
Rio dan Bian berlari saat mendengar teriakan Maya di dalam kamar Rio yang hanya bersebelahan dengan ruang kerja Rio.
"Sayang... kamu kenapa ??"
"Hikksss Rio" peluk Maya erat sambil terisak. "Jangan tinggalin aku hiksss"
"Siapa yang mau ninggalin kamu sayang ??" Tanya Rio bingung.
"Hikks tadi aku mimpi, kamu ninggalin aku"
"Hmm itu cuma mimpi sayang. Aku tidak akan pernah ninggalin kamu"
"Janji..."
"Aku janji"
Cup
Satu kecupan kilat mendarat di bibir Rio membuat Rio menatap Maya gemes.
"Ehemm.. bisa nggak kalau mau bemesraan jangan dihadapan kakak ??" Ketus Bian. Apa dari tadi adiknya ini tidak melihat keberadaannya.
"Loh.. kak Bian kok ada disini ??"
"Kenapa ?? Kakak ganggu kamu dan suami kamu yah ??" Sindir Bian.
"Ehh nggak kok kak, Maya cuma nggak tau aja kalau Kak Bian ada disini" ucap Maya canggung.
"Kakak kesini itu mau membuat perhitungan sama suami kamu"
"Emang Rio salah apa lagi kak ??"
"Kok salah apa lagi sih ?? Emangnya aku tukang buat salah yah ?" Protes Rio tidak terima dengan kalimat Maya.
"Iya" ucap Maya dan Bian bersamaan kemudian tertawa terbahak-bahak melihat wajah Rio yang tidak terima dengan pernyataan Iya oleh kedua saudara itu.
"Ckkk..."
"Maya.. kok kamu sudah pulang dari Rumah sakit ??"
"Dokternya bilang Maya sudah boleh pulang Kak"
"Bukannya kakak bilang akan membawa Mama untuk menemui kamu di rumah sakit"
"Haaaa.... mama kerumah sakit tadi ?" Bian menggeleng.
Ahh Bian lupa kalau mama sekarang sudah berada di tangan mereka. Sekarang dirinya tidak boleh bersantai disini. Dia harus mencari jalan untuk menyelamatkan sang mama.
"Rio" panggil Bian ssmbari menatap Rio tajam dengan menggoyangkan hape nya sebagai isyarat kalau dirinya harus bicara penting dengan Rio saat ini juga.
"Sayang... aku sama Bian keluar dulu yah"
"Kalian mau kemana ??"
__ADS_1
"Cuma keruang kerja aku kok.. kita nggak kemana-mana"
"Ngapain disana, ngobrol disini saja" ucap Maya sambil bergelayut manja di pelukan Rio.
"Ichhh kamu nggak malu yah sama Bian" ucap Rio sambil memencet gemes hidung Maya membuatnya sulit untuk bernafas.
Maya menatap Bian yang membuang dari mereka. Bukannya Maya tidak malu, tapi entah kenapa saat ini Maya ingin bermanjaan dengan Rio. Apalagi barusan Maya bermimpi kalau Rio akan meninggalkannya, dan mimpi itu benar-benar terasa nyata bagi Maya.
Maya tidak ingin Rio meninggalkannya, tidak sekarang ataupun nanti.
"Sebentar aja kok, nanti aku akan kembali lagi" Maya cemberut, dia masih tidak mau melepaskan Rio.
"Nantu kalau urusan aku sama Bian selesai, kamu harus siap-siap ya" bisik Rio.
"Siap-siap apa ??"
"Siap-siap menepati janji kamu saat di rumah sakit" kecup Rio.
Pipi Maya bersemu merah. Sebenarnya saat ini dia sudah ingin menepati janjinya, tapi kenapa kak Bian tidak peka sama sekali.
Menyebalkan...
*****
"Apa rencana lo ?" Tanya Rio tanpa basa basi. Mereka memang harus segera mengatut rencana untuk melepaskan mama dari tangan Alisya.
Kalau ditunda lagi, itu bakal menjadi bomerang bagi mereka. Alisya akan menjadikan Mama sebagai bidak catur untuk meraih keinginannya. Apalagi kalau bukan bersama Rio.
"Jangan pernah meminta gue untuk dekat sama dia ya.." tegas Rio, sebelum Bian mengutarakan rencananya.
