
Maya mengumpat sejadi-jadinya pada dirinya sendiri. Bagaimana dia menyutujui kontrak seumur hidup itu ?? Berarti dia akan selamanya bersama Rio, dia tidak akan pernah bisa pergi lagi.
Akhhh...
"Kenapa ??" Tanya Rio yang heran melihat Maya berjalan maju mundur dengan mulut komat kamit seperti mbah dukun.
"Tidak apa-apa"
"Sini" panggil Rio sambil.menepuk pelan kursi yang ada disampingnya mengisyaratkan Maya untuk duduk didekatnya.
Dengan sedikit canggung dan bisa dibilang sedikit takut, Maya melangkahkan kakinya dengan penuh keraguan hingga duduk ditempat yang sudah Rio tentukan.
"Ehhh mau ngapain ??" Tanya Maya gelagapan saat Rio berusaha mengangkat kedua kaki Maya dan ingin meletakkannya di kedua kakinya.
"Jangan banyak bergerak nanti lo bisa jatuh" ucapnya pelan.
Maya terperanga saat kakinya di pijet lembut oleh Rio.
Catet....!!!!
Rio.... orang yang telah membelinya, Tuan besar angkuh yang selalu menyakitinya. Saat ini sedang memijit kakinya dengan lembut.
Ini benar-benar gila. Sepertinya Rio memang kesambet hantu yang berada di hutan tadi.
"Auwww" ringis Maya kesakitan yang menyadarkannya dari keterkejutannya atas apa yang Rio lakukan.
"Sakit ??" Tanya Rio khawatir.
Maya menggeleng cepat, tadi memang sedikit sakit, tapi sekarang sudah tidak.
"Gue akan pelan.. kalau begini sakit tidak ??" Tanya Rio lembut.
Maya mengedipkan matanya beberapa kali. Mulutnya sedikit terngaga menatap Rio tak percaya. Pria yang selalu berprilaku sadis terhadapnya kini bertanya dengan lembut. Apalagi sekarang Maya diperlakukan bak seorang ratu olehnya.
Drettt... dretttt...
Rio menatap marah pada ponselnya yang terus saja bergetar, apalagi nama yang tertera disana, melihatnya saja membuat Rio semakin marah. Tapi sekarang Rio harus mengontrol dirinya, kalau dia emosi Maya pasti akan kesakitan lagi. Tadi saja Rio tidak sengaja menyakiti Maya sampai dia menlenguh kesakitan.
"Kenapa tidak di angkat" tanya Maya pelan dengan suara takut.
Rio pov
Aku menatap Maya tak suka saat dia menayakan kenapa aku tidak mengangkat ponselku yang bergetar terus. Pasti dia sudah tau kalau ini telphone dari Bian.
Aku menurunkan kakinya dari pahaku dan langsung mengambil ponsel yang ada disampingku dan pergi meninggalkan Maya dengan tatapan bingun dan jelas banget dimatanya kalau dia sedikit ketakutan.
"Hallo" ucapnku ketus dengan sepelan mungkin. Aku tak mau Maya mendengat percakapan ini.
"Dimana lo bawa pergi Maya, brengsek"
"Apa urusannya sama lo ??" Ucap ku lagi dengan nada datar.
"Itu jadi urusan gue brengsek.."
"Ckkk.. Maya itu istri gue, apapun yang gue lakuin sama dia itu urusan gue.. gue peringatin sama lo, jangan ikut campur lagi.. atau gue tidak akan pernah menganggap hubungan kita selama ini"
Aku menutup telp dengan kesal. Aku tau Bian menyukai Maya sejak pertama kali dia melihat Maya di rumah ku. Tapi aku tidak pernah menyangka kalau Bian akan seperti ini.
Sosok Bian yang aku kenal, dia tidak mudah untuk menyukai seseorang, kalaupun dia menyukainya dia tidak akan pernah bertindak bodoh ataupun gegabah.
Tapi sekarang dia malah mengancam aku. Ckk, berani sekali dia.
****
Maya mencoba mengintip dari kejauhan, berusaha untuk menguping pembicaraan Rio dan Bian. Maya sempat melirik ke arah ponsel Rio ketika ponselnya bergetar dan disana terpampang jelas nama Bian.
Pasti sekarang Bian panik mencari Maya karena tidak menemukannya di rumah Rio.
Eheeemmm..
Rio berdehem, saat dia memergoki Maya yang berusaha menguping pembicaraannya.
