Baby untuk Mr. R

Baby untuk Mr. R
Part 2


__ADS_3

"Pelayan bilang kamu tidak mau makan " ucap Rio yang tiba-tiba saja berada dibelakang Maya yang asik duduk ditaman belakang.


Semenjak berada dirumah yang megah ini, kebiasaan Maya adalah duduk di taman belakang sambil menikmati pemandangan taman dan sesekali membantu menanam bunga terutama bunga mawar putih kesukaannya.


Maya memang seorang budak tapi tidak ada satupun pekerjaan rumah yang diberikan kepadanya. Bahkan pelayan-pelayan disini berprilaku baik dan hormat kepada dirinya. Kata Tuan, tugasnya hanyalah menjaga kesehatan dirinya sendiri.


Maksudnya apa ??! Sampai saat ini Maya tidak mengerti keinginan dari Tuannya. Belum lagi dengan tes kesehatan yang setiap hari dijalaninya. Terkadang itu membuatnya sangat bosan.


" Maaf Tuan... saya belum lapar "


" Bukannya saya sudah memberitahu kamu kalau kamu harus mengikuti jadwal yang sudah saya buat. Terutama jadwal makan kamu dan minum obat kamu " tegas Rio.


" Tapi Tuan... saya benar-benar tidak lapar"


" Makan sekarang... atau... kalau tidak... saya akan menyuapi kamu dengan paksa... " ancam Rio sambil memegang sendok yang berisi nasi dengan udang di atasnya.


Rio terasa kesal melihat Maya yang mengabaikan perintahnya untuk makan. Dengan paksa Rio memasukkan sendok kemulut Maya. Tidak ada pemberontakan yang dilakukan oleh Maya. Dia sadar kalau dirinya hanyalah seorang budak.


" Uhukkkk... uhuuukk.... " Maya sedikit tersedak.


" Lo nggak apa-apa ??! " Tanya Rio khawatir dan bergegas memberikan air putih kepada Maya.


" Tidak apa-apa tuan " Maya tersenyum tipis.


" Saya bisa melakukannya sendiri Tuan " ucap Maya pelan ketika Rio mau menyuapinya lagi.


" Baiklah... makan yang banyak.. saya tidak ingin kesehatan kamu memburuk " ucap Rio pelan dan pergi meninggalkan Maya sendiri.


Maya menatap Punggung Rio yang semakin jauh dari pandangannya. Terkadang Maya bingung, kenapa Rio selalu bersikap baik pada dirinya yang hanya seorang budak. Walaupun sesekali dia tampak begitu marah.


Tapi... kemarahannya hanya ketika Maya bersikeras untuk tidak makan atau meminum vitaminnya.


" Nyonya.... ini vitaminnya " ucap salah satu pelayan dengan membawa vitamin dinampan yang ia bawa.


" Terimakasih..."


" Nyonya.... maaf, apa boleh saya menanyakan sesuatu kepada nyonya ??! "


" Tanya saja ??!! "


" Apa betul nyonya ini bukan istri Tuan Rio ?!!" Tanya nya dengan raut wajah yang penasaran. Maya menatapnya lekat, dan beberapa detik kemudian tersenyum lembut kearah pelayan itu. Karena wajahnya langsung berubah pucat ketika Maya menatapnya.


" Saya bukan istri Tuan Rio "


" Kalau begitu Nyonya.... ?!! "


" Saya sama seperti kamu bahkan status saya lebih rendah dirumah ini " pelayan itu menatap Maya bingung.


" Saya telah dibeli Tuan Rio, status saya dirumah ini hanyalah seorang budak Tuan Rio" jelas Maya.


" Budak ??!! " Maya mengangguk pelan sambil tersenyum. Lucu sekali melihat ekspresinya yang tidak percaya dengan apa yang barusan Maya katakan.


" Tapi... kenapa Tuan Rio menyuruh kami memanggil nyonya dengan sebutan nyonya ?! "


Maya kembali tersenyum. Sampai saat ini dia juga tidak pernah mengetahui apa alasan dirinya diperlakukan dengan baik disini, bukan selayaknya seorang budak.


