Baby untuk Mr. R

Baby untuk Mr. R
Part 19


__ADS_3

"Rio.. dia itu"


Bugghhh..


Satu hantaman keras tepat mengenai perut Bian. Cukup keras hingga membuatnya terbatuk batuk menahan rasa nyeri diperutnya.


"Kenapa kamu pukul kak Bian" teriak Maya histeris.


"Ckkk masih untung aku hanya pukul sekali, itupun di perutnya bukan diwajahnya"


"Jahat... hikksss.. kamu jahat.." Maya terisak. Ternyata selama ini dia salah.


"Kamu tidak berubah Rio. Apa belum cukup kamu menyakiti aku sampai kamu juga tega menyakiti kak Bian"


"Kamu bilang aku menyakiti kamu ?? Haa... kalian yang sudah menyakiti aku. Didepan mata aku sendiri kalian berpelukan. Bermesraan.. apa kalian fikir aku ini hanyalah bayangan saja yang bisa kalian injak seenaknya" Rio menatap Maya tajam, tapi kali ini tatapannya sangat memancarkan kesedihan dan kepedihan.


Maya, wanita yang telah membuatnya percaya akan cinta kini malah membuatnya hancur tidak tersisa.


"Kamu tidak pantas ngomong seperti itu"


"Kenapa aku tidak pantas ??? Aku suami kamu.."


"Tapi dia kakak kandung aku Rio" teriak Maya.


"Ka-kakak kandung ??" Rio menatap Maya bingung. Apa maksud Maya yang mengatakan kalau Bian itu kakak kandungnya.


"Ckkk sudah gue bilang, lo itu bodoh."


"Kamu dan Bian, kakak adik"


"Ya.. kak Bian itu saudara kembarnya aku"


Rio menggelengkan kepalanya tidak percaya. Mereka tidak mungkin kakak adik, apalagi kembar. Wajah mereka saja tidak sama. Mereka pasti sedang berbohong.


"Bohong"


"Aku nggak bohong Rio"


"Kenapa baru sekarang kalian bilang kalau kalian saudara, kenapa tidak dari dulu saat kalian pertama kali bertemu"


"Karena aku selama ini hilang ingatan" ujar Maya sedih.


"Gue masih menyelidiki apa benar Maya adalah adik yang selama ini gue cari. Tapi setelah Maya hampir keguguran, gue baru tau kalau Maya itu memang benar adik gue"


"Terus kenapa lo berusaha merebut Maya dari gue"


"Ckkk.." Bian berusaha untuk berdiri walaupun untuk bergerak sedikit dia sudah tidak mampu.


"Kalau lo jadi gue, apa yang akan lo lakuin" Bian menyandarkan dirinya dengan susah payah pada sofa yang tadi sempat dia gunakan sebagai tempat tidur.


"Seorang kakak tidak akan rela melihat adiknya terus menerus disiksa oleh orang lain. Apalagi gue tau lo siapa.. dan gue sangat tau, kalau tidak ada kata CINTA di kamus hidup lo" tegas Bian yang mempertegas kata Cinta dihadapan Rio.


Sejujurnya Bian masih tidak percaya dengan ketulusan yang diberikan Rio. Tapi hatinya sedikit lunak ketika dia melihat bagaimana Rio bersikap saat Maya tidak sadarkan diri.


Rio mematung. Ya, kalau dia menjadi Bian. Dia juga tidak akan pernah membiarkan saudaranya di tindas seperti yang dia lakukan dulu sama Maya. Bahkan Rio tidak akan diam saja, dia akan membunuh orang itu.

__ADS_1


"Gue akan berikan bukti test DNA gue dan Maya. Kalau lo masih tidak percaya sama kita"


Rio mendekati Maya, memeluknya dengan lembut dan mengecup pucuk kepala Maya pelan seraya berkata Maaf  dengan penuh sesal. Lagi dan lagi, dia sudah membuat Maya nya terluka.


"Tidak semudah itu meminta maaf Rio" dengus Bian kesal. Rio melirik Bian dengan tatapan tidak suka. Jangan sampai Maya terprovokasi dengan ucapan Bian.


"Maya, nanti pulang sama kakak ya"


"Pulang kemana ??"


"Kerumah kita"


"Tidak boleh" tegas Rio. Enak saja Bian ingin membawa Maya nya pergi.


"Mau kan ??" Tanya Bian tanpa menghiraukan larangan dari Rio. Maya menatap Rio dengan tatapan memohon agar dia bisa ikut dengan Bian.


Tapi Rio tetaplah Rio. Dia tidak ingin Maya meninggalkannya. Bagaimanapun juga Bian yang sekarang ada dihadapannya ini bukan Bian sahabatnya dulu. Bian yang sekarang, Bian yang menaruh kebencian pada Rio. Kalau Rio tetap mengizinkan Maya ikut dengan Bian, dia takut Bian tidak akan pernah mengembalikan Maya kepadanya lagi.


"Maya tidak boleh kemana-mana, kondisinya masih lemah"


"Kamu tidak pengen ketemu sama mama??" Lagi-lagi Bian tidak menghiraukan Rio.


"Mama !!"


"Ya.. mama. Mama pasti senang banget kalau bisa ketemu kamu lagi" Maya mengangguk membuat Bian tersenyum bahagia. Dan kembali Rio seperti obat nyamuk di antara mereka berdua.


