
Maya mengerjapkan matanya. Suara kicauan burung membuatnya tersadar dari tidur panjang.
"Akhhh.." ringisnya ketika ia merasakan sakit di bagian perutnya.
"Ada apa ??? Apa yang sakit ??" Tanya seseorang dengan wajah paniknya bercampur dengan wajah khas orang bangun tidur.
Tangannya mengelus perut Maya dengan lembut dan menatapnya dengan tatapan penuh hangat.
"Apa R baik-baik saja ??" Tanyanya khawatir.
"Maaf Tuan.." Maya hendak beranjak dari tempat tidur, dia muak jika harus berdekatan dengan Tuan nya. Ini bukan karena dia sedang hamil dan sedang fase mengidam, tapi Maya memang benar-benar muak dengan sikap dan tingkah laku Tuannya yang terkadang baik dan terkadang membuatnya sakit hati.
Ditepisnya tangan Rio yang masih berada di perutnya. Dan itu membuat Rio berdecak kesal.
Maya sudah siap dengan konsekuensi dan hukuman atas apa yang dia lakukan. Dia sudah terbiasa dengan itu.
"Mau kemana ??" Tanya Rio datar.
"Saya akan kembali ke kamar saya Tuan.."
"Kamar kamu disini"
"Maaf kan saya Tuan, budak dan pelacur seperti saya tidak pantas berada dikamar ini. Sebaiknya mulai sekarang Tuan tidak perlu mengkhawatirkan kondisi R, karena saya akan menjaga dan merawatnya dengan nyawa saya sendiri. Kalau Tuan masih tetap saja bertindak seperti ini, saya khawatir R malah akan celaka"
Rio terdiam, dia hampir lupa dengan kejadian semalam. Kejadian dimana perempuan itu hampir saja mencelakai anak dan istrinya. Untung saja Bian dengan cepat membawanya keruang perawatab kalau tidak...
Akhhh Rio tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kehilangan mereka.
"Tidak ada yang akan mencelakai kamu lagi" Tukas Rio.
"Maafkan tuan, tapi saya tidak mau mengambil resiko untuk semua ini" ucap Maya yang langsung melenggang pergi keluar dari kamar Rio dengan sedikit tertatih.
Tubuhnya masih lemah, apalagi semalam dia mengalami pendarahan hebat.
"Maya..."
"Tuan Bian.." ucap Maya kaget saat tangannya di cekal Bian tepat didepan kamar Rio.
"Apa yang Tuan lakukan disini ??" Tanya Maya heran. "Apa yang terjadi ??" Maya menatap wajah Bian yang penuh dengan lebam.
"Jangan perdulikan saya, bagaimana dengan kondisi kamu dan bayi kamu ??" Tanya Bian khawatir.
"Kami baik-baik saja Tuan.. tapi apa yang terjadi ?? Apa wanita itu memukuli Tuan ??" Bian menggeleng sambil tersenyum. Bagaimana bisa seorang wanita menghajarnya sampai babak belur seperti ini, kecuali wanita itu menguasai 5 cabang ilmu bela diri seperti Rio.
"Gue cuma sedikit memberi pelajaran pada orang brengsek.." Maya menggelengkan kepalanya.
"Bian.. apa yang lo lakukan disini ??" Tanya Rio marah melihat Maya sedang mengobrol dengan Bian.
"Gue mau menagih omongan lo" Rio mengerutkan dahinya binfung. Omongan apa dari dirinya yang ingin ditagih Bian.
"Maya.. lo jangan pergi dulu.. lo akan menjadi saksi disini" tahan Bian sambil menggenggam tangan Maya.
"Dulu lo pernah bilang kalau gue boleh mengambilnya kalau urusan lo dengannya sudah selesai.. dan sekarang gue tagih omongan lo"
Apa maksudnya ???
Rio tidak paham dengan perkataan Bian barusan.
Mengambil apa ???
__ADS_1
"Maksud lo ??"
"Lo hanya menginginkan anak yang di rahim Maya bukan ??? Dan gue harap, setelah Maya melahirkan lo bisa menepati perkataan lo saat Maya pertama kali di bawa kesini"
Rio mengepalkan tangannya, ia ingin sekali menghajar Bian lagi tapi Rio tidak mau berkelahi di depan Maya. Dia harus menahan emosinya, kalau tidak bisa sangat berbahaya bagi R dan Maya karena sekara mereka sedang berada di dekat Bian.
"Gue nggak akan pernah memberikan istri dan anak gue sama lo"
"Seorang pria sejati pasti akan menepati setiap omongannya.." Cibir Bian.
Perkataan Bian seperti sebuah pisau yang mencabik-cabik harga diri Rio.
"Sialan..." umpat Rio didalam hatinya. Dia tidak bisa mengelak lagi.
Rio menatap Maya yang hanya menatap datar kearah dirinya dan Bian.
"Maya.. bersabarlah sebentar, setelah lo melahirkan kita akan pergi dari rumah ini" ucap Bian tulus.
