi menatap mata yang selalu menatap dirinya dengan tajam.
" Ok... malam ini kita akan menikah " ucap Rio pelan dan pergi meninggalkan Maya.
" Apa ??!! Menikah ??!! " Maya membuka matanya dan tidak mendapati Rio berada didepannya. " Akhhh Maya... lo pasti berhalusinasi tadi.. mana mungkin Tuan Rio mau menikah dengan lo yang hanya seorang budak.. " gerutu Maya pelan.
" Sebaiknya gue mandi... siapa tau gue bisa menyegarkan pikiran gue, biar nggak berhalusinasi terus "
****
" Nyonya.... ini susu nya " ucap salah satu pelayan sambil membawa segelas susu khusus untuk ibu hamil.
Sudah menjadi kebiasaan Maya, kalau setiap sore dirinya pasti akan duduk ditaman belakang sambil melihat bunga-bunga yang ada ditaman.
Sebenarnya tadi, Rio menyuruh Maya untuk mengikuti dirinya Meeting di kantor. Tapi karena Maya merasa mengantuk, jadi Rio mengizinkan dirinya untuk tetap dirumah. Tapi dengan Syarat, Maya harus mengikuti semua jadwal yang sudah di persiapkan untuk dirinya.
Persyaratan yang sulit untuk dijalani Maya. Mengingat Rio sangat protektif dengan bayi yang ada didalam kandungannya. Pastinya jadwal yang sudah dibuatnya nggak jauh-jauh demi anaknya. Sungguh membosankan hikksss.... hikss...
" Lohh... nyonya kenapa masih ada disini ??! " tanya salah satu pelayan yang membawa beberapa gaun yang sangat indah ditangannya.
Jangan salahkan Maya yang tidak pernah bisa menghafal nama pelayan yang bekerja di rumah ini. Merka berkerja dirumah ini sebulan sekali, paling lama seminggu dalam sebulan. Karena mereka juga bergantian mengurusi beberapa vila dan apartemen milik Rio.
" Emangnya saya harus kemana ??!! " Tanya Maya bingung. Perasaan jadwalnya jam segini itu kosong. Makanya dia bisa menikmati keindahan taman belakang.
" Seharusnya nyonya dikamar sekarang.. para stylist dan make up artis sudah menunggu nyonya disana "
" Ehhh .... emangnya akan ada acara yach ??!!!" Tanya Maya bego.
" Hari ini kan ada pesta pernikahan nyonya... "
" Pernikahan Siapa ??! "
" Nyonya... "
" Saya !!! " Maya menunjuk dirinya sendiri dengan mata yang terbelalak " dengan siapa ??!"
" Dengan Tuan Rio nyonya... masa iya dengan Tuan Bian... yang ada perang dunia ke 3 " tukas pelayan itu dengan nada kesal.
" Jadi.... tadi pagi itu bukan halusinasi gue ??! " bathin Maya.
" Ayo nyonya... nanti keburu Tuan datang "
Maya yang masih tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya, hanya bisa mengikuti pelayan itu dari belakang dengan tatapan kosong. Seperti robot yang dihidupkan control pengendalinya, hingga robot itu mengikuti kemana saja yang diperintahkan oleh Tuannya.
Hampir 2 jam, Maya membiarkan dirinya untuk di rias beberapa ahli kecantikan yang sudah ditugaskan Rio untuk mendandani dirinya.
Dan sekarang Maya bak seorang putri dengan gaun mewah yang sangat indah, dan make up yang simple namun terlihat elegan. Begitu cantik.
Ini pertama kalinya bagi seorang Maya berpenampilan seperti ini. Maya yang menatap dirinya didepan cermin terdiam terpaku tak percaya dia bisa berdandan secantik ini. Bahkan dalam mimpi pun Maya tidak pernah berani membayangkannya.
" Tuan.... " sapa salah seorang pelayan yang berada di kamar Maya.
__ADS_1
" Semuanya sudah siap ??!! " Tanya Rio pelan.
" Sudah Tuan .... "
" Dimana Maya ??!! "
" Saya disini Tuan " ucap Maya pelan sambil membalikkan tubuhnya dan menatap Rio dengan senyuman terindahnya dihadapan Rio.
" Cepat turun kebawah, semuanya sudah menunggu " ucap Rio yang langsung pergi dari kamar Maya.
" Apa yang lo fikirkan Maya.. Rio nggak akan pernah menganggap lo ada apalagi untuk bilang cantik " bathin Maya.
" Sadar Maya.... pernikahan ini hanyalah untuk anak yang ada didalam rahim loe.. setelah dia lahir kedunia, semuanya akan berakhir. Bahkan hidup loe juga akan berakhir... "
" Nyonya.... " sapa seorang pelayan yang menyadarkan Maya dari lamunannya.
" Ayo..... " ucap Maya sambil tersenyum tipis.
Hari ini, hari pernikahannya. Bahkan sekarang Maya sudah berhias layaknya seorang putri. Tapi bukannya kelihatan bahagia, malahan pancaran mata Maya terlihat begitu sedih.
Langkah kaki Maya semakin berat saat ia ingin memasuki ruangan yang telah dipersiapkan untuk tempat ijab kabulnya nanti. Hati Maya sangat ragu untuk menikah dengan Rio. Maya yakin 100% kalau pernikahan ini tidak lah lama. Tapi Maya tidak menginginkan percerian. Impiannya adalah menikah sekali seumur hidup. Akankah impiannya terkabul ??! Atau hanyalah sekedar impian saja.

