Baby untuk Mr. R

Baby untuk Mr. R
Part 13


__ADS_3

"Sialan... Rio sudah melarikan diri lagi" teriak Bian kesal sambil melempar Vas bunga dengan kerasnya.


"Tuan.. Tuan Rio pasti belum jauh dari sini, karena mobilnya masih terparkir di garasi belakang"


"Nggak.. Rio nggak mungkin gegabah seperti itu dengan membawa Maya lari begitu aja apalagi dengan kondisi Maya yang sedang hamil. Pasti dia sudah mengontak suruhannya atau orang lain agar membantunya lari. Cepat kerahkan semua orang untuk mencari Rio lagi"


"Baik Tuan"


"Kamu... sebaiknya kamu disini, jika Rio kembali lagi ke Vila ini, kamu cepat hubungi saya"


"Baik Tuan"


"Ayo cepat pergi"


Bian pergi dengan raut wajah yang kesal, tanpa ia sadari kalau ada sepasang mata yang menatapnya dibalik kegelepan dengan tatapan ingin membunuh.


Tubuh Bian terasa lelah, tapi dia tidak mau istirahat sedikitpun sebelum dia menemukan Maya. Bian takut kalau sahabatnya yang terkenal dengan kegilaannya itu menyakiti Maya.


"Tuan.. sebaiknya Tuan tidur dulu" pinta Arya salah satu kaki tangan Bian.


"Gue nggak bisa tidur Arya sebelum gue menemukan Maya"


"Apa Tuan mencintai Nyonya Maya ??" Bian menatap Arya sehingga Arya tertunduk takut "Maaf Tuan, saya sudah lancang"


Ada segurat senyum yang terpatri di wajah Bian. Mencintai.. sebuah kata yang ingin sekali Bian utarakan, tapi sepertinya itu tidak mungkin.


"Kalau lo capek, biar gue aja yang bawa mobil"


"Tidak Tuan, saya masih bisa mengemudikan mobil ini. Sebaiknya Tuan tidur saja, nanti kalau sudah sampai akan saya bangunkan"


****


Maya memeluk erat tubuh Rio. Hangat gumam Maya didalam tidurnya. Tadi malam setelah asik melihat bintang, Maya tertidur dengan lelap. Aroma bunga yang sangat harum dengan gemercik aliran air buatan membuat Maya merasa nyaman berada di gua itu.


Baby R juga sepertinya menyukai tempat ini, dari tadi dia begitu tenang di dalam perut Maya. Seandainya Maya bisa merasakan nyaman seperti ini setiap hari.


"Maya" kecup Rio dipucuk kepala Maya, dan tangannya mengelus pelan perut Maya.


Maya yang diperlakukan seperti itu semakin memeluk erat tubuh Rio membuat Rio tersenyum bahagia.


"Tuan" ucap Tian pelan sambil menatap kebawah.


"Bagaimana ?? Apa mereka sudah pergi ??"


"Sudah Tuan, tapi.."


"Tapi apa ??"


"Pelayan yang memberikan informasi kepada Tuan Bian masih berada di Villa"


"Musnahkan dia"


"Baik Tuan" Tian memalingkan tubuhnya untuk beranjak pergi.


"Tian, siapkan makanan untuk Maya, dan bawakan beberapa pakaian untu gue dan Maya"


"Baik Tuan"


"Eehhhhh..." Maya gelagapan saat dia terbangun, dia berada dipelukan Rio apalagi didepan ada pelayan Rio yang menunduk karena tidak enak melihat posisi Rio dan Maya yang sedang berpelukan.


"Sudah bangun ??" Maya mengangguk canggung dan membenarkan posisinya tanpa dia sadari bajunya melorot hingga menampakan bra warna merah kesukaan Rio yang dia gunakan.


"Cepat pergi" usir Rio pada Tian dan berusaha menutupi dada Maya.


"Ckk pagi-pagi sudah menggoda gue ya ??" Ucap Rio dengan senyumannya yang membuat Maya bergeser menjauh.


"Saya tidak menggoda.." Maya mengarahkan padangannya tepat dimana pandangan Rio tertuju, dan dengan cepat Maya membenarkan bajunya.


