
Bian menelisik ke setiap sudut di kamar hotel tempat dia dan Alisya janjian.
"Mama mana ?" Tanya Bian datar.
"Tenang saja mama lo aman kok bersama gue"
"Gue mau mama gue, Sya"
"Lo mau pembicaraan kita didengar sama mama lo ?" Bian menatap Alisya semakit lekat. Kalau saja saat ini mama tidak berada di tangan perempuan ****** ini, saat ini juga pasti Bian sudah menghajarnya hingga tak berbentuk lagi.
Persetan dengan ucapan kalau perempuan tidak boleh disakiti. Perempuan seperti dia itu ratu nya iblis. Jangankan untuk disakiti, dibunuh pun halal.
"Gue tau lo menyukai Maya, bagaimana kalau kita saling membantu" ucap Alisya menyeringai.
"Ternyata dia masih belum tau hubungan gue dengan Maya. Bagus..."
"Apa rencana lo ?" Tanya Bian datar.
"Gue mau lo ngerebut Maya dari Rio. Apapun rencana lo, gue akan ada di belakang lo"
"Mama gue ?"
"Untuk mama lo, gue akan melepaskan saat lo dan Maya pergi dari Rio"
"Gue nggak percaya"
"Gue nggak pernah ingkar janji Bian"
"Gue mau denger suara mama gue"
"Bentar" Alisya mengeluarkan handphonenya dan menelphone salah satu anak buahnya yang bertugas untuk menjaga mama Bian.
"Berikan ke wanita tua itu" ucap Alisya saat anak buahnya menerima telphone dari Alisya.
"Tante.. maaf ya, Alisya sepertinya hari ini telat pulangnya" ucap Alisya riang. Ckk munafik banget kan !! Bian yang melihat Alisya, keinginannya untuk membunuh Alisya semakin besar.
"Tante... disini ada Bian, katanya mau ngomong sama tante"
"Hallo Ma"
"Bian.. kamu kok belum jemput mama sih, mama kan nggak enak sama Alisya"
"Bian masih ada urusan ma, bentar lagi Bian akan jemput mama. Mama baik-baik disana ya"
"Kamu tuh harus berterima kasih sama Alisya karena udah jagain mama"
"Iya ma... ma, Bian tutup dulu ya. I love you ma" ucap Bian menyudahi telphonenya karena Alisya sudah memberi isyarat untuk mengakhiri percakapannya.
"Liat.. !! Mama lo baik-baik aja kan. Gue harap, lo bisa menjalankan rencana kita dengan lancar, atau kalau nggak.." Alisya menyeringai "Gue nggak yakin kalau mama lo masih bisa ceria seperti itu" ancamnya.
"Ok"
*****
"Bagaimana ?" Tanya Rio gregetan saat Bian menghampirinya di sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat Bian dan Alisya bertemu. Rio berpura-pura sebagai supir pribadi Bian saat ini.
"Perempuan itu benar-benar iblis" kesal Bian. "Gue nggak pernah liat perempuan yang licik seperti itu"
__ADS_1
"Alisya kenapa ?"
"Dia pengen menghancurkan hubungan lo dan Maya lewat gue"
"Haaa..."
"Sepertinya Alisya masih belum tau kalau Maya adalah adik gue"
"Terus rencana lo apa ?" Bian tersenyum licik sambil berbisik kearah Rio.
"Bagaimana dengan Maya ?" Tanya Rio takut mendengar ide Bian yang sedikit berbahaya.
"Tenang aja, urusan Maya biar gue yang tanganin"
"Ok.."
****
"Sayang... kamu dimana ?" Panggil Rio sedikit cemas. Saat dia tiba di rumah, Rio tidak melihat Maya.
"Kamu... kamu melihat Maya ?" Tanya Rio pada pelayan yang dia temui di depan pintu kamarnya.
"Tidak Tuan"
"Dimana Maya ? Tidak biasanya dia menghilang tanpa kabar seperti ini.. apa jangan-jangan" Rio berlari tak karuan sambil mencari Maya dengan cemas di setiap spot dirumahnya yang biasa Maya datangi, tapi tetap aja nihil.
"Shiitt.." umpatnya khawatir. Apa wanita gila itu sudah membawa Maya ?
"Kalian... kesini kalian" panggil Rio pada bodyguardnya. "Perintahkan semua orang yang ada dirumah ini untuk mencari Maya"
"Non Maya ??"
"Tapi tuan.."
"Tapi.. tapi apa ?"
"Non Maya tadi berada di kamar Tuan semasa Tuan masih kecil" ucapnya gagap. Tanpa berfikir panjang lagi, Rio berlari menuju ke kamarnya.
"Astaga Maya" ucap Rio lega melihat istrinya yang sedang tertidur nyenyak di tempat tidur. Tubuh Maya melengkung, karena ukuran tempat tidurnya yang terlalu kecil dari ukuran tubuhnya.
"Sayang.. kok kamu tidur disini ?" Bisik Rio sambil mengusap lembut kepala Maya.