" Maafkan saya nyonya kalau saya lancang menanyakan itu "


" Tidak apa-apa... maaf... saya juga tidak pernah tau kenapa Tuan Rio begitu baik kepada saya "


" Kalau begitu saya permisi dulu nyonya "


*******


" Dimana anak saya ??! " teriak seorang perempuan yang suaranya seperti tidak asing ditelinga Maya. Suara gaduh didepan rumah membuat Maya penasaran, karena jarang sekali rumah ini berisik.


Tidak ada yang berani membuat rusuh dirumah ini karena Rio paling benci suasana keributan.


" Bunda.... " teriak Maya kaget saat melihat wanita yang teriak-teriak diluar adalah bundanya sendiri.


Dan apa ini ??!! Kenapa bunda ditarik paksa keluar seperti itu ??!! Bunda akan sakit....


" Keluar kamu ..... " Bentak salah satu pelayan pria dirumah Rio.


" Saya mau ketemu anak saya "


" Tidak ada anak kamu disini " teriak Pelayan pria kesal karena dari tadi wanita itu mencoba menerobos masuk kedalam rumah.


" Ehhhh tunggu.... itu bunda saya " teriak Maya yang berusaha menahan bunda dari belakang karena bunda hampir jatuh akibat tolakan pelayan pria itu yang menolaknya dengan keras.

__ADS_1


" Maya... " peluk bunda sambil terisak. Ini sudah satu bulan bunda mencari anak sematawayangnya.


Bunda memeluk erat tubuh Maya hingga Maya sulit bernafas. Bunda tidak ingin melepaskan anak sematawayangnya lagi. Bunda tidak ingin terpisah lagi sama anaknya.


Cukup sudah bunda melakukan kesalahan karena tidak bersama Maya ketika pria brengsek menculik anaknya.


" Bunda kenapa ada disini ??!! " Tanya Maya pelan berusaha membantu bunda untuk duduk.


Maya memberikan isyarat kepada beberapa pelayan untuk pergi dan membiarkan dirinya dan bunda berdua saja.


" Ayo pergi sayang.... " pujuk bunda sambil menarik-narik tangan Maya sambil terisak.


" Bunda... tenang dulu...  " ucap Maya yang berusaha menenangkan bundanya yang kelihatan panik.


" Ayo sayang pergi... "


" Kemana bunda ??!! "


" Kemana aja, asal kamu tidak disini.. hikkksss... hikkksssss... " Maya memeluk bunda erat berusaha menenangkan bundanya yang terus menerus menangis.


" Maafkan bunda sayang.... maafin bunda.. hikkss... hikkksss ... kalau saja bunda tidak menikah dengan pria brengsek itu mungkin kamu tidak akan menderita seperti ini "


" Bunda...... "


" Bunda nggak pernah menyangkan kalau pria itu tega menjual kamu.... " ucap bunda histeris. Setiap kali mengingat kalau anaknya telah dijual oleh suaminya sendiri hanya untuk melunasi hutang-hutang suaminya. Hati bunda seperti teriris lagi. Begitu sakit...


" Bunda... liat Maya sekarang... Maya tidak menderita disini bunda. Maya hidup bahagia disini... " ucap Maya sedikit berbohong.


Maya harus berbohong agar bunda tidak khawatir terhadap dirinya. Walaupun sampai sekarang perlakuan Tuan Rio baik pada dirinya. Tapi Maya benar-benar merasa tidak nyaman berada disini.


Statusnya sebagai budak telah merampas kebebasannya. Semenjak Maya berada disini, tidak pernah sekalipun dirinya di izinkan keluar dari rumah ini. Setiap saat dia harus mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan Rio untuk dirinya. Dan setiap saat, Maya harus ditemani oleh pelayan-pelayan suruhan Rio.


" Tapi..... "


" Bunda.... Maya tau, bunda sangat khawatir tentang keadaan Maya. Tapi Maya sangat beruntung karena telah dijual disini... " Maya menutup matanya. " Maya bahagia disini.. sangat... sangat bahagia "


" Maafkan bunda "


" Kamu.... kenapa kamu disini ??!! " Ucap Rio khawatir melihat Maya berada diteras dengan keadaan terduduk lemas sambil memeluk seorang wanita yang menangis dipelukkannya.