Maya POV
Apa yang barusan Bian katakan. Dia akan membawa dirinya keluar dari rumah ini.
Bukan... ini bukan rumah, tapi neraka..
Bolehkah aku percaya atau menaruh harapan dengan ucapannya ??
Akankah aku merasakan lagi kekecewaan dengan perkataan manis yang orang lain tujukan padaku ??
"Ayo.." Ajak Bian sambil menarik lembut tangan ku.
Hangat....
Aku menatap Bian sambil tersenyum. Bukannya aku tak menyadari kalau saat ini Rio memperhatikanku dengan tatapan marahnya. Tapi aku sudah tidak perduli.
"Sakit" lirih ku pelan.
"Kita kedokter sekarang"
Aku menggeleng. Saat ini aku hanya butuh istirahat.
"Heeeeii.. kalau jalan hati-hati" bentak Bian saat seseorang menabrak ku dengan sengaja.
Siapa lagi kalau bukan calon tunangannya Tuan Rio.
Belum puasnya dia ingin menyakiti aku dan R. Apa dia belum tau kalau Rio marah itu seperti apa.. berani-beraninya dia mau mencelakai R. Aku saja sebagai wanita yang mengandung R, beberapa kali ketakutan karena amarah Rio yang meluap saat aku tidak sengaja melakukan kesalahan yang hampir mencelakai R.
"Uppsss Sorry" ucapnya dengan nada ganjen.
Astaga...
Semoga saja ini terakhir kalinya aku bertemu dia selama aku disini.
"Apa yang lo lakukan ??" Tanya Rio dingin.
Syukurin..
Habis lo dimarah Rio.
"Gue nggak sengaja, siapa suruh jalang itu berdiri ditengah jalan.. emang dia siapa, yang bisa berdiri sesuka hatinya."
__ADS_1
"Dia istri gue.."
Ckk Istri... !!!
Kenapa harus malu mengatakan kalau aku ini hanya seorang pelacur yang dibeli hanya untuk tempat kamu menanam benih kamu di rahim aku.
"Sebentar lagi akan menjadi mantan istri lo" ucapnya sombong.
Aku sangat berharap itu terjadi, kalau boleh saat ini juga aku bisa bercerai dengannya.
"Sampai kapanpun dia akan menjadi istri gue"
"Dia akan menjadi istri lo sampai dia melahirkan, setelah itu hubungan kalian akan berakhir.. ingat itu" timpal Bian.
"Bian.. ayo pergi" ajak ku pada Bian.
"Maya tunggu.." tahan Rio. Dia berjalan menuju kearah ku dengan wajah kesalnya. Sepertinya dia akan melampiaskan kekesalannya pada ku lagi.
"Lo pergi sama gue" tariknya paksa.
Aku hanya bisa tersenyum tipis kearah Bian, berusaha untuk menahannya agar tidak terbawa emosi. Aku tidak mau Bian terlibat masalah dengan Rio, biar cukup aku saja yang menerima semuanya.
"Cepat masukkan semua pakaian Maya ke koper" perintah Rio pada pelayan yang setia berada dikamar ku hanya untuk menjaga ku.
"Apa yang Tuan lakukan ??" Tanyaku panik saat Rio berusaha melepaskan pakaianku dihadapan para pelayan.
Apa dia sudah tidak ada rasa malu ??? Kenapa dia melakukan ini di depan para pelayan.
"Ayo ikut" tariknya ke arah kamar mandi.
"Duduk.." perintahnya untuk menyuruhku duduk di bathtab.
Apa yang ingin dia lakukan ?? Apa dia berniat ingin memandikan ku ??
Rio mengahadpkan shower kearah ku dan menyiram semua tubuhku dengan air yang sedikit hangat.
Aku menarik nafas dengan kesusahan, bagaimana tidak.. air shower itu mengguyur wajahku tanpa hentinya.
Sepertinya Rio berusaha membunuhku dengan perlahan. Kenapa tidak dia menusukkan pisau tepat di jantungku atau menembak kepala ku saja. Bukannya cara itu sangat ampuh membunuh seseorang..
"Mulai sekarang, tidak ada pria yang boleh menyentuh tubuh lo.. terkecuali gue.. kalau lo melanggarnya.."
"Apa ???" Selaku sedikit menantang perkataannya.
"Lo akan menerima hukuman lo seumur hidup lo" senyumnya.
Hukuman.. !!
Hukuman apa yang akan dia berikan padaku ??
Memukuli ku ???
Mengatai ku.. ??
Atau meniduriku dengan paksa..??
Ckk.. aku sudah terbiasa dengan hukuman itu..
"Cepat pakai pakaian lo, kita akan pergi"
__ADS_1
"Kemana ??" Rio menatapku tajam, dia memang paling tidak suka jika aku bertanya padanya.
"Ke sebuah pulau yang hanya ada gue dan lo.."