Baby untuk Mr. R

Baby untuk Mr. R
Part 3


__ADS_3

Hamil ?????


Apa yang barusan dokter katakan ??!! Ini bukan halusinasi Maya semata kan ??! Mungkin pendengarannya sedikit terganggu karena terlalu sering memakan obat dan vitamin.


" Janinnya sudah 2 minggu tuan " penjelasan dokter semakin membuat Maya tidak mengerti. Bagaimana bisa di rahimnya kini ada janin. Bahkan disentuh priapun belum pernah. Bagaimana dia bisa hamil.


" Terimakasih dok " ucap Rio bahagia.


Kenapa wajah Rio begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Maya. Seharusnya Rio marah dan mempertanyakan kehamilannya.


" Arman... berikan semua pelayan disini bonus" perintah Rio sumbringah kepada kepala pelayan yang menangani semua anggaran biaya dirumah ini.


Sesekali terdengar dendangan yang keluar dari mulut Rio. Membuat semua orang terpana. Ini pertama kalinya Rio bernyanyi seperti ini. Senyumnya pun tak pernah lepas dari wajahnya. Benar-benar tampak begitu bercahaya. Rio yang dulu seperti ice berubah begitu hangat.


Semua mata menatap bahagia kearah Maya. Kabar kehamilan Maya telah membawa mukzijat dirumah ini. Mereka berjanji didalam hati mereka, akan selalu menjaga janin di rahim Maya agar tetap sehat dan selamat sampai dilahirkan.


" shiiiitttt " umpat Maya yang langsung mendapat pelototan dari Rio. Entah mendapatkan keberanian dari mana, Maya berani mengumpat Rio yang hendak mengelus perutnya.


Maya begitu benci disentuh oleh Rio. Kabar kehamilannya memang membuat semua orang dirumah ini bahagia, tapi tidak untuk Maya. Apa kata orang, kalau dirinya hamil diluar nikah.


Melihat kebahagian yang terpancar diwajah Rio, itu telah menjawab pertanyaan Maya tentang siapa bapak dari anak ini.


Kapan Rio melakukannya ??!! Kenapa Maya tidak pernah merasakannya ??!! Pantas saja selama ini dia berbuat baik kepada Maya. Ternyata dia ingin menebus kesalahannya.


Apa ini tujuan dia membeli Maya dari ayah tirinya yang brengsek itu. Hanya untuk dijadikan pelayan hawa nafsunya saja atau hanya untuk pencetak anak darinya.


Kalau begitu Rio sama brengseknya dengan Ayah tirinya.


" Beraninya lo.... "


" Sabar Tuan.... " Sela Arman berusaha menahan amarah Rio dan memperingatkan Rio kalau sekarang di perut Maya ada anaknya. Jika Maya tertekan, ketakutan ataupun stress itu akan mempengaruhi janin yang ada dirahim Maya.


" Jangan pernah sentuh gue " ketus Maya dengan suara lantang.


Sabar.... sabar.... sabar...


Berulang kali Rio merapalkan kalimat Sabar didalam hatinya. Dia tidak boleh emosi. Mungkin ini karena Maya lagi hamil. Mood ibu hamil bukannya suka berubah-ubah.


" Arman... tolong perintahkan beberapa pelayan untuk menjaga Maya bergantian selama 24 jam... dan tolong perhatikan makanannya... Jangan sampai Maya tidak mau makan... " Perintah Rio.


" Oh iya... suruh pelayan juga memindahkan semua barang-barang Maya ke kamar disebelah kamar saya. Dan buatkan pintu yang bisa menghubungkan kamar saya dan kamar Maya. "


" Ngggak.... gue nggak mau kamar kita bersebelahan " Teriak Maya takut. Tidak ada lagi kata-kata formal yang keluar dari mulut Maya. Semuanya menatap Rio ketakutan, Rio pasti marah dengan perkataan Maya.


Tidak ada yang berani menggunakan kata gue atau Lo dirumah ini, bahkan Rio sendiri tidak pernah menggunakan kata itu jika berada dirumah.


" Keluar..... keluar.... " perintah Maya sambil histeris seperti orang kerasukan.