" Tuuuu....tuuuuaaannn " Suara Maya bergetar saat dia melihat Tuan Rio. Maya takut, kalau Tuan Rio akan marah-marah didepan bunda. Itu akan membuat bunda semakin khawatir dan sedih.


" Maaf tuan.... tapi bunda.... "


" Bunda..... !!!! "


" Saya ibunya Maya " ucap Bunda pelan sesekali tersedu-sedu.


" Oooohh maafkan saya... tapi Maya saat ini harus beristirahat dikamarnya. Tidak ada satu orangpun yang boleh mengganggunya " ucap Rio pelan penuh dengan sopan santun.


" Tapi tuan.... bunda.... "


" Bunda kamu akan tinggal disini sementara waktu... tapi... kamu tidak boleh merubah jadwal yang sudah saya berikan pada kamu "


" Benar tuan ??!!! " Tanya Maya tidak percaya.


" Iya.... dan sekarang kamu harus istirahat.. " Maya mengangguk pelan.


Maya segera membawa bunda ke kamar tamu. Hatinya begitu bahagia bisa bersama bunda walaupun hanya beberapa hari saja. Dan terimakasih untuk Rio yang sudah mengizinkan bunda untuk tinggal disini.


****


" Sudah sarapan ??!! " Tanya Rio pelan. Sudah menjadi kebiasaannya semenjak Maya berada dirumahnya untuk mengecek sendiri apakah Maya mengikuti jadwal yang dibuatnya.


Bukannya Rio tidak percaya dengan pelayan yang disuruhnya untuk memata-matai Maya, tapi Rio ingin memastikannya sendiri.


Maya mengangguk sambil tersenyum lebar. Ini pertama kalinya Rio melihat Maya tersenyum bahagia.


" Baguslah..... "


" Tuan.... apa boleh saya izin pergi keluar hari ini ??!! " Izin Maya pelan, terdengar begitu takut tapi penuh dengan pengharapan.


" Kemana ??!! "


" Saya ingin membawa Bunda pergi jalan-jalan.... saya janji hanya sebentar saja " ucap Maya cepat sebelum ada bantahan dari mulut Rio.


" Hanya 1 Jam ... " pujuk Maya.


" 30 menit .... "

__ADS_1


" Baiklah... tapi ingat... hanya 30 menit... kalau dalam 30 menit kamu belum kembali, saya pastikan...... "


" Saya janji..... "


" Nanti saya akan suruh supir mengantarkan kalian... dan ini.... " Rio memberikan sebuah credit card kepada Maya.


" Apa ini tuan ??!  "


" Kamu tidak tau ini ??!! "


" Saya tau... tapi... ini untuk apa tuan ??!! " Tanya Maya bingung. Untuk apa Rio memberikannya sebuah credit card, apalagi itu unlimited.


" Gunakan ini jika nanti kamu dan ibu kamu membutuhkan sesuatu " ucapnya pelan tapi tegas, berarti Rio tidak ingin mendengar kata penolakan dari bibir Maya.


" Terimakasih tuan "


Anggap saja ini berkah dari tuhan atas penderitaan yang selama ini Maya rasakan. Walaupun dia telah dibeli, tapi selama disini Maya tidak diperlakukan dengan buruk. Bahkan kali ini Rio juga ikut memperhatikan bunda.


" Tuan... " sapa bunda ramah ketika berpapasan dengan Rio di pintu depan kamar Maya.


Seperti biasanya, jika mode angkuh Rio telah dinyalakan. Dia akan berubah seperti robot. Tidak akan ada senyuman ramah di wajahnya, tidak ada kata-kata yang keluar dibibirnya. Dia akan berjalan dengan pandangan lurus kedepan tanpa menoleh ke kanan ataupun kekiri. Seandainya ada lubang yang dalam dihadapannya, mungkin Rio tidak akan pernah sadar dan akan jatuh kedalamnya.


