Baby untuk Mr. R

Baby untuk Mr. R
Part 16


__ADS_3

"Menikah ?? Bukannya kita sudah menikah ??"


"Pernikahan kita yang dulu hanyalah pernikahan yang tidak dilandasi dengan cinta. Aku menikahi kamu karena Baby R dan kamu menikahi aku karena perintah dari ku. Dan sekarang aku ingin pernikahan kita kali benar-benar dilandasi dengan cinta"


Maya memeluk erat tubuh Rio, sesekali dia memukul pelan bidang dada suaminya sambik terisak.


"Maaf" ucap Rio tulus. Dia menyadari kalau pernikahan mereka sebelumnya itu memang buruk. Rio bahkan memperlakukan Maya dengan jahat, dia juga sering kali membuat Maya menangis dengan ucapan yang dia lontarkan.


"Maya.." panggil Rio dengan lembutnya.


"Mau kah kamu menikah dengan ku" Rio menatap Maya cemas, hatinya berdetak dengan kencang. Mungkin saat ini Maya bisa mendengarkan debaran jantungnya yang sangat cepat karena kepala Maya bersender dengan indah didada Rio.


Rio takut dirinya di tolak oleh Maya. Mengingat prilakunya yang tidak baik selama ini terhadap Maya.


"Kalau.."


"Mau" Sela Maya cepat dengan suara yang sangat kecil.


"Apa ??" Tanya Rio kaget.


"Mau..Mau..Mau.." teriak Maya yang semakin membenamkan wajahnya di dada Rio.


Malu...


Saat ini Maya sangat merasa malu bercampur aduk dengan kebahagiaan.


"Terimakasih...." ucap Rio gembira sambil mengangkat tubuh Maya hingga sedikit melayang.


"Rio.. turunin nanti jatuh" teriak Maya kesal.


"Terimakasih sayang.." kecup Rio bertubi-tubi di seluruh wajah Maya membuat Maya tertawa geli.


"Terimakasih baby R.. karena kamu, papa dan mama bisa bersatu"


"Kok karena baby R ??"


"Iya.. kalau bukan karena aku pengen punya anak, aku tidak akan bertemu dengan kamu"


"Rio.."


"Hmmm"


"Ada yang pengen aku tanyakan, boleh ???"


"Tanya apa ??"


"Kenapa kamu memilih insiminasi buatan untuk mendapatkan seorang anak, kenapa kamu tidak menikah dengan..." Maya menghentinkan kalimatnya. Dia tidak mau menyebut nama yang hampir saja merenggut baby R dari Maya.


"Karena aku tidak ingin menikah"


"Kenapa ?? Bukannya dia cantik"


"Alisya memang cantik" Rio tersenyum, tapi kenapa hati Maya merasa sakit melihat Rio tersenyum sambil menyebutkan nama wanita lain.


"Tapi aku tidak suka wanita cantik seperti dia" ucap Rio sambil menangkup pipi Maya dengan gemes.


"Dulu, aku tidak berniat sedikit pun untuk menikah dengan wanita mana pun. Tapi aku sangat menginginkan seorang anak. Makanya aku melakukan itu.. ehhh ternyata aku malah terjebak dengan cinta kamu." Rio mengecup bibir Maya singkat.


"Sebenarnya kamu pakai sihir apa sih, hingga membuat aku tergila-gila dan cinta mati sama kamu.. haaaa" gemes Rio sambil memencet hidung Maya dan mecium kedua pipi Maya yang bertambah tembem.


"Rahasia donk, ntar kalau aku kasi tau, kamu akan pergunakan untuk sihir wanita lain"


"Hahahahaaa..."


***


"Tuan.. ada nona Alisya ingin bertemu dengan Tuan"


"Usir saja dia" ucap Bian jengah.


"Sudah gue duga.. lo pasti akan mengusir gue.. come'n honey, gue kesini dengan niat yang baik kok" ucap Alisya sambil menyerobot masuk ke ruang kerja Bian.


"Usir dia" perintah Bian dengan tatapan dinginnya.


"Apa lo tidak mau mendengar dimana keberadaan wanita jalan yang sangat lo sayang itu ??" Alisya tersenyum sinis melihat ekspresi wajah Bian yang berubah setelah mendengar nama kabar wanita sialan itu.


