Baby untuk Mr. R

Baby untuk Mr. R
Part 5


__ADS_3

Maya menggeliatkan tubuhnya. Maya tersenyum tipis menatap pria yang sedang memeluknya erat sambil tertidur pulas. Hari ini, hari pertama dia sebagai istri Tuannya.


Istri yang hanya akan melahirkan anak Rio.


Gumamnya didalam hati, untuk mengingatkan dirinya lagi kalau Rio menikahinya karena anak yang sekarang berada didalam rahimnya. Setelah anak ini lahir.. maka berakhirlah status ini, statusnya sebagai seorang istri.


Tak terasa air matanya jatuh tepat ke pipi Rio, membuat Rio menggeliat pelan dan membuka matanya yang masih terasa kantuk.


" Ada apa ?! " Tanya Rio panik karena melihat Maya dengan air matanya yang mengalir membasahi wajah Maya. " Ada yang sakit ??! " Maya menggeleng pelan sambil tersenyum.


" Lapar.... "


" Astaga... kenapa nggak pergi makan ??! "


" Nggak bisa lepas " Maya menunjuk tangan Rio yang begitu possesive memeluk tubuhnya.


" Maaf.... " Rio langsung melepaskan dekapannya dan mengambiil telphone disampingnya. " Siapkan sarapan, nyonya mau makan " ucapnya tegas.


" ....... "


" Siapkan susu, cereals, buah dan Vitamin untuk nyonya... " Maya menutup mulutnya mendengar Rio menyebutkan kata Susu.


" ........ "


" Panggil beberapa pelayan ke kamar saya, bantu Nyonya siap-siap.. saya akan membawa nyonya ke kantor " Titah Rio tanpa menanyakan pendapat Maya sedikitpun.


" Ke Kaaannnttooorrr ??! " Tanya Maya canggung. Apa dia tidak salah dengar, Rio ingin membawanya ke kantor ??! tapi kenapa ??! Biasanya juga dia ditinggal sendiri dirumah.


" Iya... hari ini gue ada meeting sampai malam.. "


" Tapi.. kenapa saya harus ikut... ??! " tanya Maya takut.


" Kan sudah gue katakan, kemanapun gue berada lo harus didekat gue ... "


" Tapi..... "


" Tapi apa ??? "


" Saya tidak mau mengganggu Kamu meeting "


" Tenang saja...  nggak akan pernah ada yang merasa terganggu dengan kehadiran lo dan R disana "


Maya terdiam.. dan memilih untuk mengikuti perintah Rio.


****


" Selamat pagi pak... " Sapa para karyawan serentak saat Rio melewati mereka.


Maya menatap takjub kearah Rio yang berjalan di depannya. Ternyata Suaminya ini begitu menakutkan jika berada di kantor.


" Leon.... " Panggil Rio pada seseorang yang berada tak jauh dari Maya berdiri.


" Iya Tuan... "


" Siapkan kursi yang empuk untuk istri saya.. dia akan ikut meeting hari ini bersama saya " perintah Rio yang langsung dikerjakan oleh Leon.


Rio berbalik dan menatap Maya heran " Kenapa ??! " tanyanya pelan sambil melangkahkan kakinya tepat dihadapan Maya.


" R.... laper ??!! " Tanyanya pelan sambil mengelus lembut perut Maya yang masih tampak datar.


Maya menggeleng pelan... " R mau apa ?! " Tanya Rio lagi membuat Maya mendesah pelan.


Semenjak Maya hamil, entah kenapa Maya merasa tingkat sensitive Rio lebih tajam dari dirinya. Rio bahkan tau kalau sekarang Maya sedang menginginkan sesuatu hanya dengan menatap mata Maya, padahal Maya sudah bertingkah senatural mungkin agar tidak ketahuan.


" R... katakan... mau apa. ??!! "


" Anu Tuan... saya... eh... kami... eh... R... aduhh. " ucap Maya terbata bata sekaligus bingung untuk mengucapkan keinginannya.


" Apa. ??! "


" Saya... eh maksud saya R pengen peluk pria yang tadi... " ucap Maya sambil memejamkan matanya. Takut kalau Rio marah.


" Pria mana. ??!! " tanya Rio datar.


" Pria yang akan membawakan kursi buat saya." Rio memincingkan matanya tidak suka.


Tidak ada seorangpun yang boleh menyentuh miliknya, apalagi yang paling berharga dari hidupnya.


" Lo.... jangan mengatasnamakan R, jika ingin menggoda pria lain... " ucap Rio datar.


Maya terdiam, dirinya sama sekali tidak bermaksud untuk menggoda siapapun. Harum tubuh pria itu yang mengusik dirinya. Tiba-tiba saja Maya ingin memeluk tubuh pria itu dan mencium lebih dalam aroma tubuh pria yang membuatnya jauh lebih tenang.