__ADS_1
"Mau jalan-jalan keluar ??" Tanya Rio pelan dan ditanggapi dengan gelengan kepala Maya.
"Kenapa ?? Pemandangan diluar bagus loh"
"Capek" Maya melirik Rio takut, dia tidak sengaja menolak Rio. Maya memang benar-benar merasa capek sehabis perjalanan jauh tadi. Maklum ibu hamil.
"Kalau begitu kita istirahat aja di kamar"
"Hhaaaa... kamar !!"
"Kenapa ??" Maya menggeleng cepat.
"Tenang aja, gue nggak bakalan ngapa-ngapain lo" jelas Rio yang mengerti apa yang difikirkan Maya saat ini.
Sejujurnya kalau Maya menginginkannya, Rio dengan senang hati memberikan service yang terbaik untuk Maya. Tapi berhubung tadi mereka melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, apalagi kondisi Maya yang sedang mengandung. Jadi, Rio bisa menahan hasrat nya paling tidak untuk hari ini saja.
Maya menatap tidak percaya. Tidak mungkin Rio tidak mau menjadikannya sebagai pemuas nafsu nya.
"Atau jangan-jangan lo mau gue apa-apain" ledek Rio membuat Maya menghendus kesal.
***
Sialan..
Dimana Rio membawa Maya pergi. Aku bahkan sudah mencari semua tempat yang biasa Rio kunjungi, tapi tak satupun aku menemukan jejak Rio disana. Semua pengawal dan pelayan dirumah Rio kompak mengatakan kalau mereka tidak mengetahui dimana keberadaan Rio.
Semua penerbangan, dan kapal laut tidak ada menyertakan nama Rio dan Maya disana. Kartu kredit Rio pun tak dia gunakan hari ini.
Sebenarnya dimana dia ??
Atau jangan-jangan dia membawa Maya untuk menghabisinya..
Akhhh.. nggak mungkin..
Bagaimanapun juga, saat ini Maya masih mengandung anak Rio. Dia tidak akan mau mencelakai anak yang selama ini ia tunggu-tunggu.
"Tuan..."
"Apa kamu sudah menemukan dimana Rio ??" Tanya Bian sedikit kesal dengan salah satu pengawalnya.
"Apa ini ??"
"Ini hasil pemeriksaan Nyonya Maya"
"Untuk apa kamu berikan itu ke Saya, yang saya mau iti keberadaan mereka bukan kertas seperti ini" kesal BianĀ
"Tapi dibawah surat itu terdapat sebuah nama ALEXIA"
Bian mengernyitkan dahinya.
ALEXIA.. sepertinya dia pernah mendengar nama ini tapi dimana ??? Bian berfikir keras berusaha mengingat nama yang tertulis di kertas itu. Tapi semakin Bian berusaha mengingatnya dia semakin merasa kesal karena dia tidak bisa mengingatnya sedikitpun.
"Maaf Tuan.. apa nyonya Maya akan baik-baik saja??" Tanya salah satu pelayan yang memberanikan diri untuk mendekati Bian walaupun terlihat jelas dari suara dan raut wajahnya kalau dia saat ini sedang ketakutan.
Bian hanya menatap sekilan pelayan itu dan kembali mengingat dimana dia pernah mendengar nama ALEXIA tanpa memperdulikan pertanyaan pelayan itu.
"Akhhh sialan.. apa maksud dari nama ALEXIA ini" kesal Bian yang langsung meninju dinding yang berada di dekatnya.
"Maaf Tuan, saya tau tentang Alexia"
"Kamu tau ??" Tanya Bian semangat. Pelayan itu mengangguk pelan. "cepat beritahu saya"
"Saya akan memberitahu tuan, tapi tuan harus berjanji" ucapnya lancang yang membuat beberapa pengawal bahkan hendak membungkam mulutnya namun ditahan oleh Bian.
"Apa permintaan kamu"
"Tuan harus berjanji kalau Nyonya Maya dan bayinya akan selamat" ucapnya penuh pengharapan.
"Saya berjanji, sekarang.. cepat kamu ceritakan tentang ALEXIA"
"ALEXIA adalah nama sebuah Villa yang diberikan oleh ayah Tuan Rio kepada ibu Tuan Rio waktu Ibunda Tuan Rio melahirkan Tuan Rio"
__ADS_1
"Kamu tau dimana Villa itu" pelayan itu mengangguk.