"Maya.."


"Iya.."


"Bagaimana kalau kita tinggal disini selamanya ??" Maya ternganga lebar, dia terkejut dengan pernyataan Rio.


Hidup disini selamanya ??

__ADS_1


Tempat ini memang bagus dan Maya akui dia sangat menyukainya. Tapi kalau hidup disini berdua dengan Rio.. hmm itu tidak mungkin terjadi.


"Bukannya lo sudah membuat kontrak seumur hidup sama gue" ucap Rio lagi yang membangunkan keterlupaan Maya dengan janjinya beberapa waktu lalu.


Kontrak seumur hidup...


Astaga...


"Lo, gue dan baby R akan hidup bahagia disini. Kita akan bahagia disini tanpa ada yang mengganggu keluarga kecil kita"


"Keluarga ??"


"Iya.. keluarga.. lo, gue dan baby R" Maya terdiam, dia tertunduk tanoa terasa ada buliran air mata yang jatuh di pipi Maya.


Keluarga..


Kata itu sangat berarti buat Maya. Sudah lama dia tidak merasakan yang namanya kehangatan sebuah keluarga, dan kini kata itu malah keluar dari mulut seorang Rio.


"Tapi kalau cuma kita bertiga saja disini, sepertinya cukup sepi.. bagaimana kalau kita menambah adik untuk baby R.. hmmm mungkin 10 lagi"


"Kamu kira mau main bola apa ??" Ketus Maya. Baru saja dia sedikit terharu dengan perkataan Rio, tapi kini pria itu sudah membuat Maya kesal lagi.


Apa yang barusan dia bilang, 11 anak ??


Apa dia fikir melahirkan itu enak. Rio mah enak, tinggal menanam benih setiap hari sedangkan Maya harus mengandung selama 9 bulan dan juga harus melahirkan dengan taruhan nyawa. Kalau itu sebelas anak, berarti Maya tidak hentiya mengandung donk.


Rio menatap Maya sambil tertawa terbahak-bahak membuat Maya terpana. Baru kali ini dia melihat Rio seperti ini, begitu bahagia.


"Yukkk" ajak Rio dengan suara yang masih tertawa.


"Kemana ??"


"Buat adik untuk Baby R"


"Gila" celetuk Maya yang membuat Rio kembali tertawa.


Baby R aja belum lahir, si Rio malah mau buat untuk adiknya.


"Kalau nggak boleh buat adek untuk baby R, kalau jenguk baby R boleh donk"


"Mesum sama istri sendiri nggak apa-apa donk. Lagian kasian baby R kalau nggak sering di jenguk. Ntar dia nggak tau lagi siapa papa nya" cengir Rio.


"Boleh ya ??"


"Nggak.."


"Ayo donk.."


"Nggak mau" hindar Maya namun dikejar oleh Rio.


"Auuuwwww.."


"Kenapa ?? Sakit ??" Tanya Rio panik.


Maya menggeleng " laper " cengirnya.


****


"Ngapain lo disini ??" Tanya Bian tak suka pada wanita yang sekarang sedang duduk dengan angkuhnya di ruang tamu Bian.


"Dimana Rio ??" Tanyanya dengan suara centilnya.


Oh Tuhan... sekarang Bian sedang lelah karena tidak istirahat mencari Rio dan Maya, dan sekarang dia harus meladeni cewek menyebalkan ini.


"Gue nggak tau"


"Bukannya lo sahabat Rio"


"Dia punya kehidupan sendiri"


"Gue mau tau dimana Rio, Bian"


"Kenapa lo tanya gue.. lo bisa cari sendiri. Gue juga pengen tau dimana Rio"


"Ckkk.. ini semua gara-gara perempuan itu. Kalau gue ketemu dia lagi, akan gue bunuh dia"

__ADS_1


"Berani lo bunuh Maya, akan gue cincang tubuh lo" ancam Bian.


"Hahahhaaa... ternyata seorang Bian begitu peduli dengan istri orang lain.. upsss maksud gue, ISTRI SAHABATNYA SENDIRI"


"Lo !!!"


