Baby untuk Mr. R

Baby untuk Mr. R
Part 7


__ADS_3

Apa maksud Rio dengan membutuhkan tubuh Maya.  Apa jangan-jangan dia,  akhh Maya jangan berfikiran yang aneh-aneh.  Tidak mungkin Rio menginginkan lo. 


Dia hanya menginginkan anak yang ada di rahim lo bukan elo,  jadi jangan pernah berharap lebih dengan apa yang di ucapkan atau dilakukan Rio pada lo. 


" Kenapa ?!!!  Lo nggak mau ?! " Ucap Rio bernada intimidasi. 


" Apapun yang Tuan inginkan akan saya berikan walaupun itu tubuh saya..  Saya tidak berhak menolaknya karena saya hanyalah seorang budak..  " ucap Maya sarkas. 


Rio menatap Maya tajam.  Dia tidak suka dengan perkataan Maya.  Budak...  Entah kenapa terdengar begitu menyakitkan dihati Rio. 


" Apalagi yang anda tunggu Tuan " ucap Maya pelan. " Bukan kah Tuan menginginkan tubuh saya "


" Ya..  Saya menginginkan tubuh kamu,  terutama rahim kamu.  Makanya jangan pernah sekalipun kamu merusak tubuh kamu apalagi rahim kamu dengan tindakan-tindakan kamu yang konyol. "


" Maafkan saya Tuan,  saya tidak akan melakukannya lagi..  "


Rio menghempaskan tubuhnya di samping Maya.


"Tidur"  perintah Rio saat Maya berusaha bergeser menjauhi dirinya dengan pelan. 


Hanya dalam beberapa menit,  Rio sudah merasakan dengkuran kecil dari bibir istrinya. 


"Kenapa lo begitu lucu ketika tertidud lelap seperti ini ??" Ucap Rio sambil tersenyum tipis saat dia melihat wajah Maya yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya. 


Dengan pelan dan begitu lembut,  Rio memeluk Maya.


Nyaman....


Itu yang Rio rasakan saat tubuh Maya berada didalam pelukannya.  Jantungnya semakin berdetak kencang, tapi anehnya rasa panasnya berangsur hilang yang ada sekarang rasa kantuknya yang semakin menjadi. 


"Selamat tidur istri ku,  selamat tidur R" Kecup Rio dan tangannya yang mengusap lembut perut Maya. 


****


"Maaa-maaaf kan saya Tuan. Saya tidak sengaja memeluk anda saat saya tidur" ucap Maya takut saat dia sadar dari tidurnya, ternyata dia sedang memeluk Rio.


Rio menatap Maya tajam,  sejujurnya didalam hatinya Rio sedang tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Maya yang ketakutan seperti ini.


"Lain kali kalau kamu..."


"Tidak akan pernah ada lain kali Tuan..  Saya janji" sambung Maya cepat dan bergegas ke kamar mandi. 


"Astaga Maya..  Apa yang lo lakukan???  Kenapa lo bisa memeluk tubuhnya.. Apa lo sudah gila ???" Ucapa Maya pada dirinya sendiri dihadapan cermin di kamar mandi. 


Bodoh... 


Rutuknya beberapa kali..


"Ingat status lo Maya..  Lo itu hanya seorang budak.."


"Maya... " Teriak Rio sambil menggedor keras pintu kamar mandi. 


"Iya Tuan"  jawab Maya pelan bergegas membuka pintu kamar mandi. 


"Apa yang terjadi ?? Kenapa lo lama sekali di kamar mandi" Tanya Rio panik


"Maaf kan saya Tuan..  Saya.. "


"Apa R baik-baik saja??"


"Lihat Maya.. Dia tidak pernah mengkhawatirkan kamu,  yang dia khawatirkan hanya baby yang ada di rahim kamu...  Jadi,  berhentilah untuk bermimpi.. "


"R baik-baik saja Tuan..  Saya akan selalu menjaganya.."

__ADS_1


"Bagus.. Sekarang kamu siap-siap, kita akan pergi"


"Kemana Tuan.. "


"Pesta salah satu colega gue.."


"Baik Tuan.."


