Baby untuk Mr. R

Baby untuk Mr. R
Part 11


__ADS_3

Maya mengerjapkan matanya "lama sekali" gumamnya sambil sedikit menguap. Entah sudah berapa jam, Rio mengendarai mobilnya. Tapi mereka tidak pernah sampai pada tujuannya. Bahkan Maya sudah merasa bosan duduk di mobil, entah berapa kali juga dia ketiduran karena rasa jenuhnya di mobil.


"Jangan natap gue seperti itu" ucap Rio risih ketika Maya menatapnya dengan sinis. Rio tau apa yang ada didalam otak Maya, pasti dia ingin menanyakan kemana tujuan mereka. Yang pastinya Rio akan membawa Maya ketempat yang tak ada mengenal mereka berdua.


Ketempat dimana tidak akan ada yang mengganggu hubungan mereka. Tidak ada pembinor yang berusaha merenggut tangan Maya lain ataupun wanita gila yang tak tau malu yang berusaha ingin mencelakai Maya dan R.


"Tuan.."


"Jangan panggil gue Tuan.. gue ini suami lo bukan majikan lo"


Ckk.. apa Rio sudah lupa, siapa yang mengingatkan Maya kalau dirinya itu seorang wanita yang setara dengan pelacur yang ditugaskan hanya untuk memuaskan hawa nafsunya.


Istri...!!


Kata itu hanya kedok, agar R memiliki status dimata dunia.


"Saya mau pipis" ucap Maya gelisah. Sudah 5 menit, sejak dia bangun tadi Maya menahan kebelet pipis.


"Rio... berhenti.. gue mau pipis" teriak Maya yang sudah tidak bisa menahan lagi.


"Kita cari tempat dulu.."


"Nggak bisa.. ini udah mau keluar" teriak Maya. Rio mengehempaskan nafasnya pelan. Dengan terpaksa dia memberhentikan mobilnya dipinggir jalan.


"Mau ngapain lo ??" Tanya Maya kesal saat dia melihat Rio yang mengikutinya berlari ketempat yang ingin dia jadikan toilet dadakan.


Apa sebegitu takutnya Rio kalau Maya akan lari.. Astaga... dia hanya ingin pipis, kenapa seperti tahanan, yang selalu di awasi seperti ini.


"Lo mau ngintipin gue pipis ??" Maya berdecak kesal.


"Rio ngadep kesana donk.. gue mau pipis" kesal Maya karena Rio tidak bergerak sedikitpun dari hadapannya. Bahkan Rio menantapnya dengan datar.


"Ckk.. apa yang pengen lo sembunyiin dari gue ?? Gue sudah melihat semua yang ada di tubuh lo. Bahkan gue hafal dimana letak tahi lalat lo"


Wajah Maya seketika memerah mendegar ucapan Rio. Malu banget.. walaupun mereka sudah melakukannya berulang kali, tapi apa mau pipis juga harus di liatin ?? Nggak kan !!!


"Cepetan.. apa lo mau diliatin orang yang lewat" lagi-lagi Maya berdecak kesal. Nggak ada pilihan lagi, selain pipis di hadapan Rio. Daripada dia pipis dicelana itu lebih bahaya lagi, dimana dia akan mengganti pakaiannya.. ??


Untung banyak Rio jika Maya mengganti bajunya di mobil, bisa-bisa dia dilahap Rio di dalam mobil.


****


Maya menatap kagum Vila milik Rio yang jauh lebih indah dibandingkan rumahnya, walaupun Vila ini kecil tapi pemandangannya sangat indah. Dilatar belakangi pegunungan dan lautan, sungguh membuat orang yang berada di villa ini betah.


"Ayo"


Rio menari tangan Maya dan masuk ke dalam rumah yang interiornya pun sesuai dengan selera Maya. Seandainya saja, dia bisa berada disini selamanya..


Ehh... tapi kenapa Villa ini begitu sepi ??? Tidak seperti villa milik Rio yang lainnya, yang penuh dengan pengurus rumah dan para pelayan yang setia melakukan apapun perintah Rio.


"Lo lapar ??" Tanya Rio sambil menatapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


Maya membalikkan wajahnya, Malu.. padahal disepanjang perjalanan tadi, kerjaannya hanya makan dan tidur. Kenapa perutnya masih saja berbunyi.


"Tunggu disini, gue akan masak buat lo"


Apa... !!! Masak !!!


Apa Maya tidak salah dengar, Rio mau masak untuk dirinya..


Tidak mungkin, ini pasti tidak mungkin.


Apa mungkin Rio kesambet hantu yang ada di hutan saat dia menemani Maya pipis.


"Jangan... mendingan gue aja yang masak.. ini kan tugas gue" sela Maya yang langsung ngibrit ke dapur.