"Dimana Maya??"

__ADS_1


"Sabar honey.. jangan terburu-buru seperti itu. Kita masih ada waktu kok untuk bersenang-senang" ujar Alisya sambil berjalan menuju Bian dan dengan tidak sopannya dia duduk diatas meja kerja Bian membuat rahang Bian mengeras menahan marah.


"Bagaimana kalau kita bermain dulu" ucap Alisya sambil menarik pelan dasi Bian hingga tubuh Bian bergerak mendekati Alisya.


"Katakan dimana Maya.. atau kalau tidak, lo keluat dari ruangan ini" bentak Bian dengan ekspresi marahnya.


"Hmmm tidak seru.." Alisya bergerak menjauh dari Bian. Kali ini dia bermain dengan pena yanh berwarna gold yang ada di meja Bian.


"Alisya.. cepat katakan dimana keberadaan Maya ??" Tanya Bian yang sudah di ambang batas kesabarannya.


Bian sangat muak melihat wajah wanita yang ada dihadapannya.


Sok cantik...


Padahal kecantikannya hanya karena make up yang melekat dengan begitu tebal di wajahnya. Coba saja kalau dia disuruh menghampus make up nya, pasti wajahnya terlihat sangat jelek.


Dia juga sok keren dengan memamerkan semua yang dia punya.


Memang benar, apa yang dia pergunakan semuanya dengan merk ternama. Tapi apa kalian tau, bagaimana caranya mendapatkan itu semua.. ??


Ckkk... dia malah lebih hina dari seorang *******.


"Ok.. gue akan katakan.. tapi ada syaratnya"


"Syarat apa ??"


"Pertama.. setelah lo bertemu dengan wanita pujaan lo itu, bawa dia pergi ke tempat yang jauh dan jangan pernah dia bertemu lagi dengan Rio"


"Setuju"


"Kedua.. gue ingin 5% dari saham yang lo punya di perusahaan Rio"


"Setuju"


"Ketiga.. gue mau lo menyerahkan wanita tua itu"


"Wanita tua ??" Bian mengerutkan dahinya. Siapa yang dia maksud dengan wanita tua.


"Wanita yang datang sebelum gue"


"Tidak.. gue nggak akan pernah menyerahkan dia"


"Ayolah.. apa lo nggak mau bertemu dengan kekasih lo"


"Nggak!!!" Teriak Bian marah.


Bagaimana bisa dia membiarkan sang mama berada di tangan wanita berbisa ini. Lagian, Bian masih tidak mengerti mengapa Alisya menginginkan Mamanya. Apa sebenarnya yang sudah dia rencanakan.


"Ternyata lo tidak terlalu menyayangi ****** itu ya.. bagus lah hahahahaa" Alisya melenggang pergi sambil tertawa bahagia.


"Cepat selidiki Alisya, dan cari tau siapa orang yang dibelakang Alisya" perintah Bian geram.


****


Rio menatap Maya takjub. Gaun putih yang ia pilihkan sangat serasi dikenakan oleh Maya, ditambah dengan satu set perhiasan yang bertahtakan intan dan berlian menambahkan keanggunan Maya.


Make up minimalis yang di kenakan Maya membuatnya tampak cantik natural. Sebenarnya Rio sudah membeli Tiara yang akan di gunakan Maya untuk riasan kepalanya, namun Maya menolak memakainya.


Alasannya..


Dia takut merusak Tiara itu kalau dia gunakan.


"Kenapa ??? Apa kelihatan jelek ??" Tanya Maya salah tingkah karena sedari tadi Rio tak henti menatapnya.


"Kamu cantik" puji Rio tulus.


"Gombal"


"Beneran.."


"Tuan.." Rio menatap Tian marah. Dia tidak suka melihat Tian yang masuk begitu saja tanpa permisi.


"Maafkan saya Tuan, tapi ada sesuatu yang harus sampaikan sekarang"


"Apa ??" Tian menoleh ke arah Maya.


"Ayo kita bicara diluar" ajak Rio yang mengerti isyarat yang diberikan Tian.