"Maya,  Tunggu.. "


" Ada apa Tuan.. "


" Hmmm...  Itu...  Bantu saya mempersiapkan pakaian saya.."


"Tapi.. Itu kan tugasnya...  Oh baik Tuan" ucap Maya saat Rio menatapnya dengan tatapan tidak ingin dibantah. 


Dengan di bantu stylish Rio,  dia memilih baju yang akan di kenakan Rio nantinya. Jujur saja,  Maya sangat buta dengan fashion, apalagi fashion untuk pria. 


"Kalian boleh pergi" Tegas Rio menatap Stylish dan beberapa pelayan yang ada di kamar tidurnya. 


"Baik Tuan.."  Ucap mereka serentak dan bergegas pergi.


"Ehhh...  Apa yang sedang Tuan lakukan ??" Tanya Maya tergagap saat matanya menatap tubuh tubuh atletis Rio yang terekspos jelas dimatanya seakan-akan sedang memanggilnya untuk menyuruh Maya memeluknya dengan erat dan mencium aroma khas mint milik tubuh Rio yang sangat Maya sukai.


"Gue hanya bantu lo melepaskan handuk gue..." Ucap Rio santai dan berjalan maju ke arah Maya. 


Ahhhh...  Sial


Maki Maya di dalam hatinya.  Jantungnya berdetak kencang saat tubuh Rio mulai mendekatinya.  Beberapa kali Maya menelan ludahnya sendiri,  menahan rasa ingin nya menyentuh tubuh indah milik Rio yang hanya memakai pakaian dalam. 


Apalagi aroma tubuh Rio..  Akhh seakan-akan menghipnotis Maya untuk mendekat dan menciumnya lebih dalam. 


"Kenapa diam aja..  Cepat bantu gue kenakan pakaiannya"


"Tenang Maya..  Lo harus tenang.." Rapal Maya didalam hatinya. 


"Ehh..  Apa yang Tuan lakukan??" Kaget Maya saat Rio tiba-tiba saja memeluknya dan mengenduskan nafasnya tepat di leher Maya,  dan itu membuat darahnya mendesir hebat. 


"Kenapa ??  Kamu tidak suka ??" Bisik Rio dengan sensual.


"Ehh.... " Sontak Maya kaget, seperti ada sesuatu yang menjalar diseluruh tubuhnya yang membuatnya sulit bergerak dan juga sulit untuk bernafas. Rio tersenyum penuh kemenangan saat Maya hanya terdiam membeku di pelukannya.


"Tuuuann.." Lirih Maya terbata-bata. Suaranya terdengar serak tidak berdaya.


"Jaaa.. Jangan Tu.. Hmmpppp" Belum sempat Maya ingin mengatakan penolakan,  mulutnya sudah di kecup kasar oleh Rio,  bahkan kini tubuhnya sudah seperti bukan lagi miliknya. 


Walaupun otaknya menolak keras apa yang dilakukan Rio,  tapi tubuhnya sangat menikmati setiap sentuhan Rio. Rasanya Maya ingin berteriak dengan keras...  Seperti ada sesuatu yang ingin meledak di dalam dirinya. 


"Kita lanjutkan disana" Bisik Rio pelan dengan suara terengah-engah.


Sialnya..  Bukannya Maya menolak,  dia malah mengangguk pasrah.  Tubuhnya pasrah,  didorong pelan oleh tubuh Rio yang kembali mengecupnya dengan menggebu-gebu.  Tanpa sadar sekarang tubuh Maya sudah berada di atas tempat tidurnya yang empuk. 


"Tu-tuannn..." Maya menangkup tangan Rio dengan cepat.


"Jangan biarkan R terlalu lama menunggu di jenguk oleh papanya.." bisik Rio yang di selingi beberapa kecupan, Membuat darahnya semakin berdesir hebat. 


"Tapi Tuan..."


"Kenapa ???"


"Ini pertama kalinya bagi saya" ucap Maya malu sambil memalingkan wajahnya yang sudah memerah. Ada perasaan aneh yang sekarang menyelimuti tubuhnya.  