Rio mengepalkan tangannya geram. Ini sudah kelewatan. Ini sudah menjadi penghinaan bagi dirinya.


Arman menantap Rio dan mengisyaratkan untuk bersabar dan segera keluar dari kamar. Didalam hati Arman, dia tertawa melihat Rio yang tidak berkutik dihadapan Maya.


Pertama kali Rio terlihat tidak berdaya, biasanya dia selalu membuat orang lain tidak berdaya dihadapannya. Wahhh sepertinya Sang penerus akan lebih berkuasa dibandingkan papa nya.


****


Maya terbaring lemah ditempat tidurnya. Semenjak dia mengetahui kalau dirinya sedang hamil, Maya tidak mau makan. Bukan karena ngidam, tapi karena dia marah.


Sudah berbagai macam cara pelayan yang menjaganya membujuk Maya untuk makan, tapi tidak ada satu carapun yang bisa menaklukan kekerasan hatinya. Bahkan Maya terkesan tidak perduli dengan janin yang sedang dikandungnya saat ini.


" Nyonya.... ayo makan... sedikit saja " pujuk saah satu pelayan yang di utus untuk menjaganya. Maya memalingkan wajahnya kesal.


" Nanti kalau tuan Rio tau, tuan akan marah "


" Biarkan dia tau... " Teriak Maya, namun suaranya terdengar lirih karena menahan rasa sakit akibat kelaparan.


" Ada apa ini ??!!! Kenapa ribut-ribut ??! " ucap Rio lantang.


" Maafkan saya Tuan... tapi Nyonya sudah dari kemaren tidak mau makan Tuan.... "


" Apa ???!!! Kenapa tidak ada yang memberitahukan kepada saya ??! "


" Maafkan kami tuan... "


" Sini ...... " Rio mengambil semangkuk bubur yang sudah dipersiapkan untuk Maya dan duduk disamping Maya agar bisa leluasa menyuapinya.


" Ayo makan.... " perintah Rio. Bukannya menuruti, Maya malah tidak mau menoleh kearah Rio.


" Makan....  " bentak Rio keras. Habis sudah kesabarannya kali ini. Tidak ada satu orangpun dirumah ini yang berani menentang perkataannya.

__ADS_1


Dengan sedikit paksaan Rio memalingkan wajah Maya, hingga terdengar sedikit rintihan dibibirnya.


" Makan sekarang atau kalau nggak .... "


" Kalau nggak apa ??!! " tantang Maya dengan beraninya. Dia tau kalau statusnya hanyalah seorang budak. Tapi seorang budak juga punya harga diri.


Apalagi ini menyangkut dengan kehamilan. Perempuan mana di dunia ini yang tidak marah kalau dirinya dihamili.


" Tuan... diluar ada .... " Rio menatap Arman yang tiba-tiba masuk ke kamar Maya dan itu sangat mengganggu dirinya.


" Maaf Tuan... saya cuma ingin menyampaikan kalau diluar ada ibunda nyonya Maya... "


" Bunda...... " lirih Maya pelan dan berusaha untuk bangkit.


" Mau kemana kamu ?!!! " bentak Rio.


" Saya mau bertemu bunda " suara Maya yang begitu lantang menantang Rio tiba-tiba melemah saat dia mendengar kalau bunda ada disini.


" Kamu tidak boleh keluar dari kamar ini.... " Titah Rio yang langsung bergegas keluar dan membanting pintu dengan kerasnya.


" Nyonya... jangan menangis terus... kasian bayinya " peluk Arista, salah satu pelayan yang ditugaskan untuk menjaga Maya.


" Saya ingin bertemu bunda.... " isak Maya semakin menjadi-jadi.


" Iya nyonya... tuan pasti akan membawa ibunda nyonya kesini tapi nyonya harus patuh terhadap tuan.... "


" Untuk apa saya patuh kepadanya..... lelaki bejad itu sudah menghamili saya.... "


" Tidak nyonya.... tidak.... tuan tidak akan pernah melakukan itu semua " Maya menatap Arista. Kalau itu bukan Rio, terus siapa yang sudah menghamili dirinya ??!!!