Kalau Rio yang masak, bisa-bisa dia keracunan. Tidak mungkin Tuan besar seperti Rio bisa masak. Maya tidak mau ambil resiko Villa yang begitu indah ini terbakar oleh Rio.


"Mau apa ??" Tanya Maya panik saat Rio mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Ehhh bukan dech, maksudnya memeluk untuk memasangkan celemek kepada Maya.


"Nanti baju lo kotor" ucapnya pelan.


Maya mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Kenapa dia bisa berdebar begini ??? Rio hanya menolongnya memasangkan celemek.


Wahai jantung, bisa nggak lo jangan berdetak dengan kencang. Maya mau masak... hikksss.


"Mau masak apa ??" Tanya Rio sambil melihat Maya mengeluarkan semua bahan untuk dimasak.


"Mau buat Soup Ayam, Ikan goreng dan juga sambel"


"Kalau begitu gue yang akan bersihin Ikannya"


"Ajarin..." cengir Rio.


"Udah.. sana aja.. kamu duduk diluar, nanti kalau makanan nya sudah jadi gue panggil"


Bukannya pergi Rio malah mengambil bakul yang berisi sayur di dekat Maya.


"Lo mau ngapain lagi ??" Tanya Maya kesal.


"Mau bantu lo cuci sayur" Maya terdiam, sepertinya Rio bukan oranh yang mudah di cegah kalau ada kemauannya.


Hampir 30 menit mereka berkutat di dapur. Ikan goreng dan soup ayamnya sudah jadi sekarang tinggal buat sambel terasi. Entah kenapa, hari ini Maya pengen banget makan sambel terasi.


"Ueekkkk... ini apa !!!" Tanya Rio yang hampir muntah karena mencium bau tak sedap dari terasi yang ada di tangannya.


"Itu terasi, untuk sambel"


"Tapi ini sudah busuk.. jangan dimakan"


"Baunya memang seperti itu, tapi rasanya luar biasa.. sini.. gue mau bakar terasinya dulu.. lo bantuin gue bawa makanan ini kemeja yach" pinta Maya lembut.


Maya tersenyum, hari ini dia melihat sosok Rio yang berbeda. Rio yang lembut, perhatian dan..

__ADS_1


Akhh kenapa jantung ini berdetak kencang lagi ??? Dan kenapa juga suasana menjadi panas seperti ini.


"Maya.. lo kenapa ??? Sakit ??" Tanya Rio panik karena Maya mengibaskan wajahnYa yang sudah memerah.


"Kan sudah gue bilang, itu jangan dimakan.. sudah busuk"


"Bukan karena terasinya rio.. ichh kamu nie" gemes Maya sambil mencubit pipi Rio.


"Ayo makan.."


Dengan lahapnya Maya dan Rio menyantap masakan yang tadi mereka buat, tapi tidak sedikitpun Rio menyentuh sambel buatan Maya membuat Maya merasa sedih.


"Kenapa ??"


"Lo nggak mau makan sambel buatan gue"


"Bahannya busuk Maya, gue nggak bisa makannya"


"Tapi enak kok.. coba dulu" pinta Maya dengan kekeh.


"Nie aku suapin"


"Nggak mau Maya.."


"Please..." Maya menatap Rio memohon, dia pengen sekali Rio memakan sambel buatannya. "Kalau lo makan ini, gue akan kabulin satu permintaan lo" ucap Maya pelan.


"Beneran.." Maya mengangguk.


Rio menarik nafasnya panjang sambil mengambil sambel yang ada didepannya. Baunya saja sudah menusuk hidup Rio, apalagi rasanya. Ahhh.. rasanya mau muntah.


"Cepetan"


"Bentar Maya" risih Rio.


Dengan memejamkan matanya, Rio memberanikan diri untuk memakan Sambel Terasi buatan Maya.


Enak - gumam Rio didalam hatinya. Ternyata apa yang dia lihat dan dia cium baunya tidak sesuai dengan rasanya.


Benar kata Maya, kalau sambel ini enak. Beberapa kali Rio menambah sambelnya dan juga nasinya hingga perut Rio kenyang.


"Gue sudah makan sambelnya, sekarang lo harus nepatin kata-kata lo"


"Apa yang lo inginkan ??" Tanya Maya yang sudah tau pasti apa yang diinginkan oleh Rio.


Apalagi kalau bukan tubuhnya.


Rio itu kan manusia mesum, kalau saja dokter kemaren tidak melarang dia untuk melakukannya. Mungkin dia akan melakukannya siang dan malam, setiap hari.


"Gue mau lo tanda tangani sebuah kontrak"


"Kontrak apa ??" Tanya Maya bingung.

__ADS_1


Maya bukan seorang pengusaha, kontrak apa yang akan di inginkan Rio darinya.


Kontrak seumur hidup bersama gue, hingga maut memisahkan. Tidak ada kata perpisahan ataupun perceraian. Selamanya jadi milik gue.


__ADS_2