"Egghhhh" erang Maya, tubuhnya berbalik menghadap Rio dan memeluk kaki Rio dengan erat seperti dia sedang memeluk bantal guling sambil tersenyum tipis. Entah apa yang sekarang sedang dimimpikan istrinya itu.
"Lucu banget kamu" tawa Rio pelan.
"Istri siapa sih nih" gemes Rio sambil mencubit pipi Maya pelan. "R.. kapan sih kamu keluar ?? Papa sudah nggak sabar pengen main sama kamu" elus Rio pada perut Maya yang tampak besar.
"Hhaaaa.." Rio terkejut saat dia merasakan sebuah tendangan dibalik perut Maya. Mata Rio berkaca-kaca, dia tak menyangka kalau baby R merespon ucapannya.
"Rio.." lirih Maya dengan matanya yang masih mengantuk. "Kok kamu nangis ?" Tanya Maya takut. Apa ada terjadi sesuatu dengan Kak Bian ?
"Gue nggak nangis Maya, gue cuma terharu bahagia"
"Haaaa..." Maya melongo tak mengerti dengan ucapan Rio. Apa karena dia baru bangun tidur kali ya, makanya Maya susah menalar omongan Rio.
"Ihh muka kamu tuh gemesin banget" Rio kembali mencubit pipi Maya, dan kali ini dia melakukannya dengan sedikit bertenaga membuat Maya merintih kesakitan.
__ADS_1
"Sakitt" ringis Maya. "Kamu tuh nggak usah mengalihkan pembicaraan yah" kesal Maya. "Kamu kenapa menangis ?"
"Tadi gue lagi ngobrol sama baby R, dan tiba-tiba dia merespon gue dengan memberikan tendangan. Gue bahagia banget, sampai gue nggak sadar kalau gue menitikan air mata"
"Ckk dasar papa cengeng" ledek Maya.
"Kamu bilang apa ?"
"Papa cengeng"
"Hmmm baby R, liat.. mama kamu membully papa. Nanti kalau kamu sudah lahir, kamu harus jadi team papa yah" Adu Rio sambil mengusap perut Maya. "Haaaa... liat.. dia setuju" giranga Rio saat dia merasakan adanya tendangan lagi di perut Maya.
"Ihh.. baby R, yang suka ngebully itu papa kamu bukan mama"
"Nggak kok, papa nggak pernah ngebully mama, mama yang ngebully papa sampai-sampai papa jatuh cinta banget sama mama kamu hehehee" lagi-lagi Rio mendapatkan tendangan dari balik perut Maya membuatnya semakin girang hingga dia memeluk perut Maya dengan erat dan menempelkan pipinya di perut Maya.
"Hikksss"
"Loh kenapa ?"
"Kok gue ngerasa seperti orang lain yah"
"Orang lain gimana ?"
"Kalian berdua terlihat akrab banget" Maya mencebikkan mulutnya. Dia cemburu dengan kedekatan baby R dengan Rio. Bahkan baby R tidak mau jauh dari papa nya, hikksss.
Rio tertawa kecil melihat tingkah lucu istrinya yang sedang cemburu dengan anaknya sendiri. "Bagus dong kalau gue dan baby R dekat, jadi dia bisa menjaga gue dari wanita-wanita penggoda di luar sana" ucap Rio dengan PD nya.
"Ckkk.. mana ada wanita yang berani dekat dengan pria menakutkan seperti kamu"
"Apa !! Gue menakutkan ?" Maya mengangguk sambil tersenyum mengejek. Dulu saat Maya belum menyukai Rio, dia banyak mendengar perkataan buruk yang di lontarkan bawahan Rio terhadap Rio. Bahkan ada yang menyebutkan Rio, Pria buas yang menggoda. Entahlah itu pujian atau makian. Tapi Rio memang sangat Buas, apalagi kalau sudah diranjang. Walaupun dia buas, tetap dia begitu menggoda.
"Wahhhh... sekarang kamu sudah berani yah" Rio menatap Maya menggoda. Liat tatapannya... uhhhh, membuat Maya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sepertinya kamu perlu di hukum sekarang"
"Rio..."
"Apa !!!" Ucap Rio dengan sedikit bernada tinggi, namun matanya menatap manja kearah Maya.
"Rio... jangan" Tolak Maya, saat ini dia tidak ingin melakukannya.
"Hukuman harus tetap dijalankan sayang" bisik Rio membuat Maya melirik Rio sedikit takut. Maya tau hukuman apa yang akan dia terima, tapi kali ini Maya tidak boleh diam saja.
"R..iiiooo.." Maya menangkup wajah Rio.
"Ehhhhmmm"
"Rio.." Panggil Maya tertahan.
"Apa sayang" Cengir Rio yang langsung mendaratkan kecupan kilat di pipi Maya.
"Rio..."
"Iya sayang" jawab Rio gemas.
"Bukan gue" Maya menggelengkan kepalanya, menandakan kalau itu bukan suaranya.
__ADS_1
Terus siapa !!!