"Saya pernah beberapa kali bertugas untuk membersikan Villa itu"
"Bagus.. sekarang kamu ikut saya kesana"
***
Rio menatap Maya yang tertidur lelap di kamarnya setelah mereka melakukan pertengkaran yang sedikit alot, karena Maya tidak mau sekamar dengan Rio.
Ya, kalian pasti sudah tau kenapa Maya bersikeras tidak mau bersama Rio.
Tetapi setelah beberapa kali Rio berjanji untuk tidak akan menyentuhnya, akhirnya Maya mau juga tidur satu kamar dengan Rio.
Entah sejak kapan, setiap kali Maya tidak tidur bersamanya, Rio merasakan ada sesuatu yang hilang. Dia tidak mudah terlelap, seperti ada sesuatu yang membayanginya dan berbisik di telinganya untuk cepat membawakan Maya agar tidur bersamanya.
Wajah polos Maya yang tertidur lelap seperti obat penenang bagi Rio, apalagi kebiasaan barunya saat ini yang suka mengelus perut Maya yang sudah sedikit membuncit.
Seperti Rio bakalan gila kalau Maya benar-benar memutuskan untuk meninggalkan dirinya.
Dreeetttt..
"Hallo" ucap Rio pelan dan bergegas ke balkon biar tidak menganggu tidur Maya.
"Maaf Tuan, kalau saya menganggu istirahat Tuan. Saya cuma ingin melapor kalau tadi Tuan Bian menanyai satu persatu orang disini tentang dimana keberadaan Tuan"
"Terus.."
"Salah satu pelayan yang dulunya bekerja di Villa tempat tuan berada memberitahukan dimana keberadaan Tuan, dan sekarang mereka sedang menuju kesana"
"Akhhh sialan.. cepat perintahkan helikopter untuk datang kesini. Untuk pelayan yang kurang ajar itu, kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan terhadapnya"
"Maaf Tuan, tapi Tuan Bian sudah bekerja dengan semua Air Traffic Controller yang berada disini tuan. Mereka pasti akan memberitahu Tuan Bian, jika Tuan menggunakan helikopter saat ini."
"Sial" teriak Rio geram.
Sepertinya kali ini Bian sudah kelewat batas. Sikap Rio yang terlalu lunak padaknya membuatnya besar kepala.
"Kalau begitu, perintahkan semua pengawal untuk mengejar mereka dan usaha kan untuk mengulur waktu mereka untuk tiba disini. Kalau perlu, habisi mereka"
"Siapa yang mau kamu habisi ??" Tanya Maya pelan membuat Rio kaget, sejak kapan Maya berada dibelakangnya.
"Pesaing bisnis gue" ucap Rio sedikit gugup. Kali ini Rio tidak mau membahas Bian, apalagi di hadapan Maya. Itu akan semakin membuatnya kesal dan Maya akan semakin menjauh dari nya.
"Karena lo sudah bangun, bagaimana kalau kita jalan-jalan"
"Jalan-jalan ?"
"Iya.. pemandangan malam disini sangat indah, dan gue pengen ngebawa lo suatu tempat"
"Dimana ??" Tanya Maya curiga.
"Ikut saja"
"Tapi.."
"Gue janji, gue nggak akan mencelakai lo"
Dengan sedikit was was, Maya mengikuti langkah Rio. Mereka memasuki sebuah gue yang tak jauh dari Villa Rio.
Maya terperanga tak percaya, ternyata didalam gua tersebut terdapat sebuah ruangan yang sangat indah, ada sebuah taman bunga yang tak kalah indahnya. Baru pertama kali ini Maya melihat yang seperti ini.
"Kamu suka ??" Tanya Rio pelan. Maya mengangguk sambil membukkukkan tubuhnya untuk berusaha mencium aroma bunga yang sedang bermekaran.
"Ini tempat peristirahat bunda, dan mulai sekarang tempat ini jadi tempat peristirahatan kita"
"Tempat peristirahatan kita ??" Tanya Maya dengan mata berbinar.
"Iya... sini, gue liatin sesuatu yang tak kalah indahnya" Maya mengikuti Rio, dan dengan perlahan atap bangunan yang berada di dalam gua itu terbuka dan menampilkan pemandangan langit yang sangat indah.
"Cantik" kagum Maya yang tanpa ia sadari sekarang dia sudah berada di pelukan Rio.
__ADS_1
"Mulai sekarang, lo, gue dan baby R akan menikmati keindahan ini setiap hari.." ucap Rio sambil mengecup lembut pundak Maya.
Boleh kah aku berharap agar mimpi ini tidak pernah pudar ???