Mulut Maya ternganga lebar saat dia memasuki ruangan yang akan menjadi saksi janji suci dirinya dan Rio. Maya begitu takjub dengan dekorasi yang ada. Berlatarkan berwarna putih, dihiasi dengan bunga mawar putih. Semuanya seperti impiannya.
Bahkan pernikahan ini didatangi oleh semua colega Rio.. dan bunda... bunda juga hadir disini... dipernikahan Maya. Tak terasa, air mata Maya menetes membasahi pipinya yang merah merona.
Kenapa Rio melakukan ini semua, kalau toh pada akhirnya pernikahan ini akan berakhir.
****
" Bunda.... bunda disini ??! " peluk Maya, setelah dia menyelesaikan ijab kabulnya bersama Rio.
" Iya sayang... td siang, Rio datang kerumah dan meminta bunda untuk datang menghadiri pernikahan kamu.. bunda sangat bahagia sekali... sekarang kamu sudah bahagia sayang... " isak bunda. Bunda terlihat begitu bahagia, walaupun air matanya terus menerus mengalir dipipi bunda.
" Malam ini bunda nginap disini kan ??!! " bunda mengangguk pelan.
" Waaahhhhh ternyata lo sudah menjadi nyonya besar sekarang.... selamat... selamat... " ucap seseorang yang suaranya tidak begitu asing ditelinga Maya dan bunda.
" Lo...... ngapain lo kesini ??!! " bentak Maya.
" Gue di undang kesini sama suami lo yang kaya raya itu... "
" Ciuhhhh.... pergi lo dari sini... gue nggak sudi melihat wajah lo "
" Sayang..... seharusnya lo dan bunda lo itu berterimakasih sama gue.... kalau bukan karena gue... lo nggak bisa menikah dengan Rio yang kaya raya itu "
" Sampai matipun gue nggak akan pernah berterimakasih sama pria bajingan seperti lo "
" Bajingan begini, gue masih ayah tiri lo... suami dari bunda lo yang bodoh ini "
Maya mengepalkan tangannya keras hingga buku-buku tangannya terlihat jelas. Tidak ada senyum diwajahnya saat berhadapan dengan ayah tirinya, yang ada hanyalah kemarahan dan dendam. Dan itu membuat Rio tidak suka melihatnya.
" Ada apa ini ??!! " Tanya Rio pelan sambil melingkarkan tangannya dipinggang Maya. Sontak membuat Maya mematung seketika.
Tubuhnya kaku. Darahnya mengalir deras dan detak jantungnya terdengar begitu keras hingga Maya terasa sulit untuk bernafas. Perasaan apa ini ??!!
" Apa ada terjadi sesuatu disini ??!! " tanya Rio lagi, karena nggak ada seorangpun yang menjawab pertanyaannya.
" Maya..... " lirik Rio berusaha mendapatkan jawaban dari istri yang baru dinikahinya.
" Aaaa....aaaannnuuu..... guuueee ehhh saaayyaaa... " Maya tak sanggup menyelesaikan kata-katanya. Karena saat ini tubuhnya bergetar hebat, dan ia sulit bernafas.
" Dia sudah menganggu Maya dan membuat Maya marah " ucap bunda lantang. Seolah-olah rasa takutnya hilang menguap entah kemana.
Mendengar penjelasan bunda, wajah Rio seketika berubah menjadi murka. Siapa yang berani membuat Maya marah, dan mengganggu ketenangan Maya ??!!
" Saaaaa... sssaaaayyaaaa tidak bermaksud membuat dia...."
" Keluar sekarang atau saya akan menyuruh anak buah saya menyeret anda keluar " ucap Rio dengan nada mengancam dan dengan tatapan membunuh.
Tanpa basa basi, ayah tiri Maya pergi dengan seribu kekesalan didalam hatinya. Mulutnya tak henti-henti mengumpat bunda Maya.
" King nggak apa-apa ??!! " Tanya Rio pelan sambil meletakkan tangannya di perut Maya.
Maya hanya bisa tersenyum sambil mengangguk pelan. Maya sudah menerka, kalau sikap baik Rio tadi bukan untuk dirinya tapi untuk anak didalam kandungannya.
" Tuan..... "
" Jangan panggil saya Tuan... tapi panggil saya Rio... kamu itu istri saya sekarang "
" Istri sementara " ucap Maya didalam hatinya.
" Kenapa kamu selalu saja memanggilnya dengan sebutan King ??!! Bagaimana kalau dia perempuan ??! " tanya Maya takut..
" Akhhh saya lupa... bagaimana kalau dia perempuan ??!!! "
" Bagaimana kalau kalian memanggilnya dengan sebutan R ( dibaca dengan lafal english ) " usul bunda.
" Yang bener aja bunda... Maya kan nggak bisa menyebutkan huruf R " kesel Maya, yang tampaknya bunda sedang mengerjai dirinya.
" Ehhhh... tapi bunda tau dari mana tentang... " Maya menunjuk perutnya.
" Rio sudah menceritakan semuanya tadi sore " ucap bunda sambil melirik Rio sambil tersenyum bahagia. Sudah lama sekai Maya tidak melihat bunda sering tersenyum seperti ini.
__ADS_1
Terimakasih Rio...