Baby untuk Mr. R

Baby untuk Mr. R
Part 15


__ADS_3

"Bagaimana ?? Apa mereka sudah di temukan ??" Tanya Bian pada bodyguardnya yang dia perintahkan untuk mencari keberadaan Rio dan Maya.


"Belum ada Tuan" ucapnya sedikit takut.


Hari ini tepat seminggu, Rio membawa Maya pergi. Tapi sampai detik ini juga Bian tidak bisa menemukan keberadaan mereka. Mereka seperti hilang di telan bumi.


Dia tidak pernah memikirkan bagaimana keadaan Rio, sahabatnya itu. Karena Bian sangat yakin, Rio akan menjaga dirinya sendiri dengan baik. Yang sekarang menghantui fikiran dan hatinya adalah sosok Maya.


Apa dia baik-baik saja bersama dengan Rio ?? Apa Rio menyakitinya lagi ?? Apa kehamilannya baik-baik saja ??


Belakangan ini, pertanyaan itu selalu menghantui fikirannya. Bahkan, Bian tidak bisa fokus terhadap apapun. Saat dia tertidur pun, dia pasti terbangun dengan gelisah karena memimpikan Maya yang sedang menangis sambil memegangi perutnya.


"Kenapa kalian masih disini ?? Cepat cari mereka lagi" perintah Bian sambil berteriak kencang.


Maya... lo dimana ???


Bian mengambil sebuah bingkai foto yang dia sembunyikan dibalik laci meja kantornya.


Tampak sebuah gadis kecil yang sedang memakan lolipop, duduk sambil tersenyum dibawah pohon yang rimbun.


Rambutnya yang tersibak angin, membuatnya semakin tampak lucu. Apalagi saat rambutnya mengenai pipinya dan dia berusaha untuk menepisnya, tangan mungilnya itu bahkan tidak mampu melepaskan rambutnya sendiri yang melekat di pipinya.


"Sayang"


Bian menatap sang pemilik suara yang memanggilnya "sayang"


"Mommy... kenapa mommy kesini ??" Tanya nya takut ketika melihat seorang wanita paruh baya sedang mendekatinya.


"Mommy kangen" lirihnya dengan nada suara bergetar menahan rasa kepedihan dan kesedihan karena terlalu merindui sang buah hati yang tidak bisa ia temui setiap hari.


"Nanti kalau si Tua bangka itu melihat Mommy disini, bagaimana ??"


"Biarkan saja dia melihat Mommy"


"Tapi.. nanti dia.."


"Dia tidak akan bisa mengancam mommy lagi" tukas Mommy penuh percaya diri.


Selain dia merindui putranya, mommy kesini karena ada alasan lain juga. Dia membawakan sebuah bukti yang bisa membuat orang yang selama ini menghancurkan keluarganya hancur berkeping-keping.


Walaupun dengan kedatangannya, dia malah seperti menghantarkan nyawanya sendiri. Itu tidak masalah buat mommy. Cukup dia yang menjadi korban, jangan sampai putra satu-satunya juga menjadi korban kebiadapan pria tua bangka itu.


Beberapa tahun ini mommy memendam rasa sakitnya melihat orang-orang yang dia cintai pergi meninggalkannya hanya untuk melindunginya. Sekarang waktunya bagi dirinya yang berkorban untuk melindungi orang yang dia cintai.


"Kamu merinduinya ??" Tanya Mommy pelan. Tatapannya tertuju pada foto gadis kecil yang berada di tangan Bian.


Bian mengangguk sambil tersenyum lirih. Ya.. dia sangat merindukan gadis kecil yang ada di foto ini.


"Maaf kan Mommy" ucap Mommy penuh dengan penyesalan. Air matanya tumpah tanpa ia sadari. Hatinya sesak menahan rasa sakit, kepalanya berat karena tidak kuasa menahan ingatan pahit yang selama ini berusaha dia kubur dalam-dalam di dalam kepalanya.


"Kenapa Mommy harus minta maaf ?? Ini bukan kesalahan Mommy"


"Kalau saja waktu itu Mommy tidak membawa kalian ke taman, mungkin sampai saat ini kalian masih tetap bersama" sesal Mommy.


"Jangan menyalahkan diri mommy lagi.. semua ini karena pria tua itu, dia yang memisahkan kita. Sekarang kita bisa bersama, nanti kita pasti akan bersamanya lagi."