" Kalau bukan dia terus siapa ?!!! " Bentak Maya.


" Itu karena Inseminasi Intrauterin " Maya mengerutkan dahinya bingung. Kata-kata apa itu. Maya tidak mengerti.


" Inseminasi ??!! "


" Iya Nyonya.... "


" Maksudnya ??!! Sorry saya tidak tau Inseminasi itu apa ??!! "


" Sperma yang dipertemukan dengan sel telur didalam rahim Nyonya. Itu makanya Tuan selalu menyuruh nyonya melakukan pemeriksaan rutin dan meminum vitamin "


" Karena saya salah satu perawat yang membantu dokter melakukan inseminasi terhadap nyonya "


Maya terdiam. Apa dia harus percaya dengan Arista. Tapi kehamilannya ??!! Bagaimana jika bunda mengetahui ini semua ?!! Bunda pasti akan salah paham dengan Maya.


" Untuk apa dia melakukan itu semua ??! "


" Maaf nyonya... kalau itu saya tidak tahu " Maya menatap Arista yang tampak sangat khawatir. " Setau saya, Tuan sangat menginginkan anak yang ada dirahim nyonya" jelas Arista.


" Saya belum pernah melihat Tuan sebahagia ini saat mengetahui Janin yang tumbuh dirahim nyonya. Bahkan Tuan tidak pernah emosi lagi jika ada yang melakukan kesalahan-kesalahan kecil di depan matanya. " Arista menarik nafas panjang " Kalaupun sekarang Tuan kelihatan marah, itu karena Tuan peduli dengan kesehatan nyonya "


" Bukan gue.... tapi dia " Maya menunjuk kearah perutnya. Arista tersenyum kecut melihat reaksi Maya.


Yuppp perubahan Rio memang semua karena janin yang ada dirahim Maya.


" Setidaknya nyonya bisa mengambil kesempatan ini "


" Kesempatan ?!!! "


" Ya.... nyonya bisa merubah Tuan menjadi lebih baik lagi "


Hahahahahaaa.....


Maya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Arista. Merubah Rio menjadi lebih baik ??!! Mana mungkin !!!! Mustahil..


" Sejak awal, saat Tuan menyuruh kami melakukan Inseminasi terhadap nyonya. Kami sudah melihat perubahan yang terjadi pada Tuan. Tuan tampak lebih perhatian, lebih sabar, dan yang paling utama kami sudah melihat ada seberkas cinta dimata Tuan yang selama ini tidak pernah kami temui "


" Hahahhaa itu bukan cinta.... " Tawa Maya sinis. Bagaimana bisa ada cinta dimata Rio untuk diirinya


" Tidak nyonya... itu cinta... Tuan sangat mencintai janin yang ada dirahim nyonya " Maya terdiam, dia pikir Tuan Rio sudah mulai mencintainya tapi ternyata anak yang dikandungnya. Sungguh pernyataan itu sudah menghujam dirinya, Malu banget...


" Tuan akan melakukan apapun demi kelahiran bayi itu "


" Apapun ??!! " Tanya Maya sambil mendelik kearah Arista.


" Apapun " Jawab Arista yakin.


*****

__ADS_1


" Hai..... " Sapa Bian saat Maya sedang menikmati pemandangan ditaman. Hatinya masih kesal karena bunda pulang tanpa menemui dirinya terlebih dahulu.


Maya melirik kesal kepada sang pemilik suara. Hari ini Maya malas mau berbincang dengan siapapun. Moodnya suka hilang. Kata Arista ini biasa terjadi pada ibu hamil.


" Sombong banget " ledek Bian yang kemudian duduk disamping Maya tanpa seizin Maya membuat dirinya semakin kesal.


" Apa ?! " Tanya Bian tidak suka dengan lirikan tajam Maya.


" Ngapain Tuan disini ?!! "


" Mau bawa lo pergi " jawabnya singkat.


" Apa ??!! " Teriak Maya.