Dreettt... dreeettt..
Satu pesan masuk ke hape Bian. Ternyata Alisya mengirimkan Bian sebuah foto dirinya dan mama Bian yang sedang duduk di pinggir jalan.
"Gue tau itu dimana" ucap Rio saat dia melihat foto yang dikirimkan Alisya.
"Lihat... gedung ini tuh, apartementnya sahabat Alisya yang sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Mungkin Alisya membawa mama kesana"
Bian menatap Rio ragu. Kenapa ada yang aneh dari foto ini ??
"Ada apa ?? Ayo kita kesana"
"Tunggu dulu, gue curiga dengan Alisya"
"Curiga apa ??"
"Liat.." Bian menunjuk kearah kaca gedung yang tepat di belakang Alisya. Disana terdapat bayangan beberapa pria dengan berpakaian hitam sedang berdiri dibalik gedung yang ada disebarang gedung itu.
"Alisya hanya memancing gue untuk kesana"
"Bukan... Alisya sedang memancing gue" ucap Bian dingin. "Lebih tepatnya orang yang di balik Alisya yang sedang menunggu gue"
Rio masih bingung dengan yang dikatakan Bian.
__ADS_1
Orang di balik Alisya... !!!
Berarti Alisya membawa Mama, bukan bermaksud untuk membuat Rio terpaksa bersamanya dengan menukar Mama dengan Rio. Tapi dia hanya sebagai pion yang di gerakkan untuk mencelakai Bian.
Tapi jika itu benar, kenapa di foto ini mama terlihat seperti orang yang dengan senang hati untuk pergi mengikuti Alisya.
Apa Mama mengenal Alisya, dan Bian mengenal orang yang berada di balik Alisya.
"Kenapa lo ngeliatin gue seperti itu ??" Tanya Bian risih.
"Kenapa di foto ini mama lo kelihatan tidak canggung berdekatan dengan Alisya. Apa mereka saling mengenal ??"
"Mereka pernah bertemu beberapa kali"
Ada yang aneh disini. Jika mereka hanya bertemu beberapa kali, kenapa Mama seperti bahagia banget.
"Lo tau siapa orang di balik Alisya ?"
"Gue pernah menyelidikinya, dan gue curiga kalau Alisya bekerja sama dengan pria brengsek itu"
"Pria brengsek ??"
"Pria yang sudah membuat mama menderita dan yang sudah memisahkan gue dan Maya"
"Siapa namanya ?"
"Renaldi Wijaya"
"Apa !!! Maksud lo Renaldi Wijaya pemilik RW Group yang sekaranf sedang berjaya itu ?"
"Ya.. dia.. dia pria brengsek yang sudah menghancurkan hidup gue dan keluarga gue"
"Tapi kenapa dia ingin menghacurkan lo dan keluarga lo"
"Karena cinta nya yang tidak pernah di balas oleh Mama"
Rio memijit kepalanya yang terasa nyeri. Lagi-lagi cinta membuat orang hilang akal.
Menyakiti untuk memiliki
Itulah selogan pria brengsek untuk mendapatkan cinta mereka. Rio juga sempat menggunakan cara itu. Untunglah, dia sadar kalau terus menerus menyakiti orang yang dia cintai maka akan membuat dirinya semakin jauh.
Mungkin sebagian orang akan mengatakan kalau orang yang menggunakan cara itu tidak pernah tau bagaimana rasanya tersakiti. Itu salah..
Apa kalian tau... menyakiti orang yang kita sayangi itu sama saja dengan menyakiti diri kita sendiri.
Rintihan mereka seperti sayatan, tangisan mereka seperti perasan air jeruk yang sengaja di teteskan di atas luka yang ternganga. Perih..
Mungkin terdengar sedikit egois, tapi mereka memilih cara itu hanya menginginkan satu hal. Dilihat, diperhatikan dan dicintai oleh orang yang kita cinta.
Cuma itu...
Tapi balik lagi, perasaan dan cinta itu tidak bisa di paksakan. Hati juga tidak bisa memilih untuk siapa dia akan bertaut.
__ADS_1
Jika hati bisa memilih, dia akan memilih mencitai orang yang mencintai nya. Agar semua rasa sakit itu tidak pernah dia rasakan lagi.