" Disini hanya boleh gue yang memeluk elo.. karena hanya gue yang berhak menyentuh R.. ngerti lo. " tegas Rio.


" Ngerti... "

__ADS_1


" Sekarang lo diam disini saja.. gue mau meeting.. kalau ada apa-apa lo bisa panggil Diana..."


" Diana siapa tuan ??! "


" Diana itu salah satu karyawan disini.. ini, kamu tinggal pencet no 4 di line ini... kamu sudah bisa menghubungi Diana.. "


" Baik Tuan... "


" Satu hal lagi... selama gue nggak ada disini, didekat R... jangan pernah lo menggoda pria lain.. " Ancamnya.


Maya tertunduk sedih, dia sama sekali tidak berniat menggoda pria lain.


" Permisi bu... " siapa seorang wanita yang tampak cantik dengan stelan baju kerja ala-ala karyawan kantoran membuat Maya sedikit iri melihat nya.


" Saya Diana, saya ditugaskan tuan untuk menemani Ini selama Tuan meeting " ucapnya pelan kemudian duduk di depan Maya.


Beberapa kali Maya melirik kearah Diana, membuat wanita Itu sedikit risih Dengan lirikkan Maya.


" Hmmm... Diana... "


" Iya bu... Ada yang bisa saya bantu ?!! " Tanya Diana sedikit takut. Pasalnya boss besar sudah berpesan jangan pernah membuat Istrinya merasa tidak nyaman, Kalau sampai itu terjadi kerjaan nya sebagai taruhannya.


" Kamu beli baju yang kamu kenakan dimana ??! " Tanya Maya ragu.


" Oo Ini saya beli di mall Bulan bu... kenapa bu ??! "


" Kamu terlihat cantik mengenakan baju Itu " ucap Maya kagum.


" Terimakasih bu " ucap Diana tersipu malu.


" Kamu sudah lama kerja disini ?! "


" Sudah 5 Tahun bu.. "


" cukup lama yach... seneng yach bisa kerja seperti ini " Maya tersenyum tipis, dulu dia sangat menginginkan kerjaan dikantoran. Tapi Itu hanya sekedar mimpi belaka, kenyataan nya sekarang kerjaan Maya hanya menyewakan rahimnya dan dirinya untuk Rio.


Miris bukan nasib nya... Tapi Itu sudah takdir yang harus Maya jalani. Walaupun menyakitkan, Tapi setidaknya dia terbebas dari jeratan hutang, terutama pada ayah tirinya yang bajingan itu.


" Akhhh " ringis Maya sambil memegang perutnya.


" Ada apa nyonya ??!! " Tanya Diana panik.


" Laper... heheheee " entah kenapa semenjak Maya hamil, perut nya selalu merasa lapar.


" Hmmm saya Mau sate, nasi goreng, ayam goreng plus sambal yang pedas dan jangan lupa telor ceploknya... " Diana terperanga mendengar ucapan Maya. Makanan se banyak itu apa bisa di habis kan sendiri ?!


" Minumnya nyonya ?! " Tanya Dinda pelan.


" Saya hanya minum air putih saja.. "


" Baik nyonya akan saya pesankan sekarang.. "


" Tunggu... "


" Ada lagi yang Mau di pesan nyonya ??! "


" Bisakah kamu disini saja, menemani saya "


" Baik nyonya... saya akan menyuruh OB sama untuk membeli kan makanan nyonya " Maya tersenyum.


****


" Dimana Maya dan R ?!! " Tanya Rio datar saat dia memasuki ruang kerja nya.


" Nyonya sedang beristirahat Tuan, di ruang ganti Tuan "


" Apa dia memakan semua makanan ini ??! " Tanya Rio dengan mata terbelalak melihat begitu banyak tempat makanan yang sudah kosong di atas meja nya.


" Iya Tuan... nyonya yang memakannya semua.. kata nyonya, dia merasa lapar "


Rio tersenyum lebar, dia sangat senang Kalau Maya mengikuti perintahnya untuk selalu menjaga R.


" Astaga... Ini pertama kali nya Tuan tersenyum seperti ini... ya Tuhan... manis banget " Teriak Dinda didalam hati nya.


" Kamu boleh keluar...  Dan satu hal lagi,  saya nggak mau di ganggu satu jam ini "


"  Baik tuan...  "


Dengan pelan Rio membuka kamar gantinya,  dia tersenyum tipis melihat gaya tidur Maya yang sedikit urak-urakkan untuk ukuran wanita. 


"  Baby R...  Sepertinya kamu jago makannya yach...  " ucap Rio geli mengingat beberapa tempat kosong yang ada di meja kantornya. 


" Hmmm...  " Maya bergerak gelisah di dalam tidurnya. 