"Semoga saja kita bisa bersama lagi" ucap mommy pasrah.


****


Maya terbangun mendengar suara merdu yang sedari tadi menyanyikan lagu yang asing di telinga Maya namun terdengar begitu indah.


Liriknya seolah-olah menggambarkan kebahagiaan seseorang yang telah menumakan cinta. Tapi siapa yang bernyanyi disini ??


Dengan sedikit sempoyongan karena baru saja bangun dari tidurnya yang nyeyak, Maya berusaha mencari suara merdu itu berasal.

__ADS_1


Maya sangat menyukai suara itu, bahkan Baby R juga menyukainya. Mereka terbuai dengan alunan nada yang di dendangkan walaupun tanpa musik yang mengiringinya.


"Ehh.. sayang sudah bangun" cengir Rio.


Maya terperanga melihat sosok pria yang ada dihadapannya. Rio tampak sexy dengan celemek yang bertengger didadanya yang tidak menggunakan busana. Tangannya yang kekar, mahir memainkan spatula. Rambutnya yang basah karena keringat membuatnya semakin Hot di mata Maya.


Ya Tuhan... kenapa beberapa hari ini engkau mengubah Setan menjadi Malaikat seperti ini. Disaat Maya sudah lelah dan menyerah dengan takdir hidupnya, dan kini Maya seperti mendapatkan harapan baru untuk mencapai kebahagiaannya.


"Sedang apa ??" Tanya Maya sambil berjalan mendekati Rio yang masih sibuk dengan peralatan dapurnya.


"Masak buat kamu dan baby R" ucap nya pelan. "Kamu pasti laparkan ???"


Maya mengangguk, namun ada segurat kekecewaan di wajah Maya bercampur dengan kebahagiaan.


Kalian pasti bingung dengan apa yang Maya rasakan.. entahlah, dia juga bingung dengan apa yang dia rasakan saat ini.


Maya bahagia, Rio membuatkan nya makanan. Apalagi sekarang Rio memanggil dirinya dengan sebutan Kamu, terdengar begitu dekat. Tapi ada rasa kekecewaan di hatinya, karena sejak dia berada dihadapan Rio. Rio malah berhenti bernyanyi dan semakin sibuk dengan peralatan masaknya. Padahal Maya kesini karena penasaran dengan suara merdu yang dia dengar.


"Kenapa ?? Kok mukanya jadi cemberut gitu ??"


"Kenapa berhenti bernyanyi ??" Tanya Maya kesal.


"Kamu mau aku nyanyi lagi ??" Maya mengangguk semangat. Dia sangat ingin mendengat suara merdu Rio lagi.


"Ok.. tapi ada syaratnya"


"Kok pake syarat melulu sih ?"


"Pasti donk sayang.. syarat itu wajib di ajukan"


"Syarat apa ??" Tanya Maya waspada. Sudah bisa di tebak, syaratnya pasti tak jauh-jauh dari hal-hal yang berbau mesum.


"Jangan bilang, kamu mau kita mandi bersama lagi ?" Tanya Maya sambil menahan malu mengingat bagaimana mereka melakukan Itu dikamar mandi.


Janji !!! Kapan ???


Maya mengedipkan matanya beberapa kali, dia berfikir keras kapan dia berjanji mau mandi bersama dengan Rio setiap hari.


"Terus syarat apa donk"


"Syaratnya akan aku utarakan nanti.. sekarang kita makan dulu, sudah itu kita mandi. Aku sudah bau asem nih" ucap Rio bernada centil.


"Nyanyi nya mana ??"


"Nanti dikamar mandi. Aku akan nyanyikan semua lagu kesukaan kamu sambil memandikan kamu sayang"


"Hanya memandikan saja kan ??" Ucap Maya berusaha memastikan kalau mereka hanya melakukan ritual mandi seperti biasanya tanpa melakukan adegan panas seperti tadi malam.


"Apa kamu mau kita melakukannya lagi ??" Goda Rio. Maya dengan cepat menggeleng.


Melakukannya lagi.. ??


Uhfftt ini saja masih terasa sangat capek, apalagi melakukannya lagi. Rasanya Maya tidak akan sanggup.


****


"Baby.. ayo bangun.."


"Eehhhnngg" erang Alisya yang masih enggan untuk bangun walaupun sudah beberapa kali sang Daddy mencoba untuk membangunkannya.


"Daddy punya hadiah buat kamu, ayo cepat bangun" ucapnya lagi sambil memperlihatkan Black Card yang ada di tangannya.