" Tuan memang seperti itu " Maya mencoba menjelaskan kepada bunda yang terlihat tidak senang diperlakukan seperti itu. Seakan-akan tidak menghormati orang tua.


Kalau soal sopan santun, bunda juaranya. Walaupun kami penuh dengan kekurangan, tapi bunda selalu mengajarkan kepada Maya tentang kejujuran, adat dan sopan santun. Dan terutama tidak mengemis sama orang lain. Tapi sialnya, bunda harus menjalani hidup dengan pria brengsek yang menjabat sebagai ayah tiri Maya.


" Apa dia selalu seperti itu ??!! " Maya mengangguk pelan sambil terkekeh pelan melihat bundanya yang tiba-tiba saja kepo dengan tuan nya.


" Kasihan sekali.... "


" Bukan Tuan Rio yang patut dikasihani bunda... tapi kita.... nasib kita yang pantas untuk dikasihani "


" Maafin bunda.... " ucap bunda dengan nada bersalah. Tuch kan jadi melo lagi.. kalau begini terus kapan bisa jalan-jalannya. Padahal waktu yang diberikan hanya 30 menit.


" Mmm bunda... kita shopping yukkk " ajak Maya yang langsung menarik tangan bunda untuk keluar dari kamarnya.


" Emang kamu ada uang ??!! " Maya menunjukkan credit cardnya dengan bangga kepada bunda. Kali ini apapun yang diinginkan bunda pasti akan Maya belikan. Walaupun dia harus membayar semua tagihannya dengan nyawanya sendiri.


" Dari mana kamu dapatkan itu ??!! " Bentak bunda.


" Tuan yang memberikan ini pada Maya.. "


" Tapi... "


" Ini gaji dan bonus Maya.. bunda... selama berada disini, tidak pernah sepeserpun Maya menggunakan uang Maya " jelas Maya yang dibumbui sedikit kebohongan.


Mana ada seorang budak digaji....


*****


Semenjak pulang dari shopping, kepala Maya terasa pusing. Dari tadi dia hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya.


Ada beberapa pelayan yang setia menjaganya dikamar. Wajah mereka terlihat pucat, sama pucatnya seperti wajah Maya saat ini. Apa mereka juga sakit ??!!


" Nyonya.... minum vitaminnya dulu " pinta seorang pelayang yang sudah membawa vitamin dan segelas air putih.


Maya menggeleng pelan. Dia muak harus meminum vitamin terus menerus.


" Saya mohon nyonya... ini sudah waktunya nyonya meminum ini " pujuknya dengan suara memelas. Ini bukan pertama kalinya pelayan dirumah ini memelas kepadanya hanya untuk menyuruh Maya meminum vitaminnya.


Alasan utamannya... apalagi kalau bukan takut dimarahi Rio. Jika perintahnya tidak dituruti, bukan hanya satu pelayang yang akan dimarahinya tapi seluruh pelayan dirumah ini akan terkena imbasnya.


" Jika Tuan datang..... "


" Ada apa ??!! " Tanya seseorang dengan suara baritonnya. Suara yang paling ditakuti dirumah ini. Siapa lagi kalau bukan Rio.


" Kamu kenapa ??!! " Tanya Rio mendekati Maya yang terbaring lemah di tempat tidur.


" Tadi nyonya hampir pingsan Tuan " ucap pelayan yang tadi memberikan vitamin kepada Maya dengan suara ketakutan dan tertunduk, tidak berani menatap Rio.


" Pingsan !!!!! Apa sudah telphone dokter " semuanya menggeleng serempak.


" Bodoh..... " bentak Rio. " Cepat telphone dokter " perintahnya. Kali ini wajah Rio berubah menjadi sangat khawatir.


Tidak butuh waktu lama, dokter yang ditelphone salah satu pelayan kini sudah berada dikamar Maya. Dengan serius dokter memeriksa Maya.


" Selamat Tuan... " ucapnya gembira.


Selamat.... !!!! Selamat kenapa ??!!!

__ADS_1


__ADS_2