" Aduh.. bisa nggak sich nggak teriak-teriak. Telinga gue sakit nie ?!! "


" Maaf.... Apa maksud Tuan dengan perkataan Tuan barusan ??!! " Tanya Maya dengan pelan.


" Gue pengen bawa lo pergi dari rumah ini "


" Kenapa ??!! "


" Kok kenapa sich ??!! Bukannya seneng gue bawa pergi dari sini "


" Maaf Tuan... tapi saya tidak mau keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya "


Bian tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Maya yang terlalu to the point. Gadis di depannya ini sudah membuat hatinya porak poranda sejak mereka pertama kali bertemu.


Wajah Maya yang tampak lemah dengan buliran air mata yang mengalir dipipinya yang merah merona selalu menghantui fikirannya sejak pertama dia bertemu. Bahkan Bian berani menentang Rio hanya karena seorang Maya.


" lo lucu banget sich.... gue suka sama lo "


Seperti disambar halilintar saat Bian menyatakan perasaannya. Apa dia nggak tau kalau saat ini Maya sedang mengandung anaknya Rio. Sahabatnya...


" Eheeemmm..... " satu deheman menghentikan tawa Bian dan pelototan Maya. Bian dan Maya menoleh ke arah sang pemilik suara.


" Rio.... " Sapa Bian sedikit canggung. Entah sejak kapan Rio berada dibelakang mereka. Apa Rio mendengar obrolan Mereka barusan.


" Kamu harus minum vitamin sekarang " ketus Rio tanpa memperdulikan sapaan dari sahabatnya.


" Saya sudah meminumnya tadi tuan "


" Kalau begitu... kamu istirahat sekarang dikamar "


" Saya ingin menghirup udara segar disini Tuan... kata dokter bagus untuk pertumbuhan janin "


" Janin ??!! Siap yang hamil ??! " Tanya Bian polos. Tapi tidak ada satupun dari Rio atau Maya yang menjawab pertanyaannya. Rio malah asik menarik tangan Maya paksa.


" Rio...... !!! " bentak Bian yang berusaha meminta penjelasan dari perkataan Maya.


" Disini siapa yang wanita ??!! Nggak mungkin kan kalau aku yang hamil " ketus Rio dan berlalu dengan menarik paksa Maya.


" Maya..... " lirih Bian terpaku seperti patung. Baru saja dia menyatakan perasaan dan kini dia harus mendapat kenyataan pahit kalau wanita yang dicintainya hamil. Dan itu..... itu anak Rio, sahabatnya sendiri.


Tapi bagaimana bisa ??!!! Bukannya dia ...... Budaknya Rio ??!


****


" Jika kamu ingin menghirup udara segara atau jalan-jalan, kamu harus lapor dulu pada saya " ucap Rio pelan.


" Baik tuan.... "


" Dan jangan pernah kamu berbicara pada orang yang nggak kamu kenal.. jaga tata bicara kamu.. jangan membuat King mendengar perkataan yang tidak bagus "


" King ??!! " Tanya Maya heran. Sekarang ini mereka sedang berdua saja, lalu siapa King ??!!


Rio mengelus perut Maya tiba-tiba membuat Maya refleks mundur beberapa langkah.


" Kenapa mundur.... saya ingin menyapa the King di rahim kamu "


Maya menatap Rio nggak suka. Enak aja dia menamai anak didalam kandungannya dengan nama King, kalau perempuan gimana ??!!!


" Maya.... " bentakkan Rio membuat Maya berhenti. Kaki nya tak lagi melangkah mundur saat Rio berusaha mendekatinya.


Refleks....


Yachh sebenarnya itu hanya refleks, karena Maya nggak pernah terlalu dekat dengan pria apalagi sampai perutnya di pegang sama pria. Itu membuat Maya merasa tidak nyaman.


" Jangan pernah sekalipun kamu menjauhkan saya dengan King " tegas Rio yang langsung meletakkan tangannya dan mengusap-usap lembut perut Maya.

__ADS_1


Tapi sialnya, itu malah membuat Maya merasa nyaman. Tanpa sadar Maya tersenyum melihat Rio yang terus menerus membelai lembut perutnya yang masih datar banget.


__ADS_2