"Ini juga pertama kalinya bagi saya" ucap Rio sambil tersenyum menatap wajah Maya. 

__ADS_1


Maya meringis kesakitan didalam hatinya.


"Akhh..." Desah Maya kuat,  saar tangan Rio untuk pertama kalinya mendarat di daerah sensitive Maya. Dia menggigit bibirnya sambil menutup matanya menahan rasa perih,  bahkan air matanya lolos begitu saja karena rasa sakit yang teramat dalam,  seperti ada yang menyayat tubuhnya dengan paksa. 


"Maaf..  Gue tidak tau bagaimana cara melakukannya dengan lembut" ucap Rio sesal,  dan berusaha melepaskannya.


"Akhh.... " Teriak maya lagi, tapi ini bukan teriakkan karena kesakitan melainkan ada rasa yang berbeda yang Maya rasakan. 


Maya seperti tak rela jika Rio berhenti begitu saja,  dia ingin Rio melakukannya lagi dan lagi walaupun rasa perih masih mendominasi ia rasakan. 


Maya memeluk tubuh Rio erat dan mengecupnya dengan pelan. 


"Ma... Maya.."


"Lakukan..." Lirih Maya manja. 


"Tapi..."


"Please... " dengan sangat pelan,  Rio mulai menggerakkan tubuhnya. Kini dia sudah bisa memiliki ritme yang indah,  hingga membuat Maya tidak lagi merasakan perih. 


Entah sudah berapa lama mereka terus saja melakukannya, bahkan Rio seperti orang yang kelaparan. Dia tidak pernah puas walaupun Maya sudah tampak kelelahan. 


"Capek???" Maya mengangguk lemah dibawah kungkungan Rio.


"Tuan... " Panggil salah satu pelayan Rio dari balik pintu kamar Rio.


"Istirahat lah..  Nanti malam kita lakukan lagi.. " ucap Rio merebahkan tubuhnya tepat disamping Maya dengan menggiring kepala Maya untuk bersandar didadanya.


Rio mengatur nafasnya,  sambil sesekali melirik ke arah Maya yang memejamkan matanya karena malu menatap Rio atas apa yang sudah mereka lakukan. 


"Tuan...  Ini sudah waktunya kita pergi" ucap pelayan itu lagi dengan nada penuh hormat. 


"Tidurlah... " bisik Rio kemudian bangkit dan bergegas ke kamar mandi. 


"Akhirnya..." ucap Maya sambil membuka matanya.  Dia menangkup kedua pipinya yang terasa panas.  Jantungnya pun berdetak hebat seperti mau meledak ketika dia mengingat bagaimana Rio memperlakukannya dengan lembut tadi.


Apa gue sudah menjadi wanitanya seutuhnya ????


Maya bergegas menutup matanya kembali saat suara pintu kamar mandi terbuka. 


"Gue pergi dulu...  Nanti Malam kita lanjutkan lagi.." kecup Rio tepat dibibir Maya dan pergi meninggalkannya terbaring lemah di tempat tidur. 


Apa maksudnya lanjutkan lagi ?? Apa tadi belum cukup baginya ??


Astaga..... 


Rasa sakit ini saja masih belum sembuh,  dan dia masih menginginkannya lagi.


Nanti Malam ??


Tidak....


"Maaf nyonya.. Tuan menyuruh kami menolong nyonya untuk mandi" ucap beberapa pelayan wanita serentak yang tiba-tiba saja masuk ke kamar membuat Maya tersentak kaget karena sekarang dia hanya menutupi tubuh polosnya dengan sebuah selimut. 


"Saya bisa mandi sendiri" ucao Maya malu,  saat salah seorang pelayang berjalan mendekatinya dan ingin menarik selimutnya. 


"Tapi... "


"Tuan nggak akan marah.."


"Kami tidak berani nyonya.. "


"Bagaimana kalau kalian membantu saya menyiapkan air dan peralatan mandi saya..  Nanti saya akan kesana sendiri.."

__ADS_1


Untung saja,  mereka mau mendengarkan Maya, kalau tidak bagaimana Maya bisa menutup tubuhnya yang polos. 


__ADS_2