"Gue ikut" ucap Rio pelan.


Kalau dengan melarang Maya untuk tidak ikut bersama Bian tidak bisa, maka Rio dengan terpaksa harus mengikuti Maya kemanapun dia pergi.


"Gue suami Maya, kemana Maya pergi gue juga akan pergi apalagi dengan kondisi Maya seperti ini. Maya akan lebih membutuhkan gue dari pada siapapun." Rio tersenyum puas melihat wajah Bian.


"Lagian selama kita bersahabat, gue belum pernah sekalipun bertemu dengan orang tua lo. Dan sekarang gue sudah menjadi adik ipar lo, gue juga pengen bertemu dengan mama mertua gue"


"Lo !!!"


"Kak..." lerai Maya yang merasa kalau dua pria dihadapannya ini akan berantem lagi.


"Ok" ucap Bian pasrah.


****


"Sayang.. kamu pulang" ucap seorang wanita paruh baya yang sangat gembira ketika melihat Bian melangkahkan kakinya menuju kearahnya.


"Mama ngapain disitu, udaranya kan lagi dingin" ucap Bian mendekati sang mama dan berusaha menutup jendela, karena sedari tadi angin berhembus dengan kencangnya menyibak rambut sang mama yan terikat.


"Mama kesepian sayang" lirihnya sendu.


"Kan ada Ika dan Bi' Ota yang nemenin mami"


"Tapi kan tidak ada kamu"


"Kok sekarang Mami nya Bian jadi manja gini sih" totel Bian pada pipi sang mami dengan penuh kasih sayang.


"Kalau bukan sama kamu, sama siapa lagi mama akan bermanja-manja"

__ADS_1


"Mam"


"Iya.."


"Bian mau Mama bertemu sama seseorang" ucap Bian pelan sambil meletakkan kepalanya di pangkuan sang mama.


"Siapa ??" Bian tersenyum tipis. "Pacar kamu ??" Tanya Mama sedikit kepo.


Rian tidak mau menjawab pertanyaan Mama, dia hanya tersenyum tipis. Bian tidak mau kalau orang lain tau siapa Maya.


Bisa saja kan tua bangka itu mengirimkan mata-mata untuk selalu mengawasi dirinya dan sang mama. Walaupun beberapa tahun ini, dia sudah memperketat penjagaan sang Mama maupun dirinya sendiri.


Tapi tetap saja Bian harus waspada. Bagaimanapun pria itu sangat licik dan berbahaya. Kesepakatan yang mereka buat beberapa tahun lalu, tidak bisa membuat Bian bernafas lega. Karena bisa saja, laki-laki tua bangka itu tiba-tiba saja melanggar kesepakatannya dan melukai mama lagi.


"Tapi.."


"Tapi kenapa sayang ??"


"Kita hanya bisa bertemu dengannya di rumah sakit"


"Rumah sakit ??" Bian mengangguk sedih.


"Apa dia sedang sakit ??"


"Iya ma.. dia tidak bisa keluar dari rumah sakit untuk bertemu mama, makanya Bian yang akan mengajak mama kesana. Spertinya rumah sakit tempat yang paling aman buat mama dan dia untuk bertemu" mama menatap Bian dalam. Mama mengerti ucapan Bian. Anak tersyang nya ini pasti sedang khawatir kalau bakal ada lagi yang mengambil kebahagiaannya kami.


"Ok.. besok mama akan ikut kamu ke rumah sakit"


"Terimakasih Ma"


***


"Rio.." panggil Maya pelan. Sudah satu jam semenjak Kak Bian pergi, Rio mendiamkannya saja. Tidak mengeluarkan sepatah katapun, tidak menatap Mata Maya jika mereka berdekatan.


"Rio" dengus Maya kesal.


"Hmmm" Sedari tadi jika Maya memanggil Rio, Rio hanya menjawab dengan kata hmmm.. sungguh menyebalkan.


"Baby R, liat papa kamu.. dari tadi papa kamu cuekkin mami" adu Maya sambil mengusap perutnya yang sudah membesar.


"Mama rasa, papa kamu sudah tidak sayang mama lagi hikksss"


Rio menatap Maya sebel. Dia cuma ingin berniat mendiam kan Maya untuk melepaskan kekesalannya, dan Rio juga pengen Maya tau bagaimana perasaannya tadi saat dia mencuekkan dirinya dan malah lebih memilih berpelukkan mesra dengan Bian.


Apa Maya tidak sadar, kalau Rio tadi sangat cemburu dengan dirinya dan Bian. Bahkan Rio ingin sekali menghabisi Bian, agar pria itu tidak bisa lagi menyentuh Maya.


Untunglah Maya cepat memberitahukan kalau Bian itu saudara kembarnya yang sudah lama terpisah. Kalau tidak.... hmmm.


Dan sekarang apa yang Maya katakan. Rio tidak mencintainya...!!!


Oh tuhan.. apa Maya tidak merasakan sebesar apa cinta Rio selama ini. Saking besarnya Cinta Rio, dia bahkan ingin menyembunyikan Maya agar tidak ada lagi pria yang tergoda dengan istri cantiknya itu.


"Baby R bilang sama mama kamu. Papa cemburu"


****

__ADS_1


😭😭😭 hari ini entah kenapa males banget mau nulis


__ADS_2