
"Maaf Tuan, nyonya sekarang memerlukan transfusi darah" ujar dokter sedikit panik saat memberitahukan kondisi Maya saat ini.
Bagaimana tidak, satu jam yang lalu. Rio dan Bian membawa paksa sang dokter untuk datang kerumah sakit.
"Lakukan" teriak Rio panik. Tatapan matanya begitu tajam menatap sang dokter yang sudah sangat ketakutan.
"Tapi, kami tidak memiliki pasokan darah yang sama dengan golongan darah nyonya"
Rio menghela nafasnya dengan berat. Dia sudah tau kalau golongan darah Maya sangat lah langka. Kalau ini dirumahnya mungkin dia akan sangat mudah untuk mengambil darah yang sudah tersimpan di rumah sakit mini yang berada di rumah Rio.
"Umumkan pada semua orang, siapa yang mau menyumbagkan darahnya untuk Maya akan saya bayar dengan harga yang mahal"
"Tapi.."
"Ambil darah saya saja Dokter. Golongan darah saya sama dengan golongan darah Maya." Ujar Bian pelan.
Rio memincingkan matanya kearah Bian. Bagaimana dia bisa tau golongan darah Maya. Apa selama ini dia sudah menyelidiki Maya. Sejauh itu kan Bian perduli dengan Maya ??
"Kalau begitu tuan bisa keruangan itu untuk pengecekkan lebih lanjut" ujar sang dokter sambil menunjuk sebuah ruangan yang tak jauh dari mereka.
"Tunggu" sentak Rio.
"Gue tau apa yang ada didalam otak lo iti, tapi sekarang Maya lebih membutuhkan gue. Seharusnya lo kesampingkan ego dan cemburu lo itu" tegas Bian yang dengan mantap berjalan ke ruangan yang telah di tunjuk sang dokter.
Rio terpaku di tempatnya. Benar kata Bian, kali ini dia tidak boleh egois dan tidak boleh mementingkan dirinya sendiri kalau mau melihat Maya dan baby R selamat.
Untuk saat ini hanya Bian yang dapat menyelamatkan Maya. Walaupun nantinya Bian pasti akan menuntut sesuatu atas apa yang dia lakukan. Asalkan itu bukan Maya dan baby R, Rio akan memberikannya. Tapi tidak juga untuk nyawanya. Jika dia mati, itu lebih memudahkan Bian untuk memiliki Maya. Dan Rio tidak mau sampai itu terjadi. Dia harus tetap hidup demi menjaga Maya dan baby R.
Sudah hampir 5 jam tapi Maya belum sadarkan diri juga. Dengan wajah yang pucat, Bian terbaring lemah di sofa tepat disamping ranjang Maya. Sudah beberapa kali dokter dan suster menyarankan Bian untuk istirahat di kamar pasien yang kosong. Tapi dasar si Bian yang keras kepala. Dia kekeh mau tetap berada didekat Maya sampai Maya sadarkan diri.
"Kenapa lo bisa jatuh cinta sama Maya, bukannya lo sudah tidak memiliki cinta di dalam hati lo" ucap Bian memulai percakapan yang sejak dia berada diruangan ini, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Rio.
Bahkan kata terimakasih tidak dia utarakan.
Dasar Tuan Muda Angkuh..
"Bukan urusan lo"
"Ckk itu juga akan menjadi urusan gue nantinya. Liat saja, Maya akan menjadi milik gue"
"Sial" bathin Rio.
Kali ini Rio tidak ingin bertengkar dengan Bian. Dia tidak ingin Maya terganggu dengan ocehan nya. Biarlah untuk saat ini Rio mengalah.
"Gue pastiin, jika Maya sadar nanti, gue pasti akan membawanya pergi" ucap Bian penuh percaya diri.
"Lo !!!!" Rio menatap tajam Bian. Bisa tidak bedebah ini tidak menyulut amarah Rio saat ini. Apa dia tidak melihat kondisi Maya ??
"Rio" lirih Maya pelan sambil menggerakkan tangannya yang sedari tadi digenggam oleh Rio.
"Maya" Rio menatap Maya dengan bahagia.
__ADS_1
Maya nya telah sadar..
"Anak kita"
"Tenang saja sayang, Baby tidak apa-apa. Dia kuat seperti mamanya"
"Maya" panggil Bian. Dengan sedikit tertatih, dia menghampiri Maya. Tubuhnya yang lemah membuatnya hampir terjatuh.
"Kak Bian" Maya menatap dua manik mata Bian yang berkaca-kaca saat dia memanggil Bian dengan sebutan Kak Bian.
Nama yang sudah lama tidak Bian dengar, panggilan nama yang sangat dia rindukan.
Maya sudah mengingatnya lagi..
"Kak Bian terluka ??" Tanya Maya khawatir.
"Tidak.. cuma sedikit pusing."
Maya menatap Bian sambil tersenyum lebar, bahkan tangannya melepaskan genggaman Rio dan menjulur ke arah Bian agar Bian meraihnya.
"Kak.. hikkss" Maya terisak. Dia tidak bisa menahan kebahagiannya hingga air matanya mengalir begitu saja. Begitu juga Bian. Dia tampak sangat bahagia hingga dia mengecup lembut tangan Maya yang dia genggam.