"Kamu tidak mau ini, baby" tanyanya karena Alisya tidak merespon apa yang di ucapkannya.


"Sudah lah kalau begitu, sepertinya kamu tidak tertarik dengan apa yang daddy berikan"

__ADS_1


"Tunggu daddy" Alisya membuka matanya dengan terpaksa. Dia berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya dengan rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya. Bahkan terlihat jelas kalau ditubuhnya banyak terdapat luka dan lebam akibat perbuatan sang Daddy nya tadi malam.


"Berikan itu pada ku" ucap Alisya dengan senyum menggodanya.


"Kira daddy kamu tidak menginginkannya, baby"


"Aku menginginkannya dad.. tapi"


"Tapi apa ???"


"Tapi aku lebih menginginkan kehancuran Rio, dad"


Sang daddy tersenyum. Dia mengecup pelan kening Maya. "Kamu akan mendapatkannya, baby" ucapnya penuh dengan keyakinan.


"Yes... sebentar lagi, lo akan menjadi milik gue Rio" bathin Alisya bersorak gembira.


"Sebaiknya sekarang kamu mandi, dan berdandan yang cantik. Sebentar lagi teman-teman Daddy akan datang. Layani mereka"


Maya menelan ludahnya sambil menatap takut punggung sang daddy yang mulai menjauh darinya.


Apa yang barusan dia dengar ?? Layani mereka..!! Teman-teman daddy nya ??


Ya tuhan.. belum kering luka-luka yang ada di tubuh Alisya dan sekarang dia harus melayani para binatang itu lagi ???


Tuhan... tolong...


****


Maya tersenyum bahagia sambil menatap dirinya didepan kaca. Rio benar-benar menyanyikan semua lagu yang ingin Maya dengar.


"Cantik" ucap Rio sambil memeluk Maya dari belakang dan menautkan kepalanya tepat di bahu Maya sembari tersenyum bahagia melihat bayangan diri mereka dari kaca.


"Ichhh jangan di kecup terus" risih Maya karena Rio selalu menghujani dirinya dengan kecupan-kecupan lembut dan terkadang juga dibarengi dengan kecupan yang panas. Membuat hormonnya bergejolak lagi. Dan itu sangat menyiksa bathinnya.


"Kecupan seperti ini tuh wajib sayang" seringai Rio yang lagi-lagi menghujani kecupan di leher dan pundak Maya. Membuat Maya mengerang tertahan.


"Ayo"


"Mau kemana ??" Tanya Maya heran saat tangannya di tarik lembut oleh Rio.


"Mau menagih janji kamu"


"Syarat yang belum kamu ajukan itu"


"Yap.."


"Tapi kenapa harus pergi, disini saja. Aku capek, Rio"


"Ini tidak akan menguras tenaga kamu kok sayang, aku janji" Rio mengajak Maya ke sebuah ruangan yang belum pernah Maya datangi.


Maya menatap takjub dengan isi ruangan yang penuh dengan foto-foto dirinya dan juga beberapa foto Rio. Namun kenapa disana ada sebuah bingkai foto yang besar namun tidak ada isinya.


"Lihat... ini foto kamu saat termenung sambil menatap taman di rumah kita. Dan lihat ini, ini foto favorite aku. Foto kamu tertawa lepas sambil menatap baby R dengan penuh cinta." Rio terdiam, raut wajahnya berubah menjadi sendu.


"Sempat aku mengira kalau kamu membencinya, Maya"


"Dia anak ku Rio. Seorang ibu tidak akan pernah membeci anaknya sendiri walaupun dia terlahir tanpa ada cinta dari kedua orang tuanya."


"Aku mencintai kamu Maya, bukan kah aku sudah mengatakannya" ucap Rio saat melihat ada keraguan di wajah Maya.


"Maya... dengarkan.. aku mencintai kamu dan baby R.. aku sangat mencintai kalian, sampai aku berada di fase dimana aku sangat takut kehilangan kalian. Aku merasa ingin gila saat aku melihat kamu dan Bian bersama. Please, jangan pernah bilang kalau aku tidak mencintai kalian"


Maya menitikan air matanya. Ini bukan air mata kepedihan tapi ini air mata kebahagiaan. Dia juga mencintai Rio, sangat mencintainya.


"Maya.. menikahlah dengan ku"

__ADS_1


__ADS_2