" Rio....  " Maya melebarkan tangannya dengan mata yang masih tertutup. 

__ADS_1


" Sepertinya dia mengigau..  " ucap Rio sambil tertawa tipis melihat tingkah lucu istrinya. 


" Peluk...  " pinta Maya dengan suara manjanya.. " Rio...  Peluk.. " dengan pelan Rio merebahkan tubuhnya disamping Maya dan memeluknya dengan lembut. 


Seperti seekor ulat, Maya bergerak kearah ketiak Rio dan membenamkan kepalanya disana.  Membuat Rio terkekeh melihat tingkah lucu Maya. 


" hmm anak papa nakal yach..  Kenapa sich suka nempel di ketiak papi,  apa nggak bau ?!! " Tanya Rio pelan sambil mengusap perut Maya. 


" Coba sekali-kali R suruh mama nangkring di leher papa..  Kan papa bisa...  Akhh..  " Rio tersentak. 


Kenapa dia bisa berfikiran seperti itu..  Ini tidak boleh..  Tidak boleh.. 


Rio tidak boleh melakukan hal lebih terhadap Maya.  Gadis ini hanya sebagai wadah untuk R, tidak lebih. 


"  Tuan..  " panggil seseorang dari luar kamar istirahatnya. 


" Ya..  "


" Ada yang ingin bertemu sama Tuan "


" Siapa ?!  "


" Alisya...  "


"  Apa ?!!  " sentak Rio kaget.


" Mau apa wanita jalang itu kesini ?!!  " geram Rio tanpa sadar telah mengusik tidur Maya. 


" Ehh..  Tuan..  " sentak Maya kaget saat dia membuka matanya,  dia melihat Rio sedang memeluknya erat. 


" Hangat..  " bathin Maya. 


" Maaf..  Papa sudah membuat R bangun  "


" Tidak apa-apa Tuan.. " Maya tersenyum kecut. 


" Apa R lapar  " Maya menggeleng pelan. 


" Kalau begitu R mau apa ?!!  " tanya Rio sambil menatap ke arah perut Maya. 


" Bisakah Tuan menanyakan itu pada saya ?!!  "


"  Maya...  "


" Eh..  Iya tuan.. R Nggak mau apa-apa..  " ucap Maya kikuk. 


" Kalau gitu,  gue keluar dulu.. "


Maya bersungut di tempat tidurnya.  Rasa bosan kini menghampirinya.  Ingin rasanya dia ikut pergi keluar bersama Rio,  tapi takut. 


Perlahan Maya melangkahkan kakinya menuju pintu.  Didekatkannya telinga nya di daun pintu berusaha menguping apakah ada orang di luar sana. 


" Sepi..  " lirih Maya bersemangat.  Akhirnya dia bisa keluar dari kamar ini.


" Rio..  Tunggu..  " Teriak seseorang saat Maya membuka pintu kamarnya. 


Dua mata itu menatap Maya dengan tatapan terkejut sedetik kemudian dia menatap Maya dengan mata nyalang. 


" Siapa jalang itu Rio..  " tunjuknya tepat ke arah Maya. 


" Jangan Berani-berani nya kau sebut dia Jalang..  Dia itu istri gue,  ibu dari anak gue yang sedang dikandungnya..  " ujar Rio tegas membuat rahang wanita itu mengeras. 


" istri.. !!  Anak !!  "


" Ya..  Dia istri gue..  Dan ibu dari calon anak gue.. "


"  Haha jangan bercanda Rio..  Pernikahan kita lagi dipersiapkan oleh keluarga kita dan lo nggak mungkin sudah menikah.. " Rio tersenyum sinis. 


" Sudah gue bilang berulang kali,  gue nggak pernah mau menikah dengan lo..  Dan asal lo tau,  keluarga gue mau menyiapkan pernikahan ini hanya karena mereka menginginkan keturunan,  nggak lebih..  Dan  sekarang,  gue sudah memiliki keturunan " tunjuk Rio pada perut maya yang belum kelihatan membesar. 


" dan gue harap lo pergi dari hidup gue..  " tegas Rio. 


" Gue nggak akan pergi...  Gue akan hancurin pernikahan kalian " teriak Alisya murka ssbelum dua satpam dengan tubuh tegap menyeretnya keluar dengan paksa. 


" R nggak apa-apa?!  " Tanya Rio panik. 


Maya menggeleng sambil tersenyum. 


" Sebaiknya kita pulang sekarang..  "


" Tapi..  "


" Apa... !!!  " Dengan spontan Maya memeluk erat tubuh Rio hingga tubuh pria itu menegang seketika. 


" Terimakasih " Ujar Maya lembut sambil mengecup dahi Rio lama. 

__ADS_1


__ADS_2