Mereka terbuai satu sama lain sampai mereka lupa kalau disana masih ada Rio yang menatap mereka dengan geram. Api amarah Rio sudah menjalar diseluruh tubuhnya. Tapi dia tidak bisa meluapkannya. Kondisi Maya begitu lemah, kalau dia marah, Rio malah akan memperburuk masalah.
Maya akan membenci nya lagi, dan dia akan berpaling pada Bian. Rio tidak mau ditinggalkan Maya. Dia tidak sanggup.
Eheemmm..
Rio mendehem sekali, berusaha memberikan isyarat kalau dirinya masih disini. Tapi dua insan itu masih menatap satu sama lain dengan senyuman yang mereka di wajah mereka masing-masing tanpa bicara. Seolah-olah mata mereka menyiratkan semua isi hati mereka.
"Maaf Tuan, saya mau mengganti darahnya" ucap suster dengan membawa sekantong darah Bian yang siap di donorkan ke tubuh Maya.
"Loh.. Tuan Bian, kenapa tidak berbaring saja. Tuan masih harus banyak istirahat, karena hari ini Tuan banyak mendonorkan darah untuk istri Tuan" ucap suster itu santai. Dia tidak melihat kalau disampingnya ada Rio yang menatapnya dengan garang.
"Gue suami Maya, bukan dia" Teriak Rio didalam hatinya.
"Kak Bian donorkan darah kakak buat aku ??" Bian mengangguk.
"Iya, nyonya.. bahkan Tuan bersikeras untuk menyumbangkan darahnya dengan kondisi yang lemah dan terluka."
"Kakak" Maya menatap Bian dengan penuh rasa bersalah. Karena dia, Bian terluka lagi.
"Nyonya beruntung mempunyai suami seperti Tuan"
"Maaf suster.. suami saya yang ini, bukan dia" ucap Maya berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
"Maaf.. saya kira.." suara sang suster tercekat saat dia menatap wajah Rio yang sedari tadi menahan amarahnya.
Suster itu mengusap tangannya, entah kenapa seketika tubuhnya merinding. Seolah-olah ada makhluk lain yang berada di dekatnya.
"Apa ruangan ini ada hantunya ya" ucapnya di dalam hati.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu. Kalau ada apa-apa tinggal pencet aja yang ini, saya akan cepat kesini"
"Nggak akan gue biarkan lo datang lagi kesini" umpat Rio didalam hatinya.
Eheemm..
"Maya mau minum ??" Tanya Rio pelan namun dia kalah cepat dengan Bian yang sudah menyodorkan segelas air pada Maya.
Kalau Bian terus menerus berada disini, pasti dia akan menghalangi Maya untuk selalu dekat dengan Rio. Tidak bisa di biarkan, Bian harus segera di singkirkan.
"Ini kan !!" Maya menatap tak percaya dengan apa yang Bian tunjukkan.
"Bagaimana ini bisa sama kakak.. bukannya" Maya terdiam. Ingatannya tentang masa lalu membuat hatinya perih.
Walaupun sekarang Maya sangat bahagia karena ingatannya sudah kembali tapi kenangan buruk itu membuat hatinya hancur lagi.
Maya tidak sanggup mengingatnya lagi, setiap kali ingatan itu muncul, setiap kali juga tubuhnya merasakan sakit. Maya masih merasakan semuanya.
"Tenang.. jangan nangis" peluk Bian saat Maya mulai terisak.
"Apa-apaan ini. Mereka berpelukan ?? Mereka anggap gue ini angin apa ??" Gerutu Rio didalam hatinya.
Rio tidak mau mengutarakan kemarahannya, tapi dia juga tidak sanggup lagi menahan rasa cemburunya. Apalagi kali ini Bian telah berani memeluk Maya tepat di depan mata Rio.
Apa mereka sudah gila ??
Orang lain berusaha dengan keras untuk menyembunyikan perselingkuhan mereka. Tapi mereka, haaa.. mereka terang-terangan berselingkuh dihadapan Rio.
"Lepaskan !!" Bentak Rio.
Cukup...!!!
Maya itu istrinya, tidak ada satu pria pun yang boleh menyentuhnya.
"Lepaskan istri gue" Rio berusaha untuk melepaskan pelukan Bian dan mendorong tubuh lemah Bian. Untung saja Bian sempat berpegangan pada sudut tempat tidur Maya. Kalau tidak, mungkin sekarang dia sudah tersungkur dilantai.
"Rio" ucap Maya dengan mata nyalangnya.
Seharusnya disini Rio yang harus marah karena melihat mereka bermesraan, pelukan di depan matanya sendiri. Tapi ini kenapa Maya yang marah.
Apa sekarang di hati Maya hanya ada Bian ?? Terus bagaimana dengan pernikahan kedua yang mereka jalani yang berlandaskan dengan cinta.
Apa itu semua bohong..?
"Apa yang kamu lakukan ??" Tanya Maya tidak suka.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang sedang kalian lakukan"
"Aku..."
"Bodoh" timpal Bian lemah. Kali ini dia tidak sanggup lagi bangun. Karena tubuhnya benar-benar tidak berdaya lagi.
__ADS_1
"Rio... dia itu.."
Bughhhh....