__ADS_1


"Ada apa ??"


"Tuan Bian sudah menemukan tempat ini, dan sekarang dia sudah menuju kesini ?"


Rio menghela nafas berat. Dia tidak mungkin pergi di saat pesta pernikahannya akan di langsungkan. Tapi dia juga tidak ingin keberadaannya di ketahui oleh Bian. Bian akan merusak kebahagiaannya saat ini.


"Kamu perketat penjagaan, jangan sampai Bian mengganggu acara pernikahan gue"


"Baik Tuan"


"Ada apa ??" Tanya Maya cemas saat Rio menghampirinya.


"Tidak apa-apa kok"


"Rio.. kalau kamu punya masalah sebaiknya cerita sama aku, siapa tau aku bisa membantu"


Bagaimana Rio biaa bercerita kepada Maya, kalai dirinya takut Bian akan membawa Maya pergi dengan dalih janji yang pernah di ucapkan Rio waktu dulu. Rio takut Maya akan salah paham terhadap dirinya.


"Kalau kamu belum siap untuk cerita tidak apa-apa kok" ucap Maya sambil tersenyum lembut pada Rio.


Maya memeluk tubuh Rio yang menegang karena kesal. Bahkan tangannya mengepal, hingga buku-buku jarinya terlihat jelas.


"Maya.."


"Hmmm.."


"Kamu tidak akan meninggalkan aku kan ???" Tanya Rio yang semakin mempererat pelukan mereka.


"Kenapa aku harus meninggalkan kamu ? Aku itu sudah jatuh cinta banget sama kamu"


"Beneran ??" Maya mengangguk pasti.


"Bagaimana dengan Bian ??" Tanya Rio ragu dan suaranya terdengar marah.


"Ehh kenapa dengan Bian ??"


"Bukannya kamu mencintai nya ??"


"Hahhaha kamu dapat kabar dari mana, kalau aku suka sama Bian"


"Bukannya kamu selalu tampak bahagia jika bersama Bian"


"Hmmm sepertinya aku mencium bau-bau kecemburuan nih" goda Maya sambil menoel hidung Rio.


"Iya aku cemburu.. aku tidak suka melihat kalian bersama. Aku marah, sangat marah waktu dia mengajak kamu pergi ninggalin aku"


Maya terdiam, diliriknya raut wajah suaminya yang tampak kesal dan juga sedih.


"Duhh gantengnya suamiku kalau sedang cemburu gini" sorak Maya gembira.


"Kok kamu bahagia banget sih.. oh, jangan-jangan kamu bahagia yah kalau pergi bersama Bian"


"Aku tuh bahagianya liat kamu cemburu gini" gemes Maya.


"Denger yah sayang. Dulu aku menerima permintaan Bian untuk membawa ku pergi, karena aku sudah jengah dengan perlakuan kamu yang semena-mena terhadap aku" kesal Maya


"Maaf" sesal Rio. Ya.. dia mengakui kalau dia ini pria yang jahat.


"Makanya kalau kamu bersikap seperti itu lagi, aku pasti akan menerima ajakan Bian untuk pergi"


"Jangan.. aku bisa gila kalau kamu pergi" Maya mengecup pelan kedua mata Rio, kemudian turun kehidungnya ditambah dengan gigitan kecil yang semakin membuat Maya ingin melahap suaminya sekarang juga, kalau saja dia tidak mengingat hari ini adalah hari pernikahan kedua mereka.


"Kok tidak dilanjutin kebawah ??" Tanya Rio yang sedari tadi menunggu bibirnya yang diakuin sangat sexy itu di kecup oleh bibir Maya.


"Nanti saja, kalau kita sudah menikah. Bukan hanya di bibir tapi disemua tubuh kamu" goda Maya.


"Wahh aku sangat menantikannya sayang"


~~~~โ™กโ™ก~~~~


Maaf, karena respon nya terlalu sedikit banget, jadi nggak bisa up ampe 10 eps...


bagi yang masih mau di up sampai 10 ep.. tolong bantu like nya ampe 50 like ya..


janhan lupa comment dan vote nya.. biar cerita nya lebih berkembang dan semangat lagi..


thanks ๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•

__ADS_1


__ADS_2