"Sebaiknya kita kerja sama Bian.. lo dapat perempuan ****** itu dan gue akan dapat Rio.. bagaimana ??"


"Gue nggak sudi kerja sama sama lo"


"Ayolah Bian.. kerja sama ini pasti sangat menguntungkan buat lo. Setelah gue dapat Rio, gue janji gue nggak akan biarkan perempuan ****** itu mendekati Rio lagi"


"Sekali lagi lo bilangin Maya perempuan ******, akan gue bunuh lo" teriak Bian murka. Dia tidak suka mendengar Maya di katai perempuan ****** seperti ini. Hatinya seakan hancur mendengarnya.


"Upppss sorry..." ucapnya tanpa merasa berdosa.


"Tuan.." Arya membisikkan sesuatu di telinga Bian yang membuat tubuhnya menegang seketika. Tangannya mengepal, raut wajahnya juga ikut berubah. Di tatapnya wanita yang sedang duduk angkuh di hadapannya dengan segelas wine merah ditangannya dengan menampilkan senyuman devil yang seolah-olah dia tau apa yang dibisikkan Arya pada Bian.


"Bagaimana ??? Mau bekerja sama ??" Tanya nya lagi.


"Gue nggak akan pernah kerja sama dengan wanita licik seperti lo"


"Yakin !!!"


"Cepat usir perempuan itu, jangan pernah biarkan dia masuk kerumah ini lagi" perintah Bian dengan berteriak.


"Jangan sentuh gue.. gue bisa pergi sendiri.. Bian, gue sudah mengajukan penawaran buat lo tapi sayang lo menolak penawaran itu. Gue harap lo nggak pernah menyesal dengan keputusan lo" ancam nya sambil melenggang pergi membuat Bian semakin menatapnya tajam.


"Apa yang harus kita lakukan Tuan"


"Kita harus cepat menemukan Maya sebelum wanita gila menemukan mereka terlebih dahulu"


"Baik Tuan"


"Maya.. gue akan bawa lo pergi ke tempat yang jauh, dimana nggak akan ada lagi yang berusaha mencelakai lo dan bayi lo" gumam Bian di dalam hatinya.


****


Maya memegangi perutnya yang kekenyangan sambil tertawa kecil melihat Rio yang sedang memetik beberapa bunga untuk Maya.


"Yang ini mau ??" Tanya Rio sambil menunjuk mawar kuning yang ada di hadapannya.


Maya menggeleng, dia tidak suka dengan mawar kuning.


"Yang hitam" ucap Maya pelan.


"Mawar hitam ?" Maya mengangguk.


"Kenapa mawar hitam ?" Tanya Rio tak suka.


"Kepengen aja.. cepetan ambil" ucap Maya sedikit marah.


"Iya.. tapi ingat janji lo" Maya mengangguk.


"Habis makan, gue bolehkan jenguk baby R" Maya menggeleng sambil mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya.


"Kenapa ?? Kasian Baby R nya"


"Kasian baby R atau kamu nya ??" Ucap Maya kesal.


"Dua-dua nya.. apa lo nggak kepengen juga ??" Tanya Rio manja dengan suaranya yang sexy. Jujur saja, Maya juga menginginkannya, apalagi sekarang dia sedang hamil, hormonnya sangat tinggi.


"Nggak kepengen tuch"


"Masa !!" Rio meniup daun telinga Maya hingga bulu kuduk Maya berdiri. Sesekali bibirnya menyentuh leher Maya dengan lembut.


"Bagaimana ??" Tanya Rio pelan.


"Jorok"


"Apa ???" Rio menatap Maya tajam. Apa yang dimaksud Maya dengan kata Jorok.


"Sudahlah, hari ini gue nggak mau bertengkar sama lo.. habiskan makanannya, gue mau mandi dulu" Rio pergi dengan wajah sendunya, persis seperti anak kecil yang kesal karena tidak mendapatkan mainannya. Dan Maya menyukai itu.


"Ambilkan saya bunga, nanti saya akan memandikan kamu"

__ADS_1


"Benar ??" Ucap Rio semangat.


__ADS_2